Salib Penderitaan Kristus: Keagungan Raja Semesta

 Lukisan: Sieger Koder, Jesus Fall For The First Time

 

 

 

Lihatlah manusia itu

Jumat Agung memperingati kematian Yesus di atas kayu salib. Maka, pada saat ini juga kita diajak melihat makna salib yang begitu berlimpah bagi kita meskipun dunia berusaha membungkamnya. Kita diajak untuk merenungkan misteri salib di tengah hingar-bingar kemuliaan dunia.

Kematian Kristus di kayu salib bagi dunia sungguh merupakan suatu kebodohan. Orang Yunani zaman para rasul sudah mencelanya. Mungkin dari kita tidak setuju dengan pendapat orang Yunani atau dunia tetapi sebenarnya kita sendiri sebagai pengikut Kristus juga menyangkal dan tidak mempercayai salib Kristus ketika kita harus membawa salib kita. Mengapa kita harus menderita, mengalami berbagai kesulitan tiada henti, mengapa harus ada salib? Bahkan menurut Thomas Kempis salib selalu terbit dan  menunggu kita di mana pun kita berada. Tentu pertanyaan mengapa ada salib tidak mudah dijawab dari segi logika tetapi setidaknya ada  jawaban yang diungkapkan Ratzinger. Salib adalah jalan kasih yang mematangkan diri kita. Dengan salib kita akan menjadi lebih manusiawi, lebih menghargai kehidupan, lebih bijaksana, lebih mencintai sehingga kita pun semakin mencintai Kristus, semakin mengenal siapakah Kristus itu. Gothe, sastrawan Jerman mengatakan bahwa hanya penderitaan hidup yang mengajarkan manusia menghargai kebaikan dan kebagusan hidup. Sebaliknya, mereka yang mencela salib tidak akan pernah mengerti orang lain, ciptaan lain, arti kehidupan dan akan menjadi orang selalu keras hati dan egois. Ada waktunya,  di dalam salib yang kita pikul, kita mengalami sungguh kekosongan, tanpa hiburan, tanpa jawaban dan tidak ada pertolongan. Pada saat itu, Tuhan menginginkan kita untuk belajar untuk menderita tanpa hiburan, belajar untuk berserah total kepada diri-Nya supaya kita menjadi rendah hati dengan kesengsaraan kita. Sebagaimana salib selalu menunggu kita di mana saja dan kapan saja maka pada saat bersamaan Jesus selalu bersama kita di mana pun kita berada dan kita akan selalu berjumpa dengan-Nya sekalipun kita menyembunyikan diri kita. Bersama Yesus, kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan-Nya di kayu salib sehingga penderitaan kita menjadi cinta manis kita kepada Yesus dan kita menemukan surga di dunia. Sebagaimana ada ruang untuk segala bintang di surga demikian juga selalu ada tempat untuk segala penderitaan di hati salib Kristus. Karena itu seru Thomas Kempis mengapa kita takut akan salib? Di dalam salib ada keselamatan dan kehidupan. Salib adalah benteng pertahanan terhadap segala musuh. Di dalam salib dicurahkanlah kelembutan. Salib adalah tempat hati dan jiwa berserah total kepada TUhan. Salib adalah sukacita roh. Salib adalah puncak keutamaan. Salib adalah kesempurnaan kekudusan. Tidak akan ada keselamatan jiwa maupun harapan kehidupan tanpa salib (Thomas Kempis). Kata St. Rosa de Lima: terpisah dari salib, maka tidak ada tangga lain yang dengannya kita kiranya dapat pergi menuju surga.

Yesus sendiri telah menderita dan mati di kayu salib. Penderitaan dan kematian Yesus di kayu salib justru membuka dan menunjukkan tabir siapakah Allah itu. Tanpa salib, tanpa wafat-nya, kita tidak akan mengerti siapakah Tuhan, kita tidak pernah menangkap akan identitas Tuhan. Tanpa kematian-Nya, manusia tidak pernah dapat mendekat kepada Allah (Joseph Ratzinger). Kisah penyaliban Yesus yang dilakukan oleh Pilatus sebenarnya suatu proses agama yang berubah menjadi proses politik. Yesus memang dibunuh, disalibkan dan dikorbankan demi alasan politik. Dan justru karena alasan politik kita tahu bahwa kekuasaan Yesus bukanlah kekuasaan politik-dunia tetapi kekuasaan ilahi-kekuasaan kasih yang mengkumandangkan diri-Nya sebagai raja semesta Alam.

Untuk itu, Kristus tidak menyebut dirinya sebagai Mesias tetapi Anak manusia karena gelar Mesias berasosiasi dengan politik. Gelar anak manusia merupakan gelar yang menunjukkan bahwa Yesus adalah raja semesta alam yang berbeda dengan gelar raja dunia. Raja Semesta Alam berjalan di dalam kelemahan manusia, diserahkan kepada kejahatan, memikul salib dan mati. Semuanya ini untuk menunjukkan bahwa kerajaan-Nya hanya akan datang kepada dunia dengan cara yang demikian:  melalui penderitaan-Nya, wafat-Nya dan kebangkitan-Nya. Jadi, kerajaan surga tidak dapat dipertahankan dengan pedang sebagaimana yang dilakukan oleh Petrus ketika ia menghunus pedang untuk menebas telinga Malkus. Siapa yang melakukan kekerasan akan terhunus oleh pedang pula. Yesus -Raja Semesta Alam- hanya dapat dibela dengan pengampunan, kedamaian dan kasih.

Sebelum dibawa ke imam agung, Yesus dibawa ke penjara. Di sana, ia ditelanjangi, dipakaikan jubah ungu dan dimahkotai dengan duri. Bahkan diolok dengan seruan: Salam raja orang Yahudi, diludahi, dipukuli. Tentara menganiaya Yesus dengan sangat kejam sampai tak terbayangkan. Mereka melepaskan semua kebencian, semua kebiadaban manusia, kepada Yesus. Dengan demikian Yesus menjadi bual-bualan dan obyek  kebencian, segala kekejaman dan kejahatan yang mampu dilakukan manusia kepada segala kehidupan. Jadi, tindakan tentara kepada Yesus mempresentasikan kekejaman terbesar yang mampu dilakukan manusia kepada sesamanya dan juga dengan alam ciptaan: binatang, tumbuhan, alam semesta. Kekejaman manusia menjadi realitas sehari-hari atas kehidupan ini (Joseph Ratzinger).

Setelah dari istana imam agung, Yesus dibawa ke hadapan Pilatus dan Pilatus yang menyaksikan Yesus yang tanpa rupa, penuh luka dan derita berkata Ecce homo: lihatlah manusia itu. Ecce homo: lihatlah manusia itu direfleksikan dengan indah oleh Josep Ratzinger. Kata Pilatus ecce homo memang satu sisi melukiskan gambaran manusia yang penuh derita, ibarat cacing yang menyedihkan. Tetapi pada saat yang sama lihatlah manusia itu menunjuk kepada manusia yang sejati yang dalam penderitaan membawa gambar dan rupa Allah sendiri. Wajah Kristus yang penuh derita adalah wajah Allah sendiri dan itu berarti bahwa wajah penderitaan manusia adalah wajah penderitaan Allah. Penderitaan alam semesta maupun penderitaan kehidupan baik binatang, lingkungkan mengacu pula kepada wajah penderitaan Allah. Allah ikut menderita ketika manusia menderita, ketika kehidupan menderita. Dia mengenakan mahkota duri untuk menanggung penderitaan manusia dan kehidupan segala yang ada. Dengan salib-Nya, ia mentransformasi kekerasan terhadap dirinya di dalam penyerahan diri kepada manusia dan kehidupan: supaya damai bagi segala yang ada.  Yesus yang dimahkotai duri, disiksa adalah raja yang sebenarnya: Raja Semesta Alam.

Lalu dari istana Pilatus, Yesus memikul salib ke bukit tengkorak. Maria menyertai Jesus. Jalan salib terangkai menjadi satu dengan rosario. Jalan salib dan rosario merupakan doa untuk mengkontemplasikan keagungan raja semesta sekaligus visi dari hati yang mengkontemplasikan perjalanan Yesus ke bukit Golgota. Doa jalan salib dan doa rosario membantu kita untuk memaknai salib kehidupan dan memberi kita kekuatan di tengah penderitaan. Kita mengkontemplasikan wajah Jesus dengan hati Maria.

Sekarang Yesus di atas salib. Ajal semakin mendekat, mahkota duri tertancap di tengkoraknya menyebabkan darah bercucuran. Paku dan badan yang disesah semakin menambah derita kesakitan Anak manusia. Air mata mengalir dari wajah-Nya. Namun, wajah-Nya memancarkan kedamaian bagi setiap penatap-Nya. Orang yang disiksa itu, yang punya banyak alasan untuk berteriak, menjerit dan mengeluh justru tersenyum kepada manusia pelaku kejahatan dan kekejaman. Tidak ada jejak dan guratan celaan dan dendam dalam diri-Nya. Memandang wajah-Nya yang berdarah di kayu salib malah ada kebebasan. Dan semakin kita mengamatinya, semakin paradoks semakin jelas bahwa wajah-Nya adalah gambar penghiburan yang muncul bersama dengan kesedihan kita (Joseph Ratzinger).

Yesus menundukkan kepala-Nya dan wafat serta menyerahkan roh-Nya kepada Bapa. Ya Bapa ke dalam tanganmu kuserahkan nyawa-Ku. Kata-katanya terakhir menunjukkan kedamaian dari orang yang disalibkan dan sinar keselamatan yang datang dari salib-Nya. Salib di bukit Golgota terpantul dan tergores di langit semesta sebagai tanda pendamaian antara surga dan bumi. Dengan mempersembahkan dirinya menjadi korban pendamaian, Yesus mendeklarasikan dirinya sebagai raja alam semesta. Ia mendamaikan segala yang ada. Dia bukan lagi raja orang Yahudi sebagaimana ejekan para serdadu tetapi sekarang ia raja alam semesta seperti yang dia nyatakan sendiri ketika ia menampakkan diri kepada para rasul setelah kebangkitan: semua kuasa telah diberikan kepadaku baik di surga maupun di bumi.

Salib pun tidak pernah bisa hanya sekedar menggambarkan kekejaman manusia tetapi juga  kesetiaan Kristus, yang terdiri atas kehendak kasih Allah Bapa di atas ketidaktaatan dosa. Kristus sebagai raja semesta alam mengukir kemenangan cinta atas kejahatan, kedamaian atas kekerasan di antara manusia dan segala kehidupan. Mereka yang menderita, yang kalah, segala ciptaan selalu mempunyai tempat di salib Kristus. Salib juga mendeklarasikan persaudaraan dengan semua manusia, kaya miskin, mereka yang percaya dan yang ateis, mereka hitam dan putih semuanya adalah sahabat sekaligus memampukan kita memuji kebesaran Tuhan melalui ciptaan: alam, hewan, tumbuhan seperti nyanyian St Fransiskus Asisi: Terpujilah Engkau Tuhan.

Dengan salib-Nya, Yesus menunjukkan kekuatan-Nya dan kekuatan-Nya adalah kekuatan kasih, kekuasaan yang tahu cara mengalahkan kejahatan dengan cinta, kekuatan yang mampu mengambil kebaikan dari kejahatan, melunakkan hati yang sekeras batu dan mengkobarkan kembali hati yang dingin, membawa kedamaian bagi konflik yang paling kejam, menyalakan harapan dalam kegelapan paling pekat.

Kristus datang untuk memberikan kesaksian tentang kebenaran ketika ia menyatakan diri-Nya di hadapan Pilatus: siapa pun yang menyambut dan menerima kesaksian Kristus menempatkan dirinya di bawah panji-panji-Nya, suatu gambaran dari St. Ignatius dari Loyola. Karena itu, di setiap momen kehidupan yang berlangsung, setiap hati harus memilih: siapa yang ingin aku ikuti? Yesus atau kejahatan? Cinta atau kebencian? kebenaran atau kebohongan? Dunia atau surga?[1].

Jelas, memilih Kristus tidak menjamin kesuksesan yang sesuai dengan kriteria dunia, tetapi memilih Yesus hanya memastikan bahwa kedamaian dan kegembiraan yang hanya bisa dia berikan. Yang pasti, pengalaman banyak orang dalam nama Kristus, perbuatan orang atas nama kebenaran dan keadilan telah menunjukkan cara menentang sanjungan kekuatan duniawi dengan berbagai topengnya, bahkan mematri kesetiaan mereka kepada Kristus dengan darah kemartiran mereka[2]. Pilihan mereka akan kebenaran dan salib membuat mereka mencercap dan merasakan dan masuk ke dalam kekuasaan Kristus: keagungan raja alam semesta.

Apa pun pilihan kita, salib Kristus selalu tertancap di dalam setiap hati dan terukir di atas langit kehidupan yang mengkumandangkan bahwa Yesus adalah Kristus yang datang untuk mencintai, mengampuni, menemani kehidupan. Di tengah semesta, salib-Nya selalu berdiri tegak memancarkan cahaya-Nya yang menerangi semesta karena Yesus Kristus sungguh raja alam semesta. Itulah kemuliaan-Nya dan kemuliaan-Nya ada di dalam salib-Nya.

Siapa yang tidak mencari salib Kristus,

ia pun tidak mencari kemuliaan-Nya

Yohanes dari Salib

[1] Paragraf ini dikutip dari artikel Cristo el rey Universo

[2] Ibid.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply