Pengantar Metafisika

 Lukisan William Collins, The Cherry Seller, 1824

william-collins-cherry-seller

                    “Kita selalu memimpin segala aktivitas kita di dalam suatu pengertian akan Ada”

Martin Heidegger

  Being and Time


 

Pengetahuan kodrati manusia: metafisika natural

Secara natural manusia tentu akan bertanya tentang realitas hidupnya. Dia terheran-heran akan segala yang ada sehingga mendorong dirinya untuk mencari penjelasan. Dengan akal budinya dia berusaha menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menjadi pergumulannya. Kenyataan ini mau mengatakan bahwa setiap manusia secara kodrati menghasratkan pengetahuan.

Di tengah hasrat akan pengetahuan, sebenarnya dalam diri manusia juga sudah terdapat pengetahuan oleh karena kodratnya sebagai manusia: suatu pengetahuan yang terpatri di dalam kodratnya yang disebut dengan pre pengetahuan atau pengetahuan spontan manusia. Buktinya manusia tahu apa itu yang baik dan yang buruk, apa itu mengasuh anak apa itu menelantarkan anak, apa itu kebenaran, apa itu cinta, apa itu benci, apa itu ada bahkan penyebab segala sesuatu yang ada yaitu Tuhan secara natural.  Sementara Metafisika adalah ilmu yang menyelidiki realitas, ilmu yang mempelajari ada dan mencari penyebab segala yang ada. Melihat pengertian Metafisika yang demikian berarti bahwa Metafisika sudah ada di dalam diri manusia -baca Metafisika natural. Jadi Metafisika sebenarnya suatu hal yang natural bagi semua manusia. Kata Heiddeger: “Selama manusia adalah binatang berakal budi, maka dia pun binatang Metafisika[1]. Selama manusia memahami dirinya sebagai makhluk rasional, dalam pengertian Kant, Metafisika selalu menjadi natura  manusia. Jadi Metafisika pada dasarnya eksis, jika tidak sebagai suatu ilmu, pasti sebagai suatu disposisi natural”  -baca metaphysica naturalis [2].”

Kenyataan ini diperkuat dengan pengetahuan dan penilaian pertama manusia tentang realitas yaitu bahwa yang ada adalah ada dan yang tidak ada adalah tidak ada. Pengetahuan dan penilaian pertama manusia tentang realitas adalah benih Metafisika yang telah ditaburkan di dalam setiap jiwa. Tetapi seperti benih-benih yang ditaburkan petani, ada yang jatuh di tanah baik, di tanah yang gersang, ada yang tumbuh tetapi dimakan burung, ada yang mati kering dan ada yang tumbuh subur. Artinya, walaupun manusia secara kodrati menghasratkan pengetahuan dan memiliki pengetahuan natural, tetapi tidak semua manusia berkomiten untuk mengejar pengetahuan dan sadar akan pengetahuan karena beberapa orang terbelengggu oleh hal-hal lain seperti kesenangan, kebutuhan hidup sehari-hari bahkan menolak belajar demi pengetahuan karena kemalasan. Itulah benih Metafisika yang jatuh di tanah yang kering, yang dimakan burung dan yang mati kering. Akibatnya, manusia yang demikian tidak akan mencapai pengetahuan akan kebenaran yang utuh.

Walaupun demikian, tak seorang manusia pun yang sama sekali tidak mengetahui kebenaran atau tidak memiliki kebenaran. Kodrat Metafisikanya yang membuat manusia tak mungkin tak memiliki atau tak mengetahui kebenaran sama sekali. Buktinya bahwa setiap orang dapat membuat suatu pernyataan akan kebenaran dan akan natura segala yang ada, misalnya realitas buku di atas meja berwarna merah, maka ia menyatakan dan mengatakan bahwa buku di atas meja berwarna merah. Pernyataan akan kebenaran dan pernyataan akan ada adalah tanda dari refleksi dan cetusan rasionalitas[3]. Cetusan rasionalitas ini mau mengatakan bahwa seperti yang dikatakan oleh Maritain bahwa akal budi dibuat untuk kebenaran; akal budi diciptakan untuk ada.

Metafisika terpartri dalam apa yang kita katakan, dalam apa yang kita pikirkan maupun dalam afermasi-afermasi yang kita buat karena apa yang kita bicarakan pasti adalah ada. Bagaimana menjelaskannya? Ada adalah obyek pertama dari akal budi sehingga tanpa ada akal budi tidak akan mengetahui apa-apa. Berpikir seandainya dapat berbicara pasti bersuara bahwa berpikir adalah sesuatu, pasti adalah ada. Artinya, dengan ada, pemikiran menjadi lebih rasional karena pikiran dimurnikan dan kembali kepada keontentikannya. Keotentikan di sini menjelaskan bahwa pemikiran diposisikan oleh ada yang sedemikian rupa, berasal dari ada dan diformulasikan dan diterangi oleh ada dan menjadi milik ada. Konsekuensinya, pemikiran menjadi pemikiran yang esensial dan pemikiran yang esensial adalah suatu peristiwa ada. Peristiwa ada ternyata juga berada di dalam penilaian yang kita buat karena pikiran kita tidak hanya menangkap tetapi juga mengafirmasi dan menyangkal realitas -baca ada- dengan membuat pernyataan-pernyataan. Setiap konsep menyatakan ada dan setiap penilaian juga menyatakan ada. Maka, analoginya bahwa ada terhadap akal budi adalah sama dengan cahaya terhadap mata artinya sebagaimana untuk melihat kita butuh terang maka untuk mengerti kita butuh ada. Segala pemikiran adalah Metafisika karena di dalam setiap pemikiran ditopang pilar-pilar Metafisika. Dengan demikian, manusia melakukan dan mengetrapkan Metafisika di dalam segala realitas sehingga tanpa Metafisika manusia tidak dapat melakukan apa-apa. Tentu saja, hasrat manusia akan pengetahuan dan pengetahuan kodrati manusia tak mungkin sia-sia.

Namun, terhadap semuanya itu tentu haruslah dibangun sebagai suatu ilmu yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Ada berbagai macam alasan untuk membagun Metafisika sebagai ilmu yang ilmiah. Hasrat Metafisika harus diuji dan diverifikasi karena hasrat sering tidak tepat dan tidak jelas sehingga ketika Metafisika dijadikan ilmu maka Metafisika dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan memiliki metodologi yang obyektif. Pada saat Metafisika dapat diverifikasi secara metodologis tentu memuaskan hasrat kodrati manusia yaitu memahami secara benar, jelas, verifikatif. Tanpa ada metodologinya, pikiran kita hanya di dalam senjakala akan realitas yang membuat kita tak mampu mengerti dengan jelas kebenaran yang ada di hadapan kita. Alasan lainnya adalah kita tidak bisa melihat langsung ada secara jernih dan mengatakan yang ada adalah ada karena seperti yang dikatakan oleh Maritain “memang hal-hal yang ada nampak begitu sederhana dan umum bagi kita, walaupun demikian tetap tersembunyi di dalam keseluruhan misteri ada”. Maka kita dapat melihat ada dengan lebih baik lewat sudut mata intelektual kita yang berarti lewat ilmu sehingga dapat memfokuskan perhatian kita pada sesuatu yang ada di depan kita. Tanpa ilmu dan kajian obyektifnya kebenaran Metafisika hanya akan menjadi kebenaran yang samar-samar ibarat mata burung hantu yang tidak bisa melihat segala sesuatunya dengan jelas di siang hari. Dengan demikian Metafisika sebagai ilmu adalah jalan pengetahuan kita terhadap akan realitas.

Konsep Metafisika

Nama Metafisika diungkapkan pertama kali oleh Andronicus dari Rhodes yang mana ia berusaha menjelaskan karya Aristoteles “Filsafat Pertama”. “Fillsafat Pertama” Aristoteles ditulis setelah bukunya Physics. Metafisika juga disebut ontologi yang mana terminus tersebut diungkapkan oleh Chrisitan Wolff.[4] Disebut Metafisika karena ilmu tersebut melampaui persoalan indrawi dan fisik. Melampaui indrawi dan fisik bukan berarti bahwa Metafisika adalah ilmu supernatural atau goib yang menolak penjelasan rasionalitas. Justru Metafisika mengandalkan rasionalitas dalam penyelidikannya karena Metafisika bergulat dengan realitas-ada sebagai yang umum. Metafisika adalah studi tentang ada dan aspek-aspeknya.

Maka, Metafisika memiliki subyeknya yaitu ada sebagai hal yang umum bagi segala hal. Itu berarti bahwa Metafisika tidak berurusan dengan kelas-kelas ada tertentu tetapi Metafisika menguji dan menyelidiki segala sesuatu yang ada (ens commune) dan propertinya yang real. Lantas, ketika kita berbicara tentang ada di dalam koridor metafisik, kita berbicara tentang ada yang diaplikasikan ke setiap ada yang real, bukan ada yang khusus maupun partikular. Tidak mengherankan kalau pertanyaan besar Metafisika adalah apa itu realitas, apa itu ada dan segala aspeknya, apa itu penyebab ada. Sementara ilmu-ilmu lain mempertanyakan ada secara khusus, misalnya fisikawan mempertanyakan apa itu gerak; apakah atom memiliki kecepatan dan seterusnya. Dapat disimpulkan bahwa tujuan ilmu-ilmu misalnya ilmu empiris bukanlah memahami realitas melalui causa-causa tetapi penjelasan ilmiah akan fenomena yang dapat diobservasi dan dibuktikan di dalam natura.

Karena bagian dari hidup manusia yang sehari-hari, Metafisika tidak mengajarkan hal-hal yang baru tetapi Metafisika memberikan kesadaran apa yang telah menjadi implisit di dalam setiap afermasi kita; membuka kesadaran akan apa yang telah kita ketahui dalam cara yang definitif. Ketika seorang Metafisikawan bergulat dengan prinsip ada dan causalitasnya, maka ia bekerja dengan pergulatan yang tidak berbeda dengan orang-orang biasa-awam karena Metafisika adalah hal-hal fundamental dari kehidupan sehari-hari. Sebabnya, gagasan ada melingkupi pengalaman sehari-hari dan juga pengetahuan ilmiah. Jadi amat penting mengetahui dengan jernih akan apa kita pikirkan, akan apa yang kita nilai, akan apa yang kita afirmasi ataupun kita sangkal, akan konsep-konsep yang kita buat secara efektif.

 

 

Metafisika adalah ilmu ada sebagai ada

Metafisika mempelajari ada sebagai ada. Ada sebagai ada mau mengatakan bahwa Metafisika selalu menghadirkan ada dan hanya menyoal ada.[5] Ada sebagai ada selalu di dalam terang ada sehingga kapanpun Metafisika memformulasikan ada, maka di sana ada kumpulan cahaya terhadap ada[6]. Ada sebagai ada berarti ada yang general, ada yang tanpa kualifikasi tertentu, ada yang universal dan bukan ada yang partikular. Mengapa Metafisika mempelajari ada sebagai ada? Ada dan atribut-atributnya adalah keniscayaaan. Karena ilmu-ilmu partikular tidak mengurus hal-hal yang pasti yang seharusnya diselidiki, maka pasti ada suatu ilmu universal yang menguji hal-hal yang pasti tersebut. Dan ilmu itu adalah Metafisika. Konsekuensinya, Metafisika bergulat dengan ada, konsep ada, prinsip-prinsip ada, properti ada dan causalitas ada. Metafisika mengatakan apa itu ada dan pada saat yang sama Metafisika membuat ke-ada-an dari ada menjadi suatu ada. Metafisika bergulat, berpikir dan menyelami kebenaran ada.

Oleh karena kajian Metafisika yang demikian maka Metafisika disebut juga Filsafat Pertama. Nama Filsafat Pertama bukan mengacu kepada urutan kronologis pertama dalam pembelajaran. Metafisika sebagai Filsafat Pertama mengacu kepada prioritas bahwa Metafisika memberi pendasaran secara tak langsung bagi ilmu-ilmu lain. Filsafat Pertama mengeksplorasi kebenaran dengan cara yang berbeda dibandingkan ilmu-ilmu partikular lainnya. Ilmu-ilmu khusus mengeksplorasi suatu kebenaran partikular yang bersumber dari suatu kelas-kelas ada yang definitif. Sementara Metafisika mempertimbangkan apa yang benar bagi adal-ada secara universal[7]. Sudah barang tentu ilmu-ilmu yang ada bagian dari ilmu universal- baca Metafisika.

Jelas, metafsika yang dideskripsikan sebaga ilmu tentang ada sebagai ada tentu tidak sama dengan  ilmu-ilmu spesifik seperti biologi, matematika dan seterusnya karena Metafisika mempelajari ada secara umum dan tidak menaruh perhatian pada ada yang spesifik. Ada perbedaan di setiap cabang ilmu-ilmu. ilmu-ilmu spefisik bergulat dan mempelajari realitas-realitas yang bervariasi, tipe tipe entitas yang beragam dengan kajian obyeknya sendiri-sendiri. Misalnya geometri mempelajari segitiga yaitu bahwa  segitiga memiliki tiga sisi yang sama atau segitiga dengan dua sisi yang sama, matematika mempelajari satu macam ada yaitu ada secara kuantitatif; ilmu kedokteran bergulat dengan kesehatan, ilmu olahraga bergulat dengan obyeknya yaitu latihan fisik yang diarahkan untuk tubuh yang baik. Sementara Metafisika mempelajari keseluruhan realitas dengan memfokuskan pada hal-hal yang umum dari segala sesuatunya, mempelajari ada sebagai fundamen dari setiap realitas. Metafisika mencari, bergulat dan menyelidiki causa terakhir dan causa pertama dari segala yang ada serta prinsip-prinsip realitas yang paling universal.

Sebagaimana ilmu-ilmu memiliki obyek material yang membatasi wilayah kajian ilmu dan obyek formal yang menjadi kekhasan suatu ilmu, Metafisika pun juga mempunya obyek material dan obyek formal. Obyek material Metafisika adalah segala sesuatu yang ada dan obyek formal Metafisika aspek-aspek ada. Obyek material Metafisika bukan berarti bahwa Metafisika adalah jumlah total dari ilmu-ilmu spesifik yang berbeda-beda ataupun sintesis dari berbagai macam ilmu yang ada. Sementara, berkat obyek formalnya Metafisika pun berbeda dengan ilmu-ilmu yang lain dan Metafisika menjadi ilmu yang spesifik.

Semua ilmu termasuk Metafisika demi mendapatkan kebenaran obyektifnya membutuhkan demonstrasi. Tetapi mengapa harus lewat demonstrasi? Kita memiliki pengetahuan yang benar -sebagaimana yang diungkapkan oleh Aristoteles- ketika kita mengetahui suatu causa. Pengetahuan kita akan hal-hal yang benar terjadi karena hal-hal tersebut memiliki causa-causa yang benar. Konsekuensinya, kita tidak mengetahui apa yang benar dengan cara mengetahui apa yang salah; kita mengetahui sesuatunya hanya dengan mengetahui apa yang benar. Demonstrasi yang adalah causa pengetahuan selalu memulai dengan apa yang benar.[8] Dengan demikian kekhasan dan perbedaan Metafisika dan ilmu-ilmu lain semakin terlihat dari demonstrasinya. Ilmu partikular misalnya matematika membuktikan kebenaran suatu preposisi dengan suatu demonstrasi dari pengetahuan terdahulu. Tidak demikian dengan Metafisika karena kebenaran Metafisika lebih dahulu dan lebih tinggi dari kebenaran-kebenaran yang didemonstrasikan. Logikanya sebagai berikut bahwa jika suatu ilmu dikatakan valid lewat suatu demonstrasi, maka pasti ada suatu pengetahuan universal dan valid tanpa melalui demonstrasi. Karena jika tanpa pengetahuan yang universal ini, tentu tidak akan ada fondasi sehingga terdapat suatu infinitas yang membuat ilmu tersebut tanpa arti sama sekali. Tanpa pengetahuan universal, akal budi tidak akan menemukan pedoman karena akan ada preposisi-preposisi yang tak berhingga sehingga tidak ada pijakan dan landasan untuk memulai[9].

Sebagaimana dikatakan bahwa Metafisika berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya, tetapi kebenaran fundamental Metafisika tidaklah berbeda dengan ilmu-ilmu yang lain. Artinya pada saat yang sama walaupun Metafisika bergulat secara khusus tentang ada tetapi juga merupakan suatu ilmu yang universal karena Metafisika mengkaji segala yang ada dan prinsip-prinsipnya dapat diaplikasikan ke ilmu-ilmu lain sehingga Metafisika memanyungi segala ilmu yang ada. Kata Descartes sebagaimana dikutip oleh Heiddeger: “Maka segala Filsafat adalah seperti suatu pohon, yang akarnya adalah Metafisika, batangnya adalah Fisika, dan dahan-dahannya yang keluar dari batang adalah ilmu-ilmu lain”[10]. Metafisika adalah fondasi kesahian dari segala ilmu lainnya karena prinsip-prinsipnya yang universal dan berkat prinsip-prinsip universalnya Metafisika menopang ilmu-ilmu lain. Pada dasarnya, ketika Metafisika dikatakan sebagai ilmu maka Metafisika berarti suatu pengertian akan prinsip-prinsip yang dari prinsip tersebut kebenaran Metafisika ditarik dengan kepastian dan kesahian. Melihat obyek material dan obyek formal dari Metafisika jelas Metafisika bukan suatu sistem dogmatik tetapi Metafisika merupakan suatu petualangan roh dalam mencari kebenaran[11]. Sebabnya Metafisika sudah termanifestasi di dalam akal budi, pengetahuan dan setiap diskursus manusia. Dengan demikian Metafisika adalah dasar dari peristiwa eksistensi. Metafisika adalah eksistensi itu sendiri[12].

 Tentu saja pada akhirnya penyelidikan Metafisika membawa manusia kepada penyebab segala yang ada yaitu Tuhan sang pencipta karena dari Tuhanlah segala sesuatu yang ada dapat disebut sebagai ada. Ujung dari Metafisika adalah suatu Metafisika khusus yang berbicara tentang Tuhan karena Tuhan penyebab segala yang ada dan prinsip dari segala sesuatunya. Pada akhirnya Metafisika adalah ilmu yang tertinggi karena penyelidikan dan eksplorasi Metafisika mengantar kepada Tuhan yang adalah penyebab segala yang ada sekaligus causa pertama dan causa yang tertinggi[13]. Sudah barang tentu Metafisika berurusan dengan causa tertinggi karena causa tertinggi adalah causa final dan causa final dari segala yang ada adalah Tuhan

Tujuan metafsika

Segala ilmu pengetahuan dan kesenian bahkan pekerjaan manusia bermuara pada satu tujuan yaitu kesempurnaan manusia dan kesempurnaan manusia adalah kebahagiaannya. Kebahagiaan manusia mengukir kesempurnaan akal budi. Inilah tujuan segala ilmu. Oleh karena Metafisika itu sendiri adalah ilmu maka Metafisika pun selalu berada di dalam tujuan tersebut.

Walaupun demikian, Metafisika sebagaimana juga ilmu-ilmu lain berupaya untuk mencapai tujuan  tersebut dengan cara khas Metafisika. Cara khas Metafisika membuat dirinya memiliki tujuan dasar yaitu mencari causa-causa pertama dan terakhir segala yang ada dan prinsip-prinsipnya untuk menyelidiki kebenaran dan kemudian membangun kebenaran itu sendiri. Dengan prinsip-prinsipnya Metafisika mengupayakan bagaimana manusia mampu mengetahui kebenaran dan mengkontemplasikan kebenaran. Kontemplasi akan kebenaran membawa kepada pengetahuan akan Tuhan dan Tuhan sendiri. Bahkan titik tolak penyelidikan Metafisika adalah membawa siapa saja kepada kontemplasi akan Tuhan.

Melihat tujuan Metafisika yang demikian, maka Metafisika dapat dikatakan sebagai teologi natural. Sebagai teologi natural dan karena suatu ilmu universal yang mendasari ilmu-ilmu lain Metafisika memiliki kepentingan untuk mengarahkan ilmu-ilmu lain kepada Tuhan karena Tuhan adalah tujuan segala yang ada.

Walaupun demikian, tidak semua orang akan menyetujui dan tidak semua orang akan menikmati tujuan Metafisika. Sebagai ilmu, Metafisika dalam arti tertentu dipengaruhi oleh moral orang yang bergulat dengannya[14]. Keyakinan moral amat menentukan pengetahuan Metafisika. Beberapa orang kehilangan kepercayaan akan kebenaran misalnya relativisme, agnotisme, ateisme. Kedegilan hati dan kesombongan manusia walaupun kebenaran sudah ditemukan merupakan salah satu penyebab mengapa kebenaran ditolak, mengapa mereka tidak sampai kepada pengetahuan akan Tuhan.

Apapun yang terjadi, tujuan Metafisika yang mengantar manusia kepada kebahagiaannya yaitu kontemplasi akan Tuhan tidak dapat diganggu-gugat. Metafisika akan selalu memproklamasikan tujuannya. Oleh karena tujuannya itu, Metafisika dapat digelari sebagai kebijaksanaan, ilmu kebijaksanaan.

Metafisika dan kebijaksanaan

Kebijaksanaan berkaitan dengan pengetahuan tentang penyebab segala yang ada dan prinsip-prinsip realitas. Metafisika disebut kebijaksanaan karena Metafisika menyelidiki causa- causa segala yang ada serta prinsip-prinsipnya. Kebijaksanaan yang melekat di dalam dirinya membuat Metafisika lebih superior dari ilmu-ilmu lainnya. Superioritas Metafisika di atas ilmu lain bukan berarti Metafisika adalah ilmu yang menundukkan ilmu lain tetapi superioritas Metafisika terjadi karena Metafisika menjadi penjaga prinsip pertama[15]dari ilmu-ilmu lain sebab tanpa prinsip pertama yang sifatnya universal dan sebagai fundamen dari segala ilmu maka ilmu-ilmu yang ada tidak memiliki pedoman dalam investigasinya. Mau tak mau ilmu-ilmu lain tergantung kepada Metafisika baik secara langsung maupun tak langsung. Misalnya ketika ilmu kedokteran menganalisa suat penyakit tertentu tentu dia menggunakan prinsip causalitas: apakah penyebab kesehatan dan penyebab penyakit serta penyebab penyembuhannya. Seorang matematika tentu memakai prinsip non kontradiksi dan prinsip identitas karena dahlil matematika tidak bisa bertentangan satu sama lain. Prinsip-prinsip Metafisika terpantul dan terefleksikan dalam ilmu-ilmu lain. Itu berarti bahwa Metafisika sebagai ilmu kebijaksanaan memiliki fungsi direktif dan regulatif serta panduan bagi ilmu-ilmu lain.

Sebagai ilmu kebijaksanaan, Metafisika adalah ilmu spekulatif. Apa yang dimaksud dengan ilmu spekulatif? Apakah spekulatif itu berarti ilmu yang mengandalkan perkiraan dan prediksi? Tentu spekulatif yang dimaksud bukanlah demikian. Spekulatif sama dengan ilmu teoritits dan ilmu teoritis dibedakan dengan ilmu praktis karena ilmu berdasarkan obyek materinya dibedakan menjadi ilmu spekulatif dan ilmu praktis. Pembedaan ini berdasarkan operasi intelek itu sendiri. Ada dua operasi intelek yaitu operasi intelek spekulatif dan operasi intelek praktis. Operasi intelek spekulatif berlangsung ketika intelek mengkontemplasikan subyek materi yang umum bagi segala yang ada sehingga ilmu spekulatif adalah ilmu yang mengkontemplasikan kebenaran. Sementara, operasi intelek praktis berlangsung dengan cara memastikan kebenaran dan bagaimana mengaplikasikan kebenaran sehingga ilmu-ilmu praktis adalah ilmu yang mengaplikasikan kebenaran demi tujuan praktis. Jadi yang membedakan ilmu spekulatif dan ilmu praktis adalah tujuannya[16]. Tujuan dari ilmu spekulatif adalah kebenaran karena ilmu spekulatif berurusan dengan pengetahuan akan kebenaran sebagai obyektifnya. Sedangkan tujuan ilmu praktis adalah aksi; berkat ilmu praktisnya orang dapat disebut sebagai man of action. Ilmu praktis juga berusaha memahami dan mencari kebenaran dari hal-hal yang ada tetapi ilmu praktis tidak menjadikannya sebagai tujuan akhir[17]. Mereka mencari kebenaran demi hubungannya dengan aksi, tindakan. Ranah investigasi Metafisika tentu adalah ada dan propertinya serta causa-causanya. Dengan demikian Metafisika bukan ilmu praktis tetapi ilmu spekulatif. Sebagai ilmu spekulatif yang mengkontemplasikan kebenaran Metafisika dapat disebut ilmu tentang kebenaran. Oleh karena itu pula Metafisika adalah ilmu yang paling bebas. Alasannya ilmu ini ada untuk dirinya sendiri, pengetahuan yang dicapai Metafisika dicari demi pengetahuan itu sendiri dan demi kebenaran dan bukan yang lain. Memang semua ilmu yang lain pasti lebih penting daripada Metafisika karena kegunaan ilmu-ilmu tersebut di dalam kehidupan praktis. Namun tidak ada ilmu yang lebih sempurna daripada Metafisika[18] karena kebijaksanaan, tujuannya dan  kebenarannya.

Maka, orang yang belajar metafasika belajar dan bergulat dengan kebijaksanaan. Aristoteles mendeskripsikan orang yang bijaksana sebagai orang yang mengetahui segala segala sesuatunya -meskipun tidak mengetahui hal-hal tersebut secari detail- dan mencari pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri dan dengan pengetahuannya ia mengarahkan dan mempengaruhi orang untuk bertindak demi kebaikan dan kebenaran. Kebijaksanaan dimulai ketika ada kesadaran bahwa diri terbatas dan terbelenggu di dalam ketidaktahuan sehingga ia mencari dan mengejar pengetahuan demi pengetahuan  dan bukan demi utilitas, kesombongan. Ketidaktahuannya membuat dirinya heran sehingga melalui keheranan ia mencari penjelasan dan bergulat untuk menemukan kebenaran dan keluar dari kebodohan[19]. Dia mencoba memahami demi pemahaman itu sendiri. Imbal baliknya adalah dia memperoleh jawaban dan kebenaran. Tetapi dia pun menyadari bahwa tak mungkin pikirannya dapat mengetahui semua kebenaran, dapat mengerti semua pemahaman. Dia pun tahu bahwa tidak akan menemukan jawaban yang lengkap untuk segala yang ada. Kebijaksanaan bukanlah   pencapaian pribadi yang dapat dikuasai seorang diri, dapat dibeli seperti membeli perhiasan[20]. Itu berarti bahwa kebijaksaan dan kebenaran bukan milik manusia, tetapi milik dan berasal dari yang ilahi dan kebijaksanan adalah suatu yang dicari terus-menurus dan dihidupi.[21] Menyadari ini semua, dia tidak akan menyebut dirinya sebagai orang yang bijaksana tetapi pecinta kebijaksanaan. Itu semua dimulai dari Metafisika. Melalui investigasi ens commune (ada ciptaan), yaitu investigasi akan aspek-aspek ada yang menjadi aspek-aspek semua ada, seorang Metafisikawan kiranya akan sampai kepada causa-causa ada sehingga sampai pula pada afirmasi akan yang ilahi. Dan tentu saja semakin seseorang mengerti dan mencapai pengetahuan akan causa, semakin bijaklah dia.

[1] Martin Heidegger, What is Metaphysic, 1929 translated Miles Groth, hal 7

[2] Immanuel Kant, Critique of Pure Reason (Second Edition, 1787), translated by Norman Kemp Smith [1929] New York: St. Martin’s Press (1965), hal 56.

[3] Thomas Aquinas, II Metaphysics,  lec.1, no 1275

[4] Tomas Alvira, Luis Clavell, Tomas Melendo, Metaphysics (Manila: Sinag-Tala, 1991) hal 8-9

[5]  Martin Heidegger, What is Metaphysic, 1929 translated Miles Groth, hal 7

[6] Ibid., hal 8

[7] Thomas Aquinas, II Metaphysics, lec.1, no. 273

[8] Ibid., lec.2, no. 291

[9] Ibid., Commentary On Posterior Analytic, 1,7

[10] René Descartes, Oeuvres, edited by Charles Adam and Paul Tannery (Paris: Vrin, 1971 [1897-1910]), Volume IX, 2, hal 14

[11] Vanni Rovighi, Elementi Di Filosofia (Brescia:Editrice La Scuola, 1999) hal 7

[12] Martin Heidegger, op.cit hal 58

[13] Thomas Aquinas, I Metaphysics, lec.3, no. 59

[14] Tomas Alvira, Luis Clavell, Tomas Melendo, Metaphysics (Manila: Sinag-Tala, 1991) hal 10

[15] Herman Reith, The Metaphysics of St. Thomas Aquinas (Milwaukee: Bruce, 1958)

[16] Thomas Aquinas, II Metaphysics, lec.2, no. 290

[17] Ibid.

[18] Ibid., I Metaphysics, lec.3, no. 65

[19]Ibid., lec.3, no. 54

[20]Herman Reith., op.cit.

[21] Ibid.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply