Pekerja Kristus

 

Lukisan: Jan Zoetelief Tromp, Daisy Chains

Lukas 10: 1-12; 17-20

Kemudian dari pada itu Tuhan  menunjuk tujuh puluh murid yang lain,  lalu mengutus mereka berdua-dua  mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya.” 

Komunisme-sosialisme menaruh propaganda dan kekuatannya dalam para pekerja-buruh. Bagi komunisme-sosialisme pekerja-buruh merupakan kekuatan yang menggerakkan roda ekonomi. Maka pekerja-buruh adalah tangan yang bekerja menopang negara. Kekuatan ekonomi negara bukan pada kapital-pemilik modal tetapi pada produksi–pekerja. Lalu, sosialisme di bawah kepimpinan Engel mensosialiskan Russia sementara Mao di Cina. Sejak Engel dan Mao berkuasa, para buruh-pekerja harus banyak ikut rapat penataran dan indoktrinasi sepulang kerja sore. Para pemimpin komunis mendeklarasikan doktrin mereka bahwa pekerja adalah kelas protelariat yang menggusur kaum borjuis. Dengan kekuatan pekerja-buruh revolusi akan berjalan. Revolusi komunisme membawa tujuan yaitu demokrasi yang sejati dalam bidang politik, kemakmuran yang merata bagi semua pihak dalam bidang ekonomi, kesamaan hak dan keadilan dalam sosial budaya. Revolusi komunisme dengan nama revolusi Oktober melanda Rusia. Palu dan besi tertampang di mana- mana tergores sebagai cap dan simbol revolusi Rusia. Sejak saat itu, tatanan hidup Rusia diubah dengan nafas komunisme. Ekonomi Rusia pun tumbuh pesat dan sekarang Cina telah menunjukkan kepada dunia akan kemajuan ekonomi yang luar biasa. Bagi komunisme pekerja-buruh adalah ukiran gambaran di hati negara[1].

Hari ini Yesus juga bersabda tentang pengutusan tujuh puluh murid untuk pergi berdua-dua ke desa dan kota lain. Tujuh puluh murid adalah pekerja Kristus yang bekerja di ladang-Nya. Lalu siapakah pekerja Kristus? Mereka adalah setiap pribadi yang telah menjadi murid Kristus lewat baptis dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Semenjak air baptis itu tercurah di dahi, sejak itu pula mereka menjadi murid Kristus, menjadi pekerja Kristus.

Ladang Kristus penuh dengan tuaian, subur dan luas tetapi pekerjanya sedikit. Maka sebelum berangkat, ketujuh puluh murid diminta untuk berdoa agar Tuhan mengirim pekerja-pekerja untuk membantu mereka. Mengapa harus berdoa? Sebab yang dapat menjadi pekerja Kristus adalah dia yang mencintai Kristus dengan segenap hatinya, jiwanya dan pikirannya bahkan kesediaan bekerja di ladang-Nya berasal dari rahmat-Nya. Tanpa cinta dan rahmat-Nya, siapa yang bisa mengasihi dan bekerja di ladang-Nya? Rahmat untuk bekerja di ladang-Nya harus dimohonkan kepada Tuhan sendiri. Dengan demikian, doa adalah syarat pertama para pekerja Kristus untuk bekerja di ladang-Nya.

Ladang Kristus ada di dunia. Maka, para pekerja Kristus diutus untuk berkarya di tengah-tengah dunia yang selalu tak menerima mereka; akan ada banyak musuh yang tak suka dan membenci para pekerja Kristus. Itulah sebabnya Yesus berkata: aku mengutusmu seperti anak domba ke tengah srigala. Memang tidak mudah bekerja di ladang Kristus. Tetapi janganlah tawar hati karena Kristus sendiri memberi kuasa yang melindungi dan menolong para pekerja-Nya yang ada di tengah-tengah serigala. Itu dikatakan oleh Kristus sendiri: sesungguhnya aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang membahayakan kamu. Tetapi, kuasa yang diberikan Kristus kepada para pekerja-Nya digunakan demi dan untuk kemuliaan Kristus; bukan kemuliaan pribadi.

Penampilan dan ciri khas pekerja Kristus adalah kesederhanaan. Ia tak membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut tetapi ia sungguh mengandalkan Kristus dalam hidupnya dan berserah sepenuhnya pada cinta Kristus seperti Kristus yang mengandalkan cinta Bapa-Nya. Ia pun tak terlena akan hal lain dan tak tergiur akan hingar-bingar dunia selain ladang Kristus. Hidupnya tercurahkan hanya untuk bekerja di ladang-Nya. Ladang Kristus bukanlah soal makanan, minuman, tetapi soal keadilan, kebenaran, damai sejahtera, sukacita yang semuanya itu dapat dirangkai menjadi kabar gembira kerajaan Allah. Para pekerja Kristus menyampaikan dan merealisasikan ladang Kristus di mana saja dia berada, ke segala penjuru tanpa terkecuali bahkan ke neraka sekalipun.

Kerajaan Allah itulah misi para pekerja Kristus sehingga kasih merupakan nafas para pekerja Kristus untuk mewujudkan misinya. Kata Ibu Teresa Calcutta: “Sebarkanlah kasih ke mana saja engkau pergi. Jangan biarkan seseorang pun yang datang kepadamu tanpa pulang dengan lebih bahagia”. Dalam kasih, misi kerajaan Allah yang dikerjakan oleh para pekerja Kristus menciptakan jalan revolusi yang mengubah, memperbaharui dan memperbaiki kehidupan supaya kehidupan menjadi hidup yang lebih baik. Di balik jalan revolusi, pekerja Kristus menunjukkan betapa dasyat karya Allah sekaligus karya Allah itu nyata dan sempurna. Para pekerja Kristus pun menjadi penggerak perubahan, roda dan pioner utama dalam kebaikan, kebenaran, cinta kasih di dalam dunia.

Tak mengherankan kalau kehadiran pekerja Kristus adalah damai sejahtera. Setiap tempat yang mereka datangi, setiap rumah yang mereka kunjungi selalu terbekas damai sejahtera dan sukacita. Maka, semua yang dibuat oleh pekerja Kristus dapat dirangkum dalam suatu adegium: ad majorem dei Gloriam yang artinya supaya semakin bertambahlah kemuliaan Tuhan. Nyanyian mazmur aku wartakan karya agung-Mu Tuhan selalu bergema di dalam tindakan, pikiran, jiwa, hati dan doa pekerja Kristus. Sudah barang tentu bahwa apa yang dibuat para pekerja Kristus membuat iblis terjungkal dari langit karena kejahatan, ketidakadilan, ketidakbenaran, kebencian sebagai hasil karya iblis diganti dan dikalahkan dengan kebenaran, keadilan, damai, sukacita dan kasih.

Lalu tampaklah bahwa suatu tanda dan cap salib dalam diri para pekerja Kristus. Cap dan tanda pekerja komunisme adalah besi dan palu. Namun, tanda dan cap pekerja Kristus adalah salib. Paulus -si pekerja Kristus- mengatakan pada tubuhku ada tanda-tanda milik Yesus. Tanda dan cap salib bukanlah suatu kutukan, hukuman tetapi merupakan kebanggaan, cinta para pekerja Kristus kepada Kristus sendiri. Cap salib juga mengatakan bahwa hanya dengan salib yang nyata, kita semua menjadi pekerja Kristus yang sejati. Dengan tanda dan cap salib para pekerja Kristus sambil melakukan pekerjaan berseru: bersorak-sorailah bagi Allah, hai seluruh bumi, bersoraklah bagi Allah, hai seluruh dunia. Mari saksikanlah karya Allah.

Semuanya itu membuat nama para pekerja Kristus terdaftar di surga, mekar laksana bunga, damai sejahtera mengalir bagai sungai ke dalam diri mereka. Nama mereka tercatat dalam kitab kehidupan. Para pekerja tersebut pun menjadi ukiran gambaran di hati Yesus Kristus.

 

 

[1]  Cerita ini disadur dari Catatan Pinggir Goenawan Mohammad.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply