Pakaian Pesta Untuk Pesta Perkawinan Anak Raja

Lukisan: Carl Herpfer, The Wedding Party

Matius 22: 1-14

                                                                                                                                  “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih”

 

29 Juli 1981, sejuta orang berkumpul di pusat kota London tepatnya sepanjang jalanan istana Buckingham menuju gereja katedral St. Paul. Bendera Inggris yang disebut union jack dan bunga-bunga menyulam dan menghiasi kota London. Atmosfer patriotisme dan nasionalisme menyelubungi hati rakyat Inggris. Kemudian, ketika kereta kencana kemaharajaan yang diiringi pasukan Inggris melintas di jalanan, tepuk tangan meriah dan lagu kebangsaan Inggris God Save The Queen melambung ke angkasa. Karpet merah sudah terhampar di depan katedral St. Paul karena pada hari itu kemaharajaan Inggris melangsungkan pernikahan putra mahkota Inggris pangeran Charles dan Diana Spencer. Kemaharajaan mengundang 3500 tamu yaitu diplomat dari berbagai negara, para pemimpin negara dunia, raja-raja. Acara pernikahan disiarkan ke-50 negara dan disaksikan oleh 750 juta penduduk dunia. Pangeran Charles mengenakan pakaian admiral Inggris warna hitam dengan selempang warna biru. Ratu Elisabeth dengan setelan biru laut menunjukkan kharisma maha ratu Inggris. Dan yang paling mengagumkan tentu Diana Spencer. Putri Diana mengenakan gaun putih dari sutera Taf dan panjangnya sekitar 25 kaki dan ditaburi 10 ribu mutiara. Para tamu mengenakan pakaian yang terbaik. Para raja dan para ratu tampil dengan pakaian kebesarannya masing-masing. Menghadiri pesta pernikahan kemaraharajaan Inggris adalah suatu kehormatan yang luar biasa dan tak mungkin untuk menolak undangan kemaharajaan Inggris itu. Setelah selesai pemberkatan perkawinan, kemaharajaan Inggris menjamu para undangan di istana Buckhingham. Piring untuk menjamu tamu adalah piring emas dan peralatan makan dari perak. Makanan Inggris yang terbaik dihidangkan untuk para tamu. Dunia setuju bahwa pesta pernikahan Pangeran Charles dan Diana disebut salah momen agung yang pernah terjadi di muka bumi ini.

Kerajaan surga diumpamakan dengan pesta perkawinan seorang anak raja. Mengapa? Dalam pesta perkawinan anak raja semua yang terbaik disuguhkan dan yang terpenting adalah kebahagiaan yang membuat semua orang bersukacita. Keagungan dan keindahan membalut pesta perkawinan anak raja sehingga menjadi gambaran kerajaan surga.

Sebenarnya, pesta perkawinan kerajaan surga berlangsung setiap saat dan sekarang ini. Artinya, setiap hari yang hadir dalam hidup disulam dan dirajut dalam keagungan pesta perkawinan anak raja. Untuk itu, kerajaan surga mengundang setiap orang supaya dapat hadir di dalam pestanya. Dalam undangan tersebut tertera bahwa setiap orang dituntut untuk menampilkan diri yang terbaik.  Menampilkan diri yang terbaik berarti menjadi manusia yang agung karena pesta kerajaan surga mendeklarasikan keagungan.

Lalu bagaimana menampilkan diri yang terbaik supaya menjadi manusia yang agung? Manusia yang agung ialah manusia yang hidup dalam keutamaan. Keutamaan itu antara lain belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kesabaran dan cinta kasih. Manusia yang agung selalu memakai dan mengenakan pakaian keutamaan dalam mengisi hari-hari hidupnya. Pakaian keutamaan memancarkan keagungan manusia. Sebab, dalam pakaian keutamaan manusia didekatkan, dikembalikan pada dirinya yang sejati, utuh dan penuh yaitu diri di mana dia berasal dari cinta. Terlebih,  dalam keutamaan manusia menjadi cermin keagungan Allah sang pencipta. Pakaian keutamaan tersebut sungguh menentramkan hati dan membawa hidup kepada kebahagiaan. Di mana ada kebahagiaan maka di situ pula ada pesta kehidupan. Pakaian keutamaan menjadi pakaian pesta yang indah untuk menghadiri pesta pernikahan anak raja.

Sayangnya, ada juga manusia yang menolak undangan kerajaan Allah untuk hadir dalam pesta perkawinan anak raja yaitu manusia yang menolak hidup di dalam keutamaan. Siapakah mereka itu? Mereka yang hidup dalam percabulan, kenajisan, hawa nafsu jahat, marah, geram, kejahatan, kata-kata kotor. Orang-orang seperti itulah yang tidak mengindahkan undangan pesta perkawinan anak raja seperti yang digambarkan dalam Injil: ada yang pergi ke ladangnya, ada yang pergi mengurus usahanya bahkan membunuh para utusan raja.

Menjadi manusia yang agung -hidup di dalam keutamaan- diawali dengan bertobat. Tidaklah cukup hanya menerima undangan perkawainan, tetapi diri juga harus terbuka kepada jalan pertobatan yang mengubah hati (Paus Fransiskus). Pertobatan melahirkan diri sebagai manusia baru. Dalam iman, kita menjadi manusia baru berkat Kristus. Sebelum kita dibaptis, kita adalah pendosa seperti orang jalanan yang berada di pinggir dan di persimpangan jalan.  Namun berkat Kristus kita yang hanya orang jalanan diperbolehkan hadir dan dipersilahkan masuk ke dalam pesta perjamuan anak raja. Berkat Kristus pula kita mengenakan pakaian pesta yang terbaik yaitu Kristus sendiri: Kristus menjadi pakaian pesta kita. Dalam Kristus, pakaian pesta yang dikenakan kepada kita menyimbolkan belas kasihan Tuhan yang diberikan kepada kita secara cuma-cuma. Pakaian pesta Kristus haruslah disambut dengan kekaguman dan sukacitaLalu bagaimana mengenakan Kristus di dalam hidup ini? Tentu saja dengan mendengarkan dan melaksanakan firman-Nya. Tanpa mendengarkan dan melaksanakan firman-Nya, diri ibarat orang yang masuk ke dalam kerajaan Allah tanpa menggunakan pakaian pesta. Kata raja: hai saudara, bagaimana engkau masuk ke kemari dengan tidak menggunakan pakaian pesta? Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sana akan terdapat ratap dan kertak gigi.

Hanya dengan mengenakan Kristus dan hidup di dalam keutamaan kita tahu bahwa tempat perjamuan pernikahan anak raja adalah perjamuan Ekaristi itu sendiri yang adalah perjamuan Anak Domba. Kristus sang Anak Domba Allah mengorbankan diri dengan memberikan tubuh dan darah-Nya. Makanan yang dihidangkan dalam perjamuan Ekaristi yaitu roti dan anggur merupakan makanan mewah-suatu jamuan dengan anggur yang tua benar, suatu jamuan dengan lemak dan sumsum dan dengan anggur tua yang disaring endapannya. Dalam iman kita pun menyantap dan merasakan kelezatan jamuan dan makanan khas kerajaan Allah yaitu roti dan anggur Ekaristi yang membawa kepada keselamatan. Keagungan pesta dan jamuan kerajaan Allah yang mengeyangkan membuat kita bersorak-sorai dan bersukacita. Ekaristi pun menjadi madah syukur karena kita yang hanya orang-orang jalanan, orang-orang kecil ini boleh hadir dalam pesta kerajaan Allah dan menikmati hidangan terbaik kerajaan Allah.

Semuanya itu membuat kita berkata di dalam lubuk hati yang terdalam: di dalam kerajaan Allah aku takkan berkurangan. Sebab Engkau mengenyangkan daku dengan roti dan memuaskan dahagaku dengan anggur yang terbaik. Pialaku selalu berlimpah dan piringku selalu penuh. Aku pun berseru seperti pemazmur: Kerelaan dan kemurahan-Mu mengiringi aku di sepanjang umur hidupku. Dan aku akan berdiam dalam rumah Tuhan sepanjang segala masa

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply