Menyambut Kristus Sang Pengantin

Lukisan Jessie Edwards
 

Kebijaksanaan 6:12-16

1 Thessalonika  4:13-18

Mateus 25:1-13

 

Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

 

Suatu pernikahan merupakan suatu peristiwa yang menggembirakan dan penuh sukacita dan ini berlaku bagi seluruh bangsa, suku di setiap zaman dan tempat. Setiap bangsa memiliki budaya dan keunikan sendiri untuk merayakan pesta perkawinan termasuk orang Yahudi Palestina zaman Yesus. Pada abad pertama perkawinan Yahudi dimulai setelah tengah malam. Pengiring pengantin, setelah menghabiskan waktu bersama mempelai wanita, akan keluar untuk menemui mempelai laki-laki. Karena dimulai pada tengah malam, maka para pengiring pengantin akan membawa entah itu lampu minyak ataupun obor yang terbuat dari lap yang dicelup dengan minyak. Setelah sampai di rumah mempelai laki-laki, para pengiring pengantin akan menyertai pengantin laki-laki pergi menuju ke rumah pengantin wanita. Rute yang ditempuh biasanya melewati desa, menempuh perjalanan yang panjang dan berkelok-kelok. Tujuannya adalah supaya dapat berbagi kegembiraan bersama dengan sebanyak mungkin orang dan juga mendapat berkat dari orang-orang tersebut. Setiap pengguni desa mengikuti iring-iringan sang pengantin. Pada akhirnya sang pengantin pria dan pengiring pengantin sampai di rumah pengantin wanita di mana perjamuan besar menanti para tamu dan anggota keluarga. Setelah perayaan selesai, pengantin baru tidak mengenal namanya bulan madu tetapi tinggal di rumah selama seminggu dan selama seminggu pula mereka mempersilahkan para tamu untuk datang ke rumah. Seminggu penuh pengantin baru diperlakukan seperti pangeran dan putri. Semuanya itu menjadi seminggu yang paling penuh sukacita bagi  pengantin baru Yahudi.

Hari ini kita mendengarkan perumpaan gadis bijaksana yang menyambut sang pengantin. Perumpamaan ini mengingatkan kita akan kedatangan Yesus yang kedua kali. Kita sebagai orang percaya kepada Yesus menanti  kedatangan-Nya yang kedua. Kedatangan-Nya yang dinanti-nantikan ibarat sang pengantin yang ditunggu-tunggu oleh kesepuluh gadis. Kesepuluh gadis baik yang bijaksana maupun tolol melambangkan para murid Kristus.

Sang pengantin – Yesus Kristus- tak pernah memberitahu kapan kedatangan-Nya. Tidak ada petunjuk jelas tentang waktu kedatangan-Nya. Waktu kedatangan-Nya yang penuh misteri digambarkan dengan kedatangan sang pengantin di malam hari. Yang diminta dari kita para murid-Nya adalah berjaga-jaga akan kedatangan-Nya. Maka, pertanyaannya apa yang harus dilakukan? Apakah hanya menanti?

Menanti dan berjaga-jaga akan kedatangan sang pengantin bukan sekedar duduk manis menunggu masa depan tetapi suatu keterlibatan aktif di masa sekarang. Berjaga-jaga bukan soal spekulasi, mengandai-andainya tetapi suatu persiapan di masa sekarang saat ini, sekarang juga. Masa sekarang  membentuk, menentukan dan mengantisipasi masa depan. Asumsi bahwa masa depan adalah rahmat mengandung bahaya karena menyepelekan masa sekarang  (John Donahue). Jelas menjadi murid Kristus bukan menunggu pasif akhir zaman maupun kematian  karena pasif  di dalam menanti kedatangan Kristus yang kedua ataupun kematian adalah suatu kejahatan yang digambarkan dengan kelima gadis yang kehabisan minyak kemudian ditolak oleh sang tuan.

Yang diminta dari setiap para murid Kristus ialah menjadi kelima gadis yang bijaksana yang membawa minyak dan lampu. Mereka adalah para murid Kristus yang menyiapkan masa sekarang untuk mewarnai, mengisi dan mengantisipasi masa depan. Ada ruang dan waktu untuk menghidupi masa sekarang, ada keharusan untuk menyiapkan, mengisi dan mengerjakan saat ini, sekarang ini. Jadi masa sekarang menuntut suatu tanggung jawab bagi para murid Kristus karena masa sekarang adalah rahmat yang harus dikerjakan dan dilakukan saat ini.

Memang kedatangan-Nya tidak ketahui tetapi menyiapkan diri untuk menyambut Kristus dimulai sekarang ini. Tidak ada alasan menunda, tidak ada pilihan maupun mengelak untuk mempersiapkan diri sekarang ini. Jadi menjadi murid Kristus bukan suatu mimpi tetapi menghidupi masa sekarang, menghidupi setiap moment yang berlangsung saat ini.

Bagaimana menyiapkan masa sekarang untuk menyambut Kristus sang pengantin? Mengisi dan menyiapkan masa sekarang untuk menyambut Kristus sang pengantin sebagaimana dikatakan di dalam perumpamaan membutuhkan minyak dan lampu. Persatuan minyak dan lampu menghasilkan terang terus-menerus. Minyak dan lampu mempersiapkan masa sekarang untuk menerangi masa depan. Berkat minyak dan lampu masa depan bukan sesuatu yang kelam, yang tak pasti tetapi sungguh menjadi suatu harapan dan keselamatan. Masa lampau atau sejarah bukan lagi sesuatu yg menghantui tetapi menjadi pohon kehidupan yang kaya makna. Terang lampu yang terus-menerus mengingatkan kita akan kata Kristus sendiri:Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik  dan memuliakan  Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16). Lalu apa yang dimaksud dengan minyak dan lampu?

 Minyak melambangkan iman sementara lampu adalah perbuatan baik. Lampu tanpa minyak akan mati sebaliknya minyak tanpa lampu juga tidak berarti apa-apa. Iman tanpa perbuatan adalah kesia-siaan, perbuatan tanpa iman juga mati. Iman tanpa buah tidak akan menghasilkan terang ibarat lampu tanpa minyak. Iman dan perbuatan menuntut tindakan aktif sekarang ini dan saat ini. Iman dan persiapan menyambut Kristus dibangun lewat doa, merayakan sakramen, perbuatan baik yang dilakukan terus-menerus, kesetiaan pada tugas dan tanggung jawab sehari-hari. Artinya bahwa iman akan Kristus bukan iman instant yang sekali jadi; persiapan menyambut Kristus sang pengantin bukanlah persiapan yang hanya berlangsung satu semalam. Iman dan persiapan akan menyambut Kristus berlangsung dalam kehidupan sehari-hari seperti memintal benang untuk menjadi kain. Persiapan menyongsong Kristus sang pengantin adalah suatu proses yang memerlukan waktu di dalam kesetiaan sehari-hari. Iman yang dipintal terus-menerus, perbuatan baik, kesetiaan pada tugas dan tanggung jawab sehari-hari yang dilakukan tiada henti mengarahkan dan menyiapkan hati dan pikiran kita akan kedatangan Kristus yang kedua. Masa sekarang menjadi sungguh rahmat untuk menyambut rahmat masa depan. Sejarah -masa lampau-  menjadi terang yang mewarnai masa sekarang. Kita berdamai dengan sejarah hidup kita. Hanya dengan minyak dan lampu yaitu iman dan perbuatan baik membuat kita siap selalu menyambut kedatangan Kristus sekarang ini dan saat ini. Semuanya itu membuat kita membawa minyak dan lampu bahkan minyak selalu penuh dan  lampu  selalu menyala bersinar terus-menerus.

Supaya kita selalu ingat untuk membawa minyak dan lampu dibutuhkanlah kebijaksanaan. Kebijaksanaan tak pernah layu dan dan selalu bersinar sehingga terang kebijaksanaan menyinari kehidupan. Kebijaksanaan mengingatkan dan menjaga kita. Oleh karena itu merenungkan kebijaksanaan membuat hati dan pikiran berjaga-jaga bahwa kerajaan surga ada sekarang ini juga. Dengan kebijaksanaan kita mengerti bahwa yang terpenting adalah hidup dalam Tuhan; karena kebijaksanaan kita mengerti bahwa kebahagiaan bukanlah apa yang ditawarkan maupun yang diberikan oleh dunia tetapi soal kebaikan, kebenaran, keadilan, tanggung jawab yang harus dikerjakan saat ini. Memang menanti bukanlah hal gampang. Kita bisa saja tertidur karena lelah letih, karena sang pengantin tidak datang-datang. Ataupun di dalam menanti sang pengantin kita terlena akan tawaran-tawaran dunia gemerlap yang mampu memalingkan hati dan pikiran kita. Tetapi terang kebijaksanaan bersinar di jalan-jalan kehidupan dan suaranya berseru-seru. Kebijaksanaan membangunkan kita dengan berseru: mempelai datang, songsonglah dia. Kita pun kembali sadar dan terbangun sehingga kita kembali mempersiapkan diri untuk menyambut Kristus. Selama kebijaksanaan dicari, kebijaksanaan sendiri  yang mencari kita dan dengan rela kebijaksanaan memperlihatkan dirinya kepada kita. Kebijaksanaan ditemukan di dalam doa kita, di dalam kitab suci, di dalam perbuatan-perbuatan baik, dalam peristiwa-peristiwa hidup yang direfleksikan di dalam iman. Kebijaksanaan pun mendekap kita dan kita pun menjadi gadis yang bijaksana. Sebaliknya pula ketika menjauhkan diri dari kebijaksanaan, menolak mencarinya, kita pun menjadi gadis tolol yang lupa membawa obor dan minyak ketika sang pengantin datang. Persiapan kita ataupun minyak dan lampu kita tentu tidak dapat dipinjamkan. Tidak mungkin aku meminjamkan lampuku atau memberikan minyakku maupun mustahil aku meminjam lampumu atau meminta minyakmu.  Sebab persiapan menyambut sang pengantin adalah masalah personal antara aku dan Yesus kristus; menyoal tanggung-jawab pribadiku kepada Yesus Kristus. Hubungan personal atau iman ini tidak mungkin berada di dalam koridor pinjam-meminjam atau minta-meminta.

Yang pasti, pada saat kedatangan sang pengantin -Yesus Kristus-, Ia akan memisahkan gadis yang bijaksana dan gadis yang bodoh.  Gadis yang bodoh ialah mereka yang pasif menanti kedatangan Kristus; para murid Kristus yang berpikir bahwa persiapan dapat dilakukan semalam, mereka yang tidak siap ketika sang pengantin datang. Di dalam pesta sang pengantin para gadis yang bodoh tidak diakui sebagai teman; pesta perkawinan yang penuh sukacita dilewatkan oleh para gadis yang bodoh karena mereka tidak siap. “Tuan, tuan  bukakanlah pintu bagi kami. Aku tidak mengenal kamu”. Sementara gadis yang bijaksana menyongsong gembira dan ikut dalam iring-iringan pengantin ke dalam rumah pengantin. Jadi hanya ada dua kelompok yaitu gadis yang bijaksana dan gadis yang bodoh. Kesiapan dan persiapan kita menyambut Kristus itulah yang menentukan kita apakah kita menjadi gadis yang bijaksana atau gadis yang bodoh. Kiranya kita selalu memiliki iman dan perbuatan yang baik sehingga kita menjadi seperti gadis bijaksana yang membawa minyak dan lampu menyala-nyala untuk menyambut Kristus. Sebab: “Berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya

< p style=”text-align: justify;”> 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply