Memanfaatkan Sisa Waktu Dengan Mamon

Lukisan Marinus van Reymerswaele, The Unjust Steward

 

Lukas 16: 1-9

Mengemis aku malu, mencangkul aku tidak dapat

Lirik lagu Time oleh grup Hootie and the Blowfish:

Waktu mengapa engkau menghukumku

Seperti sebuah gelombang yang menerpa pantai

Engkau menghapus semua mimpiku

Waktu mengapa engkau melewati aku

Seperti seorang sahabat yang pergi ke suatu tempat

Engkau membiarkan aku menangis

Dapatkah engkau mengajarkan kepadaku tentang hari esok

Semua penderitaan dan rasa sakit sedang terjadi seenaknya

Sebab hari esok hanyalah suatu hari lain

Aku tak percaya akan waktu

Si waktu telah pergi, si waktu sedang lewat

Waktu, engkau bukanlah sahabatku

Aku tak tahu ke mana aku harus pergi

Aku berpikir bahwa aku akan hidup tanpa insipirasi

Dengan memikirkan waktu

Jika esok ternyata aku mati

Aku akan membaringkan diri untuk tidur

Waktu engkau telah meninggalkan aku berdiri di sana

Seperti sebuah pohon yang sedang tumbuh sendirian

Angin telah meniupku

Sehingga telah menelanjangiku,

Waktu, masa lalu telah datang dan pergi

Masa depan masihlah jauh

Masa sekarang hanya berlangsung dalam detik

Waktu tanpa semangat

Waktu tanpa takut

Ia hanya terbuang

Waktu telah terbuang

Oooh,oh, ooh

Waktu mengapa engkau menghukumku

Yesus pada hari ini mengajarkan tentang perumpamaan seorang bendahara yang tidak jujur. Bendahara ini hendak dipecat oleh tuannya karena menurut sang tuan bendahara ini menghamburkan harta miliknya. Maka si bendahara mencari cara untuk menyelamatkan masa depannya. Cara yang ditempuh ialah ia meringankan beban hutang orang-orang yang berhutang kepada tuannya. Orang yang berhutang 100 tempayan minyak kepada sang tuan ia ringankan menjadi 50 puluh tempayan, dan yang berhutang 100 pikul gandum menjadi 80 pikul. Dengan meringankan hutang-hutang itu, si bendahara di satu pihak ia tidak merugikan tuannya dan di pihak yang lain, ia menolong mereka yang berhutang karena ia memakai gajinya atau upahnya untuk meringankan hutang-hutang tersebut. Dengan demikian bendahara telah mempersiapkan masa depannya seandainya ia dipecat: diterima oleh orang-orang yang telah diringankan hutangnya olehnya atau bekerja kembali di tempat tuannya. Sebab di satu sisi ia telah bermurah hati kepada orang–orang yang berhutang kepada sang tuan dan sisi lain, ia telah mengambil hati sang tuan. Jadi dengan kecerdikannya si bendahara tahu menjamin masa depannya pada saat kritis di dalam hidupnya. Yesus berbicara tentang apa lewat perumpamaan bendahara yang cerdik ini?

Gambaran seorang tuan atau majikan kaya ini sebenarnya gambaran yang merujuk kepada Tuhan sendiri. Tuhan selalu memberi waktu dan kesempatan kepada manusia untuk memperbaiki kesalahan, dosa yang telah dibuat. Pendek kata bertobat. Ini terbukti ketika sang tuan tidak langsung memecat si bendahara sehingga ada waktu bagi bendahara untuk mencari cara menyelamatkan masa depannya. Dan si bendahara itu menangkap dengan baik sisa waktu yang diberikan kepadanya dan dengan cerdik memanfaatkannya demi keselamatan dirinya. Ia berhasil.

Yesus mengingatkan kepada kita agar kita menangkap sisa waktu atau kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita dan memanfaatkannya dengan cerdik sebelum kita dipanggil Tuhan. Ada banyak kesalahan, dosa, kesia-siaan yang telah kita buat dalam hidup ini. Maka, di dalam jengkang waktu yang tersisa, kita harus membuat keputusan untuk bertindak demi keselamatan diri kita sendiri. Jangan sampai kita lupa bahwa nantinya sisa waktu dan kesempatan telah habis karena telah sampai pada hari H-nya. Lalu bagaimana menggunakan sisa waktu yang ada demi keselamatan?

Dikatakan, si bendahara telah mengikat persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur. Artinya ia menggunakan gajinya untuk meringankan hutang orang-orang kepada tuannya sehingga di satu pihak orang–orang berterima kasih kepadanya dan di lain pihak pandangan buruk sang tuan kepada bendahara berubah menjadi pujian karena kemurahan hati bendahara. Dengan mamon sang bendahara menyelamatkan dirinya.

Apa itu mamon? Mamon adalah soal kekayaan. Kekayaan atau mamon bisa harta, intelektual, talenta, semua yang kita miliki. Mamon harus digunakan untuk mendapatkan sahabat-sahabat. Bagaimana? Dengan menggunakan mamon untuk kepentingan sesama terutama mereka yang membutuhkan bantuan kita: mereka yang miskin, mereka yang terpinggirkan, mereka yang terbuang, mereka yang ada di dalam kesulitan. Dengan kata lain, mamon digunakan untuk membangun persahabatan demi menegakkan keadilan, kebenaran dan kejujuran bahkan kasih. Mamon ketika dipergunakan demi keadilan, kebenaran dan cinta kasih akan mengisi sisa waktu dan kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuk memperbaiki dan menebus kesalahan, kebodohan yang telah kita lakukan. Jadi mamon atau kekayaan itu sebenarnya menolong kita asalkan dipergunakan dengan baik dan benar. Nah, ketika sisa waktu telah habis yaitu ketika kematian datang, memang mamon atau kekayaan itu tidak dapat menolong kita lagi tetapi karena telah mengisi sisa waktu dengan kebenaran, cinta kasih lewat mamon atau kekayaan, kita diterima dalam kemah abadi.

Dalam sisa waktu yang ada, mamon dapat menjadi sarana keselamatan untuk menegakkan keadilan, kejujuran dan kasih sayang dengan syarat yaitu bahwa hati harus mengabdi dan setia kepada Tuhan. Hati harus selalu ingat kepada Tuhan sehingga membuat mamon menjadi alat untuk mencapai keselamatan. Ketika kita melakukan hal itu, kita menjadi cerdik seperti si bendahara. Ketika kita menjadi bendahara yang cerdik itu, kita pun tahu bahwa Tuhan Allah bukanlah Tuhan yang keras bahkan kita akan merasakan dan melihat kesabaran, kemurahan dan belas kasih Tuhan atas diri kita. Sebaliknya ketika kita tidak secerdik seperti bendahara yang tahu dan mengerti betul memanfaatkan sisa waktu yang ada, maka waktu akan menghukum kita lalu membuat kita menangis dan menyesal karena kita tidak menyadari bahwa sisa waktu yang ada adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menebus dan memperbaiki kesalahan, kesia-siaan dan kebodohan yang telah kita buat. Malahan, sisa waktu itu justru menjadi hukuman karena waktu tetap diisi dengan kelaliman dan kejahatan. Lalu ketika tiba hari H-nya, kita berkata dalam diri sendiri: “Waktu mengapa kamu menghukum; tuan mengapa engkau memecatku, apa harus kulakukan? Mengemis aku malu, mencangkul aku tidak dapat”. Jawab Tuhan: “itu urusanmu”.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply