Mazmur 15

Lukisan: Waldemar Flaig 

Tamu Tuhan

15:1 Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu ? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?

15:2 Yaitu dia yang berlaku tidak bercela, yang melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dari hatinya, 15:3 yang tidak menyebarkan fitnah  dengan lidahnya, yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya; 15:4 yang memandang hina pelaku kejahatan, tetapi memuliakan orang yang takut akan TUHAN; yang tidak menarik kembali sumpahnya walaupun rugi; 15:5 yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba dan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah.

Siapa yang berlaku demikian, tidak akan goyah selama-lamanya.

 

Eksegese

15:1 Mazmur Daud. TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu ? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus?

Mazmur dibuka dengan pertanyaan kepada Tuhan: TUHAN, siapa yang boleh menumpang dalam kemah-Mu? Siapa yang boleh diam di gunung-Mu yang kudus? Jelas pertanyaan tersebut mempersoalkan bagaimana caranya, apa yang harus dilakukan dan bagaimana hidup ini harus dijalani supaya nantinya boleh menumpang di kemah-Nya atau diam di gunung-Nya yang kudus. Di balik pertanyaan tersebut juga memastikan tempat tujuan akhir hidup manusia yaitu berdiam di kemah-Nya dan gunung-Nya yang kudus. Kemah Tuhan merupakan suatu gambaran yang mengacu kepada Bait suci Yesuralem. Dalam tradisi Israel, ada Pesta Kemah yang dirayakan setiap tahun. Gunung-Nya yang kudus mengacu kepada gunung Zion. Kemah Tuhan berada di puncak gunung Zion. Maka menumpang di kemah-Nya atau diam di gunung-Nya yang kudus berarti masuk ke dalam hadiran-Nya, tinggal dan bersatu dengan-Nya. Dari segi budaya sejarah, mazmur ini juga dipergunakan oleh orang-orang Ibrani dalam perjalanannya ke Bait suci Yerusalem. Mereka mendaraskan mazmur ini supaya terpatri di dalam ingatan dan hati dan selalu mempraktekkannya.

Tuhan pun menjawab dengan mengungkapkan perilaku dan cara hidup agar diperbolehkan menumpang di kemah-Nya dan diam di gunung-Nya kudus. Perilaku dan cara hidup itu dinyatakan dengan perintah baik secara secara positif maupun secara negatif. Perilaku dan cara hidup yang dinyatakan oleh-Nya menyiratkan etika dan moral yang selaras dengan kehendak-Nya. Persyaratan etika dan moral merupakan sesuatu persyaratan yang berbeda dengan agama-agama lain yang ada Timur Tengah pada waktu itu. Misalnya, dalam budaya Mesir ataupun Babilonia, di pelataran kuil mereka terdapat kondisi harafiah ataupun ritus lahiriah supaya dapat masuk ke dalam seperti gerak tubuh tertentu, pakaian khusus. Namun, Mazmur 15 menunjukkan suatu perbedaan yang mendasar karena yang diperlukan untuk masuk ke dalam tempat-Nya yang suci dan kehadiran-Nya adalah kekudusan hidup dan bukan syarat external:

Dia yang berlaku tidak bercela

Orang yang berlaku tidak bercela terjadi karena menghidupi kesepuluh perintah-Nya: Dekalog. Dekalog menyatakan bahwa Tuhan menginginkan bahwa hidup orang yang mengaku percaya kepada-Nya harus penuh dengan  kekudusan karena Ia sendiri adalah Kudus. Jadi, lewat kesepuluh perintah-Nya Tuhan menghendaki kekudusan hidup manusia. Menjalankan kesepuluh perintah-Nya menjadikan hidup yang kudus yaitu hidup tak bercela. Karena itu pula, dia yang hidupnya tak bercela dapat menumpang dan bertamu di kemah-Nya.

Melakukan apa yang adil dan yang mengatakan kebenaran dari hatinya

Dalam konteks Israel kuno keadilan berarti memberikan hak kepada orang lain yang menjadi haknya tanpa menyunatnya. Keadilan berkaitan erat dengan kekuasaan yang mana dalam kekuasaaan orang cenderung semena-mena bahkan merampok hak bawahannya. Dalam kekuasaan apa pun entah kekuasaan politik, kekuasaan di rumah, kekuasaan di tempat kerja ataupun di segala tempat yang menunjukkan adanya struktur kekuasaan, pemegang kekuasaan harus berlaku adil supaya martabat setiap orang dihargai. Dengan demikian keadilan bukan sebuah konsep, ide, gagasan tetapi keadilan yg dikumandangkan ayat ini meminta untuk dihayati dalam praktis supaya keadilan benar-benar terlaksana. Ternyata, keadilan merangkul kebenaran sehingga segala tutur kata harus menyuarakan kebenaran. Orang dapat mengatakan kebenaran jika hatinya berpusat kepada keadilan. Dia akan menjauhkan tuturannya dari kebohongan dan gosip karena gosip dan kebohongan sudah suatu bentuk ketidakadilan. Supaya dapat mengatakan kebenaran dari hati orang harus mencintai dan membiarkan kebenaran bekerja dari hati. Hati selalu menghasratkan kebenaran bahkan takhta kebenaran adalah hati itu sendiri. Dengan demikian ada kesesuaian kebenaran yang ada di dalam hati dan keadilan yang ada di dalam tindakan. Memang, orang demikian tinggal di gunung-Nya yang kudus.

Kalau kedua tersebut merupakan cara hidup yang dirumuskan secara positif untuk tinggal di dalam kemah Tuhan, maka berikutnya dipaparkan cara hidup yang menggunakan rumusan negatif.

Yang tidak tidak menyebarkan fitnah dengan lidahnya

Kejahatan bermula dan diawali dari lidah yang memfitnah. Lidah yang memfitnah sesamanya jelas mematikan diri sesamanya sehingga sesamanya tidak bertumbuh dan berkembang, ia merampas keadilan sesamanya dengan lidah fitnahnya. Fitnah lidahnya menggiring dan menempatkan sesamanya dalam malapetaka dan menghancurkan nama baik sesama. Lidah memang rentan dan mudah sekali memfitnah apalagi ketika diri dikuasai emosi, dendam, kebencian yang ujungnya membawa malapetaka bagi sesama. Melihat dampak lidah fitnah, tentu pemfitnah tidak dapat menumpang di kemah TUhan.

Yang tidak berbuat jahat terhadap temannya dan yang tidak menimpakan cela kepada tetangganya.

Kejahatan mudah ditimpakan kepada sahabat yaitu orang dekat yang dikenal baik. Kalau fitnah adalah kejahatan dalam rupa kata maka berbuat kejahatan dan menimpakan cela adalah membawa malapetaka dalam rupa tindakan. Dari fitnah lidah yang jahat berujung menetaskan aksi tindakan yang jahat. Dengan demikian, kejahatan menjadi penuh dan sempurna sehingga tidak mungkin orang yang demikian masuk ke dalam kehadiran-Nya di kemah gunung-Nya.

Yang memandang hina pelaku kejahatan tetapi memuliakan orang yang takut akan Tuhan

Dua ayat ini untuk sementara menghentikan cara hidup dalam rumusan negatif karena dua ayat ini menunjukkan moralitas. Moralitas menjelaskan disposisi hati dan pandangan hidup seseorang. Disposisi hati dan pandangan hidup merupakan pilar utama yang membangun dan menentukan perbuatan dan tuturan. Karena itu, pandangan hidup dan disposisi hati diisi dengan takut akan Tuhan dan memandang hina pelaku kejahatan. Memandang hina pelaku kejahatan artinya ia tidak mengikuti tawaran dan godaan akan kejahatan, tidak berkompromi dan tidak menyetujui segala bentuk kejahatan bahkan membenci kejahatan. Untuk itu, ia tidak akan pernah duduk bersama dalam barisan pelaku kejahatan karena akan menjadikan dirinya hina yaitu jauh dari hidup yang kudus. Sebaliknya, disposisi hatinya adalah takut akan Tuhan sehingga ia menempatkan hidupnya dalam satu barisan dengan orang yang takut Tuhan. Dalam barisan itu, ia memuliakan orang yang takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan merupakan awal kebijaksanaan dan segala pengetahuan yang membuat dirinya mengingat seruan mazmur ini. Takut akan Tuhan berarti disposisi hatinya dan pandangan hidup untuk mencintai Tuhan dengan segenap hidupnya. Cinta akan TUhan menjadi suara yang menggema di dalam batin dan jiwa orang yang takut akan TUhan. Dia sudah berada di dalam rute yang benar menuju gunung-Nya yang kudus. Dengan moral yang demikian dia mempersiapkan dirinya untuk menjadi tamu Tuhan.

Yang tidak menarik kembali sumpahnya walaupun rugi

Jelas bahwa orang yang tidak menarik kembali sumpahnya walaupun rugi adalah orang yang tidak berubah-rubah atau diombang-ambingkan oleh tawaran kecurangan dan keserakahan, orang yang memiliki integritas dan menghidupi janjinya. Orang yang demikian pasti mempunyai komitmen kepada apa yang ia katakan, apa yang ia hidupi, apa yang kerjakan. Dia pun berdiam di gunung-Nya kudus.

Yang tidak meminjamkan uangnya dengan makan riba

Sudah menjadi praktek riba bahwa orang menjadi kaya dengan meminjamkan riba yang mencekik sesamanya. Kekayaan di dapat di atas penderitaan orang lain. Dia mengambil keuntungan dari kemalangan sesamanya. Ruang hati si rentenir hanya dipenuhi ambisi keuntungan sehingga tidak memberikan tempat untuk belas kasihan, ataupun pertolongan. Kemah Tuhan pun tertutup untuk dirinya.

Tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah

Korupsi telah menjadi suatu sistem yang jahat di setiap zaman. Korupsi adalah perbuatan jahat yang menghancurkan baik diri sendiri, orang lain dan masyarakat itu sendiri bahkan tatanan kehidupan. Dalam korupsi, orang menjungkirbalikkan kebenaran dan keadilan demi suap sehingga membuat orang lain kehilangan haknya. Korupsi merampas apa yang bukan menjadi haknya. Biasanya, koruptor duduk bersama dengan barisan pelaku kejahatan membenarkan kejahatan. Koruptor tidak mungkin dapat bertamu di kemah Tuhan.

Siapa yang berlaku demikian tidak akan goyah selama-lamanya

Menjalankan cara-cara hidup yang demikan berarti tidak sekedar mempersiapkan diri untuk berjumpa dengan Tuhan tetapi juga bersatu dengan diri-Nya secara sempurna nantinya. Perilaku dan cara hidup yang demikian adalah bagai wadas kokoh yang tidak goyah karena cara hidup yang demikian atau perilaku tersebut didasarkan pada kehendak-Nya dan kekudusan-Nya sehingga Ia menjadi pelindung bagi orang yang mempraktekkan dan melaksanakannya. Menghidupi dan melaksanakan perintah-Nya di dalam kehidupan praktis sehari-hari membuat ia masuk ke dalam kehadiran-Nya, ia menumpang di kemah-Nya dan tinggal di gunung-Nya yang kudus setiap saat. Sebabnya, ia sungguh-sungguh telah menjadi tamu-Nya. Karena itu pula, orang tersebut tidak akan goyah selama-lamanya.

 

Makna

Hati dan jiwa dari Mazmur 15 sebenarnya adalah hukum kasih itu sendiri. Artinya Mazmur ini  membawa kita kepada aktualisasi dari hukum kasih: Cintailah Tuhan Allahmu dengan sepenuh hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan seluruh akalmu. Cintailah sesamamu seperti engkau mencintai dirimu sendiri (Matius 22: 7-40). Penjabaran dari hukum kasih ada dan terdapat di dalam mazmur 15. Siapa yang melakukan dan menghayati perintah Mazmur 15, ia sudah melakukan dan melaksanakan hukum kasih.

Yesus menyempurnakan mazmur 15 dengan memberikan perintah baru kepada para muridnya yaitu supaya kamu saling mengasihi satu sama lain. Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi (Yohanes 13:34). Untuk itu, jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku (Yohanes 15:10). Banyak orang mengaku dan berseru bahwa dia adalah sahabat Yesus. Namun siapakah sahabat Yesus yang sejati? Sahabat Yesus yang sejati adalah para murid Kristus yang menghidupi hukum kasih. Maka, Mazmur ini adalah jalan untuk menjadi sahabat Yesus yang sejati karena apa yang dititahkan oleh Mazmur ini merupakan perwujudan dari hukum kasih. Bagaimana kita dapat melaksanakan mazmur 15? Kita dapat melaksanakan dan hidup selaras dengan hati Mazmur 15 jika kita menyadari kasih Yesus kepada kita. Kenyataan tersebut harus menjadi disposisi hati dan pandangan kita supaya kita dengan bahagia melaksanakan cara hidup Mazmur 15. Dalam kasih-Nya kita pun mencintai sesama dengan hidup tak bercela, dengan melakukan apa yang adil, dengan mengatakan kebenaran dari hatinya, dengan memandang hina para pelaku kejahatan, dengan memuliakan orang yang takut akan Tuhan, dengan tidak menarik kembali sumpahnya walaupun rugi, dengan tidak meminjamkan uangnya dengan makan ribah, dengan tidak menerima suap melawan orang yang tak bersalah. Kasih Yesus mengukir dan membentuk diri menjadi orang yang takut akan Tuhan. Dengan menghidupi mazmur 15 sahabat Yesus adalah tamu Tuhan yang sejati yang boleh menumpang di kemah-Nya dan diam di gunung-Nya.

Mempraktekkan dan menghidupi mazmur ini bersama Yesus membenamkan hidup di dalam kekudusan sehingga yang melakukannya tidak goyah selama-lamanya. Tidak goyah selama-lamanya berarti ia mendapat kebahagiaan. Ya, ganjaran hidup yang selaras dengan mazmur 15 adalah kebahagiaan. Kebahagiaan itu diperoleh karena ia menyucikan perilakunya, tindakannya, kata-katanya, pikirannya, hatinya dengan kekudusan Tuhan sendiri. Maka seperti yang dikatakan oleh Yesus  dalam sabda Bahagia: Berbahagialah orang yang suci hatinya karena melihat Allah (Matius 5:8). Pelaku Mazmur 15 dengan hatinya melihat Tuhan di dalam rupa sesama sehingga ia mencintai sesamanya dan tak mungkin menimpakan cela, fitnah dan berbuat kejahatan. Dalam dekapan hati Mazmur 15 ia selalu mengatakan kebenaran baik kebenaran kata dan kebenaran tindakan. Memang sulit mengatakan kebenaran kepada dunia yang lebih menyukai kepalsuan, kemunafikan dan kebohongan. Resiko dari mengatakan kebenaran kata dan tindakan adalah penganiayaan. Apapun resikonya menghidupi kebenaran sejatinya selalu menciptakan kebahagiaan. Menghidupi kebenaran kata dan kebenaran tindakan menunjukkan kerajaan surga dan ia pemilik kerajaan surga karena Tuhan adalah kebenaran. Demi kebenaran, janganlah takut karena Yesus berkata: Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan surga (Matius 5:10)

Sudah pasti sahabat Yesus akan mengalami penganiayaan, oleh karena mewartakan kebenaran, kasih, kekudusan, mereka akan dikeroyok karena mengajak dunia bertobat dalam semangat Mazmur ini. Itu memang harus terjadi. Jangan khwatir karena Yesus berkata: Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu (Matius 5: 11-12).

Mazmur 15 juga memproklamasikan bahwa untuk masuk ke dalam kehadiran Tuhan atau ibadat sejati tidak mungkin dipisahkan dari etika dan moral. Ibadat yang benar tidak bisa dilucuti dari kasih. Yesus tidak mengenal mereka yang mencerai-beraikan ibadat-liturgi dari kasih ataupun mencampur-adukkan ibadat dengan kejahatan seperti memfitnah, menimpakan cela, korupsi. Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! (Matius 7:23). Juga bahwa orang disibukkan, diributkan dan terjebak hanya kepada soal lahiriah agama, persembahan dan ritualnya sehingga lupa tujuan sejati dari agama yaitu kasih dan praktisnya. Kesetiaan pada kasih lebih berharga dan lebih berkenan daripada atribut-atribut lahiriah. Hanya mereka yang mempunyai kasih sejati kepada sesama yang dapat bertamu di kemah Tuhan, berdiam di gunung-Nya yang kudus.

Memang hidup ini sebenarnya adalah suatu perjalanan untuk menumpang di kemah Tuhan dan mendaki untuk berdiam gunung-Nya yang kudus. Untuk itu, marilah kita pergi ke kemah-Nya, ke gunung-Nya yang kudus dengan membatinkan mazmur ini di dalam diri kita, di dalam hati, dengan menuliskan di dalam ingatan kita, dengan menghidupi Mazmur ini siang malam karena Mazmur menguji hati dan memeriksa hidup kita apakah kita layak untuk bertamu di kemah-Nya dan diam di gunung-Nya, supaya pada akhirnya kita beristirahat di dalam tubuh Kristus (bdk Yohanes Paulus II).

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

One thought on “Mazmur 15”

Leave a Reply