Mazmur 126

 

Lukisan: Van Gogh, The Sower At The Sunset

 

Nyanyian Harapan

Ketika TUHAN memulihkan  keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.  Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai.

Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar kepada orang-orang ini!” TUHAN telah melakukan perkara besar   kepada kita, maka kita bersukacita.   Pulihkanlah keadaan   kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!

 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata,  akan menuai   dengan bersorak-sorai . Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

 

Eksegese

Ketika TUHAN memulihkan   keadaan Sion, keadaan kita seperti orang-orang yang bermimpi.  Pada waktu itu mulut kita penuh dengan tertawa, dan lidah kita dengan sorak-sorai.

Ayat 1 sampai dengan ayat 2 menunjukkan bahwa mazmur ini berlatar belakang sejarah yang terbukti dari susunan gramatikanya yang memakai waktu lampau. Ada ingatan historis, dengan kata lain, mazmur ini menengok ke sejarah. Orang-orang Yahudi diangkut dan dibuang ke Babilon sebagai budak. Mereka berada dan tinggal di tanah asing, negeri asing, di tanah babilon selama 70 tahun sehingga penuh derita dan kemalangan. Peristiwa ini berlangsung tahun 608-538 SM. Maka di tanah asing mereka berharap bahwa Yahwe akan membebaskan dan memulangkan mereka ke tanah air mereka yaitu ke Zion, ke Israel. Pulang ke Israel adalah suatu mimpi besar karena apakah mungkin melepaskan diri dari imperium Babilonia. Orang-orang Yahudi pada waktu itu hanyalah bangsa lemah karena telah ditaklukkan oleh Babilon. Ada krisis dan kemalangan yang hebat di dalam sejarah Israel. Namun di tengah kemalangan yang begitu hebat, Israel tidak pernah berhenti berharap kepada Yahwe. Terbit suatu pengharapan yang besar di tengah bangsa Israel yang mengalami krisis yang besar. Israel tak pernah kehilangan imannya. Israel selalu percaya bahwa Yahwe akan membebaskan mereka dari perbudakan babilonia. Hanya Yahwe yang dapat memulangkan mereka ke Israel dan mereka menantinya

Mimpi itu menjadi kenyataan karena pada tahun 539 SM Cyrus Yang Agung -raja Persia- berhasil mengalahkan Babilonia lalu mengizinkan mereka kembali ke negerinya pada tahun berikutnya. Israel telah bebas dari perbudakan. Israel mendapat kembali kebebasannya. Mereka pulang ke negerinya. Gegap gempita dan sorak-sorai menyertai kepulangan mereka. Mulut penuh senyum dan bibir berteriak akan kegembiraan.

 

Pada waktu itu berkatalah orang di antara bangsa-bangsa: “TUHAN telah melakukan perkara besar   kepada orang-orang ini!”  TUHAN telah melakukan perkara besar   kepada kita, maka kita bersukacita.   Pulihkanlah keadaan   kami, ya TUHAN, seperti memulihkan batang air kering di Tanah Negeb!  

Tentu pemulangan Israel ke tanah mereka adalah perkara besar tidak hanya bagi orang Israel sendiri tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain. Baik Israel dan bangsa lain takjub dan terkagum akan kepulangan mereka ke negerinya karena bagaimana mungkin bangsa yang lemah dan kecil dapat bebas dari suatu imperium amat berdaya? Sekali lagi bangsa Israel mengamini bahwa pemulangan ke negeri mereka adalah sungguh suatu perkara besar. DIkatakan perkara besar karena ada mukjizat; hal yang tak mungkin menjadi realitas, mimpi yang menjadi kenyataan. Pemulangan Israel dipuji oleh segala bangsa. Ada yang menyaksikan dan ada yang merasakan tetapi baik penyaksi dan penerima diliputi kekaguman dan sukacita. Jadi, kepulangan Israel ke negerinya tidak hanya menjadi sukacita bagi diri mereka tetapi juga bagi semua bangsa. Hebatnya sukacita dan kegembiraan Israel berlaku terus sampai sekarang. Hal ini dapat disimak dari susunan gramatika yang ada pada ayat 3 yang menggunakan waktu sekarang.

Namun, hanya kembali ke tanah Israel tidak cukup. Menjadi budak di tanah Babilon membuat mereka kehilangan segala-galanya. Martabat, harga diri, kemakmuran telah lenyap dari hidup mereka. Maka mereka berharap lagi kepada Yahwe supaya keadaan mereka dipulihkan sepenuhnya, seutuhnya dan sesegera mungkin. Untuk itu, pemazmur memakai gambaran batang air di Negeb. Perlu diketahui bahwa batang air di Negeb selalu kering pada musim kering tetapi begitu musim hujan tiba  batang air Negeb seketika juga penuh  air kemudian memakmurkan tanah di sekitarnya. Berkat batang air Negeb, bunga-bunga bermekaran seketika juga. Israel berharap bahwa harga dirinya, identitasnya diperoleh kembali sesegera mungkin supaya dapat memberi kesejahteraan dan kemakmuran bagi segala yang ada di sekeliling mereka.

Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis   sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Kalau harapan didasarkan pada peristiwa historis 1-2, maka harapan pada ayat 5-6 didasarkan pada peristiwa biasa sehari-hari yang berlangsung di dalam dunia pertanian. Jadi ada perpindahan dari peristiwa historis ke peristiwa biasa sehari-hari. Kenyataan ini dapat dilihat susunan gramatika yang memakai waktu sekarang. Sejarah selalu terhubung dengan masa sekarang dan tidak bisa dilepaskan pula dari masa depan.

Para petani pada saat menabur benih adalah pekerjaan yang amat berat karena harus mempersiapkan tanah lalu menaburnya di bawah panas terik matahari yang begitu menyengat. Saking beratnya pekerjaan tersebut menyebabkan mereka sampai berlinang air mata. Namun, ketika panen atau musim menuai datang yang ada hanya sukacita. Panen menyebabkan sukacita yang berlimpah sehingga petani tidak ingat lagi beratnya pekerjaan menabur. Atau ketika selesai menabur benih, mereka pulang sambil bernyanyi nyanyian sukacita sambil membawa berkas-berkas. Segala permulaan memang berat tetapi akhir dari segalanya selalu ringan. Segala sesuatunya akan berakhir dan akhir dari segala sesuatunya adalah sukacita.

 

Makna

Mazmur 126 menunjukkan bagaimana harapan dan iman tak pernah mati di tengah kesulitan dan penderitaan, justru semakin bergelora. Suara harapan menjadi nyanyian kehidupan sementara suara iman menjadi senandung kekuatan sehingga membuat diri tidak gamang maupun rapuh untuk menghadapi krisis dan penderitaan. Terlebih, karena iman, harapan menjadi kenyataan. Karena iman, harapan bukanlah suatu utopia, angan-angan, mimpi tetapi sungguh suatu realitas. Apa yang tidak mungkin menjadi mungkin dalam iman dan harapan. Iman dan harapan adalah gerbang untuk terjadinya mukjizat-Tuhan. Mukjizat-Nya dikerjakan dan direalisakan oleh-Nya melalui campur tangan manusia dalam balutan peristiwa kehidupan. Bangsa Israel telah menunjukkan dan membuktikannya.

Mazmur ini juga mengingatkan kita bagaimana kuasa dosa telah memperbudak kita, bagaimana dosa membawa kita ke negeri asing, jauh dari rumah Bapa kita. Segala ciptaan merintih dan berharap akan pembebasan dari dosa. Dan harapan itu menjadi kenyataan. Syukur kepada Bapa Tuhan kita karena kita telah dibebaskan dari kuasa dosa lewat putra-Nya Yesus Kristus. Keadaan kita yang tercemar oleh dosa telah dipulihkan dengan penebusan-Nya lewat sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya. Keadaan kita diperbaharui sepenuhnya ketika kita dibaptis sebab dengan baptis berarti dosa kita diampuni,  kita diberi hidup ilahi, kita dipilih dan diangkat menjadi putra-putri-Nya sehingga kita memiliki martabat baru, identitas baru. Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru (2 Korintus 5: 17). Sebagai putra-putri-Nya, iman dan harapan selalu ditumbuhkan di dalam hati oleh-Nya dan membuat putra-putri-Nya di hidup di dalam kebenaran-Nya. Berkat Yesus Kristus pula putra-putri-Nya mengetahui kebenaran-Nya dan menabur kebenaran-Nya. Firman-Nya adalah kebenaran. Percaya, setia dan melakukan firman-Nya membuat putra-putri-Nya menuai kebenaran-Nya. Kebenaran-Nya itulah yang membebaskan dan memulihkan kita -putra-putri-Nya- ini. Ini adalah perkara besar bagi diri kita, semua bangsa dan segala ciptaan. Puji dan syukur atas rahmat ini.

 

Akibatnya, tidak diragukan lagi bahwa orang Kristen bergembira dan penuh sukacita dalam hidupnya. Tindakan, perkataan dan keberadaan orang Kristen di mana pun harus menjadi kabar gembira bagi siapa saja dan apa saja. Kesedihan bukanlah suatu tingkah laku, keberadaan maupun jiwa orang Kristen. Kiranya sukacitanya membawa kedamaian, kesegaran dan kehidupan bagi segala kehidupan yang ada di sekelilingnya. Sukacitanya seperti air yang mengalir mengairi ke padang gurun dan padang rumput. Kegembiraannya seperti bunga yang tumbuh mekar menghiasi taman. Ia seperti batang air Negeb yang memulihkan dan menyegarkan kehidupan dengan sukacitanya. Orang lain dan segala yang ciptaan pun takjub gegap gempita dan bersukacita karena sukacita yang mengisi dan memenuhi hidup orang Kristen. Kata St. Theresia dari kanak Yesus: “Yesus mengasihi hati yang bersuka cita. Dia mencintai jiwa yang selalu tersenyum”

Mazmur ini juga membuka nuansa eskatalogis yaitu kedatangan Yesus Kristus yang kedua. Dalam iman, kita berharap dan menanti kedatangan Yesus Kristus yang kedua supaya kita dipulangkan ke Zion baru yaitu kerajaan-Nya. Memang realitas eskatalogis belum terjadi secara final tetapi sudah berlangsung mulai sekarang ini, saat ini, hari ini. Iman dan kesetiaan kita sehari-hari kepada firman-Nya membuat kita mengenali nuansa eschatalogis itu. Iman dan kesetiaan pada firman-Nya harus meresapi diri kita dalam melaksanakan tanggung jawab, pekerjaan dan tugas-tugas kita sehari-hari. Kita menanti kedatangan-Nya dengan melaksanakan tugas, tanggung-jawab dan pekerjaan kita dengan baik, dengan benar dan penuh cinta serta djiwai oleh iman dan harapan kepada-Nya. Semuanya itu memunculkan nyanyian sukacita dan mententramkan hati pada akhir hari dan hati tentram tentu akan pulang ke rumah dengan sorak sorai.

Hidup ini memang penuh dengan tangisan, penderitaan dan kesulitan. Air mata berlinang dan bercucuran menghadapi kerasnya kehidupan ini. Namun semuanya akan berlalu dan pada akhirnya air mata berubah menjadi tawa karena Tuhan kita Yesus Kristus. Sejarah hidup dan masa sekarang yang kerap ditandai dengan penderitaan, krisis, kesulitan akan berubah menjadi sejarah keselamatan dan waktu pemulihan yang sedang berlangsung. Kita pun menjadi manusia yang tertawa, manusia yang tersenyum bahagia asalkan kita tetap percaya dan berharap kepada-Nya. Dalam iman, nyanyian harapan selalu terdengar dan berkumandang sehingga kita tetap bersukacita bahkan di tengah penderitaan dan kesulitan. Tidak ada lagi yang namanya penguburan hati yang disebabkan hilangnya dan matinya harapan dan iman. Akhirnya masa depan indah menanti karena iman dan harapan bersatu dan berpusat kepada Yesus Kristus, Tuhan kita.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply