Mazmur 103

 

Lukisan Stanley Spencer, Magnolias, 1938

Tuhan Adalah Cinta

 

102:1 Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! 102: 2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya! 

103:3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu. 103:4, Dia yang menebus hidupmu dari lubang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, 103:5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. 

103:6 TUHAN menjalankan keadilan dan memberikan hak kepada segala orang yang diperas. 103:7 Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.

103:8 TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. 103:9 Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam.  103:10 Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, 103:11   tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; 103:12 sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

103:13   Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. 103:14   Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu. 103:15 Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; 103:16 apabila angin melintasinya, maka ia tidak ada lagi, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. 103:17 Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, 103:18   bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.

103:19   TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu. 103:20   Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya. 103:21   Pujilah TUHAN, hai segala tentara-Nya, hai pejabat-pejabat-Nya yang melakukan kehendak-Nya. 103:22   Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya!

 Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

 

Eksegese

 

103:1 Pujilah TUHAN, hai jiwaku! Pujilah nama-Nya yang kudus, hai segenap batinku! 103:2 Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!

Mazmur ini dibuka dengan suatu seruan: pujilah Tuhan hai jiwaku. Seruan pujilah Tuhan, hai jiwaku menjadi pembuka sekaligus penutup mazmur. Kiranya mazmur ini menunjukkan hasil refleksi pengalaman si pemazmur tentang Tuhan selama hidupnya.  Seruan tidak ditujukan kepada orang lain tetapi hebatnya kepada jiwaku. Jadi seruan ini kiranya adalah bentuk doa syukur dalam nyanyian ataupun madah.

Memuji berarti bersyukur. Orang yang memuji Tuhan pasti orang yang bersyukur, orang yang merasakan   kebaikan Tuhan, orang yang bersukacita karena mengalami kasih setia Tuhan. Dia telah menerima belas kasih dan cinta-Nya lantas memuji Tuhan. Dia berbahagia sehingga berseru: pujilah Tuhan hai jiwaku.

Kata hai jiwaku diulang sampai dengan dua kali. Kemudian dilanjutkan dengan pujilah nama-nya yang kudus, hai segenap batinku. Jiwaku dan batinku menunjukkan bahwa pemazmur memuji TUhan dan memuji nama-Nya Kudus dengan seluruh hidupnya, keberadaannya, segenap dirinya baik tubuh, hati, pikiran, perasaan. Rasa syukur untuk memuji Tuhan ini meluap dari jiwa. Kebahagiaan terbit dari batin. Ya, batin memang tempat misteri manusia karena di sanalah Allah yang Maha Kudus tinggal. Maka pujilah nama-Nya yang kudus hai segenap batinku sebenarnya adalah roh yang berdoa, roh yang memuji Allah dari lubuk sanubari yang terdalam. Sebab, ia mengalami dengan kasih setia Tuhan  di dalam batinnya; cinta Tuhan merekah di lubuk sanubarinya. Sementara jiwa adalah prinsip spiritualitas, jiwa itulah menopang hidup manusia. Jiwa memiliki keindahan dan kemuliaan, jiwa adalah anugerah terindah dan cermin keagungan Tuhan. Maka pujilah Tuhan hai jiwaku mengungkapkan rasa syukur atas rahmat dan kebaikan-Nya, atas hidup ini. Hidup manusia ada dan berlangsung karena kebaikan-Nya yang menjadikan, membentuk dan membimbing segala kehidupan. Kebaikan-Nya adalah penyelenggaran ilahi yang mengatur kehidupan. Maka, manusia tidak boleh lupa akan rahmat ini sehingga pemazmur mengingatkan dirinya agar jangan sampai melupakan kebaikan-Nya. Kebaikan-Nya melekat dan terungkap pada nama-Nya yang kudus. Nama-Nya yang kudus membuka identitas diri-Nya bahwa Ia adalah cinta. Nama-Nya yang kudus menunjukkan siapakah Tuhan itu: Tuhan adalah cinta.

 

 103:3 Dia yang mengampuni segala kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu. 103:4, Dia yang menebus hidupmu dari lobang kubur, yang memahkotai engkau dengan kasih setia dan rahmat, 103:5 Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali.

Kekudusan-Nya berarti cinta dan kasih-Nya kepada segala ciptaan terutama kepada kita manusia. Maka, pemazmur mengutarakan dan menjelaskan lebih lanjut mengapa dia memuji Tuhan, mengapa Tuhan adalah Tuhan yang penuh cinta. Ada empat sebab yang menjadi jawaban ataupun alasan pemazmur memuji Tuhan dan mengapa Tuhan adalah cinta:

Yang pertama, Tuhan yang mengampuni segala kesalahan dan menyembuhkan segala penyakit. Dosa memang menjauhkan diri dari Tuhan; dosa menodai dan menggelisahkan batin dan jiwa dan membuat manusia kehilangan rahmat-Nya. Namun syukur atas pengampunan-Nya sehingga diri kembali mengalami kasih dan rahmat-Nya. Ada-Nya selalu mengampuni sehingga Ia tidak bisa tidak mengampuni. Ia juga yang menyembuhkan segala penyakit. Penyakit membuat manusia menderita, penuh kesesakan, tetapi Ia menyembuhkan sehingga jiwa terbebas dari penderitaan. Ada hubungan antara dosa dan penyakit tetapi apa pun hubungan itu Tuhan membebaskan dari semuanya itu dengan pengampunan dan penyembuhan. Ia memang Tuhan yang mengasihi dan mendengarkan rintihan.

Yang kedua, Tuhan yang menebus hidup dari lubang kubur. Sudah pasti dosa dan penyakit mengantar manusia ke lubang kubur atau kepada kematian. Tetapi syukur lagi kepada Tuhan, ia menyelamatkan kita dari liang kubur. Dia memang Tuhan penyelamat.

Yang ketiga, dia memahkotai kita dengan kasih setia dan kelembutan. Setelah diselamatkan dari liang kubur, Tuhan tidak berhenti menganugerahi kita. Sekarang kita dimakhotai dengan kasih setia dan kelembutan. Dari yang terpuruk karena dosa, penyakit dan kematian sekarang menjadi putra dan putri raja dengan mahkotanya. Dulu yang hina sekarang menjadi mulia hanya karena kebaikan dan kemurahan-Nya.

Yang keempat, Tuhan memuastkan hasrat kita dengan kebaikan. Manusia tidak berhenti menjadi putra-putri-Nya. Seluruh hasrat dipuaskan dengan kebaikan. Artinya hidup dipenuhi dan diwarnai kebaikan, segala yang kita hasratkan selalu untuk kebaikan. Kita hidup dan bergembira karena kebaikan. Tetapi kebaikan itu sesuai dan selaras dengan kehendak-Nya. Kebaikan tak lain adalah kebaikan Allah, kebaikan menurut ukuran Allah karena ia adalah Tuhan yang maha baik. Karena kebaikan-Nya, kita menjadi muda kembali dan masa muda yang diperbaharui di dalam kebaikan menjadi penuh vitalitas, kuat, seperti burung elang. Hidup elang yang panjang adalah simbol masa muda dan vitalitas yang abadi.  Dengan demikian, pemazmur mengingat segala kebaikan Tuhan yang terjadi di dalam hidupnya.

103:6 TUHAN menjalankan keadilan dan memberikan hak kepada segala orang yang diperas. 103:7 Ia telah memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa, perbuatan-perbuatan-Nya kepada orang Israel.

Selanjutnya pemazmur menjelaskan cinta Tuhan dalam kehidupan sosial dan bermasyarakat. Yang menentukan kesejahteraan dan keberhasilan relasi sosial adalah keadilan dan hak. Dalam masyarakat selalu ada jurang antara mereka yang memiliki kekuasaan entah berupa kekayaan, pangkat, dan orang -orang kecil yang tak berdaya. Di dalam sejarah peradaban, kerap kali ketidakadilan dan perampasan hak mewarnai hidup sosial manusia. Banyak orang memohon dan meminta keadilan dan haknya. Dan Tuhan mendengarkan rintihan mereka. Tuhan menjadi pembela dan benteng bagi orang-orang yang diperas. Tuhan menjalankan dan memberikan hak kepada mereka yang diperas. Menjalankan keadilan dan memberikan hak kepada mereka yang diperas adalah manifestasi cinta Tuhan. Orang yang mendapatkannya pasti memuji Tuhan.

Supaya orang sampai kepada-Nya maupun hidup sosial manusia sesuai dengan keadilan maka ia memperkenalkan jalan-jalan-Nya kepada Musa yang tak lain adalah kesepuluh perintah-Nya. Kesepuluh perintah-Nya menuntun tiap orang kepada diri-Nya. Kesepuluh perintah-Nya mengantar diri untuk sampai kekudusan-Nya, merasakan cinta-Nya. Kesepuluh perintah-Nya membuat orang tahu apa itu cinta kepada TUhan dan sesama, kebaikan, keadilan dan bagaimana hidup bermasyarakat dengan baik. Supaya semakin tahu bahwa ia adalah cinta, TUhan yang penuh dengan kasih setia menunjukkan perbuatan- perbuatan-Nya kepada orang Israel. Perbuatan Allah kepada orang Israel tentu hadir di dalam sejarah Israel. DI sini, Israel diajak untuk melihat dan merefleksikan cinta Allah yang hadir dan bekerja di dalam sejarah mereka. Salah satunya adalah pembebasan mereka dari tanah mesir dan penyeberangan laut merah. Perbuatan-perbuatan Allah di dalam sejarah membuktikan bahwa cinta Allah menyertai mereka dari dahulu sampai sekarang bahkan selamanya.

TUHAN adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.  103:9 Tidak selalu Ia menuntut, dan tidak untuk selama-lamanya Ia mendendam. 103:10 Tidak dilakukan-Nya kepada kita setimpal dengan dosa kita, dan tidak dibalas-Nya kepada kita setimpal dengan kesalahan kita, 103:11 tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; 103:12 sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.

Pemazmur kembali menyerukan identitas dan sifat Tuhan sebagai Tuhan penuh cinta yaitu penyayang, pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia. Identitas-Nya ini terbukti karena ia tidak menuntut dan tidak mendendam. Sudah sepatutnya dan selayaknya kita mendapat hukuman maupun amarah Tuhan atas dosa dan pelanggaran kita. Tetapi, ia tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa kita dan tidak membalas sesuai dengan kesalahan kita karena ia memang Tuhan yang penyayang, pengasih. Seandainya dia memperlakukan kita setimpal dengan dosa dan pelanggaran kita siapakah yang akan selamat?

Hebatnya lagi cinta-Nya kepada kita yang penuh dosa dan pelanggaran tidak terukur dan tidak terbatas dan oleh pemazmur cinta-Nya dibandingkan dengan setinggi langit di atas bumi. Orang takut akan dia adalah orang yang menjalankan perintah-Nya dan mengenali dan merasakan bahwa Tuhan adalah Tuhan yang penuh cinta.

Ia pun melindungi dan menjauhkan kita -orang yang takut akan TUhan- dari segala pelanggaran. Pemazmur dengan indah membandingkan kenyataan ini yaitu sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.  Jarak antara timur dan barat tak pernah bertemu dan ada bentangan yang luas yang tak mungkin disatukan. Maka indahnya adalah kasih setia-nya menjaga kita dari pelanggaran kita. Bagaimana ia menjauhkan kita dari pelanggaran kita? Dengan menunjukkan perintah-perintah-Nya kepada Musa dan menunjukkan perbuatan-perbuatan kepada Israel. Dua hal ini menjauhkan diri dari pelanggaran karena perintah-nya adalah jalan kekudusan dan perbuatan-perbuatan-Nya adalah bukti cinta, lindungan cinta-Nya .

103:13 Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. 103:14           Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu. 103:15 Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; 103:16              apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi. 103:17 Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu, 103:18 bagi orang-orang yang berpegang pada perjanjian-Nya dan yang ingat untuk melakukan titah-Nya.

 

Pemazmur membandingkan lagi cinta Tuhan seperti cinta seorang bapa kepada anak-anaknya. Ya Tuhan memang Bapa, cintanya kepada kita -anak-anaknya- tidak diragukan lagi dan tidak perlu dipertanyakan. Ia tahu yang terbaik bagi anak-anaknya dan niscaya melindungi dan menjaga anak-anaknya.

Sebagai seorang Bapa, ia memahami betul asal-muasal kita yaitu dari debu dan ia ingat kalau kita dari debu. Manusia dibentuk dari debu dan hidup karena nafas-Nya serta akan kembali menjadi debu. Itulah realitas manusia. Tetapi belas kasih-nya adalah rahmat-nya yang menolong kita. Kita memiliki hidup karena cinta-Nya. Sebagai debu berarti pula bahwa kita adalah ciptaan yang terbatas dan hidup kita di dunia hanyalah sementara, fana dan cepat berlalu. Karena adalah debu, kematian dan kebinasaan adalah akhir hidup kita. Semuanya ini ibarat rumput dan bunga yang sedang berbunga dan bila angin menerjang bunga maka bunga sudah tidak ada lagi. Tetapi di tengah hidup manusia yang tidak kekal dan singkat, ada satu yang abadi dan tak pernah berubah yaitu kasih-Nya kepada orang takut akan dia, cinta-Nya bagi orang yang berpegang pada perjanjiaan-Nya dan ingat melakukan titah-Nya. Siapakah mereka itu? Mereka adalah orang yang mencintai Tuhan karena telah merasakan dan mengalami kasih setia-Nya sehingga perintah, perjanjian, titah-Nya selalu diingatnya, disimpan di dalam jiwa dan batin mereka dan dilaksanakannya di dalam hidup sehari-hari. Cinta mereka kepada Tuhan berbalas cinta Tuhan yang selama-lamanya kepada mereka dan keadilan Tuhan melewati anak cucu mereka sehingga anak cucu mereka menjadi sarana keadilan Tuhan, lambang keadilan Tuhan.

103:19   TUHAN sudah menegakkan takhta-Nya di sorga dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu.

103:20   Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya. 103:20 Pujilah TUHAN, hai malaikat-malaikat-Nya, hai pahlawan-pahlawan perkasa yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya. 103:21 Pujilah TUHAN, hai segala tentara-Nya, hai pejabat-pejabat-Nya yang melakukan kehendak-Nya. 103:22 Pujilah TUHAN, hai segala buatan-Nya, di segala tempat kekuasaan-Nya!

 

Pujilah TUHAN, hai jiwaku!

Dengan cinta-Nya kepada kehidupan, dengan menyatakan dirinya sebagai Tuhan yang maha cinta, maka Ia telah menegakkan takhta-nya di sorga dan dan kerajaannya berkuasa atas segala sesuatu. Tahkhta-Nya dan kerajaan-Nya bukanlah soal kekuasaaan seperti kekuasaan duniawi yang menundukkan, menaklukan dengan senjata, perang. Namun takhta-Nya di sorga adalah cinta dan kerajaannya pun adalah kerajaan cinta. Dan cinta-Nya berkuasa atas segala sesuatunya, mengisi dan memenuhi segala yang ada.

Maka terhadap Tuhan yang penuh cinta, Tuhan yang adalah bapa kita dan kerajaan cinta-Nya yang memenuhi segala yang ada, rasa syukur pemazmur kembali diungkapkan dengan pujilah Tuhan. Sebagaimana kerajaan memiliki tentara, pejabat, pahlawan demikian pun kerajaan Tuhan. Pejabat-Nya adalah mereka yang melakukan kehendak-Nya, yang disebut pahlawan kerajaan cinta adalah mereka yang melaksanakan firman-Nya dengan mendengarkan suara firman-Nya. Rasa syukur ini memenuhi segala ada dan berlaku kepada siapa saja dan segala ciptaan sehingga di mana saja dan siapa saja pemazmur mengajak setiap orang segala zaman dan ciptaan untuk memuji keagungan Tuhan.

Menyaksikan Tuhan yang penuh cinta dan cinta-Nya yang memenuhi dan meresapi segala yang ada sekali lagi pemazmur bersyukur atas semuanya ini dan menutup mazmur dengan seruan seperti pada pembukaan mazmur: pujilah Tuhan, hai jiwaku. Siapakah yang tidak memuji dan berseru seperti pemazmur yang melihat dan merasakan cinta TUhan. Jadi seruan pujilah Tuhan hai jiwaku membingkai mazmur. Memuji Tuhan yang penuh cinta tidak akan pernah berhenti dan selalu berkumandang di dalam jiwa setiap orang beriman.

Makna

Pujilah Tuhan hai jiwaku kiranya adalah nyanyian merdu setiap hidup orang beriman. Hidup ini berlangsung karena suatu rahmat-Nya yang mengagumkan. Ia memberikan rahmat kepada segala ciptaan terutama kepada manusia karena kebaikan-Nya. Tentu saja, nyanyian pujilah Tuhan hai jiwaku harus menjadi roh di dalam setiap peristiwa dan aktivitas kita dari yang sederhana, kecil sampai yang besar. Misalnya, saat kita makan, saat kita memulai dan mengakhiri pekerjaan, saat bangun pagi dan mau tidur kita berseru pujilah Tuhan hai jiwaku. Segala peristiwa yang terjadi di dalam hidup entah yang menyedihkan, yang menggembirakan, kita tetap mengatakan pujilah Tuhan hai jiwaku. Sebabnya, segala peristiwa yang ada dalam hidup kita adalah cinta kasih-Nya karena kita didik dan diajari oleh cinta-Nya agar kita semakin sempurna, semakin kudus, semakin menyerupai Kristus sendiri. Ada karya cinta kasih-Nya di dalam setiap peristiwa hidup. Jadi pujilah Tuhan hai jiwaku sebenarnya merupakan doa syukur kepada cinta-Nya yang menyertai dan mengiringi kehidupan. Memang tidaklah mudah berdoa pujilah Tuhan hai jiwaku, pujilah Tuhan hai batinku karena kodrat kita sebagai ciptaan yang lemah, terbatas dan rapuh. Kerap kali pujian maupun doa kita seperti yang dikatakan oleh Yesus sendiri: “dengan mulutnya mereka memuji aku, tetapi hatinya jauh daripadaku. Kita pun berseru kepada-Nya: Tuhan ajarilah kami memuji-Mu seperti pujian pemazmur, Tuhan ajarilah kami berdoa seperti seruan para murid. Tuhan adalah Bapa kita yang tahu segala kelemahan kita dan kebaikan-Nya selalu memenuhi hasrat kita. Dia selalu mendengarkan dan dekat dengan anak-anak-Nya. Oleh sebab itu, kita tak perlu khwatir karena Ia mengutus roh Kudus-Nya untuk menolong, mengajari, menguatkan kita agar kita dapat berdoa pujilah Tuhan hai jiwaku dalam kebenaran dan roh. Kita tidak pernah dapat berdoa tanpa kekuatan Roh Kudus yang memampukan kita untuk berdoa sebagai putra-putri-Nya. (Paus Fransiskus)

Refleksi pemazmur atas kebaikan Tuhan yaitu Tuhan yang mengampuni, Tuhan yang menyelamatkan, Tuhan yang menebus, Tuhan yang sabar, Tuhan yang berlimpah kasih setia dapat diringkas menjadi Tuhan adalah cinta (I Yohanes 4: 8). Tuhan adalah cinta adalah kebenaran dan keindahan dari  Kekristenan. Orang menjadi murid Kristus, orang memilih mengikuti Yesus Kristus karena Tuhan adalah cinta bagi segala yang ada, karena Tuhan telah mencintainya. Tuhan adalah cinta merupakan inti sari iman, harapan dan kasih para murid Kristus. Segala arti, tindakan, perkataan dan hidup para murid Kristus berpusat dan berdasarkan pada fakta yang mengagumkan ini: Tuhan adalah cinta. Dari sinilah pengertian dan pemahaman cinta para murid Kristus dimulai dan karena itu mereka menemukan kekudusan hidup yaitu hidup di dalam cinta kepada Tuhan dan kepada sesama dan segala ciptaan. Cinta kepada Tuhan dan sesama dan ciptaan adalah nyanyian bagi jiwa para murid Kristus dan memenuhi batin setiap orang yang menyebut dirinya pengikut Kristus. Di sinilah pula kontemplasi dan identitas murid Kristus terbentuk sehingga cinta adalah jantung dan nafas dari kehidupan Kristiani.

Tuhan yang adalah cinta menginkarnasi dalam diri Putra-Nya terkasih: Yesus Kristus. Mengapa? Karena begitu besar kasih Tuhan akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3: 16). Yesus Kristus adalah cinta dari segala cinta. Diri-nya, kehadiran-Nya sabda, tindakan, aksi dan doa-Nya semuanya membuktikan dan merealisasikan identitas Tuhan maha cinta. Penderitaan, salib dan kebangkitan-Nya adalah cinta-Nya yang tanpa batas seperti yang dikatakan pemazmur setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya kepada kita. Cinta-Nya yang murni tak pernah mengukur tetapi selalu menyelamatkan dan memberikan. Penderitaan, wafat dan kebangkitan-Nya memberikan kebaikan kita yaitu keselamatan dan hidup abadi. Kebaikan-Nya memuaskan hasrat kita karena cinta-Nya hadir dan menemani di dalam setiap peristiwa hidup. Ketujuh sakramen gereja menunjukkan Tuhan yang adalah cinta menyertai dan menemani hidup. Peristiwa sejarah, peristiwa sekarang dan peristiwa yang akan datang memproklamasikan bahwa Tuhan adalah Bapa kita yang selalu mencintai kita. Cinta-Nya seperti matahari yang menyinari segala yang ada dan seperti hujan yang turun bagi segala sesuatunya. Kasih-Nya kepada segala yang ada dan segala ciptaan tak pernah pudar dan kekal abadi selama-lamanya.

Salib-Nya mengukir keindahan Tuhan yang adalah cinta karena di atas salib ia menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan kita. Tiada kasih yang lebih besar daripada seseorang yang menyerahkan nyawa untuk sahabatnya. Iman dan refleksi pemazmur yang berdoa: Pujilah Tuhan hai jiwaku menemukan kepenuhannya di dalam salib Yesus. Di dalam salib-Nya segala dosa kita diampuni, kita dicuci, dibersihkan, dikuduskan dengan darah-Nya yang mengalir dari salib-Nya. Upah dosa yaitu maut ditanggung-Nya dan ditebus-Nya dengan kematian-Nya, dengan bilur-bilurnya kita disembuhkan sehingga menjadi muda kembali dan penuh vitalitas dengan kata lain menjadi manusia baru. Sejauh timur dari barat, dijauhkanlah kita dari maut oleh salib-Nya. Jelas sekali bahwa di atas salib, Tuhan yang maha cinta menunjukkan kerahiman dan pengampunan-Nya. Kita memang selalu berdosa dan cenderung berdosa. Sudah sepantasnya kalau kita dihukum dan menerima konsekuensi upah dosa yaitu maut. Namun syukur kepada Tuhan yang Maha cinta karena dengan cinta Ia memberikan kerahiman dan pengampunan dosa lewat Putra-Nya terkasih. Ia berbelas kasih kepada kita sehingga tidak memperhitungkan dosa dan kesalahan kita. Belas kasihan-Nya adalah kebaikan-Nya yang ia berikan kepada kita yang telah hilang lenyap ini. Itulah yang terjadi pada diri kita setelah kejatuhan Adam. Kita telah kehilangan segalanya, tetapi Tuhan selalu tetap berbelas kasih. Kerahiman dan pengampunan-Nya selalu diberikan kepada kita seperti anak yang hilang yang disambut dengan penuh cinta oleh Bapa. Ia tak pernah berhenti mencari dan merindukan kita karena Ia adalah bapa kita yang penuh cinta sementara kita adalah putra-putri-Nya yang tercinta. Kita dimahkotai, dikenakan jubah yang terbaik dan dikenakan cincin terindah pada jari kita. Dengan merasakan pengampunan-Nya, kita lahir kembali, menjadi muda kembali yaitu menjadi orang takut akan Tuhan. Dengan menerima pengampunan-Nya, membuat kita rendah hati, mengakui pelanggaran dan dosa dan kelemahan kita sebagai realitas debu. Dengan mengalami pengampunan-Nya, kita merasakan kembali cinta-Nya yang membalut batin dan jiwa. Teks ibrani kuno menggambarkan kenyataan ini dengan indah sekali: Melalui baptis, aku mengenakan cinta Tuhan dan dia mencintai aku. Kiranya aku tidak akan pernah tahu bagaimana mencintai Tuhan jika dia tidak mencintai aku terus-menerus (Odes Salomon). Dengan demikian Pujilah Tuhan hai jiwaku tidak akan pernah berhenti berkumandang di jiwa orang yang telah terselamatkan, diampuni, dirahmati, dicintai oleh-Nya.

Memang kita berasal dari debu dan tanah dan akan kembali menjadi debu dan tanah. Kita ini adalah manusia yang terbatas, lemah, penuh dengan kekurangan dan tak sempurna. Kita selalu lupa akan asal-usul kita karena kodrat kita memang selalu lupa. Anehnya pula, asal-usul kita sering dijadikan alasan untuk pembenaran akan dosa dan pelanggaran kita. Walaupun demikian, cinta-Nya selalu menolong kita karena Ia adalah Bapa kita yang mengerti dengan sempurna siapakah kita ini. Tak henti-hentinya ia merahmati, menguatkan, mengampuni kita. Asalkan kita bertobat, berdoa dan menuruti perintah-Nya dan melakukan sabda-Nya, kita dimampukan oleh rahmat-Nya melawan kuasa dosa. Asalkan kita rendah hati mengakui segala kelemahan dan selalu berharap dan mengandalkan diri-Nya, Roh Kudus selalu hadir memenuhi kita sehingga kita tidak jatuh ke dalam pencobaan. Asalkan kita membuka hati dan batin untuk merasakan cinta-Nya, kasih setia-Nya mendekap kita. Jadi memang kita manusia fana, tetapi menjaga kemanusiaan kita yaitu hidup di dalam cinta-Nya adalah pilihan kita.

Tuhan yang adalah cinta memanifestasikan diri-Nya di dalam keadilan karena keadilan adalah wajah cinta-Nya. Lalu apa itu keadilan-Nya? Keadilan-Nya memuat belas kasihan dan kemurahan-Nya. Perumpamaan pekerja kebun anggur yang menerima upah sama dengan pekerja yang terdahulu menegaskan bahwa keadilan-Nya adalah kemurahan dan belas kasihan-Nya. Keadilan-Nya pastilah terukir di dalam segala karya-Nya. Maka, keadilan adalah tujuan dan kriteria intrinsik dari tindakan murid Kristus dalam relasinya dengan sesama. Keadilan ada karena berkaitan dengan hak dan martabat manusia. Tuhan yang maha cinta menghendaki kita para pengikut-Nya untuk berlaku adil. Menurut St. Agustinus keadilan tak lain adalah kehendak Tuhan sendiri. Lalu apa yang menjadi kehendak Tuhan? Kehendak Tuhan adalah terwujudnya cinta kasih. Oleh karena itu, bertindak adil sama dengan mewujudkan cinta kasih dan bertindak adil berarti memberikan kepada sesama apa yang menjadikan haknya dan memperlakukan sesama sesuai dengan martabatnya dengan semangat cinta kasih-Nya sendiri. Tidak itu saja. Karena cinta-Nya, para murid Kristus harus menjadi pembela dan pejuang bagi orang tertindas. Mereka tidak bisa berdiam diri, berpangku tangan apalagi membiarkan ketidakadilan terjadi, hak orang-orang diperas karena wajah belas kasihan Tuhan tercermin di dalam wajah orang yang tertindas. Sudah menjadi kewajiban para murid Kristus untuk berlaku adil dan memperjuangkan keadilan. Perjuangan mereka akan keadilan menjadi lambang keadilan-Nya karena keadilan-Nya melewati diri dan aksi mereka.

Kerajaan-Nya adalah kerajaan cinta karena cinta adalah kekudusan-Nya, takhta-Nya adalah cinta karena cinta adalah kekuasaan-Nya; diri-Nya, ada-Nya adalah cinta. Yesus adalah raja cinta dan salib itulah lambang kerajaan-Nya. Kerajaan cinta ada di surga dan di bumi. Kita selalu memohon dan berdoa datanglah kerajaan-Mu. Tidak diragukan lagi kita ini adalah murid Kristus yang dipenuhi dengan cinta Kristus, orang yang hatinya telah ditaklukan dengan kasih Kristus. Kita mencintai, karena Allah lebih dahulu mencintai kita. (I Yohanes 4: 19). Semuanya ini harus membuat kita untuk mencintai sesama kita, memiliki cinta kepada sesama dan melakukan cinta kepada sesama kita. Cinta Kristus kepada kita menjadi ukuran cinta kita kepada sesama. Sama seperti aku telah mencintai kamu demikian pula kamu harus saling mencintai (Yohanes 13:34). Kerajaan cinta datang dan hadir sekarang ini ketika kita saling mencintai, ketika kita melakukan kasih kepada sesama kita. Sebab Tuhan menjelma di dalam diri sesama kita terutama yang paling hina. Siapakah sesamaku? Sesamaku adalah setiap tangan yang mampu kurengkuh, setiap mata yang mampu kutatap, setiap hati yang kujumpai. Dan ketika kita melakukan kasih dan melayani sesama, yang kita layani maupun yang kita cintai sebenarnya adalah Yesus sendiri. Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu melakukannya untuk aku. Sebab, ketika aku lapar, kamu memberi aku makan, ketika aku haus kamu memberi aku minum, ketika aku seorang asing, kamu memberi aku tumpangan, ketika aku telanjang kamu memberi aku pakaian, ketika aku sakit kamu melawat aku, ketika aku di dalam penjara, kamu mengunjungi aku. Jadi pertanyaan orang Farisi: siapakah sesamaku terjawab dengan tegas bahwa sesamaku ialah orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepada siapa saja tanpa memandang suku, agama dan sebagainya. Kita tidak boleh gagal dalam cinta kepada sesama kita (santa Theresia lissieux). “Cinta itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mencintai, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barang siapa tidak mencintai, ia tidak mengenal Allah sebab Allah adalah cinta” (I Yohanes 4: 7-8). Tuhan adalah cinta dan barang siapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada dan di dalam Allah dan Allah di dalam dia (I Yohanes 4: 16). Hukum cinta kasih: cintailah Tuhan Alllahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu dan cintailah sesamamu seperti dirimu sendiri adalah titah-Nya yang menjaga dan mendorong para muridnya untuk tinggal di dalam kasih dan berbuat kasih. Titah-Nya terpatri di dalam jiwa dan batin para murid-Nya.  Orang yang melaksanakan hukum cinta kasih dan firman-Nya layak disebut pahlawan Kristus. Keadilan-Nya memayungi dan melindungi mereka karena cinta kasih-Nya.

 Yesus akan menghakimi kita para muridnya berdasarkan cinta sehingga seberapa banyak kita melakukan cinta itulah yang menjadi penghakiman untuk kita. Yang menentukan kita masuk ke dalam kerajaan-Nya adalah cinta kita kepada sesama kita dan ciptaan-Nya. Ingat hidup ini begitu singkat dan waktu bergulir begitu cepat ibarat rumput ataupun bunga padang yang sedang berbunga tetapi bila angin datang melintasinya, maka bunga tidak lagi sehingga hari-hari kita harus diisi dan dipenuhi dengan cinta kepada Tuhan dan sesama dalam segala tindakan dan perkataan supaya kita beroleh tempat di kerajaan-Nya. Tinggallah di dalam cinta, berbuatlah cinta karena itulah kehendak-Nya. Cinta harus bergerak, memenuhi dan meresapi segala yang ada. Cinta pada akhirnya meraja di dalam segalanya dan di dalam semuanya, merekah di segala tempat, di setiap hati dan segala ciptaan karena Tuhan adalah cinta. Nama-Nya yang kudus berkumandang baik di surga maupun di bumi.

Tuhan yang maha cinta adalah rahmat yang terindah. Begitu merdu ketika Tuhan maha cinta didengar oleh jiwaku dan dirasakan batinku. Cinta-Nya telah menyelamatkan diriku. Aku yang hilang, tetapi sekarang ditemukan. Aku yang buta sekarang melihat (bdk John Newton, Amazing Grace).  Pujilah Tuhan hai jiwaku. Aku pun mengangkat hati dan jiwaku untuk bermadah bersama Bunda Maria: jiwaku memuliakan TUhan dan hatiku bergembira karena Allah, juruselamatku.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply