Mazmur 102

 

Lukisan: Evelyn de Morgan, Hope in The Prison of Despair

Doa Di Dalam Penderitaan

 

102:1 Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan pengaduhannya ke hadapan TUHAN. (102-2) TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong  sampai kepada-Mu.

102:2 (102-3) Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak . Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku! 102:3 (102-4) Sebab hari-hariku habis seperti asap, tulang-tulangku membara seperti perapian. 102:4 (102-5) Hatiku terpukul dan layu seperti rumput, sehingga aku lupa makan rotiku.  102:5 (102-6) Oleh sebab keluhanku yang nyaring, aku tinggal tulang-belulang.

102:6 (102-7) Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, sudah menjadi seperti burung ponggok pada reruntuhan. 102:7 (102-8) Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh. 102:8 (102-9) Sepanjang hari aku dicela oleh musuh-musuhku, orang-orang yang mempermainkan aku menyumpah dengan menyebut namaku. 102:9 (102-10) Sebab aku makan abu  seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan,  102:10 (102-11) oleh karena marah-Mu dan geram-Mu, sebab Engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku. 102:11 (102-12) Hari-hariku seperti bayang-bayang  memanjang, dan aku sendiri layu  seperti rumput.

102:12 (102-13) Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap  turun-temurun. 102:13 (102-14) Engkau sendiri akan bangun,  akan menyayangi Sion, sebab sudah waktunya  untuk mengasihaninya,  sudah tiba saatnya. 102:14 (102-15) Sebab hamba-hamba-Mu sayang kepada batu-batunya, dan merasa kasihan akan debunya.

102:15 (102-16) Maka bangsa-bangsa menjadi takut  akan nama TUHAN, dan semua raja  bumi akan kemuliaan-Mu, 102:16 (102-17) bila TUHAN sudah membangun Sion,  sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya,  102:17 (102-18) sudah berpaling mendengarkan doa  orang-orang yang bulus, dan tidak memandang hina doa mereka. 102:18 (102-19)

Biarlah hal ini dituliskan  bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan  nanti akan memuji-muji TUHAN, 102:19 (102-20) sebab Ia telah memandang  dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, 102:20 (102-21) untuk mendengar keluhan orang tahanan,  untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh, 102:21 (102-22) supaya nama TUHAN diceritakan  di Sion, dan Dia dipuji-puji  di Yerusalem, 102:22 (102-23) apabila berkumpul bersama-sama bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan untuk beribadah  kepada TUHAN.

102:23 (102-24) Ia telah mematahkan kekuatanku di jalan, dan memperpendek umurku.  102:24 (102-25) Aku berkata: “Ya Allahku, janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahun-Mu tetap  turun-temurun!”

102:25 (102-26) Dahulu  sudah Kauletakkan dasar bumi , dan langit  adalah buatan tangan-Mu.  102:26 (102-27) Semuanya itu akan binasa, tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; 102:27 (102-28) tetapi Engkau tetap sama,  dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.

102:28 (102-29) Anak hamba-hamba-Mu  akan diam dengan tenteram, dan anak cucu  mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.

Eksegese

 102:1 Doa seorang sengsara, pada waktu ia lemah lesu dan mencurahkan pengaduhannya ke hadapan TUHAN. (102-2) TUHAN, dengarkanlah doaku, dan biarlah teriakku minta tolong sampai kepada-Mu. 102:2 (102-3) Janganlah sembunyikan wajah-Mu terhadap aku pada hari aku tersesak . Sendengkanlah telinga-Mu kepadaku; pada hari aku berseru, segeralah menjawab aku!

Mazmur ini dibuka dengan suatu doa kepada Yahwe, Allah Israel. Doa permohonan si pemazmur bukan sekedar doa permohonan biasa tetapi doa yang penuh sesak kepada Yahwe. Di dalam doanya dia berteriak minta tolong kepada Yahwe karena penderitaan yang menimpa dirinya. Di hari-harinya yang penuh kesedihan, dia berharap bahwa Yahwe- Allah Israel- tidak meninggalkan dirinya. Tidak dijelaskan penyebab penderitaannya, tetapi kemungkinan si pemazmur menderita suatu penyakit yang dapat diduga dari ayat 23.

 

102:3 (102-4) Sebab hari-hariku habis seperti asap, tulang-tulangku membara seperti perapian. 102:4 (102-5) Hatiku terpukul dan layu seperti rumput, sehingga aku lupa makan rotiku.  102:5 (102-6) Oleh sebab keluhanku yang nyaring, aku tinggal tulang-belulang.

Karena penderitaannya yang berlangsung terus-menerus maka penderitaan mewarnai dan memenuhi hidupnya. Semuanya itu menjadikan hidupnya tanpa arti sehingga hari-harinya seperti asap yang menghilang. Tulang-tulang di tubuhnya menjadi panas dan hatinya menjadi kering seperti rumput karena derita dan sakit yang begitu hebat sampai si pemazmur sampai lupa makan. Tangisan pula menjadi suara yang memekakkan hari-harinya sampai ia kurus kering tinggal tulang- belulang.

102:6 (102-7) Aku sudah menyerupai burung undan di padang gurun, sudah menjadi seperti burung ponggok pada reruntuhan. 102:7 (102-8) Aku tak bisa tidur dan sudah menjadi seperti burung terpencil di atas sotoh. 102:8 (102-9) Sepanjang hari aku dicela oleh musuh-musuhku, orang-orang yang mempermainkan aku menyumpah  dengan menyebut namaku. 102:9 (102-10) Sebab aku makan abu  seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan, 102:10 (102-11) oleh karena marah-Mu dan geram-Mu, sebab Engkau telah mengangkat aku dan melemparkan aku. 102:11 (102-12) Hari-hariku seperti bayang-bayang  memanjang, dan aku sendiri layu  seperti rumput.

Sekarang ia menggambarkan situasi hidupnya yang demikian seperti burung undan di padang gurun, seperti burung ponggok pada reruntuhan, burung terpencil di atas sotoh. Gambaran ini mengatakan bahwa si pemzmur sendirian, tidak ada lagi kawan, semuanya meninggalkan dirinya. Malangnya lagi, baik kawan dan lawan menyumpahi si pemazmur.  Ia hanya makan abu sebagai ganti roti yang dimakan setiap orang. Dan karena air mata yang mencucur terus, maka minumannya bercampur dengan tetesan air mata. Semuanya ini mendorong pemazmur untuk berefleksi. Hasil refleksinya adalah bahwa penderitaannya akibat dari kemarahan dan kegeraman Tuhan. Ia tertimpa amarah Tuhan. Memang penderitaan atau penyakit biasa dihubungkan dengan hukuman Yahwe atas dosa atau kejahatan yang dilakukan manusia. Akibatnya hari-harinya adalah seperti bayang dan hidupnya menjadi layu seperti rumput. Artinya tidak ada lagi kesegaran, kegembiraan maupun sukacita lagi yang mengisi hidupnya.

 

102:12 (102-13) Tetapi Engkau, ya TUHAN, bersemayam untuk selama-lamanya, dan nama-Mu tetap  turun-temurun.  102:13 (102-14) Engkau sendiri akan bangun,  akan menyayangi  Sion, sebab sudah waktunya  untuk mengasihaninya  sudah tiba saatnya.  102:14 (102-15) Sebab hamba-hamba-Mu sayang kepada batu-batunya, dan merasa kasihan akan debunya.

Walaupun demikian, pemazmur tetap menunjukkan imannya dengan memuji kemuliaan Tuhan yang kekal dan abadi. Di satu sisi, ia yakin bahwa penderitaannya akibat hukuman Tuhan tetapi di dalam penderitaannya pula ia memuji kemuliaan TUhan. Ia tidak menghujat maupun menyalahkan Tuhan. Bahkan, baginya kemuliaan Tuhan akan berlangsung terus-menerus dan nama-Nya akan diingat sepanjang masa. Kemuliaan Tuhan itu kekal dan abadi serta tidak mungkin terlupakan. Kemudian si pemazmur memalingkan imannya kepada harapan akan Zion. Dia berharap bahwa Tuhan akan segera berbelas kasih dan menyayangi Zion. Mengapa Zion dikasihani oleh TUhan? Karena orang-orang Israel, umat Allah, begitu mencintai Zion dan merindukan Zion yang telah hancur. Si pemazmur membandingkan dirinya dengan Zion, dia berharap bahwa Tuhan mengasihani dirinya karena dia juga adalah seorang hamba yang amat mencintai Zion dan mendambakan pembangunan Zion. Ketika Zion dibangun kembali, tentu ia akan dipulihkan dan dibebaskan dari penderitaannya.

Maka bangsa-bangsa menjadi takut akan nama TUHAN, dan semua raja  bumi akan kemuliaan-Mu, 102:16 (102-17) bila TUHAN sudah membangun Sion,  sudah menampakkan diri dalam kemuliaan-Nya,  102:17 (102-18) sudah berpaling mendengarkan doa  orang-orang yang ditelanjangi, dan tidak memandang hina doa mereka. 102:18 (102-19)

Menyaksikan Tuhan yang membangun kembali Zion akan membuat bangsa-bangsa takut akan Nama-Nya. Pembangunan Zion merupakan karya kemuliaan-Nya, karya-Nya yang dasyat, suatu karya agung yang membuat semua raja di bumi memuliakan nama-Nya. Zion yang baru adalah bukti kemuliaan-Nya. Dalam kemuliaan-Nya pula Tuhan mendengarkan doa yang ditelanjangi, tidak ada lagi doa yang dipandang hina.

Biarlah hal ini dituliskan  bagi angkatan yang kemudian, dan bangsa yang diciptakan  nanti akan memuji-muji TUHAN, 102:19 (102-20) sebab Ia telah memandang dari ketinggian-Nya yang kudus, TUHAN memandang dari sorga ke bumi, 102:20 (102-21) untuk mendengar keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang ditentukan mati dibunuh, 102:21 (102-22) supaya nama TUHAN diceritakan  di Sion, dan Dia dipuji-puji  di Yerusalem, 102:22 (102-23) apabila berkumpul bersama-sama bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan untuk beribadah   kepada TUHAN.

Karya kemuliaan Yahwe akan dituliskan supaya dikenang oleh generasi selanjutnya dan supaya umat yang baru yang memuji Tuhan. Mengapa bangsa baru memuji Tuhan? Umat baru itu memuji Tuhan karena Tuhan dari surga memandang ke bumi untuk mendengarkan keluhan orang tahanan, untuk membebaskan orang-orang yang menunggu mati dibunuh. Tuhan datang untuk menyelamatkan, Tuhan adalah sang pembebas dan sang keselamatan. Keagungan Tuhan sebagai Tuhan sang keselamatan akan diproklamasikan dan dielu-elukan di Zion dan dipuji di Yerusalem. Dalam puji-pujian akan kemuliaan Tuhan, semua umat bersatu baik raja dan rakyat. Tidak ada lagi tingkatan, status sosial yang memisahkan atau membedakan satu sama lain lagi karena semua terlebur dan bersatu memuji karya kemuliaan Tuhan.

 

102:23 (102-24) Ia telah mematahkan kekuatanku di jalan, dan memperpendek umurku. 102:24 (102-25) Aku berkata: “Ya Allahku, janganlah mengambil aku pada pertengahan umurku! Tahun-tahun-Mu tetap turun-temurun!”

Setelah mengutarakan harapan dan imannya akan Tuhan, si pemazmur berkeyakinan bahwa dia tidak akan menyaksikan semuanya itu. Menurutnya, Tuhan tidak memberikan rahmat untuk terlibat di dalam perayaan kemuliaan Tuhan. Sebabnya, penderitaannya telah mempersingkat umurnya, ia tidak lagi memiliki kekuatan untuk sampai waktu di mana itu semua terjadi.

 

102:25 (102-26) Dahulu  sudah Kauletakkan dasar bumi , dan langit  adalah buatan tangan-Mu.  102:26 (102-27) Semuanya itu akan binasa,  tetapi Engkau tetap ada, dan semuanya itu akan menjadi usang seperti pakaian, seperti jubah Engkau akan mengubah mereka, dan mereka berubah; 102:27 (102-28) tetapi Engkau tetap sama, dan tahun-tahun-Mu tidak berkesudahan.

Kembali si pemazmur menceritakan keabadian Tuhan. Tuhan telah menciptakan semesta ini, segala yang ada adalah buatan tangan-Nya. Tetapi segala yang ada akan binasa dan akan berubah maupun selalu akan berubah dalam perjalanan waktu. Tuhan memiliki kuasa-Nya untuk mengubah ciptaan karena Ia adalah Tuhan yang maha Kuasa. Tetapi Tuhan sendiri tidak berubah, Ia akan selalu tetap sama dan Ia adalah kekal abadi sampai selama-lamanya.

102:28 (102-29) Anak hamba-hamba-Mu  akan diam dengan tenteram, dan anak cucu  mereka akan tetap ada di hadapan-Mu.

Pemazmur menutup doanya dengan harapan bahwa keturunannya akan tentram bersama dengan Tuhan yang abadi. Anak dan cucunya selalu bersama dengan keabadian Yahwe, Ya Yahwe yang tak pernah berubah.

 

Makna

Mazmur 102 kiranya berbicara tentang iman dan harapan yang dirajut di dalam penderitaan. Di tengah penderitaan orang harus tetap memiliki iman dan harapan dan tidak boleh kehilangan mereka. Orang beriman dan yang penuh harapan menerima penderitaannya sebagai bagian dari imannya bahkan merupakan cara untuk memuliakan keagungan Tuhan. Dengan demikian penderitaan bukan halangan untuk beriman maupun memuliakan Tuhan, malahan penderitaan mengantar diri kepada jalan purifikasi, jalan kematangan, jalan harapan dan jalan iman. Kata St. Paulus: Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan (Roma 5: 3)

Di dalam penderitaan, iman dan harapan bersatu melekat seperti dua sisi dari sebuah mata uang. Iman melahirkan harapan dan harapan kiranya menjadi pegangan dan kekuatan dalam menghadapi penderitaan. Penderitaan dalam terang iman menjadi sumber dan sekolah harapan. Penderitaan, dalam terang harapan juga menjadi sumber dan sekolah iman. Jadi, iman adalah harapan dan harapan adalah iman. Kenyataan ini terukir jelas di dalam penderitaan si pemazmur. Dia mempunyai iman dan harapan yang besar.

Maka, iman dan harapan yang terukir di dalam penderitaan meniupkan kesetiaan untuk memuji Tuhan.  Kesetiaan kepada Tuhan menjadi ganjaran tidak hanya bagi dirinya tetapi juga bagi orang lain. Penderitaan yang disatukan dengan iman dan harapan menjadi silih untuk diri sendiri dan sesama. Ia menjadi pelayan iman dan harapan bagi orang lain. Di dalam Kristus, iman dan harapan orang Kristen merupakan iman dan harapan bagi sesama, bagi dunia dan bukan melulu untuk diri sendiri. Harapan orang Kristen selalu menjadi harapan sesama; iman orang Kristen selalu menjadi iman semua orang. Berkat iman dan harapan, dunia selalu terbuka kepada Tuhan. Tidak diragukan lagi bahwa mereka yang memiliki iman dan harapan seperti pemazmur adalah hamba Tuhan yang setia. Mereka akan selalu berada di kediaman-Nya dan selalu bersama di dalam keabadian-Nya.

St. Agustinus memberi judul mazmur 102 dengan “Lihatlah, dia yang menderita berdoa”. Penderitaan mengantar dan mendorong orang untuk berdoa. Di dalam doa, Tuhan mendengarkan segala permohonan dan keluh kesah yang ada di batin baik yang terkatakan maupun yang tak terkatakan.  Hanya Tuhanlah yang mengerti dan mendengarkan segala doa secara sempurna. Tetapi juga bahwa TUhan berbicara kepada kita di dalam doa. Di dalam doa pula, manusia belajar memohon sesuatu yang benar kepada Tuhan,  belajar meminta sesuatu yang sesuai dan selaras dengan kehendak Tuhan.  Ada ketenangan ketika doa dan permohonan sesuai dengan kehendak-nya. Doa yang benar selalu memuat doa personal dan doa umum: doa yang ditujukan bagi orang lain, bagi segala yang ada. Mengapa demikian? Karena pergulatan yang ada, persoalan yang melanda dunia juga persoalan dan penderitaan bagi dirinya. Gereja mendoakan persoalan dunia dan yang terjadi melalui doa umat. “Sebab kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan orang-orang zaman sekarang terutama kaum miskin dan siapa saja yang menderita, merupakan kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid juga”. (Gaudium et Spes). Dengan demikian doa merupakan sumber dan tempat utama harapan dan iman.

Penderitaan yang dialami orang beriman sebenarnya juga adalah bagian dari kasih Tuhan. Maka: Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus?  Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? (Roma 8: 35). Penderitaan memiliki artinya karena salib Yesus. Sebab salib-Nya membawa kepada kebangkitan-Nya sehingga penderitaan adalah jalan menuju kebangkitan bersama Kristus. Penderitaan tidak dapat dipisahkan dari hidup dari orang yang beriman. Melalui penderitaan, orang beriman mengambil dan terlibat pula di dalam penderitaan Yesus sehingga penderitaannya menjadi satu dengan penderitaan Yesus. Orang beriman menerima penderitaannya sebagai cinta kehidupan bersama Kristus. Yesus kristus telah menderita untuk kita dan bersama kita. Misteri inkarnasi Allah menjadi manusia menunjukkan bahwa Allah yang solider dengan penderitaan, Allah yang menyertai manusia; Yesus yang merasakan dan ikut menderita melalui salib. Jadi dari salib Kristus, ada penyertaan Tuhan yang selalu menemani orang beriman, Allah yang ikut merasakan penderitaan dan menderita bersama dirinya. Dari salib Kristus pula muncul penghiburan dan kekuatan untuk menjalani penderitaan. Hamba-hamba Tuhan yang setia mampu berjalan di jalan penderitaan karena Kristus telah mendahului mereka untuk berjalan di jalan salib itu. Di jalan salib itu, mereka dipenuhi dengan iman dan harapan: iman dan harapan yang hidup di dalam hati. Di dalam salib pada akhirnya, penderitaan, harapan dan iman menjadi sempurna karena membuahkan keselamatan: bangkit bersama Kristus.

Kalau si pemazmur di tengah penderitaannya mendoakan pembangunan Zion, Yesus di atas penderitaan-Nya di kayu salib mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya. Di atas salib ia menjadi harapan baru bagi segala bangsa karena ia membangun dunia baru dan memberikan hukum yang baru yaitu dunia kasih, hukum kasih. Zion baru adalah Yesus Kristus karena salib-Nya menunjukkan dan membuktikan karya kasih agung Tuhan bagi segala ciptaan. Di dalam salib-Nya semuanya disatukan di dalam kasih Tuhan, antara surga dan bumi, antara manusia satu dengan lainnya, antara ciptaan yang satu dengan yang lainnya. Menyaksikan ini, semua bangsa dan raja takjub bergetar karena Yesus dan salib-Nya adalah Tuhan yang hadir, Tuhan yang datang, Tuhan yang mendengarkan dan Tuhan yang menyelamatkan segala yang ada. Dan Tuhan Yesus sebagai Tuhan yang datang, Tuhan yang mendengarkan, dan Tuhan yang menyelamatkan selalu tetap sama, tak pernah berubah sampai selama-lamanya. Inilah bintang harapan dan matahari iman Kristiani yang selalu terbit di langit hati orang Kristen sekaligus yang memberi petunjuk dan membimbing mereka di jalan salib kehidupan.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply