Lensa Olahraga

Lukisan Heywood Hardy, A Halt At The Inn
 
 

                                                                                            Dalam olahardy-heywoodhraga  kemenangan bukanlah segala-galanya; kemenangan hanyalah satu bagian saja.

 

 

Olahraga adalah cermin manusia yang mencintai dan merawat tubuh dan jiwa. Sudah sejak ribuan tahun lalu manusia sadar bahwa tubuh itu memang harus dilatih dan diolah karena tubuh yang dilatih dan diolah mengantar kepada kesehatan fisik dan mental. Senam telah begitu populer di Cina semenjak 2000 tahun SM. Monumen-monumen Firaun menunjukkan bahwa serangkaian olahraga termasuk berenang dan memancing telah dipertandingkan. Bangsa Persia mengenalkan olahraga polo. Bangsa Yunani telah mengorganisir dan mempertandingkan berbagai cabang olahraga dalam Olimpiade.

Mens sana in corpore sano (Jiwa yang sehat ada di dalam tubuh yang sehat). Adegium ini mau mengatakan bahwa ada korelasi antara tubuh dan jiwa. Korelasi ini dijembatani dengan olahraga. Maka, olahraga merupakan instrumen untuk membentuk tubuh dan jiwa yang sehat. Fakta ini meruntuhkan pendapat Plato yang mengatakan bahwa tubuh adalah penjara jiwa dan juga Foucault yang berpandangan bahwa jiwa adalah penjara tubuh. Baik pendapat Plato dan Foucault menjebak seakan-akan tubuh dan jiwa itu merupakan dua entitas berbeda yang saling bermusuhan. Olahraga menepis semuanya itu karena olahraga mengantar tubuh dan jiwa menuju kebebasan. Kebebasan itu terjadi karena olahraga merupakan sarana untuk meningkatkan relasi-relasi antara lain: kemampuan dan ketahanan fisik (kesehatan tubuh), kapasitas sosial dan kerja sama sosial (kesehatan jiwa). Olahraga mengukir suatu bentuk pengembangan self itu sendiri.

Di balik tubuh

Tubuh manusia bukan hanya sekedar daging dan otot yang bersatu dalam suatu sistem yang disebut dengan jaringan. Lalu apa tubuh itu? Di balik jaringan, tubuh merupakan kekuatan, keindahan, kecepatan yang tersatukan di dalam raga. Kekuatan tubuh itu ada karena di dalam tubuh terbentuk kesatuan organ-organ yang menghasilkan mekanisme tubuh. Kinerja mekanisme tubuh menciptakan kekuatan. Selanjutnya, tubuh itu tersusun sedemikian rupa sehingga antar bagian tubuh membentuk pola relasi. Pola relasi tubuh itu menggores suatu harmoni. Harmoni tubuh itu nampak dari keterkaitan tiap-tiap bagian tubuh. Tak mungkin masing-masing anggota tubuh itu berdikari sendiri, otonom. Ada keserempakan, saling ketergantungan antar bagian tubuh. Keserempakan dan saling ketergantungan bagian tubuh menyusun dan membentuk keindahan tubuh secara utuh. Karena tubuh adalah suatu mekanisme tentu tubuh itu begerak. Di mana ada gerak pasti ada kecepatan. Kecepatan tubuh menunjukkan suatu kekuatan dan keindahan  yang dirajut dengan gerak.

Perpaduan antara kekuatan, kecepatan dan keindahan terwujud secara aktual dalam pengolahan tubuh. Maka, tubuh yang terlatih dan terolah menimbulkan dan memancarkan kesegaran. Adanya kesegaran berarti bahwa tubuh menikmati eksistensinya dalam ruang dan waktu. Pengolahan tubuh juga menandakan bahwa tubuh itu akan mencapai bentuk terbaik dan kepenuhannya saat tubuh itu ditempa di dalam olah raga. Jadi, olahraga mempresentasikan aktualisasi kekuatan, keindahan dan kecepatan dan potensi-potensi tubuh dalam berbagai variasi tindakan, gerak dalam teknik. Hasilnya, tubuh menjadi lebih kuat, lebih indah, lebih baik.

Makna “transendental” olahraga

Olahraga itu bukan hanya sekedar gerakan untuk melatih otot-otot tubuh agar menjadi lebih kuat dan sehat. Makna olahraga lebih daripada itu. Olahraga sebenarnya adalah festival tubuh untuk menyingkap kekuatan, kecepatan dan keindahan tubuh yang semuanya itu hanya dapat dirasakan ketika tubuh itu berolahraga. Mengapa olahraga dikatakan festival tubuh? Saat kita berolahraga kita mengekspresikan dan merayakan misteri tubuh sebagai yang aktual secara penuh dan nyata. Festival tubuh diselenggerakan ketika subyek menyadari bahwa tubuh adalah suatu misteri dan ingin merasakan misteri dan realitas tubuh sebagai perpaduan kecepatan, keindahan dan kekuatan yang tersembunyi itu. Dengan demikian, olahraga adalah waktu dan laga bagi tubuh untuk menunjukkan siapa dia sesungguhnya.

Penyelenggaran festival tubuh ini sebenarnya juga merupakan ungkapan syukur atas tubuh karena tubuh adalah rahmat dan pemberian yang harus dijaga, dirawat. Tubuh sebagai rahmat tidak diberikan begitu saja tanpa tanggung jawab. Maka, berolah raga menyiratkan suatu bentuk tanggung jawab pribadi yang paling alami dalam merawat dan mencintai tubuh. Jadi, olahraga adalah tanda, sarana, cermin dan bukti nyata bahwa manusia mencintai dan merawat tubuh.

Festival tubuh ini jelas mengundang kreativitas manusia untuk mencapai hasil yang terbaik demi mencintai dan merawat tubuh ini. Dalam perjalanan waktu, berbagai kreativitas muncul dan tereksplorasi sehingga menghasilkan berbagai macam bentuk dan cabang olahraga. Macam-macam cabang olahraga mengacu kepada intelektual manusia karena keragaman olahraga itu merupakan hasil kreativitas dan refleksi budi manusia sebagai usaha merawat tubuh. Kreativitas dan refleksi manusia dalam merawat dan mencintai tubuh menciptakan keragaman teknik. Maka, di dalam festival tubuh ini kaya dengan teknik-teknik alamiah tubuh sehingga festival tubuh menghadirkan festival teknik pula.

Tubuh, teknik dan kreativitas saling merajut satu sama lain sehingga melahirkan festival seni. Seni selalu membangkitkan kekaguman dan asyik untuk ditonton, dilihat dan dinikmati. Seni selalu menghibur. Lalu timbullah suatu hasrat bagaimana kalau olahraga itu diperlombakan. Perlombaan olahraga adalah kompetisi untuk menunjukkan siapakah yang paling hebat dalam mengenal dan menyelidiki misteri tubuh sebagai keindahan, kekuatan dan kecepatan. Dari sebab itu, setiap pribadi yang ikut dalam lomba olahraga menimpa diri sebaik mungkin agar dapat menjadi yang terbaik. Torehan kemenangan dalam suatu laga menciptakan kebanggaan karena ketika medali dikalungkan dan piala diangkat sang pemenang merayakan tubuhnya sebagai tubuh yang teraktual dalam universalitas. Olahraga pun menjadi tontonan dan hiburan setiap bangsa dan sepanjang bergulirnya zaman.

 

Olahraga dan dunia

Lirik lagu reach higher yang dinyanyikan oleh Gloria Estefan dibuka dengan kata-kata: some dreams live on time forever. Apakah mimpi-mimpi yang tinggal abadi di dalam waktu? Mimpi-mimpi tersebut adalah ingin menjadi bagian dari dunia. Ada keinginan dari setiap orang untuk dikenang dan diingat oleh dunia sebagai orang masyur. Masyur di sini berarti dapat memberikan sumbangan dan kontribusi bagi dunia. Banyak orang mewujudkan impian-impian tersebut dengan berbagai macam cara. Misalnya ada yang menulis buku, ada yang menemukan berbagai hal, ada yang menjadi pemimpin hebat dan sebagainya.  Demikian pula dengan olahraga. Mengapa demikian? Dengan memenangkan suatu perlombaan dunia, otomatis dunia akan mengingat sang atlet tersebut dalam setiap peredaran waktu dan zaman. Sebut saja pesenam Rumania Nadia Commecini, Maradona. Dunia begitu kagum dan terpesona kepada bintang-bintang olahraga ketika mereka mengekspresikan perpaduan kekuatan, keindahan dan kecepatan tubuh dalam teknik dan kebersamaan. Tepuk tangan dunia tidak akan pernah berhenti akan atraksi tubuh di atas arena lomba; ingatan dunia tak pernah hilang ketika momen-momen tubuh secara indah bermain di gelanggang olahraga. Saat itulah mengapa olahraga adalah jalan terpendek untuk menjadi bagian dari dunia dan saat itu pula mereka menjadi masyur karena atraksi tubuh mereka menghibur dunia.

Dunia yang terhibur berarti dunia yang ditaklukkan oleh olahraga. Dengan mengatakan bahwa olahraga itu menaklukkan dunia bukan berarti bahwa dunia adalah suatu musuh melainkan suatu akses, suatu jalan, suatu cara untuk membuka dan terlibat dalam horizon universalitas. Singkatnya olahraga itu mendefinisikan peristiwa hidup manusia yang partikular menjadi suatu momen universal. Tubuh itu sendiri merupakan universalitas eksistensi manusia yang real, yang mengada dan yang berada di dalam dunia. Maka, ketika olahraga dilihat sebagai akses, jalan, cara untuk membuka dan terlibat dalam horizon universalitas memunculkan fungsi olahraga sebagai bahasa universalitas.

 

Bahasa Universal

Mengapa olahraga itu dikatakan sebagai bahasa universal? Seperti yang telah dikatakan tubuh merupakan perpaduan antara kekuatan, keindahan, dan kecepatan. Perpaduan antara ketiga hal itu  mengundang kekaguman bagi pelihatnya. Maka, tubuh yang mengundang kekaguman untuk tubuh lain berarti bahwa tubuh berkata, berkomunikasi dan berbahasa. Bahasa tubuh yang tercipta dalam olahraga memasukkan kita dalam universalitas (baca dunia). Universalitas itu sendiri mensyaratkan kebersamaan dan persatuan partikularitas yang ada. Jika bahasa memasukkan kita dalam universalitas sementara universalitas mengandaikan kebersamaan maka kita dapat mengatakan bahasa tubuh dalam olahraga menciptakan kebersamaan: kita- bersama. Tentu saja bahwa esensi setiap bahasa apa pun adalah persahabatan dan keramahtamahan. Paradigma kita-bersama berarti bahasa tubuh selalu mendekatkan dan bahkan menjadikan manusia itu saudara dan sahabat. Olahraga adalah bahasa universal antar segala bangsa yang dimediasikan lewat tubuh sehingga membawa dan menyeberangkan manusia kepada universalitas: kita-bersama.

Kita-bersama menunjukkan adanya persatuan antar bangsa dan suku di dalam olahraga tanpa ada pembedaan dan sekat yang memisahkan. Dalam bahasa universal itu: kita-bersama, semua  tenggelam, terlebur di dalam keindahan dan keasyikan olahraga: akibatnya, semua memiliki satu bahasa yaitu persatuan kemanusiaan. Bahasa olahraga menstransendensi berbagai batasan-batasan, kategori-kategori yang memisahkan, membedakan dan bahkan memecah manusia. Bahkan, perlombaan olahraga merajut tali persaudaraan. Rajutan tali persaudaraan memanifestasikan olahraga sebagai bahasa universal antar bangsa, antar suku, antar pribadi dalam tindakan. Semboyan sepakbola let us kick racism out of football melingkup jiwa olahraga. Ketika Irak menjadi juara piala Asia 2008, seluruh Irak bersatu sejenak dalam kebersamaan merayakan kemenangan Irak. Peperangan berhenti sejenak untuk menikmati tontonan olahraga. Dunia pun heran akan keberhasilan Irak menjadi juara Asia 2008. Ikatan persahabatan, nasionalitas, identitas, komunitas, solidaritas, self-esteem dan prestis sosial Irak yang luluh lantah kembali menguat berkat olahraga. Olahraga dapat menciptakan dan memberikan perasaan kepemilikan yang menguntungkan bagi individu maupun suatu jaringan sosial di mana mereka hidup.

Moto olimpiade citius (lebih cepat), altius (lebih tinggi), forties (lebih kuat) adalah bahasa universal olahraga. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Coubertin bahwa ketiga kata ini mempresentasikan program keindahan moral. Estetika, bahasa universal dan makna transendental olahraga kiranya tidak dapat diraba secara nalar namun akan dicercap ketika terlibat di dalamnya dan diresapi dengan semangat kita-bersama. Tanpa kita-bersama makna transendental, estetika dan bahasa universal olahraga pun menjauh.

 

Ironi olahraga: tubuh yang terkhianati  

Sayang seribu sayang, makna dan arti olahraga belum ditangkap oleh manusia. Malahan kerap kali olahraga yang menyatukan manusia justru kadang kala menjadi blunder dan pemecah. Hal itu terjadi ketika olahraga itu ditumpangi dengan muatan-muatan emosi dan nafsu untuk memenuhi ambisi-ambisi di luar tujuan olahraga. Ketidakdewasaan pula menjadi unsur penyebab terjadinya kekerasan, perkelahian dalam olahraga. Saat kebencian dan kemarahan tak tertahan, olahraga menjadi sarana pelampiasan.

Perkelahian, kekerasan yang terjadi di dalam olahraga bisa disebut dengan ironi olahraga. Jelas ironi olahraga itu berarti tubuh yang terkhianati. Kekerasan, perkelahian menjadikan tubuh menjadi pasif dalam arti bahwa tubuh tidak mampu mewujudkan aktualisasi sebagai yang indah, yang kuat dan yang cepat secara penuh. Kekerasan dalam olahraga membuat tubuh berhenti sebagai tubuh yang dinamis. Daya-daya tubuh pun menjadi tersembunyi dan tersamar, tak mampu menunjukkan keindahan, kecepatan dan kekuatannya berada dalam pola yang kacau-balau. Pada saat itu tubuh berada di dalam banalitasnya: tubuh menjadi pasif dan tak terkontrol karena ia berada di dalam dominasi nafsu dan emosi.

Tubuh yang pasif dan tak terkontrol itu tersulap menjadi tubuh beringas. Dengan menjadi tubuh beringas, olahraga tidak lagi menjadi suatu seni dan tontonan yang mengasyikkan melainkan berubah menjadi yang mengerikan. Olahraga memisahkan dan mencerai-beraikan satu sama lainnya sehingga olahraga tak lain merupakan suatu momen yang menyedihkan, suatu ingatan yang memilukan. Paradigma kita-bersama yang seharusnya terjadi dalam olahraga melalui kekerasan, perkelahian berubah bentuk sebagai aku-kamu dan kita-mereka. Paradigma aku-kamu dan kita-mereka itulah yang mendasari dan yang menjelaskan kerusuhan-kerusuhan yang terjadi di dalam olahraga. Paradigma aku-kamu dan kita–mereka secara nyata meresap di dalam kelompok fanatisme. Sebut saja holigan, tifosi, bonek. Paradigma aku-kamu dan kita-mereka malah melegetimasi dan memperkukuh kategori-kategori pemisahan yang sudah ada. Itulah ironi olahraga yang membuat kita selalu terheran-heran dan bertanya-tanya bagaimana mungkin di arena festival tubuh, tubuh muncul sebagai tubuh beringas.

 

Penutup

Olahraga bukan sekedar tuntutan kesehatan agar kita menjadi lebih sehat. Olahraga sebenarnya adalah perayaan kehidupan karena kehidupan dirangkakan di dalam tubuh. Dengan berolahraga kita menyelami dan menyadari bahwa tubuh kita memiliki kekayaan yang luar biasa dan kedalaman misteri tubuh yaitu realitas yang lain yang tak pernah kita duga sekaligus bersyukur atas rahmat tubuh ini. Saat kita mengetahui bahwa dengan berolahraga kita bersyukur akan tubuh ini, kita pun menciptakan suatu kehidupan yang lebih baik sebab di dalam diri ada sukacita dan kegembiraan. Sukacita dan kegembiraan yang ditujukan lewat tubuh menghibur dan menggembirakan tubuh-tubuh lain yang melihat dan menatapnya.

Pesta olahraga apa pun entah PON, Olimpiade, World cup, dst merupakan suatu momen universalitas di mana manusia seluruh dunia untuk sesaat memaknai dan melihat keagungan tubuh yang aktual di dalam suatu arena olahraga.  Dalam pertandingan olahraga apa pun “yang terpenting bukanlah menang tetapi terlibat dan mengambil bagian[1].

 

 

[1] Ini adalah perkataan De Coubertin yang dipetik dari homili seorang uskup Pennsylvania dalam kejuaraan London Games 1908

                                                            

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

1 thought on “Lensa Olahraga”

Leave a Reply