Langit Dan Naiknya Yesus Ke Langit

 

  Lukisan: Vincent Van Gogh, Road With Cypress And Star

                                                                                    Memandang wajah manusia adalah memandang wajah langit

 

Rahasia langit

Langit warnanya yang biru begitu memukau dan memantik rasa kagum akan semesta. Memandang langit seolah-olah kita memandang hal yang melampaui diri kita. Dengan langit kita dihadapkan dan disadarkan bahwa semesta begitu luas dan indah sekaligus diingatkan seperti kata Agustinus dalam bukunya Confessiones, bahwa manusia hanyalah partikel dari keseluruhan semesta ini.

Di langit ada keagungan, ada teka-teki, ada infinitas dan ilahi. Mitologi religius segala bangsa kiranya setuju bahwa langit adalah tempat tinggal yang ilahi; sebuah pintu untuk menuju ke dunia lain. Dasarnya adalah bahwa di langit berdiamlah matahari dan bulan, bintang dan pelangi. Benda-benda itu sebagai bukti bahwa ada sesuatu yang lebih tinggi dan besar, ada pencipta yang berdiam di atas langit. Dan hal itu sudah membuktikan keagungan dan misteri langit: langit mewartakan kemuliaan Tuhan.

Tidak itu saja, langit membentangi dan melingkup segala yang ada di bumi ini. Tidak ada sesuatu ruang dan jengkal di bumi ini yang tidak ditudungi oleh langit. Dengan begitu, langit bak seorang raja yang memerintah dari segala penjuru. Segalanya tunduk di bawah kuasa langit. Bahkan  waktu dan ruang itu terlebur di dalam langit sehingga dapat dikatakan bahwa langit adalah bingkai, frame untuk kehidupan sepanjang segala abad. Posisinya di atas mengamati segala yang dibawah serba misteri dan agung sehingga langit kiranya dapat dikatakan sebagai mata Allah.

 

Infinitas langit  

Sekarang, berkat kemajuan teknologi impian untuk menembus langit yang dulu hanyalah angan-angan belaka telah menjadi kenyataan. Sudah jutaan kali langit ditembusi manusia dengan pesawat ulang alik. Namun langit tetap tinggal misteri. Ketika manusia sampai di langit, yang dijumpai hanyalah langit dan langit, sesuatu yang tidak bisa disentuh dan dijelajahi. Paradoksnya ketika langit itu ditembusi, langit selalu memberikan wajahnya tetapi tak satu pun yang dapat meraba dan menyentuh wajahnya. Paradoks langit hendak mengatakan bahwa langit adalah ladang interpretsi; ladang penuh makna yang tidak akan pernah selesai untuk dibedah dan ditelaah. Singkatnya langit adalah suatu teks, suatu hermeneutik. Di sana ada makna yang tersembunyi yang tak kunjung selesai untuk diinterpretasi di balik kesan dan penampilan harafiahnya.Sebab di langitlah sejarah peradaban kehidupan terekam.

Itu berarti langit menjadi sebuah memori dan saksi peristiwa baik bagi manusia secara general maupun secara personal. Tidak ada sejarah dan peristiwa yang luput dari langit. Dengan demikian langit bagai sebuah teater yang memutar kisah kehidupan ini. Orang yang berkata: “ah tak seorang pun dapat melihat perbuatanku” benar-benar lupa bahwa langit tetap merekam dan melihat apa yang dibuatnya. Langit memang tidak bisa berkata tetapi ia bisa bersuara di dalam keheningan. Langitlah yang mengkumandangkan dan menyuarakan segala sesuatunya bahkan yang tersembunyi sekali pun seperti yang ditulis dalam Injil Lukas: tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi yang tidak akan diketahui, tidak ada sesuatu pun yang rahasia yang tidak akan dikatakan. Dengan demikian ketika kita menatap langit seolah-olah langit menjadi pengingat kita bahwa Yang ilahi selalu memperhatikan kita. Konsekuensinya langit bisa menjadi sang hakim ataupun bidadari kehidupan tergantung dari perbuatan kita. Mungkin pendapat ini terlalu aneh dan mengada-ngada. Namun justru yang dianggap aneh, absurd muncullah disorentasi yang kemudian mengantar kepada reorentasi. Justru saat sesuatu itu dianggap tidak memiliki sebuah nilai, arti, munculah makna yang sebelumnya tersembunyi di balik absurditas itu. Di sinilah letak infinitas langit. Ketika langit dianggap yang sia-sia, sebuah kekosongan, langit tidak menjadi sebuah kekuatan dasyat yang menopang kehidupan. Langit hanya menjadi sekedar barang mati. Sebaliknya, ketika langit dipandang sebagai keagungan, segala sesuatu akan terbit dalam langit: ide, harapan, kekuatan, kelembutan, keindahan. Masuk akalkah semuanya ini? Jawabannya tetap tergantung. Memang suatu subyektivitas tidak cukup bisa dimengerti dalam tataran logis. Tetapi bukankah hidup itu sendiri sebuah subyektivitas? Dan langit tetap subyektivitas yang menabur benih-benihnya di antara objektivitas yang begitu mencengkram kuat realitas.

 

Memaknai peristiwa Yesus terangkat ke langit

Umat Kristiani merayakan hari kenaikan Yesus: Yesus yang terangkat ke langit. Di sini subyektivitas iman beradu dengan objektivitas. Maksudnya umat Kristiani diajak untuk merenungkan imannya. Iman, menurut Soren Kierkergaard tidak bisa diharmonikan dengan objektivitas. Objektivitas itu menyangkut soal exterioritas sementara iman sebagai subyektivitas berkaitan dengan interioritas. Iman itu hanya dapat dimasuki jika ranah batin manusia bergeming dan hidup. Peristiwa naiknya Yesus ke langit merupakan pemantik ranah batin manusia. Sebab manusia diingatkan, disadarkan bahwa Tuhan menyapa setiap hati dalam keagungan langit. Langit itu pun menjadi pewarta keindahan iman.

Keindahan iman itu terwujud dalam tindakan, aksi dan perbuatan untuk dan bagi sesama khususnya bagi mereka yang menderita. Dengan kata lain keindahan iman itu menjadi kenyataan jika setiap hati menaggapi sapaan Ilahi itu sendiri yang hadir dalam setiap wajah manusia. Sapaan Ilahi bukanlah sapaan romantis yang hadir dalam ibadat tetapi hadir dalam wajah manusia. Wajah manusia menurut Emmanuel Levinas mempresentasikan suatu infinitas; yang ilahi. Dalam wajah manusia yang transenden itu mengejewantah. Maka dari itu di hadapan wajah manusia, setiap pelihatnya dibentangkan suatu ladang hermeneutik yang tak kunjung selesai. Wajah mensyaratkan agar hermeneutik harus menjadi tindakan. Di hadapan wajah hermeneutik tidak bisa hanya sekedar interpretasi teks tetapi teks yang menjadi tindakan.

Wajah manusia merupakan sumber tindakan dan perbuatan serta aksi. Tentu aksi, tindakan dan perbuatan yang dituntut oleh wajah bukan kekerasan dan kebencian melainkan kasih. Ketika orang menaruh kasih, mewujudkan kasih dalam tindakan yang nyata, pada saat itu pula ia tahu arti dan makna langit, ia menyelami misteri langit dalam wajah manusia. Sebab langit dan wajah memiliki kesamaan: dua-duanya adalah keagungan, misteri dan ladang interpretasi yang tak pernah selasai. Dua-duanya adalah rahasia ilahi dan infinitas. Dengan demikian aksi, perbuatan dan tindakan kasih di hadapan wajah manusia adalah kunci untuk melihat keindahan, keagungan misteri langit. Langit adalah wajah Allah dan wajah manusia adalah wajah Allah yang konkret sekaligus langit yang berbentuk daging, darah dan roh.

Aksi kasih selalu mengantar orang melihat kemuliaan Allah, mengerti makna dan arti peristiwa naiknya Yesus ke surga. Dengan iman, pelaku kasih melihat langit terbuka dan Yesus berdiri di hadapannya.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply