Koloni

XXXIII

Koloni

Francis Bacon

 Lukisan Frederic Edwin Church, The Heart of Andes, 1859

church_heart_of_the_andes

Koloni termasuk karya yang kuno, primitif dan kepahlawanan. Ketika peradaban masih muda ia melahirkan lebih banyak anak; tetapi sekarang karena tua, peradaban melahirkan lebih sedikit anak: untuk itu pantaslah kiranya saya mengusulkan adanya koloni-koloni baru[1] untuk menjadi anak-anak dari kerajaan-kerajaan terdahulu. Namun saya menyukai suatu koloni dalam tanah yang murni; yaitu di mana orang-orang tidak terjajah kepada tujuan akhir menjajah sesamanya. Di luar itu, yang terjadi adalah suatu pembasmian daripada suatu kolonisasi.

Mengkolonisasi[2] suatu negara sama dengan menanam perkayuan; sebab anda harus membuat suatu anggaran untuk kerugian yang hampir setara dengan keuntungan selama dua puluh tahun, dan mengharapkan imbalan anda pada akhir. Hal pokok yang telah menjadi kehancuran dari kebanyakan kolonisasi, adalah adanya penarikan laba yang terburu-buru dan ceroboh dalam tahun-tahun pertama. Memang benar bahwa, laba yang cepat tidak diabaikan, sejauh laba yang didapat sebanding dengan kebaikan untuk koloni, namun tidak bisa lebih daripada itu. Adalah hal yang memalukan dan tercela untuk memilih orang-orang yang dicap sebagai sampah masyarakat, dan orang-orang jahanam untuk dijadikan orang-orang pilihan dengan mana anda mengkolonisasi; dan tidak hanya itu saja, mereka juga akan merusak koloni; karena mereka akan selalu menjadi ibarat gincu pipi, dan tak mau bekerja, sebaliknya menjadi orang-orang yang malas, berbuat keonaran, menghabiskan makanan, cepat menjadi letih, dan kemudian melaporkan apa yang terjadi kepada kerajaan induk untuk mendiskreditkan koloni. Orang-orang yang anda pilih yang bersama mereka anda melakukan kolonisasi haruslah tukang kebun, pembajak, pekerja, pandai besi, tukang kayu, tukang mebel, nelayan, ahli unggas, beberapa orang apoteker, ahli bedah, tukang masak, dan pembuat roti. Dalam suatu wilayah koloni, pertama-tama anda harus melihat-lihat tentang jenis makanan apa yang dihasilkan oleh wilayah koloni itu; seperti kastanye, kenari, nanas, zaitun, kurma, ceri, madu asli, dan semacamnya; dan memanfaatkan semuanya itu. Kemudian pertimbangkanlah makanan apa atau sayur macam apa yang menjadi kekhasan koloni tersebut, yang tumbuh dengan cepat, dan dalam jengkang waktu satu tahun; seperti wortel, lobak cina, bawang, lobak biasa, umbi-umbian[3], jagung dan semacamnya. Untuk gandum, kedelai, barley, tumbuhan ini kiranya membutuhkan banyak sekali pekerja; tetapi anda dapat mulai menanam ercis dan kacang-kacangan, karena baik tidak membutuhkan terlalu banyak pekerja dan kacang dan buncis itu dipakai untuk daging sekaligus juga untuk roti. Demikian juga dengan beras yang mana kebutuhan akan beras meningkat dengan cepat seperti halnya kebutuhan akan daging. Yang terpenting, pada permulaannya, tetap harus ada persediaan makanan yang dibawa dan disimpan di dalam gudang seperti biskuit, tepung–gandum, tepung, dan yang semacamnya, sampai roti kiranya telah dibuat. Untuk binatang-binatang, atau unggas-unggas, ambillah terutama yang tidak gampang kena penyakit dan yang berkembang biak dengan cepat seperti babi, kambing, ayam, ayam jago, kalkun, bebek dan yang semacamnya. Persediaan makanan di dalam koloni haruslah digandakan sedemikian banyak ibarat yang terjadi di dalam sebuah kota yang dikepung, yaitu, dengan izin khusus. Dan biarkan bagian tanah yang utama yang dipergunakan sebagai taman atau ladang jagung, kiranya menjadi persediaan umum; dan jagung dihamparkan, ditimbun serta dikirimkan sesuai dengan proporsi; di samping itu sediakanlah pula beberapa titik dari tanah utama tersebut untuk orang-orang tertentu yang akan memupukinya demi kepentingan mereka sendiri. Demikian juga pertimbangkanlah pula komoditas apa saja yang dihasilkan secara alami oleh tanah koloni, karena komoditas-komoditas tersebut dengan beberapa cara membantu membiayai ongkos kolonisasi seperti yang terjadi di Virginia[4] dengan tembakaunya (semoga tidak terjadi apa yang telah dikatakan sebelumnya, bahwa komoditas-komoditas tersebut kiranya menjadi prasangka bisnis utama yang tak lekang oleh waktu). Hutan-hutan pada umumnya berlimpah-limpah sehingga terlalu banyak; oleh karena itu, hutan-hutan itu dipilih satu yang cocok untuk diambil kayu-kayunya. Jika kiranya ada biji besi, dan sungai–sungai yang di atas sungai tersebut dapat dibuat penggilingan, maka besi juga adalah suatu komoditas yang baik di mana kayu melimpah-ruah. Membuat teluk-garam, jika iklim memang mendukung, akan membutuhkan pengalaman. Demikian juga menumbuhkan sutra, jika memang mungkin, adalah suatu komoditas yang bagus. Ter dan aspal, yang bersumber dari pohon cemara dan pohon pinus, juga tidak akan gagal. Maka, obat-obatan dan kayu manis di mana pun tersedia sungguh memberikan keuntungan yang besar. Demikian juga dengan sabun yang terbuat dari abu[5] dan kekayaan lain yang kiranya juga harus dipertimbangkan pula. Namun, jangan memungut pajak terlalu tinggi untuk kekayaan bawah tanah; karena harapan-harapan yang bersumber dari pertambangan tidaklah pasti, dan pajak yang terlalu tinggi membiasakan si pengkoloni untuk malas dalam hal yang lain. Berkaitan dengan pemerintahan, biarkanlah pemerintahan koloni berada di tangan satu orang dan dibantu dengan beberapa penasihat; dan kiranya memiliki sebuah komisi untuk melaksanakan hukum-hukum perang tetapi dengan suatu pembatasan. Dan yang terpenting, semoga orang-orang mendapat keuntungan dengan tinggal di dunia yang liar, karena mereka selalu memiliki Tuhan, dan pelayan-pelayan mereka, yang ada di hadapan mata mereka. Semoga pemerintah koloni tidak tergantung terlalu banyak kepada para penasihat dan pejabat kerajaan induk, tetapi atas serangkaian orang yang berkepala dingin, dan orang-orang itu kiranya para ningrat dan ksatria, daripada pedagang; sebab para pedagang selalu mencari laba saat ini. Semoga ada kebebasan dari kewajiban pajak eksport-import, sampai koloni kiranya menjadi kuat; dan tidak hanya kebebasan dari kewajiban pajak eksport-import, tetapi juga kebebasan untuk membawa komoditas koloni yang terbaik yang dapat dihasilkan oleh koloni kecuali jika ada alasan peringatan yang khusus. Semoga koloni tidak penuh sesak dengan orang-orang, ketika perusahaan-perusahaan berturut-turut mengirim orang-orang dengan terlalu cepat, malahan dengarkanlah suara-suara bagaimana mereka menyia-nyiakan, atau mengirim kebutuhan-kebutuhan dengan proporsional; semoga orang-orang yang tinggal di koloni hidup dengan makmur dan bukan dengan kemiskinan yang merana. Telah menjadi hal yang amat berbahaya bagi kesehatan di beberapa koloni, bahwa orang-orang yang berada di koloni telah membangun bangunan di sepanjang laut dan sungai, di atas tanah yang berawa dan buruk. Oleh karena itu, meskipun anda memulai di sana, hindarilah memakai kereta dan hal-hal lain seperti barang-barang yang tidak lazim, dan tetaplah membangun bangunan dengan posisi naik ke atas di atas sungai-sungai kecil daripada membangun di sepanjang sungai-sungai tersebut. Hal ini sebagaimana juga berkaitan dengan kesehatan koloni bahwa tampaknya mereka mempunyai gudang garam yang baik karena adanya laut dan sungai, sehingga mereka kiranya memakai garam ketika dibutuhkan. Ketika anda berkoloni di mana ada orang-orang barbar, janganlah hanya menjamu mereka dengan hal-hal sepele dan slogan-slogan melulu, tetapi manfaatkanlah mereka dengan adil dan bersahabat, meskipun disertai dengan penjagaan yang cukup ketat; dan janganlah mendapatkan kebaikan hati mereka dengan membantu menyerang musuh-musuh mereka; tetapi menolong mereka berkaitan dengan soal pertahanan tidaklah salah; dan kirimkanlah mereka ke kerajaan induk, supaya mereka kiranya melihat suatu keadaan yang lebih baik daripada negeri mereka sendiri dan memujinya ketika mereka pulang ke tanah air. Ketika koloni bertumbuh menjadi kuat, maka merupakan saatnya untuk menempatkan wanita dan pria bersama supaya koloni kiranya berkembang ke dalam generasi-generasi, dan kiranya koloni tidak pernah diserang dari luar. Hal yang paling berdosa di dunia adalah mengabaikan atau memiskinkan sebuah koloni serentak demi kemajuan, sebab di samping karena hal itu merupakan ketidakhormatan, adalah bersalah akan darah orang-orang yang pantas untuk mendapatkan belas kasihan itu.

[1] Pada zaman Bacon kolonisasi merupakan tren yang umum yang dilakukan kerajaan-kerajaan Eropa. Kolonisasi ini merupakan bagian penting dari abad penemuan yang diwarnai dengan keinginan untuk menemukan dan mengeksplorasi dunia baru (Columbus menemukan Amerika; Bartolomeu Dias menemukan Tanjung Harapan; dan Vasco da Gama menemukan Goa, India). Tujuan kolonisasi selain demi mencari rempah-rempah dan kejayaan juga disemangati misi untuk menyebarkan iman. Ungkapannya yang terkenal adalah gold, glory and Gospel (emas, kemuliaan dan Injil). Spanyol mengkoloni Amerika Selatan, Amerika Tengah dan sebagian Amerika Utara serta Asia (Philipina); Portugal mengkoloni dari pantai-pantai Afrika dan Brazil sampai ke China; Perancis mengkoloni Queebec (Kanada); Belanda mengkoloni Indonesia. Adam Smith dalam bukunya Wealth of Nations juga menyinggung alasan-alasan bangsa-bangsa Eropa melakukan kolonisasi dalam buku IV: Of Systems of Political Economy dengan bab tersendiri dengan judul Of Colonies; selengkapnya lihat Adam Smith, Wealth of Nations, (New York: The Harvard Classic, 1965), hal 395-405.

[2] Kemaharajaan Inggris terdiri koloni, protektorat, dominion, amanat, teritori yang diatur oleh kerajaan Inggris. Kemaharajaan Inggris dimulai pada akhir abad 16 dan awal abad 17 dengan mengkoloni daerah-daerah baru dan menciptakan pos-pos perdagangan (Inggris mendirikan perusahaan dagang EIC (East Indies Company)). Dasarnya adalah bahwa melihat Spanyol dan Portugal telah membangun kemaharajaan di seberang lautan, Inggris pun tidak mau ketinggalan, sehingga Inggris mulai melakukan kolonisasi di Amerika, Asia dan Afrika. Kemaharajaan Inggris menjadi yang terbesar dan terhebat dalam sejarah. Kemaharajaan Inggris berakhir karena hutang Inggris kepada Amerika yang demikian besar akibat perang dunia II dan gerakan anti kolonialisme yang muncul di Inggris sendiri maupun di Eropa serta di Amerika sehingga Inggris mau tak mau melepaskan koloni-koloninya atau memberikan kemerdekaan. Koloni Inggris yang terakhir yaitu Hongkong yang dikembalikan ke China tahun 1997. Ada beberapa negara yang masih membentuk persemakmuran dengan kerajaan Inggris sampai sekarang ini seperti Australia, Selandia Baru, dll.

[3] Teks aslinya adalah artichokes of Hierusalem (nama Latinnya Heliantus Tuberosus), yaitu semacam umbi-umbian yang tumbuh di Amerika Utara.

[4] Virginia adalah koloni Inggris di Amerika Utara mulai tahun 1607 sampai dengan tahun 1776 (kemerdekaan Amerika Serikat dari Inggris)

[5] Abu dapat dipakai untuk membuat sabun karena abu mengandung potash (garam abu)

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply