Kodrat Manusia

XXXVIII

Kodrat Manusia

Francis Bacon

Lukisan Camille Pissarro,The Harvest,1882

the-harvest-1882Kodrat sering kali tersembunyi; kadang kala dapat ditaklukkan; jarang dapat dibinasakan. Paksaan membuat kodrat semakin keras dalam reaksi; doktrin dan diskursus menjadikan kodrat menjadi sedikit mendesak; tetapi kebiasaan mengubah dan menaklukkan kodrat. Dia yang mencari kemenangan atas kodratnya, semoga dia tidak menuntut dirinya sendiri dengan tuntutan yang terlalu keras maupun yang terlalu lunak; sebab yang pertama akan membuat dirinya patah arang seiring dengan kegagalan yang kerap terjadi, sementara yang kedua, meskipun sering kali dengan hal-hal yang lazim, tuntutan yang demikian akan menjadikan dirinya seorang yang maju tetapi kerdil. Dan pada mulanya, biarkanlah dia berlatih dengan bantuan, seperti seorang perenang yang berlatih dengan ban atau dengan arus air; tetapi sesudah beberapa waktu biarkanlah dia berlatih dengan kesukaran seperti seorang penari yang berlatih dengan sepatu yang tebal. Sebab akan menghasilkan kesempurnaan yang istimewa, jika latihannya lebih keras daripada prakteknya. Di mana kodrat begitu perkasa, dan karena kemenangan adalah hal yang sulit, maka kiranya level-levelnya haruslah, yang pertama adalah berdiam dan memahami kodrat dalam beberapa waktu; ibarat seseorang yang hanya berkata atas dua puluh empat huruf ketika dia sedang marah[1]; lalu level yang kedua adalah semakin berkurang dalam kuantitas; seolah-olah, demi menahan nafsu minum anggur, maka minum minuman yang sehat yang sesuai dengan sebuah daftar pada saat makan; level yang terakhir adalah mematahkan semuanya. Tetapi jika seseorang mempunyai keteguhan dan resolusi sebagai hak pilih bagi dirinya sendiri sekarang juga, maka hal itu adalah yang terbaik:

                Optimus ille animi vindex laedentia pectus

                Vincula qui rupit, dedoluitque semel

                Apakah kamu akan menjadi bebas? Rantai yang menyakitkan dadamu

                Dengan satu usaha teguh dan segenap hati dan menjadi kenyataan pada saat mengaso

Bukanlah aturan kuno yang keliru, menekuk kodrat ibarat dengan sebuah tongkat sihir sehingga menjadi suatu ekstrim yang bertentangan, dengan cara mengatur dan memahami kodrat dengan benar, di mana ekstrim yang bertentangan tersebut bukan suatu sifat yang buruk. Semoga manusia tidak memaksakan suatu kebiasaan atas dirinya sendiri dengan suatu kontinuitas yang kekal, tetapi dengan mengaso. Sebab mengaso sejenak menguatkan permulaan yang baru; dan seandainya seseorang yang tidak sempurna di dalam latihan, dia juga seharusnya belajar kesalahannya sama seperti belajar akan kemampuannya, sehingga menciptakan satu kebiasaan dari keduanya; dan tidak cara lain untuk membantu dalam hal ini kecuali dengan mengaso yang sesuai dengan waktunya. Semoga seseorang tidak mempercayai kemenangan atas kodratnya dengan terlalu yakin; sebab kodrat berbaring terkubur pada masa yang indah, tetapi akan bangkit kembali di dalam suatu kesempatan atau godaan. Ibarat yang menimpa si dara dalam dongeng Aesop[2], yang diubah dari seekor kucing menjadi seorang dara, yang duduk dengan manisnya di kamarnya, sampai seekor tikus berlari di hadapannya[3]. Oleh karena itu, semoga manusia menghindari segala kesempatan; atau menempatkan dirinya sendiri sesering kali di dalam kesempatan supaya dia kiranya tergoda sedikit oleh kesempatan. Kodrat manusia dikecap dengan amat baik dalam privasi, karena di dalam privasi tidak ada kepura-puraan; tetapi jika dikecap dalam hasrat, maka menempatkan dirinya di luar dari prinsip-prinsipnya; dan jika dikecap di dalam suatu kasus yang baru atau eksperimen, maka kebiasaan benar-benar meninggalkannya. Mereka adalah orang-orang yang berbahagia yang  mana kodrat mereka menata panggilan mereka; yang lain, mereka kiranya berkata multum incola fuit anima mea (jiwaku telah lama menjadi seorang peristirahat); ketika mereka bercakap-cakap akan hal-hal tersebut yang tidak mempengaruhi mereka. Dalam pembelajaran-pembelajaran, apa pun yang manusia perintahkan atas dirinya sendiri, semoga dia mempersiapkan waktu untuk itu; tetapi apa pun yang sesuai dengan kodratnya, semoga dia tidak mempedulikan segala waktu yang telah dipersiapkan; karena pikirannya akan terbang menuju ke sebuah waktu dari waktu-waktu yang telah dipersiapkan tersebut; maka, sepertinya ruang-ruang untuk usaha atau pembelajaran-pembelajaran yang lain akan mencukupi. Kodrat manusia berlangsung baik seperti tumbuhan jamu atau rumput liar; oleh karena itu kiranya dia menyirami yang satu dan mencabut yang lain sesuai dengan musimnya.

[1] Hanya berkata dengan dua puluh empat huruf ketika sedang marah adalah usaha untuk mengontrol dan meredakan kemarahan.

[2] Tentang Aesop lihat essai XIII; no. 5

[3] Lengkapnya sebagai berikut: Pada zaman dahulu ada seekor kucing betina yang manis yang jatuh cinta kepada seorang pemuda. Tentu saja si pemuda tidak menggubris perasaan si kucing. Maka, si kucing memohon bantuan kepada dewi Venus dan karena merasa iba, dewi Venus mengubah si kucing menjadi seorang dara yang cantik sekali. Segera pemuda jatuh cinta dan menikahi si dara. Ketika si pasangan tersebut sedang duduk di kamar, dewi Venus datang melihat apakah si kucing yang sudah menjadi dara juga mengubah kodratnya. Maka, dewi Venus mengirim seekor tikus di hadapan si dara dan si dara pun, karena lupa, segera ia melompat dari kursi, menterkam tikus dan hendak memakannya. Si laki-laki yang menyaksikan si dara yang bertindak seperti kucing menjadi penuh ketakutan. Akhirnya, karena si dara telah menunjukkan kodratnya yang asli, dewi Venus mengubah lagi si dara menjadi seekor kucing. Meeeong

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply