Kesalahan

Lukisan Richard Hayley Lever, Storm St.Ives

 

 

Pergandaan, pluralritas bentuk, kebingungan adalah kesalahan, sebaliknya hanya ada satu yaitu kebenaran”

                                                                                                                                Yohanes Krisostomus

 

Kesalahan dan pengertiannya

Kesalahan adalah lawan atau oposisi kebenaran. Dengan demikian kalau kebenaran adalah kesesuaian antara hal dan intelek maka kesalahan adalah ketidaksesuaian antara hal dan intelek.

Jelaslah bahwa kebenaran dan kesalahan merupakan hal yang berlawanan. Sifat berlawanan kebenaran dan kesalahan tidaklah sama dengan sifat berlawanan antara afirmasi dan negasi. Sebab negasi tidak menegaskan atau mengafirmasi segala sesuatunya juga tidak menetapkan subjek. Negasi hanya menyatakan ada sebagai non-ada misalnya tidak melihat atau tidak duduk. Sebaliknya logika dari hal yang berlawanan selalu menegaskan, mengafirmasi dan menentukan subjek, misalnya hitam adalah spesies warna. Maka, kesalahan menegaskan sesuatu karena suatu hal yang salah menunjukkan bahwa hal tersebut  bukanlah yang sebenarnya[1]. Jadi, kalau kebenaran menyatakan suatu pemahaman akan sesuatu hal yang tepat maka kesalahan menunjukkan yang hal yang berlawanan yaitu suatu pemahaman yang tidak sesuai.

Eksistensi kesalahan adalah suatu bukti eksistensi kebenaran. Kesalahan mensyaratkan kebenaran.  Seandainya tidak ada kebenaran tidak ada pula kesalahan. Orang bisa mengatakan hal itu salah karena ada kebenaran. Tetapi fakta ini tidak bisa dibalik karena definisi kesalahan yaitu ketidaksesuaian antara intelek dan hal menyiratkan suatu makna bahwa kesalahan sebenarnya adalah privasi dan absennya kebenaran. Eksistensi kesalahan menyatakan suatu konfirmasi secara tak langung akan eksistensi kebenaran.

 

 

Kesalahan dan hal

Hubungan kesalahan dan hal dapat dirumuskan dalam pertanyaan berikut: Apakah hal-hal itu dapat salah?

Sebagaimana dikatakan bahwa kebenaran dan kesalahan merupakan hal yang berlawanan dan karena hal berlawanan berada di dalam hal yang sama maka kita harus mencari kesalahan di mana kita menemukan kebenaran yaitu di dalam intelek[2]. Kebenaran adalah kesesuaian hal dan intelek. Maka kesalahan adalah ketidaksesuaian antara hal dan intelek. Hal-hal itu sendiri tidaklah benar atau salah kecuali dalam hubungannya dengan intelek: intelek Tuhan dan intelek manusia. Ada dua pertanyaan yang dapat dilontarkan:

  • Dalam kaitannya dengan intelek Tuhan, apakah hal-hal dapat salah?

Menurut Thomas hal-hal terkait dengan intelek Tuhan ibarat sesuatu yang diketahui terhubung dengan yang mengetahui. Dalam konteks ini negasi, cacat, ketidaksempurnaan dari sesuatu pun terhubung dengan intelek Tuhan meskipun Tuhan bukan penyebab privasi dan ketidaksempurnaan tersebut. Jadi, jelaslah bahwa suatu hal sesuai dengan intelek Tuhan dalam cara apa pun ketika hal itu mengada bahkan ketika hal itu memiliki kecacatan atau ketidaksempurnaan[3]. Jelaslah pula segala sesuatunya benar karena relasinya dengan intelek Tuhan. Dengan kata lain karena relasinya dengan intelek Tuhan tidak ada yang salah.

  • Dalam kaitannya dengan intelek manusia, apakah hal-hal itu dapat salah?

Dalam kaitannya dengan intelek manusia, hal-hal dapat menjadi salah hanya secara relatif[4] bukan secara absolut dan kesalahan tersebut berlangsung di dalam dua cara:

  1. Cara yang pertama berdasarkan dan berkiblat pada hal yang dimaknai. Pemaknaan menentukan kebenaran dan kesalahan. Konsekuensinya, suatu hal dikatakan salah karena hal tersebut dimaknai atau direpresentasikan oleh kata atau pikiran yang keliru[5]. Sebab kebenaran dan kesalahan terletak di dalam pikiran dan perkataan sehingga kebenaran dan kesalahan haruslah dilacak kepada disposisi hal yang dimaknai dan dinilai. Dengan kata lain pemaknaan baik lewat pikiran dan kata menentukan disposisi hal sehingga hal tersebut menjadi benar atau salah. Maka di dalam konteks ini suatu hal dikatakan salah berkaitan dengan kualitas yang tidak dimiliki. Lingkaran adalah segitiga sehingga merupakan hal yang salah. Di sini intelek manusia berperan aktif karena intelek manusia melakukan pemaknaan. Intelek menjadi causa kesalahan. Kesalahan berada di dalam intelek yang melakukan penilaian (judgement). Bagaimana itu bisa terjadi? Objek intelek adalah esensi suatu hal. Secara aksiden kesalahan terjadi ketika intelek berusaha mengetahui esensi suatu hal dengan cara yang mana intelek secara keliru menggabungkan dan memisahkan esensi. Ketika intelek menghubungkan definisi suatu hal dengan hal yang lain, misalnya mortal, rasional sebagai definisi keledai: kedelai adalah binatang rasional yang dapat mati; atau ketika intelek menggabungkan bersama bagian-bagian definisi yang memang tidak bisa digabungkan misalnya irasional, kekal (immortal): keledai adalah binatang irasional yang kekal[6]. Tentu saja suatu kesalahan mengatakan bahwa binatang irasional adalah binatang yang kekal. Jadi definisi benar kecuali definisi menyatakan suatu afermasi yang keliru yang dibuat oleh intelek. Namun, pada prinsipnya, intelek dapat mengerti esensi hal dan intelek tidak dapat menjadi salah dalam pengetahuannya akan esensi artinya intelek salah hanya secara aksidental dalam mengetahui esensi karena adanya afirmasi dan negasi.

 

  1. Suatu hal dapat menjadi salah sebagai causa dalam arti secara natural melahirkan suatu definisi, opini, atau pertimbangan yang salah yang mana merupakan operasi intelek. Tentu saja operasi intelek tersebut membuktikan kesalahan berada di dalam intelek karena kebenaran dan kesalahan adalah properti dari kepercayaan dan pernyataan-pernyataan yang merupakan buah operasi intelek. Maksudnya sebagai berikut: manusia selalu menilai hal-hal dengan penampilan-penampilan lahiriahnya (external) karena pengetahuan manusia berasal dari indra yang pada prinsipnya dan secara kodrati menyetujui dan bersesuaian dengan aksiden-aksiden lahiriah. Aksiden-aksiden lahiriah itu menyebabkan kemiripan atau keserupaan dengan hal-hal dan bukan hal-hal itu sendiri. Maka, dalam arti inilah hal-hal dikatakan sebagai causa kesalahan. Misalnya tembaga yang menyerupai emas; pahit adalah madu sehingga merupakan hal yang salah. Oleh karena itu, Agustinus mengatakan bahwa kita menyebut hal-hal sebagai kesalahan karena hadir di dalam pemahaman kita seolah-olah seperti kebenaran. Sementara Aristoteles menyebut hal-hal sebagai kesalahan karena hal-hal tersebut secara natural cenderung untuk muncul sebagai yang bukan hal-hal itu sendiri atau apa yang bukan mereka[7]. Walaupun demikian, hal-hal bukanlah penyebab kesalahan di dalam jiwa dalam pengertian bahwa hal adalah causa kesalahan per se; sebab kebenaran dan kesalahan pada dasarnya berada di dalam penilaian (judgement). Oleh sebab itu, suatu hal tidak dikatakan salah oleh karena dari dirinya sendiri (per se) menyebabkan suatu pemahaman yang salah, tetapi justru karena penampilan naturalnya menyebabkan suatu pemahaman yang keliru. Jadi, dalam konteks ini kesalahan terjadi ketika sesuatu di dalam ekspresinya menyebabkan ketidaksesuaian dengan apa yang ada di dalam pikiran. Terbukti bahwa kesalahan bersifat relatif, bukan absolut dalam kaitan antara hal dengan intelek manusia. Satu hal yang definitif pula bahwa tanpa adanya opini, pertimbangan, tidak akan pernah ada kebenaran maupun kesalahan. Juga benarlah pula bahwa tanpa kebenaran dan kesalahan intelek tidak akan mengerti apa-apa. Untuk itu, Agustinus mengatakan: “apakah itu kesalahan? Jika aku salah, maka aku mengada. Siapa yang tidak mengada tentu tidak dapat salah dan jika aku salah dan melalui kesalahan berarti aku ada”.

Maka, kesalahan metafisik tidak pernah ada karena segala hal memiliki kebenaran metafisik. Ketika terjadi kesalahan sebagai contoh menyebut tembagai sebagai emas, itu disebabkan karena kita menggunakan suatu gambaran yang berasal dari perkataan dan pemikiran yang diperhitungkan sebagai tertipu. Artinya di dalam afermasi dan negasi, intelek kiranya tertipu dengan mengatribusikan kepada sesuatu hal yang bertentangan sama sekali atau bukan yang sebenarnya.

Dengan menunjukkan bahwa kesalahan berada di dalam intelek maka menunjukkan pula eksistensi falsum logica sebagai lawan dari veritas logica. Falsum logica ada ketika apa yang ada di dalam intelek tidak sesuai dengan objek. Falsum logica kiranya berlangsung di dalam penilaian (judgement) dalam tiga cara:

  1. Intelek kiranya mengafirmasi sesuatu yang tidak ada di dalam objek atau yang tidak dimiliki baik itu soal qualitas, quantitas, dan lain-lain; seperti ketika intelek mengafirmasi bahwa lingkaran dapat berbicara atau mengafirmasi ada 5 buah apel di keranjang padahal ada 7 buah apel.
  2. Intelek mengafirmasi sesuatu yang tampaknya sebagai yang real, contoh: matahari bergerak mengelilingi bumi.
  3. Intelek menyangkal apa yang sebenarnya; misalnya pergerakan bumi.

 

Kesimpulan

Karena ketidaksempurnaan  intelek manusia dan kompleksitas ada yang dapat dikenali, jalan kebenaran selalu sulit dan melelahkan. Kesalahan akan selalu menyertai kebenaran dalam perjalanannya. Maka kata Karl Jesper: “Kita tidak hidup secara langsung pada being. Oleh sebab itu kebenaran bukanlah suatu kepemilikan kita secara definitif: kita hidup di di dalam being temporal. Untuk alasan itulah kebenaran adalah kehidupan kita”. Akhirnya, sebagaimana kebaikan dan kejahatan menggambarkan kesempurnaan hal-hal, maka dalam cara yang serupa kebenaran dan kesalahan menggambarkan kesempurnaan pengetahuan: kebenaran menunjukkan suatu kesempurnaan natura dan kesalahan adalah suatu kecacatan[8]

 

 

[1] Thomas Aquinas, Summa Theologiae I, q.17, a.4

[2] Ibid., q.17, a.1

[3] Ibid., De Veritate, q.1, a.10

[4] Ibid., Summa Theologiae, I, q.17, a.1

[5] Ibid.

[6] Ibid., De Veritate, q.1, a.12

[7] Ibid.

[8] Ibid., VI Metaphysic, lec. 4, no. 1230

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply