Kerendahan Hati

Lukisan Henry Scott, Tuke in Tow, 1893

Lukas 14:7-11

Siapa meninggikan diri akan direndahkan, barang siapa merendahkan diri akan ditinggikan

 

Pada hari ini Yesus berkata barang siapa meninggikan diri akan direndahkan, barang siapa merendahkan diri akan ditinggikan. Dengan kata-katanya itu Yesus mengajarkan kerendahan hati. Bagaimana menjadi orang yang rendah hati; bagaimana belajar kerendahan hati Yesus?

Kerendahan hati adalah kebenaran. Mengapa? Tanda pertama adanya kerendahan hati muncul ketika orang mengetahui dan mengenal dirinya serta dunia hidupnya dengan cukup jelas dan obyektif. Mengenal diri berarti tahu kelebihan, kekurangan, kecenderungannya dan menerima dirinya  sebagaimana adanya. Terhadap kekurangan yang tak bisa diubahnya (misalnya bentuk tubuh, asal-asul dirinya) ia menerimanya dan tidak menghojatnya; terhadap kekurangan yang bisa diperbaiki (pemarah, peminum, dst) ia berjuang untuk mengalahkannya. Mengenai dunia hidupnya, orang yang rendah hati tahu bahwa ia tergantung dari Tuhan. Maka, ia tidak meminta untuk menguasai segalanya atau menjadi nomer satu dalam hidup ini. Ia tidak mencari hal-hal yang melampaui kekuatan dirinya. Sebaliknya ia mencari hikmat dan pengertian akan Tuhan yang bekerja di balik semua peristiwa di dalam hidup ini sehingga menghadapi hidup ini dengan sikap mengandalkan Tuhan dan dipenuhi rasa syukur.

Karena tahu bahwa dirinya penuh dengan kerapuhan, kelemahan dan seorang pendosa, maka dengan kerendahan hati, ia memahami, menerima kelemahan, kekurangan orang lain bahkan mengampuninya. Ia tahu bahwa sebenarnya kesalahan, dosa sesamanya merupakan ketidaktahuan dan ketidakmengertian terhadap apa yang mereka lakukan. Ia pun juga tahu bahwa ia dapat juga jatuh dalam kesalahan atau pun dosa yang sama.

Akibatnya, ia menjauh dari sikap menghakimi dan mencerca, memperbincangkan kesalahan dan kekurangan sahabat-sahabatnya. Sebaliknya, dengan kesabaran dan kebijaksanaan ia memberitahu dan membantu kelemahan, kekurangan dan kesalahan sahabatnya. Malahan, ia mendoakan sahabat-sahabatnya bahkan musuhnya supaya mereka selalu menemukan yang terbaik dalam hidup mereka.

Terhadap pekerjaan dan tugas-tugasnya, orang yang rendah hati mengerjakan tugas dan tanggung jawabnya dengan cinta yang besar. Ia tak mengeluh terhadap tugas-tugas yang berat. Dan ketika pekerjaan itu terlalu berat, ia tak segan minta bantuan. Ia menerima kritik, teguran dengan ketenangan dan mampu mengendalikan emosi dan amarah serta situasi hati.

Dalam relasinya dengan sesama, ia menghormati semua orang karena ia tahu keindahan dan martabat manusia bukan pada harta dan kekayaan tetapi pada kodratnya sebagai citra Tuhan. Manusia adalah ciptaan yang penuh dengan kebaikan karena diciptakan oleh Tuhan sendiri. Itu adalah keagungan setiap orang. Maka, orang yang rendah hati menangkap betul keindahan dan keagungan martabat manusia sehingga ia bergaul dan bersahabat dengan siapa saja.

Semuanya itu membuat ia selalu hadir dalam pesta kehidupan bahkan ia merayakan kehidupan sebagai pesta. Ia mengerti rahasia kehidupan dengan baik sekali bahwa hidup ini adalah kemurahan Allah sehingga ia hidup dalam cinta.  Tentu saja saja ia peduli, mencintai, memperhatikan segala yang hidup. Karena itu pula, ia memperhatikan yang lebih kepada mereka yang terbuang seperti yang miskin, yang sakit, yang hina dina. Karena mereka yang cacat, yang miskin, yang hina dina adalah mereka yang selalu tinggal di hati Tuhan. Mengapa? Kutipan kuno Persia tentang kata-kata Tuhan kepada seorang yang cacat: “hai si kecil yang tak berdaya, aku tidak akan melupakanmu. Memang kamu kecil, cacat, miskin dan tak berdaya tetapi karena itulah kamu memiliki tempat yang luas di hatiku yang agung”. Si “kecil” memang tidak mempunyai apa-apa dalam kehidupan ini tetapi “si kecil” memiliki kekayaan yang tak dimakan ngengat yaitu berkat atas kehidupan. Dan justru “si kecil” yang selalu merayakan dan berpesta dalam kehidupan karena kemiskinan dan kekurangan mereka sebenarnya pusat cinta dan berkat yang berasal dari hati Tuhan. Dan ketika mereka memberi berkat, orang yang rendah hati bersukacita karena ternyata lewat tangan dan hati mereka Tuhan sendiri memberikan berkat dan balasnya.

Di mata kehidupan, kerendahan hati justru memberikan kehormatan karena dengan kerendahan hati orang ditinggikan dalam kebenaran dan rahmat karena kemahakuasaan dan kebesaran Tuhan hanya dapat ditangkap dengan kerendahan hati. Kata Amsal “Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya mendapat rahmat di hadapan Tuhan. Orang yang rendah hati pasti memiliki hati yang arif yang merenungkan amsal, dan telinga yang mendengarkan suara TUhan dalam segalanya”.

Dalam meniti jalan kehidupan, orang yang rendah hati memancarkan kebaikan seperti bunga, menyebarkan keharuman kehidupan seperti lampu di jalan sinar terangnya. Betapa mengagumkan orang yang rendah hati itu. Benarlah pepatah yang mengatakan bahwa dunia melihat kehormatan seseorang dari kekayaan, kekuasaan dan kepintaran. Tapi kehidupan melihat kebesaran dan kehebatan seseorang dari kerendahan hatinya. Barang siapa meninggikan diri akan direndahkan, barang siapa merendahkan diri akan ditinggikan

Ibu Theresa memberi cara dan tips untuk mencapai kerendahan hati

  1. Berbicaralah sedikit mungkin tentang dirimu
  2. Uruslah urusanmu sendiri dan jangan mengurusi orang lain
  3. Hindarilah ingin tahu
  4. Jangan mencampuri urusan orang lain
  5. Terimalah sakit hati dengan tawa
  6. Janganlah mengingat-ingat kesalahan orang lain
  7. Terimalah celaan meskipun engkau tidak layak menerimanya
  8. Mengalahlah terhadap kehendak orang lain
  9. Terimalah caci maki dan umpatan.
  10. Terimalah perasaan dilupakan dan direndahkan dan tak dihormati
  11. Jadilah lemah lembut dan ramah bahkan ketika kamu dipancing untuk marah
  12. Jangan mencari pujian dan keinginan untuk dicintai
  13. Janganlah mengandalkan dirimu di balik kehebatanmu
  14. Mengalahlah dalam perdebatan meskipun engkau benar
  15. Pilihlah selalu yang tersulit

Akhirnya semakin rendah hati semakin ilahi; semakin rendah hati semakin suci karena Yesus sendiri berkata:

Aku ini lemah lembut dan rendah hati

 

 

 

 

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply