Kemalangan

V

Kemalangan

Francis Bacon

Lukisan Vincent Van Gogh, Sorrowing Old Man (At Eternity's Gate), 1890

vincent-van-gogh-final-paintings-1

Adalah perkataan yang tinggi yang diucapkan oleh Seneca[1] (dengan gaya filsafat Stoa), Bona rerum secundarum optabilia; adversarium mirabilia (hal-hal yang baik yang menjadi milik kemakmuran sungguh diharapkan; hal-hal yang baik yang menjadi milik kemalangan sungguh patut dipuji).

Tentu saja bahwa sekiranya ada mukjizat-mukjizat yang melampaui natura, maka terjadi kebanyakan di dalam masa kemalangan. Perkataan Seneca berikut ini adalah perkataan yang agung dibandingkan yang lain (kiranya terlalu tinggi bagi seorang kafir), adalah kemuliaan yang sejati bagi seorang manusia, yaitu tetap percaya kepada Tuhan walaupun kegagalan menimpa hidupnya (Vere magnum habere fragilitatem hominis, securitatem Dei). Kiranya perkataan ini lebih indah ditulis di dalam puisi, karena di dalam puisi transendensi lebih terbuka. Dan sungguh bahwa para penyair telah bergulat dengan transendensi, karena transendensi adalah suatu efek dari suatu hal yang telah difigurasikan dalam fiksi aneh para penyair kuno tersebut yang  nampaknya tidak menunjukkan suatu misteri padahal puisi-puisi mereka mendekati disposisi seorang Kristiani; misalnya, Hercules, ketika dia pergi kepada Prometheus[2] yang telah bebas (yang merupakan representasi kodrat manusia) mengarungi samudera yang begitu luas dengan periuk atau kendi yang terbuat dari tanah menggambarkan dengan hidup tentang ketetapan hati seorang Kristiani yang mengarungi kehidupan dengan hati kedagingan yang rapuh melewati gelombang-gelombang dunia.

Tetapi marilah kita mengatakan dengan tidak melebih-lebihkan. Kebaikan dari kemakmuran adalah kesederhanaan; kebaikan dari kemalangan adalah keberanian; keberanian yang dimaksud di sini jika dilihat dari moralitas lebih mengarah kepada keberanian yang sifatnya kepahlawanan. Kemakmuran adalah anugerah dari Perjanjian Lama[3], kemalangan adalah anugerah dari Perjanjian Baru[4]; yang membawa manfaat yang lebih besar dan yang menyatakan revelasi pertolongan Allah dengan lebih jelas. Bahkan, di dalam Perjanjian Lama, jika anda mendengarkan kecapi Daud (Mazmur[5]), anda akan mendengarkan lagu pengiringan kereta jenazah sebanyak seperti lagu sukacita; dan pena Roh Kudus menggoreskan dengan lebih tajam dalam menggambarkan penderitaan-penderitaan Ayub[6] daripada kebahagiaan-kebahagiaan Salomo[7]. Kemakmuran bukanlah tanpa ketakutan-ketakutan dan kebencian-kebencian; dan kemalangan pula bukanlah tanpa kesenangan-kesenangan dan harapan-harapan. Kita melihat bahwa di dalam pekerjaan menjahit dan menyulam, adalah lebih menyenangkan memiliki garapan yang penuh gairah di tempat yang gelap dan khidmat, daripada mempunyai garapan yang suram dan menyedihkan di tempat yang terang-benderang: oleh karena itu nilailah segala sesuatunya dari kesenangan hati sebelum dengan kesenangan mata. Tentu saja bahwa kebaikan itu seperti wangi-wangian yang berharga; paling harum ketika dibakar atau ditumbuk: karena kemakmuran sungguh menunjukkan kejahatan dengan amat gamblang, tetapi kemalangan pun menunjukkan kebaikan dengan amat jelas pula.

[1] Tentang Seneca lihat essai II; no. 1

[2] Dalam mitologi Yunani, Prometheus adalah seorang titan anak Iapetus dan Clymene, saudara dari Atlas, Epimetheus dan Menoetius. Prometheus adalah pahlawan bagi manusia karena dia telah mencuri api dewa Zeus dan memberikannya kepada manusia sehingga dengan api Zeus, manusia menemukan peradabannya, misalnya pertanian, seni, ilmu pengetahuan, dst. Akibatnya, Zeus menghukum Prometheus dengan membaringkan dan mengikatnya di atas sebuah batu di mana elang memakan hatinya tetapi hatinya tumbuh lagi di malam hari sehingga esok harinya dimakan lagi oleh elang dan hal ini berlangsung terus-menerus. Dalam perang kemerdekaan Yunani, Prometheus menjadi figur harapan dan ilham bagi revolusi orang Yunani. Karl Marx amat memuji Prometheus dan menjadikannya sebagai simbol sosialisme dan komunisme.

[3] Kitab suci orang Kristiani yaitu Alkitab yang terdiri dari Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru. Kitab Perjanjian Lama adalah kesaksian tentang Allah yang berkarya dan bersabda dalam sejarah Israel, tetapi sejarah ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah dunia. Sejarah ini penuh cukup panjang dan penuh pergolakan (Bertold Anton Parreira). Perjanjian Lama ini terdiri dari 46 kitab yang terbagi ke dalam kelompok kitab Pentateukh (5 kitab), kelompok kitab Sejarah (16 kitab), kelompok kitab Kebijaksanaan (5 kitab), kelompok kitab Nyanyian (3 kitab), kelompok kitab Nabi-Nabi (18 kitab). Kitab Perjanjian Baru adalah kesaksian tentang karya Allah dalam dan melalui Yesus Kristus, Tuhan kita (Ibid). Kitab Perjanjian Baru terdiri dari 27 kitab yang terbagi atas 4 Injil, 1 Kisah Para Rasul, 13 surat St. Paulus, 1 Surat Kepada Orang Ibrani, 7 Surat Katolik, dan terakhir Kitab Wahyu. Jadi, Alkitab dapat dikatakan sebagai suatu perpustakaan kecil. Ada perbedaan antara Alkitab Katolik dan Protestan: Protestan tidak mengakui kitab-kitab yang disebut kitab Deuterokanonika (yang jumlahnya ada 9 kitab) sehingga jumlah kitab Perjanjian lama Protestan tidak sampai 46 tetapi hanya 37 Kitab.

[4] Lihat no. 2

[5] Termasuk kelompok kitab Nyanyian dalam Perjanjian Lama.

[6] Kitab Ayub dalam Perjanjian Lama termasuk kelompok kitab Kebijaksanaan. Tokoh utama kitab Ayub adalah seorang yang bernama Ayub, seorang yang benar dan saleh tetapi mengalami penderitaan hidup yang begitu hebat. Pada mulanya ia seorang kaya raya, diberkati Tuhan tetapi kemudian satu per satu kemalangan dan penderitaan datang menimpa dalam hidupnya: kehilangan hartanya, kehilangan semua anaknya, menderita sakit kulit yang begitu parah, dicibir oleh sahabat-sahabat dan bahkan istrinya sendiri berkata: “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah” (Ayub 2:9). Pada akhir cerita, karena Ayub tetap setia kepada Tuhan, maka Tuhan memulihkan keadaan Ayub, memberkatinya, dan memberikan dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. Berikut ini adalah makna kitab Ayub: dalam penderitaan dan kemalangan manusia haruslah bertekun di dalam iman bahkan ketika rohnya sendiri tidak dapat menenangkannya akan penderitaan yang dihadapinya. Agar dapat memaknai misteri penderitaan maka pentinglah untuk selalu berharap kepada Tuhan dan menyatukan penderitaan dengan penderitaan Kristus. Kata-kata St. Paulus dalam menjawab penderitaan Ayub: “sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyakan kepada kita” (Roma 8:18).

[7]  Tentang Salomo lihat essai IV; no. 1

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply