Kemaharajaan

XIX

Kemaharajaan

Francis Bacon

 Lukisan  Jacques Louis David, The Coronation of Napoleon, 1807

sacre_of_emperor_napoleon_i_and_empress_josephine-jean-louis-david

Adalah suatu keadaan pikiran yang menyengsarakan yaitu menginginkan banyak hal dan banyak hal pula yang membuat diri ketakutan; demikianlah keadaan pikiran yang menimpa para raja; yang menjadi yang tertinggi, ingin semua hasratnya terkabul, sehingga menyebabkan pikiran mereka merana; dan memiliki angan-angan dan bayangan-bayangan akan bahaya yang membuat pikiran mereka menjadi kurang jernih. Dan kenyataan ini juga merupakan salah satu alasan dari konsekuensi yang dikatakan oleh Kitab suci: rahasia hati seorang raja tak terselami[1]. Sebab segerombolan kecemburuan dan miskin akan hasrat yang terpenting yang seharusnya mengorganisasi dan menempatkan segala sesuatunya dalam keteraturan, menyebabkan hati setiap manusia sulit diselami dan didengarkan. Dari sebab itu, hal yang serupa juga menimpa para kaisar bahwa mereka kerap kali membuat diri mereka bernafsu dan memberikan hati mereka hanya demi mainan-mainan, kadang kala demi bangunan, kadang kala demi menyusun suatu perintah; kadang kala demi mengangkat seseorang; kadang kala demi memperoleh kesempurnaan dalam seni atau prestasi keterampilan tangan; seperti Nero[2] yang tangannya mahir memainkan harpa, tangan Domitianus[3] yang ahli memanah; tangan Commodus[4] yang tangkas bermain anggar, tangan Caracalla[5] yang kuat dalam mengemudikan kereta perang dan yang semacamnya. Kehebatan mereka adalah hal yang mengagumkan bagi orang yang tidak mengetahui prinsip: bahwa pikiran manusia akan lebih disukacitakan dan disegarkan dengan mendapatkan keuntungan akan hal-hal yang kecil daripada berdiri melulu hanya untuk menatap akan hal-hal yang besar. Kita melihat juga bahwa para raja telah menjadi para penakluk yang mujur dalam tahun-tahun pertama kekuasaan mereka; tidaklah mungkin bagi mereka untuk berjaya selamanya, tetapi mereka haruslah memiliki pengendalian dan pengekangan dalam kemujuran mereka, mengubah masa-masa hidup selanjutnya sehingga menjadi orang yang penuh takhayul dan penuh kesedihan; seperti yang menimpa Alexander Agung[6]; Diocletianus[7] dan yang masih di dalam ingatan kita, Charles V[8]; dan yang lain: karena raja yang biasa maju lalu kemudian berhenti, yang disebabkan oleh kemauannya sendiri, berubah menjadi pribadi yang bukan seperti dirinya yang dulu.

Berbicara tentang proporsionalitas kemaharajaan yang benar sekarang ini, maka hal tersebut adalah realitas yang jarang dan sulit untuk dilakukan; karena baik proporsionalitas dan non-proporsionalitas terdiri dari pertentangan-pertentangan. Tetapi adalah hal yang tersendiri yaitu mencampurkan pertentangan-pertentangan itu; yang lain adalah tukar-menukar pertentangan-pertentangan itu. Jawaban Apollinus[9] kepada Vespasianus[10] penuh dengan instruksi yang sempurna. Vespasianus bertanya kepada Apollinus: Bagaimana kehancuran Nero itu? Jawaban Apollinus, Nero memang dapat menyentuh dan memainkan harpa dengan baik; tetapi dalam hal pemerintahan kadang kala dia memasang bros terlalu tinggi; kadang kala dia membiarkan bros itu turun ke bawah terlalu rendah. Dan pastilah bahwa tak ada sesuatu pun yang amat menghancurkan kekuasaan selain daripada pergantian kekuasaan yang tak terduga dan yang tak seimbang yang dipaksakan terlalu jauh dan yang terlalu amat santai.

Benarlah kenyataan ini, bahwa untuk waktu yang akan datang kebijaksanaan dari semuanya ini dalam hubungannya dengan perkara-perkara para raja, akan sungguh menjadi pengantaraan dan pergeseran kepada bahaya dan kekacauan yang sempurna ketika mereka dekat dengan perkara-perkara daripada menjadi jalan-jalan yang solid dan kokoh yang menjauhkan mereka dari perkara-perkara. Namun mengatasi perkara-perkara adalah usaha akan penguasaan-penguasaan yang dibantu dengan kemujuran. Dan semoga manusia waspada akan bagaimana ketika mereka mengabaikan dan menderita akan kesulitan yang telah mengintai; karena tak seorang pun dapat mencegah percikan maupun mengatakan kapan kesulitan tersebut akan terjadi. Tentu saja kesulitan-kesulitan dalam urusan-urusan para raja begitu banyak dan besar; tetapi kesulitan yang terbesar justru dikarenakan oleh pikiran mereka sendiri. Adalah hal yang umum bagi para penguasa untuk menghendaki hal yang bertentangan (kata Tacitus); Sunt plerumque regum voluntates vehementes; et inter se contrariae (hasrat-hasrat para kaisar umumnya menggebu-gebu dan tidak sepadan antara yang satu dengan yang lainnya). Sebab kenyataan ini adalah kesalahan yang aneh dari suatu kekuasaan, berpikir untuk menguasai akhir, tetapi tidak tahan akan sarananya demi mencapai akhir tersebut.

Para raja harus berurusan dengan kerajaan-kerajaan tetangga, istri-istri mereka; anak-anak, prelatus atau klerus; para bangsawan; para bangsawan kelas kedua atau orang–orang penting; pedagang-pedagang, rakyat, prajurit, dan segala bahaya yang muncul dari semuanya ini, andaikata kepedulian dan kecurigaan tidak diterapkan.

Untuk kerajaan-kerajaan tetangga; tidak ada aturan umum yang dapat diberikan (karena penyebab-penyebabnya begitu bervariasi), pilihlah satu, yang selalu dipegang teguh: para raja haruslah melakukan pengawasan, bahwa tak boleh tak satu pun dari kerajaan-kerajaan tetangga tumbuh begitu pesat (melalui pelebaran teritori; dengan peningkatan perdagangan; dengan pendekatan-pendekatan, atau semacamnya), sehingga membuat mereka lebih mampu untuk mengancam daripada sebelumnya. Dan pengawasan yang demikian merupakan kinerja dari para penasihat yang berpengalaman untuk memprediksi dan mencegah bahaya tersebut. Selama masa tiga Raja; Raja Henry VIII[11] dari Inggris; Raja  Francis I[12] dari Perancis dan Kaisar Charles V, ketiga raja tersebut melakukan pengawasan yang semacam itu, meskipun tak satu pun dari mereka yang dapat memenangkan tanah palma[13], tetapi Raja Henry VIII dan Raja Francis I akan melakukan pengawasan yang seimbang dengan segera, sementara Charles V melakukan pengawasan dengan konfederasi, atau, jika perlu, akan berperang; dan tidak akan akan melakukan perdamaian sampai ada keuntungan bagi negerinya. Dan hal yang sama dilakukan oleh Liga yang dibentuk antara Ferdinando, Raja Napoli[14], Lorenzius Medici, Raja Florence, dan Ludovicus Sforza[15], Raja Milan (sebagaimana yang dikatakan oleh Guicciardini bahwa Liga adalah keamanan Italia). Opini para cendekiawan, bahwa sebuah perang tidak dapat dilakukan dengan adil kecuali atas luka yang dibuat atau provokasi tidak harus diterima. Sebab meskipun tidak ada soal tetapi ada ketakutan yang beralasan yang disebabkan oleh suatu bahaya yang mendekat, meskipun kiranya tidak ada suatu hembusan yang terjadi, adalah penyebab suatu perang yang sah.

Untuk para istri, ada banyak contoh yang keji yang berasal dari mereka. Livia[16] membunuh suaminya[17] dengan meracuninya; Roxalana[18], istri Sulaiman[19] adalah kehancuran bagi pangeran Sultan Mustapha yang terkenal dan menjadi bencana bagi seluruh isi istana dan suksesi; Edward II dari Inggris[20], ratunya[21] memegang peranan utama dalam menggulingkan dan membunuh dirinya. Bahaya yang semacam ini pada prinsipnya haruslah ditakuti, ketika para istri mempunyai rencana untuk membesarkan anak-anak mereka; atau yang lain mereka berzinah.

Untuk anak-anak; tragedi-tragedi demikian juga bahaya-bahaya yang berasal dari mereka telah begitu banyak. Dan umumnya menyelusupnya kecurigaan para ayah ke dalam diri anak-anaknya selalu menjadi ketidakberuntungan. Kehancuran Mustapha[22] (yang telah kita sebut sebelumnya) begitu fatal bagi garis keturunan Sulaiman dan suksesi kemaharajaan Turki dari Sulaiman sampai hari ini dicurigai penuh kebohongan dan bersumber dari darah yang janggal; karena Selymus[23] II itu hanya dianggap sebagai suatu pengandaian. Pembunuhan Crispus[24] pangeran muda itu oleh Constantinus[25] Agung, ayahnya adalah hal yang langka, akibatnya fatal bagi istana Constantinus Agung; karena baik untuk Constantinus[26] dan Constans[27], semua anaknya itu mati di dalam kekerasan; dan Constantius[28], anaknya yang lain, mati dengan cara yang lebih baik, yaitu karena sakit tetapi setelah Julianus[29] angkat senjata melawan dirinya. Kehancuran Demetrius[30], yang memperanakkan Philip Kedua dari Macedonia, membuat sang ayah mati dalam penyesalan. Dan banyak lagi contoh-contoh; namun sedikit atau bahkan tidak ada kebaikan sama sekali ketika para ayah menaruh ketidakpercayaan yang seperti itu ke dalam anak-anak mereka; kecuali jika anak-anak memang dibesarkan dalam pertikaian terbuka melawan ayah; seperti Selymus I[31]  melawan Bajazet[32]; ketiga anak Henry II[33], Raja Inggris.

Untuk para prelatus; ketika mereka penuh kebanggaan dan begitu hebat;  maka juga ada bahaya yang ditimbulkan oleh mereka; seperti yang terjadi dalam masa Anselmus[34] dan Thomas Becket[35], kedua Uskup Agung Canterbury; yang dengan tongkat uskup mereka, mereka nyaris berperang dengan pedang raja; walaupun mereka telah berkonflik dengan raja-raja yang tambun dan sombong seperti Wiliam Rufus[36]; Henry Pertama[37]; dan Henry Kedua[38]. Bahaya tidaklah berasal dari kondisi yang demikian[39] tetapi dari ketergantungan kepada suatu kekuasaan asing; atau di mana petinggi-petinggi gereja datang dan dipilih, bukan dengan pemeriksaan raja atau pelindung-pelindung (patron) istimewa, tetapi oleh rakyat.

Untuk para bangsawan, membatasi gerak-gerik mereka bukanlah suatu hal yang keliru, tetapi menekan mereka, mungkin membuat seorang raja makin lebih absolut, tetapi kurang aman bagi raja dan raja sendiri kurang mampu untuk mewujudkan segala sesuatu yang dihasratkannya. Saya telah memperhatikan hal ini lewat buku saya dengan judul History of  Henry the Seventh, di mana Henry VII menekan para bangsawannya sedemikian rupa sehingga yang kemudian terjadi adalah masa pemerintahannya penuh kesulitan dan masalah; karena para bangsawan, meskipun mereka tetap setia kepadanya, namun tidak kooperatif dengan urusan-urusan raja. Efeknya, Raja Henry VII[40] sendiri terpaksa mengerjakan segala sesuatunya.

Untuk para bangsawan kelas kedua; tidak ada bahaya yang besar yang datang dari mereka ketika mereka menjadi suatu tubuh yang terisolasi. Memang kadang kala diskursus-diskursus mereka terlalu tinggi, tetapi hanya menyebabkan rasa sakit yang ringan saja; di samping itu mereka juga adalah penyeimbang bagi bangsawan yang lebih tinggi supaya para bangsawan yang lebih tinggi itu tidak bertumbuh menjadi terlalu kuat; dan yang terakhir, karena dalam hirarki kekuasaan mereka adalah pejabat pemerintahan yang paling langsung berhubungan dengan rakyat, maka mereka adalah orang terbaik dalam memadamkan keributan-keributan yang populer.

Untuk para pedagang; mereka adalah vena porta (“gerbang nadi”)[41] dan jika “gerbang nadi” tidak mengalir, suatu kerajaan kiranya mempunyai dahan yang baik, tetapi memiliki nadi-nadi yang kosong dan memberikan pemasukan sedikit. Pajak dan pungutan yang dibebankan kepada mereka jarang memberikan keuntungan bagi pendapatan raja; karena bahwa dengan pajak yang dibebankan kepada mereka, raja akan mendapatkan keuntungan ribuan kali, tetapi membuat raja kehilangan keuntungan dalam kabupaten, dan memang tarif khusus menjadi naik, tetapi total dari bagian terbesar perdagangan malah menurun.

Berkaitan dengan rakyat jelata; hanya ada sedikit bahaya dari mereka, kecuali kiranya rakyat jelata memiliki kepala penggerak-penggerak yang cemerlang dan hebat; atau ketika anda memprovokasi mereka dengan mencampurkan hal-hal umum dengan nilai-nilai agama, atau adat-istiadat mereka, atau sarana-sarana kehidupan.

Untuk para tentara; adalah suatu keadaan yang berbahaya ketika mereka hanya berada dan tinggal di dalam sebuah wilayah; dan terbiasa mendapat donasi; berkaitan dengan bahaya tersebut, kita melihat contoh-contoh dalam janizari[42] sultan dan praetoria[43] para kaisar Romawi; tetapi dengan melatih dan mempersenjatai mereka di beberapa tempat dan di bawah beberapa komando, serta tanpa ada donasi,  sungguh merupakan pertahanan bagi kerajaan dan tidak ada bahaya.

Para raja itu ibarat bintang dari langit; yang menyebabkan kebaikan dan kejahatan zaman; dan yang menuntut pemujaan kepada mereka, meskipun tidak semuanya. Konsekuensinya, segala aturan yang berkaitan dengan para raja haruslah dimengerti di dalam dua kenangan berikut ini: memento quod es homo; dan memento quod es Deus, atau vice Dei (Ingatlah bahwa siapakah seorang manusia itu; dan ingatlah bahwa siapakah Tuhan itu; atau perwira Tuhan); yang satu untuk mengekang kekuasaan mereka; yang lain untuk mengekang keinginan mereka.

[1] Bdk. Amsal 25:3: “Seperti tingginya langit dan dalamnya bumi, demikianlah hati raja-raja tidak terduga”.

[2] Nero Claudius Caesar Augustus Germanicus adalah kaisar Romawi dari tahun 54 sampai tahun 68. Ia diadopsi oleh pamannya yaitu Kaisar Claudius (tentang Kaisar Claudius lihat essai XXII; no. 5) sehingga setelah Claudius mangkat Nero naik takhta Romawi. Nero dikenal sebagai kaisar Romawi yang paling bengis di antara semua kaisar Romawi. Ia banyak menghukum mati dan  membunuh orang termasuk ibunya sendiri Agrippa, merebut Poppea Sabina -istri gubernur Otho (tentang Otho lihat essai II; no. 3)-, dan membakar orang-orang Kristen untuk dijadikan obor penerangan taman kota. Tahun 64, kebakaran melanda Roma. Konon yang membakar Roma adalah Nero sendiri dan ia menyaksikan kebakaran Roma sambil memainkan harpa. Kemudian ia menuduh orang-orang Kristen sebagai penyebab kebakaran Roma. Galba (tentang Galba lihat essai II; no. 9) angkat senjata melawan Nero dan mendapat dukungan dari semua pihak. Galba segera menduduki istana Nero. Nero memutuskan untuk bunuh diri dan ia berteriak-teriak memanggil orang-orangnya untuk membantunya bunuh diri tapi tak ada satu pun yang datang karena semua telah meninggalkan Nero. Kata-kata terakhir Nero yang meluncur dari mulutnya sebelum ia mati yang sampai sekarang masih diingat adalah “Qualis artifex pereo” atau “Sungguh seorang artis aku ini yang mati”.

[3] Domitianus lengkapnya Titus Flavius Caesar Domitianus Augustus adalah kaisar Romawi dari tahun 81 sampai tahun 96. Domitianus adalah kaisar terakhir dari dinasti Flavian, anak Kaisar Vespasianus dan adik kandung Kaisar Titus. Setelah Kaisar Titus -kakak kandungnya- mangkat karena sakit, Domitianus menggantikannya. Masa kecil Domitianus hidup di bayang-bayang Titus, yang begitu hebat dan terkenal karena perang Yahudi-Romawi yang pertama. Dengan kata lain, sementara Titus membantu ayahnya dalam urusan kemaharajaan Romawi, tidak demikian dengan Domitianus. Setelah naik takhta, Domitianus memperkuat ekonomi dan pertahanan Romawi di perbatasan Jerman serta membangun besar-besaran kota Roma yang terbakar. Pemerintahan Domitianus adalah pemerintahan yang totaliter. Ia menyebut dirinya sebagai Augustus yang baru bahkan ia adalah kaisar yang pertama yang menyebut dirinya sebagai Dominus et Deus (Kaisar dan Tuhan); ia mengontrol moral publik dan privat; memperbarui hukum Julia de Adulteriis Coercendis, yaitu suatu undang–undang yang menghukum perzinahan dengan pembuangan; menghukum mati para pejabat yang korup; menghukum berat tulisan fitnahan terutama yang ditujukan kepada dirinya; membantai orang–orang Kristen demi melindungi agama negara. Ia populer di kalangan rakyat dan tentara tetapi dibenci di kalangan senat. Ia mati dibunuh dan digantikan oleh Nerva. Para senat mengangap dia sebagai kaisar kejam. Tetapi para sejarah moderen menilai Domitianus sebagai kaisar yang efektif dan cemerlang dalam mengurus kekaisaran dan kebijakan-kebijakannya menjadi fondasi dasar politik dan kenegaraan untuk abad kedua.

[4] Commodus (lengkapnya Marcus Aurelius Commodus Antoninus Augustus) adalah kaisar Romawi dari tahun 180 sampai 192. Ia menjadi kaisar bersama ayahnya yaitu Marcus Aurelius (tentang Marcus Aurelius lihat essai XXVII; no. 24) sampai ayahnya mangkat (memerintah bersama ayahnya selama 3 tahun). Jauh dari kegemilangan ayahnya, Commodus selalu menekankan ketampanan wajahnya. Maka ia membuat ikon tentang dirinya: manusia setengah dewa, titisan Hercules, pelindung dan seorang yang tampan dalam bentuk patung-patung. Ia suka berburu; terkenal dengan kehebatan memanahnya, pandai sebagai gladiator ketimbang ahli kenegaraan. Pada tahun 191 kota Roma mengalami kebakaran hebat sehingga menghancurkan sebagian besar kota. Maka Commodus melihat peristiwa ini sebagai kesempatan untuk mendeklarasikan diri sebagai Romulus yang baru, sehingga ia mengubah nama kota Roma menjadi Colonia Lucia Annia Commodiana. Nama bulan Romawi berubah sesuai dengan namanya Lucius, Aelius, Aurelius, Commodus, Augustus, Herculeus, Romanus, Exsuperatorius, Amazonius, Invictus, Felix, Pius. Legion Romawi menjadi Commodianae, senat menjadi Commodian Senatus. Istananya dan rakyat Roma menjadi Commodianus. Ia pun mati dibunuh dan digantikan oleh Pertinax.

[5] Caracalla  (Marcus Aurelius Severus Antoninus Augustus) adalah seorang kaisar Romawi dari tahun 198 sampai 217. Ia adalah anak tertua dari Kaisar Septimius Severus dan hanya untuk waktu yang singkat ia memerintah Romawi bersama adiknya yaitu Kaisar Geta sebelum ia membunuh Geta tahun 211. Caracalla dikenal sebagai salah kaisar yang terburuk karena pembunuhan dan penganiayaan yang dilakukannya. Caracalla mengeluarkan Constitutio Antoniniana (yang juga disebut Dekrit Caracalla) yang memberikan kewarganegaraan Romawi kepada semua orang yang merdeka demi meningkatkan pendapatan pajak. Dia juga kaisar yang melegalkan rumah pemandian umum di Roma. Sampai sekarang pemandian Caracalla masih menjadi salah satu daya tarik wisata di Roma. Ia dibunuh oleh tentaranya sendiri yang bernama Julius Martialis dan digantikan oleh Mucrinus yang adalah kepala praetoria.

[6] Alexander III dari Macedonia yang masyur dengan nama Alexander Agung adalah seorang Yunani raja kerajaan Macedonia yang terletak di wilayah utara Yunani kuno. Selama masa kecil dia diasuh oleh salah satu filsuf terbesar sepanjang masa yaitu Aristoteles (tentang Aristoteles lihat XXVII; no. 1). Di usia tiga puluh, Alexander menjadikan Macedonia sebagai kemaharajaan yang terbesar pada waktu itu, kekuasaannya meliputi laut Ionia sampai pegunungan Himalaya dan menaklukkan kemaharajan Persia. Salah satu kebijakan Alexander dalam penaklukannya adalah budaya Helenisasi yaitu mensisipkan budaya Yunani ke dalam budaya-budaya lokal yang ia taklukkan. Ia meninggal pada usia 32 tahun. Alexander menjadi rujukan, idola, harapan dari para pemimpin militer dan akademi militer di seluruh dunia sampai sekarang ini masih mempelajari taktik militer Alexander.

[7] Diocletianus (Gaius Aurelius Valerius Diocletianus Augustus) adalah kaisar Romawi dari tahun 284 sampai dengan tahun 305. Sebelum menjadi kaisar, Diocletianus adalah jenderal kavaleri Kaisar Carus. Setelah kematian Kaisar Carus dan Kaisar Numerian (anak Kaisar Carus) dalam kampanye perang di Persia, Diocletianus mengambil alih takhta Romawi. Lalu ia membentuk Tetrachy (pemerintahan oleh empat orang) di mana Romawi diperintah oleh 4 kaisar: seorang kaisar memiliki seperempat wilayah kekuasaan Romawi. Mereka yang ditunjuk oleh Kaisar Diocletianus untuk menjadi rekan kerjanya adalah Maximian Augustus, Galerius dan Constantius Chlorus (ayah Contanstinus Agung). Diocletianus juga adalah kaisar yang paling banyak mengejar dan membunuh umat Kristen di seluruh kemaharajaan Romawi. Ia mengeluarkan Dekrit melawan orang-orang Kristen yang isinya perintah untuk membakar seluruh alkitab, penghancuran gereja, penyiksaan kepada uskup, imam dan diakon. Karena sakit, ia mengundurkan diri dari jabatan kaisar lalu mengurus kebun sayur di kota Split (Croatia).

[8] Charles V adalah kaisar kemaharajaan Romawi Suci dan raja kemaharajaan Spanyol (Carlos I de España). Ia adalah pewaris tiga dinasti terkemuka Eropa yaitu dinasti Habsburg, dinasti Valois-Burgundy dan dinasti Trastámara. Charles adalah anak tertua dari Philip IV dan Joan I Navarra. Ketika Philip wafat tahun 1506, Charles menjadi raja Burgundian Netherland, dan ketika ibunya wafat, dia mendapat warisan takhta Castile dan Aragon sehingga menjadi raja Spanyol. Tahun 1519 Charles menjadi kaisar Kemaharajaan Romawi Suci setelah kakeknya Maximilian meninggal. Dengan demikian Charles memerintah dari Eropa (Eropa tengah, Eropa Barat dan Eropa Selatan) sampai koloni-koloni Spanyol di Amerika dan Asia. Semasa pemerintahannya Charles berperang dengan Italia dan Perancis di bawah pimpinan Francis I serta menghadapi ekspansi Ottoman Turki di bawah Sulaiman Agung. Ia juga menghadapi gerakan Protestan di bawah pimpinan Martin Luther. Ketika Pemberontakan Petani meletus di Jerman di mana para pangeran berkoalisi dan bergabung dengan Protestan melawan Charles V, segera Charles memadamkan pemberontakan itu. Namun ia menerima dan melegalkan serta memberi toleransi kepada Protestan dalam kemaharajaan Romawi Suci. Demi menghadapi gerakan Protestan, Charles V mendukung konsili Trente untuk mereformasi gereja Katolik. Ia juga memperluas kemaharajaan Spanyol sampai di benua Amerika, Carribea dan Asia dan membangun koloni-koloni Spanyol di sana. Ia mengundurkan diri tahkta kemaharajaan Spanyol dengan memberikan kepada anaknya Philip II tahun 1556 dan tahkta kemaharajaan Romawi Suci kepada adiknya Ferdinand I tahun 1556. Charles V sendiri pensiun dan tinggal di biara Yuste di Extramadura, Spanyol. Moto Charles Plus Ultra (Jauh Melampaui) menjadi moto nasional Spanyol.

[9] Apollonius dari Tyana adalah seorang filsuf Yunani dan orator dari kota Tyana, provinsi Cappodocia di Asia Kecil.

[10] Tentang Vespasianus lihat essai II; no.8

[11] Henry VIII adalah raja Inggris dari 21 April 1509 sampai 28 Januari 1547. Dia adalah pengganti Henry VII (tentang Henry VII lihat no. 40) dari wangsa Tudor. Henry VIII adalah raja yang memisahkan gereja Inggris dari Roma dan membentuk Gereja Anglikan di mana kepala tertinggi gereja Inggris adalah raja Inggris bukan paus di Roma. Henry memisahkan diri dari Roma karena Paus Clement VII tidak memberikan perceraian kepada Henry yang hendak menceraikan Ratu Catherine dengan alasan bahwa Catherine tidak memberinya keturunan anak laki-laki lalu meminta dispensasi untuk menikah lagi dengan Anney Boleyn. Henry membuang Catherine dan kawin lagi dengan Anne Boleyn. Henry pun diekskomunikasi oleh Roma. Pemisahan Gereja Inggris dari Roma meninggalkan banyak martir. Para imam dan siapa saja yang tidak mau mengakui Henry sebagai kepala gereja dihukum mati: misalnya Thomas Moore (seorang Katolik yang taat dan saleh dan penulis buku Uthopia) yang adalah Lord chancellor Kerajaan Inggris. Henry tetap percaya kepada ajaran agama Katolik meskipun diekskomunikasi oleh gereja Roma. Henry membentuk persatuan antara Inggris dan Wales lewat Undang-Undang Wales Act 1535-1542. Henry VIII mati di usia 55 tahun dan diperkirakan karena sakit siphilis. Sebelum meninggal, Henry berteriak-teriak mengucapkan kata-katanya yang terakhir: “Rahib! Rahib! Rahib!”. Dia juga dikenal sebagai raja yang menikah 6 kali. Berikut ini istri Henry VIII: Catherine Aragon (cerai), Anne Boleyn (dipenggal karena tuduhan incest), Jane Seymour (mati melahirkan), Anne Claves (dianulasi karena menganggap Anne Claves tidak menarik dan untuk menikahi Catherine Howard), Catherine Howard (dipenggal karena perzinahan) dan Catherine Parr (janda)

[12] Francis I adalah raja Perancis dari tahun 1515 sampai dengan tahun 1547. Francis I membawa perubahan budaya bagi Perancis sehingga budaya Perancis diwarnai dengan Renaissance. Ia menjadi pelindung seni Perancis. Selama pemerintahannya Francis memiliki musuh bebuyutan yaitu Charles V – kaisar kemaharajaan Romawi Suci (Charles I Raja Kemaharajaan Spanyol) dan Raja Inggris Henry VIII. Maka ia bersekutu dengan Sulaiman Agung sehingga membentuk Aliansi Perancis-Ottoman.  Ia juga mengirim ekspedisi untuk mencari wilayah baru. Misalnya ia mengutus Jean-François de la Roque de Roberval untuk membangun koloni di Kanada dan menyebarkan agama Katolik; Jean Parmentier mencapai Sumatra. Penganiayaan Francis I kepada gerakan Protestan menggiring Perancis kepada Perang Agama di Perancis.

[13] Daun palma digunakan untuk menyambut Yesus sebagai raja yang masuk ke masuk Yerusalem sebelum mati disalibkan. Maka, tanah palma yang dimaksud Bacon berarti kemuliaan, kemenangan dan kemasyuran.

[14] Ferdinand I yang juga disebut dengan Don Ferrante adalah raja Napoli dari tahun 1458 sampai tahun 1494. Kerajaan Napoli pada masa pemerintahanya ada dalam bayang-bayang invasi Perancis dan Ottoman Turki.

[15] Ludovico Sforza adalah raja Milan dan dia dikenal sebagai pelindung (penyokong) Leonardo da Vinci.

[16] Tentang Livia lihat essai II; no. 5

[17] Suami dari Livia adalah Kaisar Augustus. Apakah memang Livia benar meracuni Augustus? Para ahli sejarah silang pendapat tentang kenyataan ini. Tentang Kaisar Augustus lihat essai II; no. 4

[18] Sulaiman I adalah sultan Ottoman Turki dari tahun 1520 sampai tahun 1566. Sulaiman I disebut Sulaiman Agung dan Kanuni (Pembuat Hukum) karena ia berhasil membawa Ottoman Turki kepada masa kejayaannya baik secara militer, ekonomi, politik, hukum dan pendidikan. Sulaiman memimpin tentara Turki menaklukkan benteng Kristiani di Belgrade, Rhodes dan Hungaria. Ia memperluas wilayah Ottoman dari Afrika Utara sampai Algeria serta penguasa lautan Mediterania yang membentang dari Laut Merah sampai dengan Teluk Persia. Ia meninggal ketika sedang mengepung benteng di Hungaria.

[19] Haseki Hürrem Sultan atau orang Eropa menyebutnya Roxalana adalah istri Sulaiman Agung. Ia orang Ukraina, seorang rakyat jelata dan sempat menjadi budak sebelum dipersunting oleh Sulaiman Agung. Setelah menjadi selir Sulaiman, ia dengan cepat mencuri hati Sulaiman Agung. Suatu hari ia bertengkar selir Sulaiman yang lain yaitu Mahidevran untuk memperebutkan takhta Ottoman Turki. Ia ingin anaknya Selim menjadi sultan Turki namun anak Mahidevran yaitu pangeran Mustapha begitu hebat dan cemerlang. Dengan berbagai intrik politik dan perjuangan, akhirnya pangeran Mustapha dibunuh oleh Sulaiman Agung dan anak Roxalana yaitu Selim II naik takhta Ottoman Turki. Roxalana memiliki pengaruh yang besar dalam pemerintahan Sulaiman dan juga ikut andil dalam urusan diplomatik kemarahajaan.

[20] Edward II adalah raja Inggris tahun 1307 sampai dikudeta oleh istrinya sendiri tahun 1327. Edward II adalah raja keenam dari dinasti Plantagenet (pendiri wangsa Plantagenet adalah Henry II; lihat no. 33). Bisa dikatakan bahwa Edward II merupakan raja Inggris yang membawa bencana bagi Kerajaan Inggris: Skotlandia lepas dari wilayah Inggris; ia sendiri suka bersenang-senang dan bisexsual (dengan Piers Gaveston dan Hugh Despenser Muda). Istrinya yaitu Isabela dari Perancis dengan bantuan Roger Mortimer menyerang Inggris dan kemudian menggulingkan Edward II. Edward II pun dipenjara dan mati (kemungkinan besar dibunuh oleh Isabella).

[21] Isabella dari Perancis adalah anak perempuan Raja Perancis Philip IV dan Joan I Navarra, adik Charles V. Isabella ini terkenal dengan kecantikannya, kepintarannya dan diplomasinya sekaligus kelicikannya sehingga dijuluki Srigala dari Perancis. Ketika ia sampai di Inggris untuk menikah dengan Edward II (terkenal juga karena ketampanannya) situasi yang tidak menyenangkan menimpanya bahwa Edward II bisexsual. Setelah beberapa waktu, Isabella tidak dapat mempertahankan lagi perkawinannya. Sembari membawa misi kenegaraan Inggris ke Perancis, Isabella jatuh cinta dengan Roger Mortimer (seorang Inggris yang diasingkan) dan mempersiapkan invasi ke Inggris untuk menggulingkan Edward II. Kisah cinta antara Mortimer dan Isabella merupakan kisah cinta yang indah dari abad pertengahan. Penggulingan pun berhasil. Roger Mortimer dan Isabella segera memerintah Inggris. Kekuasaan mereka dihentikan oleh Edward III (anak Edward II dengan Isabella). Roger Mortimore dipenggal oleh Edward III dengan tuduhan pengkhianatan sementara ibunya diasingkan. Dikabarkan bahwa di pengasingan Isabella mengalami kesedihan luar biasa selama bertahun-tahun karena kematian kekasihnya, Roger Mortimore.

[22] Mustafa dijebak oleh Rüstem Pasha (anak buah Roxalana) sehingga dipenggal oleh ayahnya, Sulaiman Agung. Kematian Mustapha menimbulkan kekacauan di Anatolia karena rakyat mengangap Mustapha sebagai sultan Ottoman yang akan datang pengganti Sulaiman Agung. Oleh karena itu, ia dikenang sebagai Sultan Mustapha.

[23] Selymus yang dimaksud di sini adalah Selim II yang adalah sultan Turki Ottoman dari tahun 1556 sampai tahun 1574; putra Sulaiman yang Agung dan isteri kesayangan Roxalana. Ia naik tahkta setelah melalui intrik dan mengalahkan Mustapha, saudaranya. Ada catatan yang menarik bahwa Selim II pernah mengirimkan bantuan militer ke Aceh untuk menghadapi Portugal sehingga membuat Aceh menyerang Portugal di Malaka.

[24]Flavius Julius Crispus adalah anak pertama dari Kaisar Constantinus I dan Minervina. Crispus membantu ayahnya dalam perang menghadapi Licinus. Ia berhasil memenangkan pertempuran di Hellespont dan pertempuran Chrysopolis yang merupakan kemenangan definitif bagi Constantinus I atas Licinus. Crispus dianggap sebagai figur calon kaisar yang paling tepat dan paling disayangi dibanding ketiga saudaranya Constantinus II, Constantius II dan Constans. Tiba-tiba tanpa alasan yang jelas Crispus dibawa ke pengadilan dan dihukum mati. Setelah itu, istri Constantinus Agung yaitu Flavia juga ditemukan tewas dibunuh di kamar mandi. Menurut para ahli sejarah, hukuman mati kepada Crispus, anak tersayang Constantinus I ada kaitannya dengan pembunuhan Flavia. Ada banyak spekulasi, salah satunya adalah Crispus berselingkuh dengan Flavia.

[25] Constantinus I atau Constantinus yang Agung (Flavius Valerius Aurelius Constantinus Augustus) adalah kaisar Romawi pertama yang beragama Kristiani yang memerintah Romawi dari tahun 306 sampai tahun 337. Ia adalah anak Kaisar Constantius Clorus (Diocletianus membagi kekuasaan Romawi kepada Maximian, Constantius Chlorus dan Galerius). Dalam masa pemerintahannya, ia bersama Licinus (Kaisar Romawi Timur) mengeluarkan Dekrit Milan yaitu suatu dekrit yang memberikan toleransi kepada semua agama di seluruh kemaharajaan Romawi. Dengan adanya Dekrit Milan ini, agama Kristiani berkembang dengan subur di seluruh kemaharajaan. Ia mengakhiri kekuasaan Romawi yang terbagi-bagi dan menjadi Kaisar tunggal Romawi dengan mengalahkan Kaisar Maxentius (anak Kaisar Maximian) dan Kaisar Licinus (jenderal Kaisar Galerius) selama perang sipil bersama anak kesayangannya Crispus. Dalam urusan luar negeri, Constantinus I juga berhasil menaklukkan bangsa Franks, Alamanni, Visigoth dan Sarmatian. Pemerintahan Constantinus memberikan konstribusi besar dalam agama Katolik karena ia berhasil memecahkan persoalan-persoalan yang melanda agama Katolik. Misalnya ia mengeluarkan dekrit melawan Donatisme (semacama bidaah) dan membuang Donatus. Ketika biadaah Arianisme berkembang, Constantinus juga mengadakan Konsili Nicea (menghasilkan credo Nicea). Setelah ia mangkat, kekuasaannya diperebutkan oleh anak-anaknya sehingga saling membunuh satu sama lain. Constantinus sendiri menghukum mati anak kesayangannya Crispus. Maka bisa dikatakan bahwa semua yang terjadi adalah sebuah tragedi istana Constantinus.

[26] Constantinus II (Flavius Claudius Constantinus Augustus) adalah kaisar Romawi dari tahun 337 sampai dengan tahun 340 anak kaisar Constantinus Agung dan Fausta. Ia menjadi Kaisar bersama adiknya Constans. Akhirnya dia terbunuh dalam invasi ke Italia tahun 340 oleh adiknya Constans.

[27] Constans (Flavius Julius Constans Augustus) adalah kaisar Romawi dari tahun 337 sampai dengan tahun 350. Ia mendapatkan takhta Romawi secara penuh setelah mengalahkan dan membunuh kakaknya Constantinus II tahun 340. Pembunuhan kepada Constantinus II menimbulkan kemarahan di dalam tubuh tentara Romawi sehingga seorang jenderal bernama Magnentius memberontak dan berhasil membunuh Constans tahun 350.

[28] Constantius II (Flavius Julius Constantius Augustus) adalah kaisar Romawi dari tahun 337 sampai dengan tahun 361, anak kedua Constantinus Agung dan Fausta. Ia mendapatkan takhta Romawi setelah kakaknya Constantinus II dan adiknya Constans mati terbunuh. Constantius I segera angkat senjata melawan Magnentius yang mendeklarasikan diri sebagai kaisar setelah berhasil membunuh Constans. Constantius I berhasil mengalahkan Magnentius. Setelah menjadi penguasa tunggal kemaharajaan Romawi yang begitu luas, ia mengangkat Constantius Gallus dan Julius Constantius sebagai pembantunya. Namun Julius Constantius segera dihukum mati karena korupsi dan kejahatannya. Sebagai gantinya ia mengangkat sepupunya yaitu Julian. Dengan kepercayaan yang tinggi karena kesuksesan militer, Julian memberontak melawan Constantius. Constantius menggerakkan pasukannya untuk membasmi pemberontakan Julian. Di kota Mopsuestia, Constantius sakit parah. Kemudian sebelum meninggal, ia minta dibaptis dan mendeklarasikan Julian sebagai penggantinya yang sah.

[29] Julian (Flavius Claudius Julianus Augustus) yang dikenal dengan Julian si Pengingkar Agama atau Julian sang filsuf adalah kaisar Romawi dari tahun 361 sampai tahun 363 sekaligus seorang filsuf dan penulis filsafat Yunani. Ia berhasil mendapat takhta Romawi setelah Kaisar Constantius mati sakit. Dia disebut Julian si Pengingkar Agama karena ia berusaha mengembalikan agama kuno Romawi untuk menjadi agama negara dan menolak agama Kristiani. Pandangannya yang demikian disebabkan oleh filsafat Neoplatonis yang dia anut. Dia adalah kaisar terakhir dari dinasti Constantinus. Ia terluka parah dan kemudian meninggal dalam kampanye menyerang kemaharajaan Sassanid.

[30] Ada suatu kerancuan tentang anak Demetrius yang disebut Bacon sebagai Philip II Macedonia. Dalam sejarah, Demetrius II mempunyai anak yang bernama Philip dan akan menjadi raja Macedonia dengan nama Philip V bukan Philip II sebab Philip II (ayah Alexander Agung) adalah anak Raja Amyntas IV, bukan Demetrius II. Demetrius II Aetolicus adalah raja Macedonia dari dinasti Antigonis. Ayahnya yaitu Raja Antigonus Gonatas telah memberikan mahkota kerajaan kepada Demetrius II sehingga ia menjadi raja bersama ayahnya. Demetrius banyak melakukan peperangan dan penaklukkan. Ia meninggal ketika melawan suku barbar yang menyerang Macedonia. Pada saat Demetrius mangkat, anaknya yaitu Philip yang nantinya menjadi raja Macedonia dengan nama Philip V, masih kecil.

[31] Selim I adalah sultan Ottoman Turki dari tahun 1512 sampai tahun 1520. Dia panggil Yavuz yang berarti Si Keras. Dia dikenal karena penaklukkannya akan Mesir dan dunia Arab. Setelah menaklukkan Mesir, Selim I mengambil gelar Kalifa Islam sehingga dia adalah sultan Ottoman Turki yang pertama yang memakai gelar itu.

[32] Bayezid II adalah sultan kemaharajan Turki dari tahun 1481 sampai dengan 1512. Ia adalah anak dan penerus Sultan Mehmed II. Selama pemerintahannya Bayezid II memperkuat Ottoman Turki. Ia dipaksa turun takhta oleh anaknya yaitu Selim I.

[33] Ketiga anak Henry II yang melawan Henry: Richard, Geoffrey dan Henry Muda. Lihat no. 38

[34] Anselmus dari Canterbury adalah rahib Benediktin, filsuf dan uskup Agung Canterbury. Sebagai seorang filsuf ia terkenal dengan argumen ontologis untuk membuktikan eksistensi Tuhan. Ucapannya yang tersohor adalah credo ut intelligam (saya percaya supaya mengerti). Lengkapnya sebagai berikut: “Saya tidak berusaha mengerti supaya percaya, tetapi saya percaya supaya kiranya saya mengerti”. Dalam pembuktian akan eksistensi Tuhan, Anselmus menulisnya dalam Monologion dan Proslogion. Dalam Monologion, Anselmus berpendapat bahwa segala sesuatunya yang baik itu bervariasi, maka segala sesuatu yang baik yang bervariasi pasti bersumber pada satu kebaikan absolut yaitu Tuhan. Dalam Proslogion, Anselmus mengatakan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang lebih besar dari yang tidak dapat dipikirkan. Jika yang lebih besar yang tidak dapat dipikirkan itu hanya ada di dalam pikiran, ide atau persepsi, maka hal itu tidak akan menjadi sesuatu yang lebih besar yang tidak dapat dipikirkan, karena sesuatu yang lebih besar yang tidak dapat dipikirkan juga ada di dalam realitas. Jadi, Tuhan -sesuatu yang lebih besar yang tidak dapat dipikirkan- ada di dalam pikiran, ide maupun juga dalam realitas. Dengan demikian Tuhan itu ada. Anselmus diangkat menjadi Doktor Gereja pada tahun 1720 oleh Paus Clement XI. Konflik dengan William II (William Rufus) diawali dengan pungutan William II kepada sang uskup untuk pembiayaan perang William melawan kakaknya Robert II. Anselmus hanya menyumbang William 500 pound karena uang sebagian besar diberikan untuk kaum miskin dan papa. William marah dan menuntut lebih banyak. Yang kedua: aturan gereja bahwa uskup Agung metropolitan (yang mengepalai satu provinsi Gerejawi) tidak bisa ditahbiskan tanpa pallium dari Roma. Pallium atau Palla (sehelai mantel wol) merupakan pakaian Liturgi dalam Gereja Katolik Roma, yang pada permulaan untuk paus, tetapi selanjutnya dianugerahkan oleh paus kepada para metropolitan dan primat sebagai lambang dari yurisdiksi yang diembankan kepada mereka oleh Takhta Suci. Anselmus bersikukuh bahwa dia harus mendapatkan pallium dulu dari paus. William tidak mau karena tidak mengakui Urbanus sebagai paus. Konflik yang ketiga: William menuduh bahwa Anselmus tidak memberikan prajuritnya yang terbaik dalam memadamkan pemberontakan di Wales sebaliknya Anselmus menuduh William bahwa William mencegah Anselmus untuk memperbaharui gereja. Anselmus diasingkan. Lalu konflik Anselmus dengan Henry I adalah soal pemilihan uskup. Henry bersikukuh bahwa pemilihan uskup adalah hak raja bukan paus. Anselmus membantah bahwa pemilihan uskup adalah hak paus bukan raja. Anselmus pun dibuang untuk kedua kalinya. Lalu Paus Paschal II pun akhirnya mengekskomunikasi uskup-uskup yang ditahbiskan oleh Henry II. Konflik ini diakhirnya dengan Concordat London yaitu suatu kompromi antara Gereja dan kerajaan Inggris soal pemilihan uskup di mana tetap otoritas Roma yang memilih uskup-uskupnya bukan raja. Sekembalinya dari pengasingan, Anselmus terus berusaha memperbaiki gereja sekaligus memberikan pelayanan dan kebijaksanaan kepada kerajaan Inggris.

[35] Thomas Becket adalah uskup agung Canterbury dari tahun 1162 sampai tahun 1170. Ia dibunuh oleh Henry II berkaitan dengan konflik tentang konstitusi Clarendon di mana lewat konstitusi Clarendon sang raja hendak melemahkan otoritas Roma berkaitan dengan pemilihan uskup. Becket menolak konstitusi Clarendon dan melarikan diri ke Perancis serta mengekskomunikasi raja. Puncak perseteruan adalah ketika ketiga uskup pilihan raja memahkotai anak Henry padahal itu adalah hak uskup Canterbury sehingga Becket mengekskomunikasi ketiga uskup tersebut. Henry marah lalu menyuruh empat ksatria Inggris membunuh Becket. Segera setelah kematiannya, Becket dikanonisasi oleh Paus Alexander III kemudian menjadi orang kudus. Pada tanggal 12 Juli 1174, ketika terjadi pemberontakan, Henry sembah sujud dan menyesal di makam Thomas Becket dan di gereja St. Dunstan.

[36] Wiliam Rufus adalah William II, anak Raja Wiliam I (William I dikenal juga sebagai William Sang Penakluk dari dinasti Normandy)  yang memerintah Inggris tahun 1087 sampai tahun 1100. Dia dipanggil Wiliam Rufus karena wajah merahnya. Banyak orang yang tidak suka kepada Wiliam Rufus dan William sendiri juga membenci rakyatnya. Ia juga bentrok dengan gereja. Sebagai orang Normandy, William menghina budaya Inggris. Perlu diketahui bahwa dinasti Normandy di bawah pimpinan William sang penakluk menaklukkan Inggris. William Rufus tidak menikah dan tidak mempunyai anak. Ia mati kena panah selagi berburu. Adiknya yaitu Henry I menggantikannya.

[37] Henry I adalah anak keempat dari Raja Wiliam I dan pengganti WIliam II (yang disebut Rufus). Ia berhasil mengamankan mahkota Inggris dengan mengalahkan kakaknya Robert Curthose (ketika William II mangkat, Robert Curthose sedang berpartisipasi dalam Perang Salib). Ia memperbaiki situasi sosial dan hukum Inggris: ia menerbitkan Charter Of Liberties yang nanti menginspirasikan kelahiran Magna Carta (undang-undang yang menyatakan bahwa raja juga tunduk kepada hukum). Kebijakan politiknya membuat perbedaan antara orang Inggris dan Normandy semakin berkurang bahkan ia menikah dengan orang Inggris asli. Ia berdamai dengan gereja. Ia sempat bersitegang dengan Anselmus -Uskup agung Canterburry- dan Paus Paschal II soal kontroversi pentahbisan uskup dan abbas atau pemimpin biara (lihat catatan kaki no. 34). Pada umumnya, pemerintahan Henry I makmur dan tenang. Henry I mati diracun. Mahkota Inggris diperebutkan antara anak perempuannya yaitu Ratu Matilda (pewaris Normandy) dan keponakannya yaitu Stephen dari Blois. Peperangan antara Matilda dan Stephen membawa Inggris ke dalam perang sipil yang dikenal dengan masa Anarchy. Pertempuran berakhir setelah Stephen memilih anak Matilda yaitu Henry Plantagenet (Henry II) sebagai penerus takhta kerajaan Inggris.

[38] Henry II adalah anak Geoffrey Anjou dan Ratu Matilda (Ratu Matilda adalah anak Henry I) yang dikenal dengan nama Henry Plantagenet. Henry II dari garis ayahnya, ia adalah pewaris wilayah Anjou, Touraine dan Maine; dari ibunya Matilda, Henry pewaris wilayah Normandy sekaligus takhta Inggris. Ia menikahi Eleanor dari Aquitaine -istri Raja Perancis Louis VII- yang telah dianulir perkawinannya. Dengan menikahi Eleanor, Henry mendapatkan warisan Aquitaine sehingga kemaharajaan Plantagenet meliputi dari perbatasan Skotlandia (termasuk Wales dan Brittany) sampai ke pegunungan Pyrenees dan mencakup sepertiga wilayah Perancis dengan seluruh daerah pesisir dari Treport sampai ke sungai Bidasoa. Kemaharajaan Plantagenet juga disebut dengan nama kemaharajaan Angevin. Selama masa pemerintahannya, Henry II memperbaiki ekonomi Inggris yang kacau balau. Ia juga dianggap sebagai raja yang meletakkan fondasi English Common law. Dalam relasinya dengan hirarki Gereja, Henry berusaha bekerja sama dengan gereja, tetapi ia membuat kesalahan besar dengan membunuh Uskup Agung Canterburry, Thomas Becket (Lihat catatan kaki no. 35). Henry mempunyai banyak anak sehingga anak-anaknya seperti Richard, Geoffrey dan Henry Muda angkat senjata melawan ayahnya sendiri bahkan pemberontakan anak-anaknya didukung oleh istrinya sendiri yaitu Eleanor. Henry meninggal karena sakit dan digantikan oleh Richard I. Namun karena Richard I ikut perang salib takhta Inggris diisi oleh anak paling bungsu Henry yaitu John sehingga kemaharajaan Plantagenet segera kolap. Kekuasaan Plantagenet di Perancis juga direbut kembali oleh raja Perancis yaitu Philip Agustus.

[39] Maksudnya pertikaian para prelatus dengan raja bukanlah hal yang membahayakan.

[40] Henry VII adalah raja Inggris yang naik takhta Inggris pada 22 Agustus 1485 dan memerintah Inggris sampai dengan 21 April 1509. Dia adalah raja pertama Inggris dari dinasti Tudor. Henry VII mendapatkan mahkota kerajaan Inggris setelah mengalahkan raja Inggris Richard III dalam pertempuran di Bosworth sehingga dia adalah raja Inggris yang terakhir yang mendapatkan mahkota kerajaan lewat pertempuran. Pada saat memerintah Inggris, Henry VII berhasil mengembalikan stabilitas dan memperbaiki perekonomian Inggris dengan cemerlang. Dia digantikan oleh anaknya, yaitu Henry VIII ( tentang Henry VIII lihat no. 11)

[41] Gerbang – nadi yang dimaksud Bacon adalah sebagai distribusi makanan ke seluruh tubuh.

[42] Janizary adalah tentara pengawal sultan Ottoman Turki.

[43] Pretoria adalah tentara pengawal kaisar Romawi.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply