Kekayaan

XXXIV

Kekayaan

Francis Bacon

Lukisan Johan Frederik Cornelis Scherrewitz,Cows Watering In A Meadow

johan-cow

Saya tidak dapat mengatakan bahwa segala kekayaan itu lebih baik daripada sekoper keutamaan. Kata Latin yang tepat untuk menggambarkannya adalah impedemonia. Sebab sebagaimana koper untuk seorang prajurit demikian juga kekayaan untuk keutamaan. Tentu saja, kekayaan tidak dapat dihindari atau ditinggalkan di belakang, tetapi kekayaan sungguh menghambat barisan, malahan kepedulian akan kekayaan kadang kala menghilangkan atau mengganggu kemenangan. Sebenarnya tentang kekayaan yang begitu melimpah tidak ada faedahnya secara nyata kecuali untuk dibagikan; faedah yang lain hanyalah suatu kesombongan. Maka kata Salomo[1], dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya. Dan apakah keuntungan pemiliknya selain daripada melihatnya?[2]. Hasil personal yang diperoleh oleh setiap orang tidak akan dapat mencapai demi merasakan keindahan kekayaan: karena ada penjagaan akan kekayaan; atau suatu kekuatan untuk sedekah dan memberikan donasi; atau suatu kemasyuran kekayaan, tetapi tetap tidak ada suatu faedah yang solid bagi si pemilik. Tidakkah anda melihat para raja yang penuh muslihat berseteru demi batu-batu kecil dan langka? Dan tindakan-tindakan rahasia apakah yang dibuat, karena tampaknya terdapat manfaat kekayaan yang berlimpah? Tetapi kemudian anda akan berdalih bahwa barangkali para raja lewat faedah kekayaannya menyelamatkan orang-orang dari bahaya dan kesulitan. Seperti yang dikatakan oleh Salomo, kota yang kuat bagi orang kaya ialah hartanya dan seperti tembok yang tinggi menurut anggapannya[3].

Perkataan Salomo ini diartikan dengan sempurna bahwa kekayaan itu selalu di dalam angan-angan dan tidak selalu terwujud di dalam realitas. Tentu saja kekayaan yang berlimpah-ruah justru lebih menjual manusia daripada membeli manusia[4]. Carilah kekayaan tetapi bukan sebagai kesombongan juga kiranya kamu mendapatkannya dengan adil, gunakanlah kekayaan dengan bijak, bagikanlah kekayaan dengan riang gembira, dan tinggalkanlah harta benda dengan sukacita. Walaupun demikian, janganlah tidak berangan-angan akan kekayaan atau mencibirnya seperti yang dibuat oleh para biarawan. Tetapi bedakanlah kekayaan, seperti yang dikatakan oleh Cicero[5] dengan baik tentang Rabirius Posthumus[6], In studio rei amplificandae apparebat, non avaritiae praedam, sed instrumentum bonitati quaeri (dalam usaha untuk memperbanyak kekayaan, nampaklah bahwa Rabirius bukan mencari suatu mangsa bagi ketamakan untuk diberi makan, tetapi suatu instrumen untuk kebaikan supaya kebaikan bekerja dengan kekayaannya). Dengarkanlah pula perkataan Salomo berikut ini dan waspadalah akan usaha mengumpulkan harta dengan terburu-buru; Qui festinat ad divinitas, non erit insons (tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman[7]). Para penyair bercerita bahwa ketika Plutus[8] (yang adalah Kekayaan) dikirim dari Jupiter, dia lemas dan berjalan dengan lambat, tetapi ketika dia dikirim dari Pluto[9], dia berlari dan mengayunkan kakinya dengan cepat. Artinya bahwa kekayaan yang diperoleh dengan sarana-sarana yang baik dan usaha yang benar berjalan dengan lambat; tetapi ketika kekayaan itu datang melalui kematian orang lain (seperti hal warisan, wasiat dan semacamnya) kekayaan jatuh menimpa manusia. Demikian juga bahwa kiranya kekayaan dirujukan pula kepada Pluto, yang dianggap sebagi iblis. Sebab ketika kekayaan berasal dari iblis (seperti dengan cara kebohongan dan penindasan dan sarana-sarana yang tidak adil), kekayaan datang begitu cepat. Jalan untuk memperoleh kekayaan demikian banyak, tetapi sebagian besar jalan tersebut sungguh suatu kebodohan. Kikir adalah salah satu jalan yang terbaik memperoleh kekayaan tetapi bukanlah tidak bersalah; sebab kikir menahan manusia dari usaha-usaha melakukan kebebasan dan kasih. Memperluas tanah adalah usaha yang paling natural dalam mendapatkan kekayaan; sebab tanah adalah berkat dari ibu kita, yaitu sang bumi; tetapi dengan cara perlahan. Dan di mana manusia yang kaya raya membungkuk kepada pertanian, kekayaannya akan digandakan secara berlipat-lipat[10]. Saya kenal seorang bangsawan Inggris yang mempunyai penghasilan dari segala macam penghasilan orang-orang dalam zaman saya; punya bisnis penggembalaan domba yang besar, bisnis kayu, memiliki anjing-anjing Skotlandia yang banyak, raja jagung, raja timah dan memiliki sejumlah ladang pertanian. Maka bumi ini baginya ibarat lautan dalam kaitannya dengan perihal import yang kekal. Sungguh telah diamati pula oleh seseorang, bahwa teman saya itu nyaris tidak mungkin memperoleh kekayaan dengan kecil dan justru sebaliknya mendapatkan kekayaan yang melimpah dengan amat gampang. Sebab ketika gudang teman saya mampu memenuhi permintaan pasar-pasar utama dan persepakatan-persepakatan harga yang hanya dapat dijangkau oleh uang dari sedikit orang serta dia sendiri mampu menjadi rekan dalam industri-industri orang-orang yang lebih muda, maka kekayaannya akan meningkat dengan pesat. Semua pendapatan dari perdagangan–perdagangan umum dan pekerjaan-pekerjaan haruslah jujur; dan dimajukan oleh dua hal yang utama:  dengan ketekunan dan nama baik demi persepakatan yang adil dan jujur. Tetapi pendapatan dari harga barang yang murah sekali adalah pada dasarnya meragukan; terjadi ketika seseorang menunggu dengan mengamat-amati kebutuhan orang lain, kemudian bersepakat dengan para pembantu dan instrumen-instrumen untuk menarik orang-orang lain, lalu menangguhkan mereka dengan liciknya supaya kiranya menjadikan dirinya pedagang yang lebih baik dan demikian juga dengan praktek-prakteknya yang adalah lihai dan nol.  Ketika ada pemotongan harga barang yang murah, lalu seseorang membeli barang bukan untuk dipergunakan tetapi untuk dijual kembali, maka akan menggilas baik para penjual dan para pembeli. Kongsi sungguh saling memperkaya satu sama lain jika tangan-tangan sungguh dipilih dengan baik yang adalah orang-orang terpercaya.

Bunga uang adalah sarana-sarana yang terpasti sebagai pendapatan, meskipun merupakan salah satu sarana yang terburuk; karena dengan bunga uang seseorang makan rotinya in sudore vultus alieni (melalui keringat wajah orang lain); dan di samping itu, bunga uang sungguh membajak tanah pada Hari Minggu[11]. Dan meskipun bunga uang merupakan pendapatan yang pasti, tetapi juga memiliki kecacatan: bahwa seketaris urusan bisnis dan pedagang perantara ibarat berlaku sebagai orang tuli demi memenuhi keuntungan diri mereka sendiri. Keberuntungan yang diperoleh dengan menjadi penemu yang pertama atau memperoleh suatu priviligi benar-benar menyebabkan pada suatu waktu suatu peningkatan kekayaan yang berlipat-lipat; seperti yang terjadi pada manusia gula yang pertama di Canaries. Oleh karena itu, jika seseorang dapat memainkan peran sebagai ahli logika yang sejati sehingga membuat dirinya memiliki penilaian yang sama baiknya untuk menciptakan penemuan, kiranya dia akan melakukan hal-hal yang hebat; khususnya seandainya waktunya tepat. Dia yang mengandalkan atas pendapatan yang pasti kekayaannya nyaris tidak berkembang lagi dan dia yang berani berspekulasi terhadap segala bisnis sering kali gagal dan mengantarnya kepada kemiskinan: oleh karena itu adalah baik mengamankan spekulasi bisnis terutama bisnis dengan kerugian yang besar dengan kepastian-kepastian. Segala monopoli dan memborong barang-barang untuk dijual kembali nantinya, di mana monopoli dan pemborongan barang tersebut tak terkontrol adalah sarana yang luar biasa guna mendapatkan kekayaan; khususnya jika pihak tersebut memiliki kepintaran untuk mengetahui hal-hal apa yang akan dibutuhkan sehingga sebelumnya dia telah mengumpulkannya. Kekayaan yang didapatkan lewat jasa, walaupun memiliki suatu martabat tertentu, yaitu ketika kekayaan diperoleh dengan rayuan, dengan menciptakan canda-canda dan kondisi-kondisi yang berasal dari sikap yang merendahkan diri, kiranya dapat ditempatkan di antara yang terburuk. Mengenai usaha memancing surat wasiat dan perwalian (seperti yang dikatakan Tacitus[12] kepada Seneca[13], testamenta et orbos tamquam indagine copi, (dia mengambil wasiat-wasiat dan perwalian seperti dengan suatu jaring)), adalah buruk; tetapi yang lebih buruk lagi adalah begitu banyak orang yang membaktikan diri kepada pribadi-pribadi yang kotor daripada kekayaan yang diperoleh lewat jasa itu. Janganlah mempercayai mereka yang tampaknya mencela kekayaan, mereka mencela kekayaan karena kekayaan telah membuat mereka putus asa; dan tidak ada yang lebih buruk ketika kekayaan menghampiri orang–orang yang mencela kekayaan tersebut. Janganlah pelit; karena kekayaan itu memiliki sayap dan kadang kala kekayaan terbang dengan sendirinya dan kadang kala kekayaan harus dipersiapkan untuk diterbangkan supaya membawa kekayaan lebih banyak lagi. Orang-orang mewariskan kekayaannya baik kepada sanak kerabatnya atau kepada publik dan porsi-porsi yang seimbang akan menyejahterakan kedua belah pihak dengan terbaik. Suatu kondisi yang kaya yang ditinggalkan kepada ahli warisnya, adalah seperti suatu pikatan bagi segala burung pemangsa yang berputar-putar siap untuk memangsa si ahli waris, jika ahli waris tidak mengatur warisan dengan baik dalam waktu yang akan datang dan dalam penilaian. Demikian juga bahwa hadiah-hadiah dan yayasan-yayasan yang mencolok ibarat pengorbanan tanpa garam dan sungguh menjadi kuburan-kuburan sedekah yang terukir yang segera membusuk dan mengkorupsi dari dalam. Oleh karena itu, janganlah mengukur kemajuan-kemajuanmu dengan kuantitas, tetapi bingkailah kemajuan-kemajuanmu dengan tindakan: dan janganlah kamu menunda aksi-aksi kasih sampai kematian datang; karena, tentu saja jika seorang manusia  mempertimbangkan hal ini dengan benar, maka dia yang melakukannya akan  menjadi orang bebas dari  cengkraman kekayaannya.

[1] Tentang Salomo lihat essai IV; no. 1

[2] Pengkotbah 5:10

[3] Amsal 18: 11

[4] Artinya kekayaan yang melimpah-ruah justru memperbudak manusia daripada membebaskan manusia.

[5]  Tentang Cicero lihat XVI; no. 18

[6] Gaius Rabirius Postumus adalah seorang anggota equites dan terlibat dalam komplotan Aulus Gabinus yang mendukung Pompeius (tentang Pompeius lihat essai XXIII; no. 3). Gaius Rabirius meminjamkan uang begitu banyak kepada Raja Mesir Ptolemy XII. Kemudian Ptolemy XII menolak membayar hutang dan malah menuduh Rabirius telah melakukan pemerasan sehingga memenjarakan Rabirius. Rabirius pun melarikan diri ke Roma dan di Roma dia dituduh oleh senat Roma sebagai pembangkang. Maka, Cicero membelanya dalam pidatonya yang berjudul Pro Rabirio Postumo sehingga Rabirius pun dibebaskan.

[7] Amsal 28:20

[8] Dewa kekayaan orang Yunani.

[9] Pluto adalah dewa kematian bangsa Romawi. Dewa Pluto sering kali disamakan dengan dewa Plutus (dewa kekayaan orang Yunani). Hal ini tidak mengherankan karena selain namanya hampir sama, perihal kekayaan seperti emas, perak ditemukan di dunia bawah tempat di mana dewa Pluto (dewa kematian) bertakhta.

[10] Adam Smith dalam bukunya Wealth of The Nations mengatakan bahwa sumber alam yang membuat suatu bangsa menjadi makmur adalah yang pertama pertanian; yang kedua manufaktur; yang ketiga perdagangan dengan bangsa-bangsa asing; selengkapnya baca Adam Smith, Wealth of Nations, (New York: The Harvard Classic, 1965), hal 304-309 (buku III, Of The Different Progress of Opulence in Different Nations).

[11] Hari Minggu adalah hari yang dipersembahkan bagi Tuhan sehingga orang-orang Kristiani merayakan misa dan beristirahat (tidak bekerja).

[12] Tentang Tacitus lihat essai II; no 7

[13] Tentang Seneca lihat essai II; no. 1

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply