Kecantikan

XLIII

Kecantikan

Francis Bacon

Lukisan Vladimir Volegov, Romantic Mood

vladimir-volegov

Keutamaan adalah seperti batu mulia, yang diasah dengan sempurna, dan tentu saja keutamaan adalah yang terbaik di dalam tubuh yang indah, walaupun tidak berasal roman muka yang cakap; malahan keutamaan memiliki martabat kharisma[2] melebihi daripada kecantikan wajah. Tetapi hampir tidak terlihat bahwa orang-orang yang begitu cantik adalah kebalikan dari keutamaan yang mulia; seolah-olah natura begitu sibuk untuk tidak khilaf, daripada sibuk bekerja menghasilkan kesempurnaan. Oleh karena itu, mereka yang cantik memang membuktikan anugrah kecantikan tetapi tidak membuktikan semangat yang luhur dan banyak studi yang mempelajari perihal tingkah laku daripada keutamaan. Tetapi kenyataan ini tidak selalu berlaku: karena Kaisar Augustus[3], Titus Vespasianus[4], Philip Yang Tampan dari Perancis[5], Edward IV dari Inggris[6], Alcabiades orang Athena[7], Ismael Sang Bijak dari Persia[8]; adalah orang-orang dengan semangat yang luhur dan roh yang baik serta merupakan orang-orang yang tampan pada zaman mereka. Keindahan dari roman muka melebihi daripada keindahan warna dan keindahan keselarasan; tetapi keindahan sikap yang bersahaja melebihi keindahan kebaikan hati. Itulah hal yang terbaik dari kecantikan yang mana lukisan tidak dapat mengekspresikannya begitu juga dengan pandangan pertama akan keindahan. Tidak ada keindahan yang sempurna yang tidak memiliki kecacatan dalam proporsinya. Seseorang tidak bisa mengatakan bahwa apakah lukisan Appeles[9] ataupun Albert Durer[10] lebih sepele, tetapi yang satu kiranya akan menciptakan suatu figur dengan proporsi-proporsi yang geometris, sementara yang lain dengan memilih wajah yang terindah yang bersumber dari macam-macam bentuk wajah untuk membuat tokoh tersebut sempurna. Lukisan tentang  para tokoh yang semacam itu, saya pikir, tidak akan menyenangkan siapa pun kecuali hanyalah si pelukis yang menggambarnya. Sungguh bukan maksud saya berpikir bahwa si pelukis kiranya melukis wajah yang lebih bagus daripada aslinya, tetapi bahwa si pelukis haruslah menggambarnya dengan semacam kebahagiaan (seperti seorang musisi yang menciptakan udara yang sempurna di dalam musik) dan bukan dengan aturan. Anda seharusnya mengamati wajah-wajah, jika anda menguji wajah orang-orang dengan seksama, anda tidak akan pernah menemukan kesempurnaan, tetapi jika dilihat secara keseluruhan, maka anda akan menemukan keindahan. Seandainya benar bahwa bagian penting dari kecantikan adalah di dalam sikap yang bersahaja, maka pastilah tidak ada kekaguman meskipun orang-orang di setiap zamannya tampaknya menjadi lebih bersahaja; pulchororum autumnus pulcher (orang yang cantik memiliki musim semi yang indah); sebab tidak ada masa muda yang bisa menjadi cantik kecuali dengan membuat pengeluaran yang istimewa dan dengan mempertimbangkan masa muda sebagai dandanan kecantikan. Kecantikan adalah bagai buah-buahan musim panas, yang gampang menjadi rusak, dan tidak bertahan lama dan sebagian besar kecantikan (ketampanan) membuat masa muda penuh dengan kecabulan dan membuat masa tua sedikit lebih muda karena roman muka; tetapi sekali lagi, pastilah, jika kecantikan bersinar dengan benar maka membuat pula keutamaan terang-benderang dan kelaliman pun menjadi memerah malu-malu.

[1] Kecantikan di sini berarti juga ketampanan.

[2]  Kata Plautus: “Virtus praemium est optimum” (Keluhuran budi adalah anugrah tertinggi).

[3] Suetonius ahli biografi Roma memberikan kesaksian tentang ketampanan Kaisar Augustus bahwa ketampanan Kaisar Augustus tidak biasa. Tentang Kaisar Augustus lihat essai II; no. 4

[4] Tentang Titus Vespasianus lihat essai II; no. 8

[5] Philip IV (Perancis: Philippe le Bel, April–Juni 1268 – 29 November 1314) adalah raja Perancis dari tahun 1285 sampai wafatnya. Ia mendapatkan mahkota Perancis ketika ayahnya Philip III wafat. Philip IV amat terkenal karena ketampanannya sehingga ia sering dipanggil Philip si Tampan (Philippe le Bel). Ketika menjadi Raja Perancis, Philip mengusir orang–orang Yahudi pada tahun 1306 meniru kebijakan Raja Inggris Edward yang mengusir orang-orang Yahudi dari Inggris tahun pada tahun 1290. Ia meningkatkan pajak kepada gereja sehingga menyulut konflik dengan Paus Bonifasius VIII. Akibatnya, Paus mengeluarkan bulla Clericis Laicos yang isinya melarang menyerahkan segala properti gereja kepada kerajaan Perancis sedangkan Philip melawan Paus dengan menangkap Paus Bonifasius VIII di Agagni (Bonifasius VIII diselamatkan oleh penduduk setempat dan kembali ke Roma, tak lama kemudian meninggal). Bonifasius VIII sendiri adalah seorang Paus dimusuhi oleh banyak orang karena usahanya untuk mengokohkan dominasi pengaruhnya dengan mengangkat sanak-keluarganya di lingkungan kepausan. Ia digantikan oleh uskup Perancis Bertrand de Goth dengan nama Paus Clement V. Clement V memindahkan kepausan dari Roma ke Avignon, wilayah Perancis (kepausan berada Avignon dari tahun 1305-1377) karena kekacauan politik yang melanda Italia. Philip IV meninggal karena kecelakaan pada saat berburu dan digantikan oleh anaknya Louis X.

[6] Edward IV adalah Raja Inggris dari 4 Maret 1461 sampai 3 October 1470 lalu dari 11 April 1471 sampai wafatnya. Dia adalah raja Inggris pertama dari dinasti York. Ia mendapatkan tahkta Inggris setelah berhasil menggulingkan Raja Henry VI (tentang Henry VI lihat essai XXXV; no. 17) dan menjadi raja tanggal tanggal 4 Maret 1461. Namun Henry VI mendapatkan kembali takhta Inggris tahun 1470. Setelah Henry VI wafat, Edward IV kembali menduduki takhta Inggris tanggal 11 April 1471. Setelah kematian Henry VI dan mendapatkan kembali takhta Inggris, masa pemerintahan Edward IV lebih tenang karena tidak ada lagi pemberontakan yang berarti dan satu-satunya rivalnya hanya Henry Tudor (Henry VII) yang hidup di pengasingan. Jadi, masa pemerintahan Edward IV diwarnai dengan perang Roses (perang perebutan tahkta Inggris antara wangsa York melawan wangsa Lancaster). Edward IV digantikan oleh anaknya yang berusia 12 tahun yaitu Edward V. Segera Edward V dibunuh oleh pamannya sendiri (adik Edward IV) yaitu Richard Duke of Gloucester (Richard III).

[7] Alcibiades adalah seorang negarawan yang cakap, orator ulung, jenderal Athena yang cemerlang. Ia berhasil mengalahkan Sparta dalam perang Peloponnesian (perang antara Sparta melawan Athena).

[8] Ismail I (17 Juli 1487 – 23 Mei 1524) adalah raja Iran dari tahun 1502 sampai 1524 dan pendiri dinasti Safavid. Ismail I juga dikenal sebagai seorang penyair yang menghasilkan banyak karya.

[9] Apelles dari Kos adalah seorang pelukis kondang Yunani. Salah satu maha karyanya adalah melukis Alexander Agung yang begitu dipuji banyak orang. Tetapi Plutarch, terhadap lukisan Alexander Agung karya Apelles ini, tidak begitu suka karena Apelles melukis Alexander Agung tidak sesuai dengan aslinya. Kata Plutarch “Dia menampilkan kulit Alexander terlalu gelap dan hitam, padahal diceritakan kepada kita bahwa Alexander berkulit cerah dengan sedikit kemerah-merahan terutama di wajah dan dadanya”.

[10] Albrecht Dürer (21 Mei 1471 – 6 April 1528) adalah seorang pelukis, ahli matematika, pembuat mesin cetak, dan pengukir Jerman. Lukisan dan pahatannya menjadikan dirinya memiliki reputasi kondang di seluruh Eropa pada usianya yang belia (sekitar umur 20 tahun) sehingga merupakan salah satu artis termasyur dari Renaissance Utara.  Lukisan-lukisannya antara lain: Adam and Eve (1507), The Martydom of the Ten Thousand (1508), Virgin with the Iris (1508). Pahatannya antara lain: Knight, Death, and the Devil (1513), Saint Jerome in his Study (1514) dan Melencolia (1514). Durer juga membuat altarpiece yang menghiasi gereja: Adoration of the Magi (1504); Assumption of the Virgin (1509) dan Adoration of the Trinity (1511). Durer menulis buku geometri dengan judul Underweysung der Messung mit dem Zirckel und Richtscheyt dan 4 buku tentang perbandingan manusia dengan judul Vier Bücher von Menschlicher Proportion (Empat Buku Tentang Perbandingan Manusia). Buku terakhir tentang perbandingan manusia membahas soal estetika dan keindahan yang ideal. Menurut Durer keindahan itu relatif karena adanya variasi dan itu berarti tidak ada keindahan obyektif. Walaupun demikian Durer masih percaya bahwa kebenaran itu tersembunyi di dalam natura dan bahwa ada prinsip-prinsip yang mengatur dan menyusun keindahan. Durer juga bergulat bagaimana seorang artis dapat menciptakan seni yang indah. Menurutnya, untuk dapat menghasilkan karya yang indah seorang artis kiranya membangun pengalaman-pengalaman visual yang kaya supaya dapat membayangkan hal-hal yang indah kemudian menuangkannya di dalam karya seni.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply