Keburukan dan Kemuliaan Lidah

Lukisan Cesar Pattein, Le Voleur de Pommes

Cesar Pattein nnn

Kata-kata yang lembut dapat melembutkan hati yang sekeras batu. Kata-kata kasar dapat mengasarkan hati yang selunak sutra. Segala kata, baik yang lembut dan yang kasar, berasal dari lidahku.  (Hukama)

                                                     Yang kecil biasanya punya peran besar dan menentukan segala-galanya. Ibarat kapal, walaupun amat besar dan digerakkan oleh angin yang keras, namun dapat dikendalikan oleh kemudi yang amat kecil menurut kehendak juru kemudi. Demikian juga lidah. Lidah adalah bagian tubuh yang kecil tapi punya peran besar dalam hidup manusia.

Disadari atau tidak segala aktivitas manusia diawali dan dimulai serta ditentukan dari lidah. Keputusan terlaksana setelah lidah berkata. Manusia dapat menjalankan hidup, mengerti orang lain dan mengenal dunia karena lidah yang mengeluarkan kata-kata. Peran lidah yang demikian penting direfleksikan dan dimengerti secara mendalam oleh St. Yakobus dalam suratnya bab 3: 1-12.

Bagi St. Yakobus karakter lidah adalah ganda: keburukan dan kebaikan melekat dan tinggal bersama di dalam lidah. Dari lidah muncullah segala perkataan baik yang jahat dan yang baik. Kegandaan karakter lidah seperti mata uang yang mempunyai dua sisi. Akibatnya, lidah selalu mempunyai dwi fungsi: sebagai yang jahat sekaligus sebagai yang mulia. Dwi fungsi lidah yang seperti mata uang ini dipertegas oleh St. Yakobus dalam suratnya bab 3: 9 “Dengan lidah kita memuji Tuhan; dengan lidah kita mengutuk manusia, dari mulut yang satu keluarlah berkat dan kutuk”. Maka, segala kata yang diucapkan oleh lidah itu tidak pernah netral. Artinya setiap kata yang dikatakan manusia selalu berdiam di salah satu tempat entah kebaikan atau keburukan. Tak pernah ada kata yang terucap oleh lidah yang tak bermakna apa pun.

 

Keburukan lidah

Karakter ganda lidah yang pertama yaitu kejahatan atau keburukan lidah dibandingkan dengan api yang dapat membakar hutan yang besar oleh St. Yakobus. Mengapa ia menyamakan lidah dengan api kecil? Sebab sama dengan api kecil yang dapat menghanguskan hutan yang luas demikian juga lidah. Lidah yang merupakan bagian kecil dari tubuh adalah dunia dan sumber kejahatan yang dapat menodai seluruh tubuh. Dengan lidah manusia mengutuk, mencela, menghina dan menghakimi sesamanya yang diciptakan menurut rupa Allah.

Ternyata lidah sulit untuk dijinakkan. Lidah itu mempunyai kuasa dan otoritasnya sendiri di luar kontrol manusia sehingga memiliki dunianya sendiri. St. Yakobus menggambarkan dengan baik sekali tentang sulitnya menaklukkan lidah. Menurutnya semua jenis binatang liar, burung-burung, binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan memang telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai dan penuh racun yang mematikan. Apalagi kalau saat kebencian tak tertahankan, lidah menjadi sarana pelampiasan dan penghancuran. Untuk menghancurkan dan meruntuhkan sesamanya, manusia tidak perlu pedang tetapi cukup dengan lidah. Bahkan lidah adalah senjata yang paling tajam di antara senjata yang pernah ada di muka bumi ini untuk meremukkan manusia. Hal ini dipertegas oleh Paulo Coelho. Menurutnya senjata penghancuran ciptaan manusia yang paling berbahaya dan paling kuat adalah kata yang terucap dari lidah. Belati dan tombak meninggalkan bekas-bekas darah. Anak panah bisa terlihat dari kejauhan. Racun bisa dihindari. Tapi kata-kata yang diucapkan oleh lidah manusia bisa menghancurkan tanpa meninggalkan jejak.

Itulah bahaya lidah jika lidah jatuh dalam kejahatan. Lidah yang jatuh di dalam kejahatan adalah hidup yang dikuasai oleh roh jahat. Lidah jahat itu menebar permusuhan dan memicu kekarasan. Lidah jahat itu membentuk cara berpikir aku–kamu dalam memandang sesama. Cara berpikir aku-kamu  memisahkan dan mencerai-beraikan diri dari sesama. Padahal faktanya semua manusia saling bergandeng tangan dan membentuk satu keluarga. Dan diri yang terpisah dari sesama (aku-kamu), di sana berdiamlah sumber kekerasan dan akar segala permusuhan.

 

Kemuliaan lidah

St.Yakobus juga mengatakan bahwa dengan lidah kita memuji Tuhan. Lidah yang memuji Tuhan adalah kemuliaan lidah. Lidah yang demikian adalah lidah yang dikuasai oleh roh Allah. Sekarang kita lihat karakter lidah jika lidah itu dikuasai oleh Roh Allah.

Lidah yang dikuasai oleh Roh Allah membuat lidah berhikmat. Lidah hikmat itu mengeluarkan pengetahuan dan mengatakan kebenaran. Perkataan mulutnya adalah adil. Dan di dalam mulutnya terdapat kehidupan. Padanya ada nasihat karena ia menyukai pengertian dan pertimbangan. Sebaliknya ia menghindari kebodohan dan ketidakhati-hatian.

Lidah yang dikuasai oleh Roh Allah di dalam mulutnya ada kehidupan dan lidahnya mendatangkan kesembuhan. Ia berkata manis bagai obat untuk tulang, sebab ia tahu iri hati membusukkan tulang. Kata-katanya lembut menyegarkan, sebab ia tahu kata yang pedas membangkitkan amarah; cemooh mendatangkan korban; pertengkaran mengawali perbantahan dan mengumpat berarti membocorkan rahasia diri.

Lidah yang berhikmat mengatakan kebenaran. Jalannya lurus dan lidahnya tidak serong. Sebab ia tahu orang yang memutarkan lidahnya akan jatuh ke dalam celaka. Lidah yang bercabang akan dikerat dan lidah dusta mendatangkan kekejian bagi Tuhan[i].

Lidah yang dikuasai oleh Allah merupakan lidah kasih. Demi kasih “ia setia menutupi pelanggaran. Sebab siapa membangkit-bangkitkan perkara ia menceraikan sahabat karib. Dalam segala jalannya ia menjaga lidahnya, bahkan anti mengumpat -sebab ia takut membocorkan rahasia. Ia pun menghindari pengkhianatan karena ia tahu saudara yang dikhianati lebih sulit dihampiri dari pada benteng kota yang kuat. Bibirnya menggembalakan banyak orang. Dengan demikian lidahnya seperti perak pilihan.

Lidah yang dikuasai oleh Roh Allah adalah lidah yang tahu kapan harus diam, dan kapan harus berbicara. Ia tahu, di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran. Namun siapa yang menahan bibirnya ia berakal budi. Dia pun tahu kapan menegur, kapan menasihati. Dia tahu kapan saat paling tepat untuk melakukan semuanya itu. Baginya perkataan yang tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak dan bahwa memberi jawaban tepat adalah bagaikan mengecup bibir[ii].

Lihat, betapa membahagiakan lidah yang dikuasai oleh roh Allah. Siapa yang mempunyai lidah yang demikian pastilah ia tidak jauh dari kedamaian. Lidah yang dikuasai roh Allah membentuk cara berpikir kita-bersama. Cara berpikir kita-bersama merajut tali kasih dan tali kasih itu mengikatkan diri dengan semua manusia sehingga diri tersatukan dengan semua. Dengan demikian cara berpikir kita- bersama merangkul dan menyadari bahwa sesamaku adalah diriku yang kedua. Mengerti, menyadari dan memandang sesamaku sebagai diriku yang kedua berarti diri telah memahami dan mengerti hukum cinta kasih: “cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri”

 

Lidah dan hati

Kegandaan karakter lidah yaitu sebagai kemuliaan dan keburukan menjadikan lidah suatu teka-teki. Ada saatnya lidah menampilkan dirinya sebagai kemuliaan dan ada saatnya lidah muncul sebagai keburukan. Sulitlah meramal tujuan lidah berkata-kata dan hampir tak mungkin membuat lidah untuk selalu menampilkan dirinya sebagai kemuliaan. Malahan sering kali lidah secara ringan, spontan dan bebas berkata-kata akan hal-hal yang buruk. Memang benar yang dikatakan oleh St. Yakobus “barang siapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang yang sempurna yang dapat mengendalikan seluruh tubuhnya”. Gerak –gerak lidah yang sulit dikontrol membuktikan bahwa lidah memang penuh teka-teki.

Teka-teki lidah menunjuk dan mengacu pada teka-teki hati karena apa yang diucapkan lidah itu sebenarnya mempresentasikan, menghadirkan, dan bersumber dari hati seseorang. Misalnya jika seseorang itu selalu menghujat sesamanya, maka sudah barang tentu bahwa hatinya jauh dari kedamaian. Sebaliknya jika lidah itu berkata kebenaran, maka hatinya merindukan kebenaran. Kata St Yakobus “ Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama atau dapatkah pohon ara menghasilkan buah zaitun dan pohon anggur berbuah ara. Mata air asin tidak dapat mengeluarkan air tawar” (3: 12). Akibatnya, dari kata-kata yang terucap oleh lidah, pendengarnya bisa masuk ke dalam teka-teka hati. Jadi ada persatuan dan hubungan yang dekat antara lidah dan hati: lidah adalah cermin hati.

Lidah sebagai cermin hati membantu diri untuk menyelami dan mengenali serta merefleksikan hati. Hati yang diselami dan dikenali menjaga hidup pada jalan yang lurus dan benar bahkan mengarahkan hidup kepada keindahan dan kesuciannya. Hidup yang tak direfleksikan, hidup yang tak diperiksa –kata Sokrates- adalah kesia-siaan. Awal mula untuk berefleksi akan hidup dimulai dan diawali dari lidah. Sebab lidah walaupun merupakan tubuh yang terkecil tetapi mempunyai peran besar dalam menentukan dan mewarnai hidup. Selain itu, mengelola lidah juga merupakan jalan mengelola hati. Diharapkan bahwa dengan mengelola lidah, lidah menghasilkan bahasa kasih dan hati terjaga di dalam kemurniannya. Untuk itu, diperlukanlah kesalehan lidah. Dan kesalehan lidah memang menuntut kerelaan dan kedewasaan iman serta pergaulan dengan Allah yang rutin. Akhirnya lidah dan hati haruslah seperti yang dikatakan oleh St. Ambrosius:

“Emas adalah hatimu, perak adalah lidahmu “

 

[i] Diambil dari artikel yang berjudul Bercermin Dalam Pengalaman Amsal. Tanpa nama

[ii] Ibid.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

2 thoughts on “Keburukan dan Kemuliaan Lidah”

Leave a Reply