Kebijaksanaan Untuk Diri Sendiri

XXIII

Kebijaksanaan Untuk Diri Sendiri

Francis Bacon

Lukisan William Dyce, Titian's First Painting

 

titians-first-painting

Semut adalah suatu makhluk bijaksana untuk dirinya sendiri, tetapi adalah binatang yang merusak anggrek atau taman.

Dan tentu saja orang-orang yang terlalu mencintai diri mereka sendiri menghancurkan publik. Bagilah dengan akal budi cinta untuk diri sendiri dan untuk masyarakat maka membuat anda membenarkan diri anda sendiri; seolah-olah anda tidak pernah merasa bersalah kepada orang lain; khususnya kepada raja dan negara. Kenyataan berikut ini merupakan suatu pusat yang memilukan dari tindakan seseorang, yaitu hanya berpusat pada dirinya sendiri. Persis seperti Bumi [1]. Sebab bumi hanya bergerak dengan cepat di atas pusatnya sendiri; sedangkan segala benda langit yang mempunyai pertalian dengan semesta bergerak di atas pusat yang lain; sehingga menguntungkan pusat yang lain. Memusatkan segala sesuatunya kepada seorang diri manusia lebih ditoleransi dalam suatu kedaulatan raja; karena diri para raja tidak hanya terdiri dari diri mereka sendiri tetapi juga kebaikan dan kejahatan yang membuat nasib publik dalam bahaya.

Namun adalah suatu kejahatan yang menyedihkan ketika seorang pembantu melakukannya kepada seorang raja atau seorang warga negara kepada sebuah republik. Sebab apa pun urusan yang melewati tangan para pembantu maupun warga negara yang semacam itu, maka mereka akan membengkokkan urusan-urusan demi tujuannya sendiri, yang pasti sering kali memiliki suatu pusat yang berbeda dari tujuan tuannya atau negara. Oleh karena itu, semoga para raja atau negarawan, memilih para pembantu yang tidak mempunyai tanda tersebut; kecuali mereka mengartikan pengabdian para pembantu hanya sebatas sebagai aksesori. Yang membuat konsekuensinya lebih berbahaya adalah hilangnya segala proporsionalitas.

Adalah hal yang cukup tidak proporsional ketika kebaikan para pembantu lebih disukai daripada kebaikan sang tuan; tetapi adalah ekstrim yang lebih besar lagi ketika suatu kebaikan kecil seorang pembantu akan memikul segala hal menentang kebaikan besar sang tuan. Dan tentu saja hal itu adalah kasus yang berasal dari petugas-petugas yang buruk, bendahara, duta-duta, jenderal-jenderal dan para pembantu yang jahat dan korup; yang membuat mangkok menjadi miring sehingga tumpah, yang disebabkan oleh tujuan mereka yang picik dan penuh dengan iri hati, sehingga mengabaikan urusan-urusan besar dan penting sang tuan. Dan sebagian besar kebaikan para pembantu didapatkan karena dimensi keberuntungan mereka sendiri; namun rasa sakit yang mereka jual demi kebaikan tersebut terjadi karena dimensi keberuntungan sang tuan. Dan tentu saja hal ini adalah realitas cinta diri yang demikian ekstrim, seumpama mereka akan membakar sebuah rumah hanya demi memanggang telur-telur mereka; dan hebatnya, orang-orang yang seperti ini sering kali malah mendapat kepercayaan dari tuan mereka, karena studi mereka adalah untuk menyenangkan para tuan dan memberikan keuntungan bagi mereka sendiri; seharusnya demi kebaikan para raja, mereka meninggalkan kebaikan-kebaikan yang bersumber dari urusan-urusan mereka.

Kebijaksanaan untuk kepentingan diri sendiri yang memiliki banyak cabang merupakan hal yang tercela. Adalah kebijaksanaan para tikus, bahwa para tikus pasti akan meninggalkan rumah sebelum rumah itu roboh. Adalah kebijaksanaan para rubah, yang mendorong luak, yang menggali dan membuatkan rumah untuknya. Adalah kebijaksanaan para buaya, yang mencucurkan air mata ketika mereka akan memangsa. Namun yang harus diperhatikan secara khusus, adalah mereka yang (seperti kata Cicero[2] tentang Pompeius[3]) adalah sui amantes, sine rivali (pecinta diri mereka sendiri tanpa suatu rival) sering kali tidak beruntung. Dan selagi setiap waktu yang mereka punyai hanya dikorbankan demi diri mereka, pada akhirnya mereka malah akan mengorbankan diri mereka sendiri karena inkonsistensi nasib, yang sayapnya mereka cari dengan kebijaksanaan diri mereka sendiri sayangnya sayap itu telah menjepit mereka.

[1] Di sini Bacon sedang berpikir tentang astrologi kuno yang berpandangan bahwa semua benda-benda semesta bergerak mengelilingi bumi (bumi sebagai pusatnya, bukan matahari).

[2] Tentang Cicero lihat essai XVI; no. 18

[3] Gnaeus Pompeius Magnus, yang dikenal sebagai Pompeius adalah seorang pemimpin militer dan politik pada pada masa Republik Roma dan anggota Triumvirate yang pertama (bersama Julius Caesar dan Crassus). Sebagai seorang jenderal militer, Pompeius memiliki reputasi yang gemilang, antara lain: mengalahkan Tigranes raja Armenia (tentang Tigranes lihat essai XXIX; no. 6) dan kerajaan di Afrika, membasmi para perompak di laut Mediterania. Pompeius menikah dengan adik Julius Caesar yaitu Julia. Setelah kematian Julia dan Crassus, hubungan Pompeius dengan Caesar retak bahkan menjadi permusuhan. Permusuhan Caesar dan Pompeius membawa Romawi kepada perang saudara. Akhirnya Caesar berhasil mengalahkan Pompeius dalam pertempuran di Pharsalus. Pompeius dibunuh oleh pengkhianat di Mesir. Pompeius dianggap sebagai seorang pahlawan yang tragis karena kekalahannya dan kematiannya. Plutarch menilai Pompeius sebagai Alexander Agung dari Romawi.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply