Kebesaran Hukum Taurat

 

Lukisan: Joseph Frederick Charles Soulacroix, The Serenade

 

 

 

 

 

Ulangan 4: 1; 5-9

Matius 5: 17-19

6 November 1783, Jenderal George Washington tiba di Philadelphia. Seluruh penduduk mengelu-elukannya. Pahlawan revolusi yang menang. Panglima yang dicintai prajurit. Pemimpin yang membebaskan rakyat Amerika dari penjajahan Inggris dan seterusnya. George Washington kemudian menjadi presiden Amerika Serikat yang pertama. Berbeda dengan banyak orang yang duduk di gedung Putih, sesudahnya, dia tak gemilang. Dia tak sepintar dan sekarisma presiden Amerika yang sekarang Obama. Dengan kata lain intelektualnya terbatas. Washington dianggap sebagai pekerja daripada seorang pemikir. Maka, apa gerangan tanda kebesarannya sebagai bapak bangsa? Kebesaran Washington terletak terutama bukan apa yang dilakukannya melainkan apa yang tidak dilakukannya. Dengan kata lain pengekangan diri Washingtonlah dan bukan tindakan Washington, yang menentukan kebesarannya. Pengekangan diri Washington kuat karena adanya prinsip /ethos Protestan dalam Bapak bangsa Amerika itu. Semangat /ethos Protestan membentuk semangat waspada terhadap godaan gading. Ethos/ prinsip Protestan telah menjadi hukum yang membesarkan dan membentuk Washington menjadi bapak bangsa Amerika[1].

Hukum Taurat memainkan peran penting dalam kehidupan agama Yahudi. Semua sendi kehidupan Yahudi diatur oleh hukum Taurat. Mengapa demikian? Hukum Taurat itu menjaga hati supaya tetap lurus pada jalan Tuhan.  Hati memang suatu misteri yang tak pernah bisa ditebak. Dari hati bisa muncul keinginan untuk berbuat kejahatan. Maka ketika keinginan jahat itu muncul hukum Taurat  mengingatkan dan menegur dan menjaga diri supaya tidak melakukan kejahatan tersebut. Dengan demikian, hukum Taurat bahkan hukum apa pun itu seperti  sebilah pedang yang membasmi kejahatan yang hendak dilakukan oleh hati manusia.

Musa  berkata “Dengarlah ketetapan dan peraturan yang kuajarkan kepadamu supaya kamu hidup dan masuk ke negeri yang diberikan Tuhan”. Hidup dan masuk ke negeri yang diberikan Tuhan berarti melaksanan ketetapan dan peraturan yang telah diajarkan yaitu hukum Taurat. Hukum Taurat meluruskan hati sehingga mengantar diri untuk masuk ke negeri Tuhan. Negeri yang diberikan Tuhan adalah negeri kebaikan, negeri kasih yang tidak mengenal sama sekali kejahatan. Di negeri Tuhan hanya hukum kasih yang berlaku.

Maka, Yesus datang untuk menggenapi hukum Taurat bukan untuk meniadakan. Apa maksudnya? Yesus menyempurnakan hukum Taurat supaya menjadi hukum kasih.  Semua hukum Taurat yang banyak itu disatukan dan diringkas oleh Yesus dalam hukum cinta kasih : “kasihilah Tuhan Allahmu dengan seganap hatimu, akal budimu, pikiranmu dan cintailah sesamu seperti dirimu sendiri”. Masing-masing iota dalam hukum Taurat itu bermuara, menyusun dan merangkai hukum cinta kasih. Karena itu, tak mungkin satu iota atau satu titik hukum Taurat itu ditiadakan. Dengan meniadakan salah satu iota atau satu titik hukum Taurat tidak akan mencapai hukum cinta kasih ibarat mencongkel satu pilar bangunan sehingga merobohkan rumah. Kata Yesus siapa yang meniadakan salah satu perintah dalam hukum Taurat bahkan yang paling kecil maka ia akan mendapati tempat yang paling rendah dalam kerajaan surga. Dan yang siapa yang mengajarkan dan melakukan hukum segala hukum Taurat maka ia mendapat tertinggi dalam kerajaan surga. Dengan melakukan hukum Taurat dengan sungguh-sungguh sesorang sampai pada hukum cinta kasih.

Seperti kata Musa “Lakukanlah hukum dengan setia sebab itulah yang menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa lain”. Sebagaimana George Washington telah melakukan ethos Protestan sehingga ia pun menjadi bapa bangsa Amerika, semoga kita pun selalu bertindak dalam koridor hukum cinta kasih agar kita mendapat tertinggi di dalam kerajaan surga.

 

[1] Riwayat hidup ini diambil dari catatan pinggir, Goenawan Mohammad.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply