Keberuntungan

XL

Keberuntungan

Francis Bacon

Lukisan Paul Cézanne, Les Joueurs de cartes, 1890

card_players-paul_cezanne

Kenyataan ini tidak dapat dibantah bahwa kejadian-kejadian external sungguh membawa banyak pengaruh bagi keberuntungan; pertolongan, kesempatan, kematian orang lain, kesempatan yang sesuai dengan kecakapan. Tetapi pada dasarnya, cetakan sebuah nasib manusia ada di tanganya sendiri. Kata seorang penyair, faber quisque fortunae suae (setiap orang adalah sang arsitek untuk nasibnya sendiri). Dan penyebab-penyebab external yang membuat perubahan nasib yang paling sering adalah bahwa ketololan seseorang menjadi keberuntungan bagi yang lain. Sebab tidak ada kemakmuran manusia yang bertumbuh dengan cepat selain yang disebabkan oleh kesalahan-kesalahan sesamanya. Serpens nisi serpentem comoderit non fit draco (seekor ular pasti telah memakan ular lain sebelum menjadi seekor naga). Kecakapan yang jelas dan nyata mengantar kepada pujian; tetapi kiranya ada kecakapan yang tersembunyi yang membawa kepada keberuntungan; bakat-bakat yang pasti yang terpendam dalam diri, yang tak memiliki nama. Kata Spanyol-nya, desemboltura (kecakapan dalam ekspresi), yang artinya sebagian mengekspresikan kecakapan dan bakat yang terpendam; ketika kiranya tidak ada rintangan-rintangan atau ketidaksabaran terhadap kodrat manusia; tetapi yang roda-roda pikirannya sejalan dengan roda-roda keberuntungannya. Maka Livius[1] (sesudah ia mendiskripsikan Cato Tua[2] dalam kata-kata berikut ini, In illo viro tantum robur corporis et animi fuit, ut quocunque loco natus esset, fortunam sibi facturus videretus, demikianlah kekuatan tubuh dan pikirannya, bahwa di mana pun ia dilahirkan, dia kiranya selalu dapat membuat dirinya sendiri menjadi sebuah keberuntungan) menjumpai kenyataan perkataannya itu, bahwa ternyata Livius memiliki versatile ingenium (suatu kecerdasan yang dapat mengubah nasib dengan baik). Oleh karena itu, jika seorang manusia melihat dengan tajam dan seksama, dia akan melihat Keberuntungan: meskipun Keberuntungan itu buta bagi manusia, tetapi Keberuntungan tidaklah tidak terlihat. Jalan sebuah keberuntungan seperti galaksi Bima sakti di semesta; yang adalah suatu perkumpulan atau gerombolan dari bintang-bintang kecil; tidak terlihat amburadul, tetapi memancarkan terang bersama-bersama. Konsekuensinya, ada sejumlah kebaikan yang kecil dan nyaris tidak terlihat, atau bahkan kecakapan-kecakapan dan kebiasaan-kebiasaan yang membuat manusia beruntung. Orang–orang Italia mencatat beberapa kebaikan yang demikian yang mana seorang manusia sedikit memikirkannya. Ketika mereka berbicara tentang orang yang tidak dapat melakukan kesalahan, mereka akan menambahkan catatan ke dalam kondisi-kondisinya yang lain, yaitu bahwa dia Poco di matto (sedikit tidak waras). Dan tentu saja, kiranya tidak ada lagi dua properti kemujuran yang lebih lagi selain daripada memiliki sedikit ketololan dari para si tolol dan memiliki tidak terlalu banyak akan kejujuran dari si jujur. Oleh karena itu, orang-orang yang terlalu mencintai negaranya atau tuan-tuan mereka tak pernah beruntung ataupun akan dapat memperoleh kemujuran. Sebab ketika seseorang menempatkan pikirannya tanpa dirinya seutuhnya, dia berjalan tidak di atas jalannya sendiri. Suatu nasib baik yang gegabah menciptakan seorang pengusaha atau seorang penghilang (orang Perancis memiliki kata yang lebih baik, enterprenant atau remuant); namun nasib yang ditempa menciptakan kemampuan manusia. Keberuntungan haruslah dihormati dan dijunjung tinggi dan kiranya menjadi anak-anak perempuan bagi Kepercayaan Diri dan Reputasi. Sebab Kepercayaan Diri dan Reputasi akan melahirkan kebahagiaan; yang pertama di dalam diri sendiri, yang kedua di dalam diri orang lain tetapi menuju kepada diri sendiri. Semua orang bijak, demi melemahkan iri hati[3] yang terbentuk dari kehebatan-kehebatan mereka sendiri, terbiasa untuk menghubungkan diri mereka kepada Penyelenggaraan Ilahi dan Keberuntungan. Sebab dengan melakukan itu, mereka kiranya menanggung diri mereka dengan lebih baik: dan, di samping itu, adalah suatu kebesaran dalam diri manusia untuk menjadi pelindung dari kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi. Maka Caesar[4] mengatakan kepada si nahkoda ketika badai menerpa, Caesarem portas, et fortunam ejus (Engkau membawa Caesar dan Keberuntungannya). Maka Sulla[5] memilih nama Felix (Yang Bahagia), bukan Magnus (Yang Agung). Dan telah diperhatikan, bahwa mereka yang terlalu menghubungkan segala sesuatunya secara terbuka kepada kebijaksanaan dan kebijakan mereka sendiri berakhir di dalam ketidakberuntungan. Tertulis bahwa Timotheus[6] orang Athena, sesudah dia memberikan laporan kepada senat pemerintahannya, sering kali sering kali diolok dengan perkataan ini: dan ia tidak memiliki bagian di dalam Keberuntungan[7], akibatnya apa yang kerjakan Timotheus sesudahnya tak pernah menjadi makmur. Tentu saja, ada orang-orang, yang keberuntungannya seperti larik-larik puisi Homer[8], yang memiliki suatu slide[9] dan kemudahan yang lebih daripada larik-larik dari para pujangga lain; seperti Plutarch[10] yang berkata tentang nasib Timoleon[11], yang dibandingkan dengan nasib Agesilaus[12] atau nasib Epaminondas[13]. Dan bahwa hal ini seharusnya dipercayai, tidak ragu lagi bahwa keberuntungan begitu banyak di dalam diri seorang manusia.

[1] Titus Livius Patavinus adalah seorang sejarahwan Romawi yang menulis buku sejarah yang monumental dengan judul Ab Urbe Condita Libri yang menceritakan legenda berdirinya kota Roma sampai dengan keadaan kota Roma zaman Kaisar Augustus. Setelah menulis buku tersebut, Livius menjadi orang yang terkenal dan terpandang.

[2] Marcus Porcius Cato atau Cato Tua adalah negarawan Romawi. Dia sebut dengan Cato Tua untuk membedakan dengan Cato Muda yang adalah cucunya. Sebagai negarawan Romawi, Cato pernah mendapat jabatan-jabatan istimewa pada masa republik Romawi antara lain menjadi Quaestor, Aedile, Praetor, Consul dan terakhir Censor. Ia juga memiliki karir militer yang cemerlang. Ia menulis beberapa buku antara lain tentang pertanian dengan judul de Agricultura, Origenes (tentang Kota Roma), Carmen de Moribus (Puisi Akan Kematian), dan buku-buku lain. Kaisar Nero adalah keturunan Cato.

[3] Bandingkan dengan essai Iri hati (essai IX)

[4] Tentang Julius Caesar lihat essai IV; no. 5

[5] Tentang L. Sulla lihat essai XV; no. 21

[6] Timotheus adalah seorang negarawan dan jenderal Yunani yang berambisi membawa Athena kepada kemasyuran dengan menjadikan Athena sebagai polis yang terkuat. Taktik militernya yang cemerlang membuat  banyak orang iri hati kepadanya. Sepulang dari memadamkan pemberontakan, Timotheus dibawa ke pengadilan oleh rivalnya sehingga ia dihukum denda yang begitu besar. Karena tak mampu membayar denda tersebut, Timotheus mengundurkan diri ke suatu tempat dan tak lama kemudian meninggal.

[7] Lengkapnya sebagai berikut: “Perhatikanlah bahwa jenderal Athena Timotheus diperhitungkan sebagai orang yang beruntung. Namun, orang-orang mengatakan bahwa semuanya disebabkan oleh keberuntungan dan Timotheus tak lagi mempunyai keberuntungan itu. Mereka mengejeknya di atas panggung dan para pelukis menggambarkannya sebagai orang yang mengantuk, di mana sang keberuntungan sedang melayang-melayang di atas kepalanya dan menarik kota-kota ke dalam jala sang keberuntungan”. Perkataan ini dikatakan oleh Claudius Aelianus, musuh Timotheus.

[8] Homer adalah penyair Yunani dan pengarang buku Iliad dan Odyssey yang berisi epik puisi Yunani kuno. Epik -epik Homer merupakan tiang dasar literatur peradaban Barat dan mempengaruhi perjalanan literatur Barat. Kejelasan identitas Homer itu sendiri (apakah dia memang Homer, atau nama samaran, apakah dia memang ada atau sekedar legenda) tidak ada kepastian yang jelas. Homer tetap dianggap guru Yunani dan orang yang membentuk sekaligus mewarnai peradaban Yunani. Puisi-puisi Homer adalah puisi-puisi yang unik sekaligus menunjukkan kejeniusannya.

[9] Slide yang dimaksud di sini adalah pergerakan yang cepat dan mudah tanpa kehilangan kontak dan kesatuan dengan dasarnya. Bacon mengatakan bahwa puisi Homer memiliki slide, maksudnya bahwa kecepatan puisi Homer tidak membuat puisi-puisinya terlalu cepat mengalir ataupun menjadi monoton sehingga menciptakan suatu keindahan puisi. Kecepatan puisi Homer disebabkan oleh penggunaan teknik Hexameter yaitu suatu baris puisi yang bersuku enam. Puisi Homer memiliki tiga gaya yaitu kecepatannya dalam arti perpindahan yang begitu gampang; kejelasan dan langsung baik di dalam ide dan ekspresi akan idenya, juga di dalam sintaksis dan kata-katanya; dan keagungan.

[10] Plutarch lewat tulisan-tulisan dan pengajarannya menjadi orang terpandang dan terhormat di kemaharajaan Romawi. Bahkan orang-orang asing datang kepadanya untuk mendengarkan pengajarannya. Selengkpnya tentang Plutarch lihat essai II; no. 2

[11] Timoleon adalah jenderal dan negarawan Yunani. Timoleon juga dianggap sebagai orang yang menentukan sejarah Sicily terutama Syracuse. Ia membunuh kakaknya Timophanes yang ia selamatkan dari pertempuran ketika kakaknya mendeklarasikan dirinya sebagai penguasa Korintus. Warga Korintus menganggap dia sebagai pahlawan tetapi ia dikutuk oleh ibunya dan keluarganya sehingga membuat dirinya mengundurkan diri dari kancah politik. Dalam masa pengunduran dirinya, Syracuse mendapat ancaman dari Sparta sehingga memaksa Syracuse meminta bantuan kepada Korintus. Timeleon diutus oleh Korintus dan memenangkan pertempuran melawan Sparta. Kemudian setelah kemenangan diraih, Timeleon mengundurkan diri lagi dari kancah politik meskipun pengaruh politiknya masih kuat untuk Syracuse. Ia amat dihormati oleh warga Syracuse.

[12] Agesilaus -Raja Sparta- melawan pemberontakan polis Thebes yang dipimpin oleh jenderal Epaminondas. Sparta kalah sehingga kehilangan hegemoni atas Yunani. Agesilaus memerintah Sparta selama 41 tahun. Tentang Agesilaus lihat essai IX; no. 2

[13] Epaminondas adalah seorang negarawan dan jenderal yang memperbaharui Thebes (sebuah wilayah dan suatu polis Yunani) dan mengalahkan hegemoni polis Sparta. Kemenangan atas Sparta mengubah peta dan susunan politik Yunani selama 10 tahun sehingga ia menjadi figur yang amat penting dalam polis Yunani. Epaminondas dikenal sebagai orang yang memiliki yang integritas tinggi dan keutamaan serta hidup dalam kesederhanaan. Akhirnya ketika Sparta menantang Thebes, Epaminondas mati dalam pertempuran melawan Sparta dan karena tak memiliki keturunan maka tidak ada yang meneruskan perjuangannya.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply