Kebebasan, Manusia dan Tuhan

Lukisan: Mariano Alonso Perez y Villagrossa, Gallant Scene at the Market 

Kita mewarnai hidup kita dengan tinta kebebasan kita

Kebebasan telah menjadi tema penting dalam pergulatan manusia mengisi dan menjalani hidupnya. Manusia mencoba terus mencari, mengerti dan memaknai kebebasannya. Sekarang ini, semakin mencengkerammnya modernitas yang mengedepankan rasionalitas, kebebasan semakin menjadi subyektif seolah kebenaran ditentukan hanya oleh diriku. Memang, selama kebebasanku tidak bertentangan dengan hukum positif, maka tak masalah. Tetapi di dalam era modernitas terjadilah pergeseran pertentangan bahwa yang dipertentangkan oleh kebebasan bukan dengan hukum positif tetapi justru moral ataupun nilai-nilai universal yang terkandung di dalam hukum kodrat. Kebebasan modernitas seperti mau menolak realitas metafisik sebagai yang benar dan yang baik. Misalnya kebebasan tubuh sehingga perempuan berhak menentukan kehidupan janinnya. Tulisan ini hendak memantik kebebasan yang benar, mengembalikan kebebasan pada kebebasan berporoskan pada metafisik. Sebab keluar dari jalur metafisik, kebebasan bukan menjadi kebebasan tetapi menjadi keterkungkungan dan mematikan nilai-nilai yang seharusnya berkembang di dalam kebebasan. Masalahnya, keterkungkungan selalu mengambil wadah dan nama kebebasan itu sendiri. Orang terkungkung tetapi mengklaim bahwa dirinya bebas. Orang menuntut kebebasan padahal yang dituntut sebenarnya adalah perhambaan.

Paham kebebasan

  • Individualisme

Ada pandangan dan pemikiran yang mengartikan kebebasan: manusia itu bebas melakukan apa pun. John Stuart Mill mengatakan “lakukanlah apa yang menyenangkan dirimu dengan mengabaikan segala konsekuensi yang berasal dari tindakan yang kamu buat supaya orang lain pun tidak dapat menghalangi apa pun yang kamu lakukan. Dengan demikian tidak ada lagi prasangka maupun penilaian terhadap apa yang kita lakukan, bahkan ketika orang lain berpikir bahwa perilaku kita gila, menyimpang dan salah”.

Lalu bagaimana kita menilai pandangan ini? Kebebasan pertama-tama bukanlah power untuk melakukan apa pun yang kita inginkan. Sebab, manusia sesungguhnya tidak mampu melaksanakan dan mewujudkan apa saja yang ia inginkan. Ada banyak hal-hal yang ingin dikerjakan oleh manusia tetapi tidak dapat karena kekuatannya terbatas. Pemikiran yang mengatakan bahwa manusia bebas untuk melakuan apa pun adalah suatu ilusi dan kesombongan manusia yang ingin menjadi Tuhan.  Pemikiran John Stuart Mill sebenarnya adalah salah satu dari pemikiran individualistik dan pemikiran individualistik selalu mencakup hal berikut ini: kebebasanku berakhir ketika kebebasan orang lain dimulai, komitmen berarti pula matinya kebebasanku, kebebasan tidak pernah mengenal syaratnya, kebebasan adalah kapasitas untuk memilih dengan gampang yaitu berdasarkan apa yang kumau dan yang kumau di sini penuh dengan apa yang menyenangkan diriku tanpa memperdulikan orang lain atau segala yang ada.

Faktanya, ada manusia adalah mengada bersama orang lain, ada yang terbuka kepada orang lain. Struktur ada manusia bukan aku sendiri tetapi aku-kamu. Hidup dan relasi mematri struktur aku-kamu. Mengingkari kamu di dalam dialektika aku-kamu memenjarakan diriku. Aku menjadi aku yang sungguh manusia ketika aku keluar dari diriku dan memberikan diriku kepada orang lain. Maka orang lain bukanlah penghambat kebebasanku ataupun neraka bagi kebebasanku tetapi justru orang lain adalah tempat kebebasanku, yang membebaskan diriku dari ketertutupan sang aku ataupun aku yang soliter karena aku menemukan diriku karena orang lain. Dengan demikian, esensi kebebasan sejatinya menyoal esensi dari relasi atau hubungan. Dan hubungan itu tak lain adalah menyoal aku-kamu. Kebebasanku terjadi ketika kebebasanku memberi pengakuan akan kebebasan kamu sehingga kebebasanku menemukan makna karena kebebasanmu. Hanya dengan mengakui kebebasanmu, aku mencapai perwujudan diri yang utuh.

  • Instanisme dan spontanisme

Ada pula yang mengartikan kebebasan didasarkan pada instanisme yaitu mengharapkan segala sesuatu yang aku inginkan langsung terjadi, tersedia dan pada instanisme aku memastikan memiliki kemungkinan ataupun kondisi yang sama akan segala hal yang ingin kulakukan. Semuanya harus pasti. Begitu ada keterlambatan berarti aku kehilangan momentum.

Sayangnya, kebebasan sebagai instanisme menyebabkan kebebasan menjadi ditentukan karena pada saat aku mau sesuatu tetapi tidak terpenuhi, maka aku akan kecewa, marah bahkan menyalahkan situasi dan kondisi segala yang ada. Kehidupan yang diwarnai dengan tinta instanisme membuat hidup hilang dan tenggelam di dalam waktu yang kosong karena menolak suatu mekanisme perjuangan. Padahal mekanisme perjuangan menempa dan menghasilkan nilai-nilai yang membentuk dan mewarnai kehidupan. Hidup pun berubah menjadi suksesi dari peristiwa instantisme yang satu ke instanisme berikutnya. Orang kehilangan daya kreativitas karena matinya kesabaran.

Sementara spontanisme adalah melakukan segala sesuatu didasarkan pada kecenderungan, perasaan, nafsu. Akibatnya, spontanisme selalu bertabrakan dengan semua norma, selalu bertentangan dengan hukum yang ada. Karena manusia hidup selalu bersama dengan orang lain dan dalam suatu komunitas yang mana setiap orang memiliki kemauan dan pikiran sendiri. Aturan, norma maupun hukum menjaga agar masing-masing pribadi menghormati kemauan setiap orang dan tidak memaksakan kehendaknya supaya terjadi keharmonisan dalam hidup bermasyarakat. Spontanisme justru mau mendobrak aturan norma yang ada karena di dalam spontanisme yang didahulukan adalah perasaanku, nafsuku. Baik spontanisme maupun instanisme adalah moral budak yang mana tindakannya dan kebebasannya didasarkan pada rasa ataupun kesenangan yang menjadi tuan atas tindakannya.  Baik spontanisme dan instanisme mengandalkan logika waktu pendek. Dalam logika waktu pendek yang menjadi pioner adalah kecepatan dan efisiensi. Instanisme dan spontanisme tidak mengenal lagi proses ataupun perjuangan yang membutuhkan waktu yang lama. Mereka tidak akan tahan komitmen, aktivitas menanti dan kesabaran, tak punya lagi daya juang. Buahnya adalah kegelisahan dan pressure kepada diri terus-menerus, tak ada lagi keceriaan.

Kebebasan dan maknanya

Kebebasan. Siapa yang tak menginginkannya, siapa yang mencintainya, siapa yang tak mengharapkannya. Para penyair memujinya, para politikus menjanjikannya, para aktivitis memperjuangkannya, para filsuf merefleksikannya. Akibatnya, ada berbagai macam bentuk kebebasan antara lain kebebasan berserikat, ada kebebasan beragama, ada kebebasan politik, ada kebebasan berpikir dan seterusnya. Sebenarnya apa itu kebebasan? Apakah kebebasan itu ada dan bagaimana cara membuktikannya?

Memang, kebebasan bukanlah sesuatu yang dapat diraba atau dilihat, tetapi kebebasan merupakan hal yang nyata dan real walaupun bentuknya abstrak. Dari mana buktinya kalau kebebasan itu ada? Ada tiga bukti yang menguatkan keberadaan kebebasan:

Yang pertama, terletak pada kemampuan manusia untuk mengambil sikap diri, kemampuan kita untuk menentukan sikap terhadap segala sesuatunya misalnya mengambil jarak,merefleksi, kemudian mengafirmasi atau menegasi terhadap peristiwa yang terjadi[1].
Kemampuan manusia ini menyiratkan makna bahwa aku penentu dari tindakanku. Aku sebagai penentu tindakanku berarti aku memberlakukan hukum bagi tindakanku. Artinya kebebasan berhubungan dengan power untuk menentukan diri. Penentuan diri dipahami pertama-tama sebagai bebas dari penentuan sesuatu dari luar yang dimengerti sebagai absennya kompulsi atau dorongan psikologis. Seorang yang mengalami trauma tentu memiliki kebebasan yang terbatas karena pada situasi di mana ia mengalami kembali trauma, ia terperangkap dalam kondisi traumatik tersebut. Di sini kita melihat adanya determinasi psikologis dan determinasi psikologis menentukan dan meresapi motif-motif kita dalam bertindak. Misalnya, seseorang yang kecanduan. Dia berkehendak bebas dari kecanduan obat tetapi tidak mampu bahkan tindakan utamanya digerakkan untuk memenuhi kebutuhan akan kecanduan obatnya. Motif umum yang sering kali menentukan tindakan adalah takut akan hukuman maupun harapan untuk mendapat penghargaan. Supaya tidak menangis, anak kecil diberi permen coklat. Jadi ketika seseorang tidak mampu melepaskan diri dari naluri atau nafsu, maka dia selalu diincar bahaya untuk bertindak berdasarkan ancaman atau janji. Dalam konteks ini salah satu keuntungan melatih diri dan disipilin adalah memperluas zona akan kebebasan batin. Dengan edukasi dan latihan kita membangun motivasi dan karakter yang memampukan kita melawan tekanan psikologis. Misalnya berpuasa ataupun berpantang terhadap makanan tertentu, contoh kaum vegetarian. Orang orang yang demikian tentu lebih memiliki kebebasan daripada yang lain. Mereka memiliki zona determinasi diri batiniah yang lebih besar. Di sini, kebebasan berasal dari penguasaan diri. Kata Goethe: “Dari segala paksaan yang mengikat segala ciptaan, dia yang mengatasi dirinya menemukan kebebasannya”. Jadi, ketika tidak adanya tindakan yang bebas dari seorang manusia, tentu kita tidak bisa melihat personalitas dan karakter kesejatian atau visi karena ia bertindak berdasarkan kompulsi. Bahkan, mereduksi manusia hanya pada kompulsi dan determinasi psikologis menghancurkan visi integral dan menyeluruh tentang siapakah manusia.

Yang kedua, kebebasan dalam penentuan diri tidak cukup sampai hanya pada bebas dari. Penentuan diri yang lebih luas tercapai ketika seseorang memberi isi sendiri pada kehendaknya sehingga kehendaknya menjadi kehendak tertentu[2]. Contoh aku berhendak menjadi politisi. Di sini aku menentukan diri menjadi politisi melalui kehendakku. Kehendak adalah kapasitas untuk menentukan kausalitasku, untuk menentukan diri di dalam kausalitasku. Causalitasku berarti aku mengontrol takdirku, aku menyebabkan diriku dan aku mengakibatkan diriku untuk terbuka pada sesuatu, untuk menjadi sesuatu. Oleh Kant kehendak yang demikian disebut kehendak murni. Kehendak murni tak lain adalah akal budi murni yang menentukan dirinya untuk menghendaki tindakan yang diatur[3]. Jadi kehendak adalah kekuatan intelektual, aktivitasnya mensyaratkan pengetahuan sehingga kehendak mengikuti kekuatan akal budi. Dalam tindakan bebasku, aku mengikuti apa yang aku anggap baik dan layak dipilih dan sesuai dengan kehendakku. Di sini tercipta kebebasan praktis yang diatur oleh kehendak dan akal budi. Kebebasan praktis merupakan suatu sarana yang melalui sarana tersebut aku memberdayakan akal budi dan kehendakku. Tetapi jelas bahwa seandainya tindakanku maupun pilihanku sewenang-wenang, maka kebebasanku tidak berarti sama sekali dan menjadi tak mungkin. Dalam menentukan tindakanku sendiri, aku tidak terlepas dari motif. Dalam tindakan bebasku, aku mengikuti apa yang sesuai dengan kehendakku. Jadi, ada kebebasan kehendak. Adanya kebebasan kehendak mau mengatakan bahwa memang manusia dapat diyakinkan, dinasihati untuk memilih sesuatu tetapi manusia tidak pernah bisa dipaksakan. Dalam tindakan bebasku, aku memberikan persetujuan akan ketertarikan tertentu karena akal budi menyetujui, aku mengikuti apa yang aku anggap benar, baik dan layak  kupilih. Kebenaran dan kebaikan menjadi pedoman akal budi untuk memilih dan mengafirmasinya. Kebebasan yang seperti ini disebut Kant sebagai kebebasan positif yaitu menjadi bebas untuk.., terbuka untuk…, diri yang terbuka untuk… Misalnya, dalam usahaku menjadi politisi, aku membuka diri terhadap segala sesuatunya yang berkaitan dengan politik untuk menjadi politisi. Untuk itu, aku berelasi dengan para politisi yang aktif maupun emeritus, membaca buku politik, mengambil kuliah jurusan politik. Semuanya ini karena kehendakku untuk menjadi politisi. Akal budiku memilih cara dan bagaimana untuk menjadi politisi. Karena akal budi dan kehendakku terkonsentrasi di dalam politik, maka terjadi causalitasku. Dalam penentuan diriku yang bebas ini melalui kehendak dan akal budiku, aku mengalami diriku sebagai sumber dan penentu aktivitasku dan aku bertanggung jawab atas hasilnya. Tindakanku hanya dapat dirunut sampai pada aku yang menentukan tindakanku dan membentuk dan menentukan siapakah aku. Fakta ini menunjukkan adanya otonomi. Otonomi itu terbentuk karena adanya kriteria penentuan diri dalam memilih sikap konkret tertentu seperti contoh menjadi politisi. Sudah tentu bahwa otonomi itu sendiri adalah kebebasan artinya kebebasan menjadi prinsip tindakan itu sendiri. Otonomi berfungsi untuk bertindak yang sesuai dengan kerinduan kodrat yaitu untuk kebenaran, kebaikan dan kebahagiaan. Dengan otonomi atau kemandirian, kebebasan menurut Susan Wolf memiliki tiga makna: yang pertama kemampuan untuk bertindak sesuai dengan dictates reason, yang kedua kebebasan untuk bertindak sesuatu dengan nilai-nilai yang dianut maupun menurut kesejatian diri, yang ketiga kemampuan untuk bertindak menurut nilai -nilai universal  seperti kebenaran dan kebaikan, keindahan atau yang diajarkan oleh agama, etika.

Yang ketiga, kebebasan manusia konkret dan tersadari ketika ia memilih seperti yang telah dijelaskan pada penentuan diri. Manusia itu bebas dalam memilih. Apapun pilihannya yang diambil pasti mengandung nilai. Dengan adanya nilai yang dipilih menunjukkan adanya kebebasan dan kesadaran akan kebebasan. Tetapi kebebasan itu sendiri bukanlah nilai melainkan ranah untuk nilai-nilai yang hendak diambil, dipilih maupun diinternalisasi. Kebebasan  memungkinkan dan membiarkan seseorang untuk menciptakan dan menghargai, mengejar nilai-nilai yang dipilihnya. Jadi dengan adanya pilihan, kebebasan tidak dapat disangkal tetapi juga tidak dapat ditelusuri asal-usulnya sehingga kebebasan itu nyata tetapi di dalam bentuk yang abstrak. Bahkan ketika ia tidak memilih pun, ia sendiri sedang menggunakan kebebasannya. Tindakan yang bebas memiliki satu karakter khusus yang mencerminkan sesungguhnya kebebasan yaitu lahir dari interioritasku, lahir dari pergerakan otonomi rohku, dari keputusan yang mana aku membuatnya sendiri. Tindakan yang lahir dari kebebasan tak lain adalah refleksi dan keputusan[4]. Dua tindakan ini jelas tidak bisa menafikan tanggung jawab.

 

 

Kebebasan dan tanggung jawab

Kebebasan definitif melahirkan tanggung jawab. Tanggung jawab melekat dan ada pada diriku jika tindakanku tergantung pada aku; jika aku yang memprakasai tindakanku; jika aku memegang inisiatif di permulaan tindakanku: jika aku bebas. Untuk semakin memahaminya, mari kita lihat contoh berikut ini:

Aku adalah seorang dokter dan rumahku berada di luar kota. Pada suatu malam ada telepon dari rumah sakit bahwa pasien yang kutangani kritis. Aku pun harus pergi ke rumah sakit sekarang. Ada dua jalan untuk pergi ke rumah sakit. Jalan pertama untuk sampai ke rumah sakit memerlukan waktu yang lebih singkat tetapi berbahaya karena masih penuh bebatuan, belum ada lampu dan banyak lubang. Sementara jalan yang kedua lebih lama untuk sampai ke rumah sakit tetapi jalan ini aman, bagus. Dengan pertimbanganku, maka aku memilih jalan kedua dan aku tahu bahwa waktunya lebih panjang untuk sampai di rumah sakit dengan resiko pasien meninggal. Setelah tiba di rumah sakit, ternyata pasienku meninggal.

Sebenarnya apa pun pilihan sang dokter baik memilih jalan pertama ataupun jalan kedua menunjukkan kebebasannya karena ada pertimbangan, pengetahuan, dan konsekuensi hasil pilihannya. Tentu tindakan dokter ini berbeda misalnya ketika seseorang bertabrakan dengan orang yang tubuhnya lebih besar sehingga membuatnya jatuh. Perbedaannya terletak dalam hal memilih sementara dia bertabrakan dengan orang yang lebih besar sehingga dia jatuh bukanlah suatu kebebasan karena jatuh disebabkan oleh suatu natura. Dalam aku yang bebas memilih sudah terkandung tanggung jawab karena aku yang memegang kendali atas pilihanku berdasarkan pengetahuan, kesadaran dan konsekuensinya. Dengan demikan kebebasanlah yang memungkinkan manusia mengaktualkan tindakan-tindakannya yang memiliki kualitas khas manusiawi seperti berelasi, mencintai, berpikir dan karena khas manusiawi sekali lagi kebebasan dapat dipertanggung-jawabkan. Sebaliknya jika seseorang tidak bebas, maka ia tidak bertanggung jawab akan tindakannya. Misalnya seseorang dipaksa menembak untuk membunuh temannya, maka ia tidak bisa disebut sebagai seorang pembunuh. Dalam kasus dokter di atas, si dokter juga tidak bertanggung jawab atas kematian pasiennya. Memang dia bertanggung jawab atas pilihannya mengambil jalan tetapi dia tidak bertanggung jawab atas kematian pasien karena pilihannya mengambil jalan yang lebih lama bukanlah penyebab kematian pasiennya.

Kebebasan yang bertanggung jawab mengukir esensi kepribadian manusia, esensi dari kemanusiaan manusia. Sebabnya, kebebasan yang bertanggung jawab membuktikan bahwa manusia adalah makhluk rasional tetapi juga bahwa dia adalah suatu ada yang mampu untuk berakuntabilitas. Rasionalitas dan akuntabilitas yang mewarnai karakter kebebasan manusia meninggikan manusia di atas ciptaan lain, yang membedakan manusia dengan makhuk lain. Tetapi kecermalangan manusia di dalam kebebasannya justru memilik peran untuk melindungi, menjaga, merawat, memelihara dan mencintai ciptaan lain yang ada di bawahnya. Kebebasannya bukan untuk menyiksa, menghancurkan maupun mengeksploitasi ciptaan lain. Maka, kebebasan yang bertanggung jawab adalah kebebasan untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, ciptaan lain, dunia, lingkungan sekaligus yang mengembangkan diri kita. Itu berarti kebebasan yang bertanggung jawab menyisipkan pula kemampuan untuk mendominasi dan mengambil dan memilih kebaikan di atas kecenderungan-kecenderungan negatif.

Kebebasan dan tanggung jawab mengukir identitas manusia: kebenaran. Tanggung jawab yang melekat pada kebebasan manusia mengantar kebebasan kepada kebenaran. Sebab, kebebasan bertanggung jawab merupakan kapasitas yang dimiliki manusia yang mengarahkan diri secara otomatis dan menetapkan orientasi menuju kepada kebenaran. Aku melakukan kebaikan karena aku menginginkannya sekaligus bertanggung jawab karena ada kebenaran dan bukan melakukan apa yang kuinginkan berdasarkan melulu kesenanganku, naluriku dan menolak tanggung jawabku. Berkehendak  untuk menjadi bebas dan memiliki keberanian untuk bebas menyertakan pula tanggung jawab.

Kebebasan dan kebenaran

Dalam metafisika, kebenaran sama dengan realitas (baca: ada) sehingga kebenaran adalah ada. Ada-kebenaran membangun ada sedemikian rupa karena kebenaran adalah aspek transendental ada sehingga ada dan kebenaran adalah hal yang sama. Kebenaran berarti penyingkapan ada atau ketidaktersembunyian ada.  Kebebasan itu sendiri menyoal dan berkaitan dengan ada bahkan Heiddeger menyatakan bahwa kebebasan sebenarnya pertanyaan tentang ada. Sebabnya, ada itu sendiri dan aspek-aspek transendentalnya yang memungkinkan manusia berbicara dan merefleksikan kebebasan.

Karena ada itu sendiri adalah kebenaran maka kebebasan tidak mungkin dilucuti dari kebenaran. Tidak ada kebebasan tanpa kebenaran karena kebenaran menyempurnakan kebebasan dan kebenaran adalah kondisi untuk kebebasan yang sejati. Pandangan yang menafikan hubungan kebenaran dengan kebebasan merupakan pandangan keliru, pemikiran yang tidak mengerti metafisika yang merupakan eksistensi kebebasan sehingga kebebasan yang demikian adalah kebebasan rapuh, imajiner karena kebebasan melupakan kebenaran sebagai elemen konstitutif ada. Bagaimana mungkin kebebasan menyangkal eksistensi yang mana dia tumbuh dan mengada, ibarat pohon yang mengingkari tanah tempat mana ia berkembang.

Menurut Kant, kebebasan diungkapkan oleh hukum moral. Menarik bahwa menurut Kant hukum moral sendiri adalah ratio cognoscendi kebebasan karena dengan bertindak sesuai dengan hukum moral orang mengetahui bahwa dia memiliki kebebasan. Di sini, Kant merujuk pada aktualisasi dan konkretisasi kebebasan sehingga hukum moral sebagai ratio cognoscendi kebebasan menunjukkan bahwa kebebasan dapat diketahui dan dirasakan melalui akal budi praktis. Dan prinsip akal budi praktis menyatakan kewajiban untuk melakukan yang baik dan menolak yang jahat. Orang yang mengikuti prinsip akal budi praktis ini berarti ia mengalami kebebasan praktis. Pengalaman kebabasan praktis merupakan pengalaman manusia sebagai yang manusiawi karena adanya tindakan, aksi dari hasil memilih entah itu memilih yang baik ataupun memilih yang jahat. Tetapi menurut Kant hukum moral juga merupakan ratio essendi kebebasan karena moral mengandaikan kebebasan. Moral dapat direfleksikan dan ditemukan karena adanya kebebasan. Di sini Kant hendak menyatakan kondisi kebebasan. Artinya kebebasan itu sendiri adalah kondisi dari manifestasi ada dari yang ada, perwujudan dari pemahaman ada[5]. Hukum moral menciptakan pengalaman moral sehingga pengalaman moral itu sendiri merupakan kebebasan karena tindakan yang manusiawi dan bermoral tidak dapat dipikirkan maupun direfleksikan tanpa adanya kebebasan.

Jelas bahwa hukum moral sebagai baik ratio cognoscendi dan ratio essendi kebebasan merupakan produk dari akal budi. Akal budi selalu identik dengan kebenaran karena dengan akal budi manusia tahu mana benar mana yang baik dan mana yang keliru dalam tataran kognitif. Tetapi juga bahwa yang diberikan dan ditetapkan oleh hukum moral selalu hal yang baik dan yang benar. Maka kebebasan terkait dengan akal budi. Hukum moral sebagai cetusan akal budi memberi kebebasan kepada kita untuk mentaati atau melanggarnya. Mengikuti hukum moral membawa diri kepada kebebasan yang sejati karena natura hukum moral menghasilkan kebaikan dan kebenaran yang bersesuaian dengan kebenaran dan kebaikan segala yang ada. Pilihan dan keputusan yang bertentangan dengan hukum moral justru mendegradasikan dan mengkeroposkan kebebasan. Sebabnya, hukum moral dimaksudkan menjaga keagungan kebebasan manusia. Jadi kebebasan dan hukum moral bermuara pada tujuan yang sama.

Hukum moral bergema di dalam suara hati. Suara hati adalah tindakan akal budi yang selaras dengan norma-norma obyektif dan prinsip hukum moral. Kebebasan yang benar didasarkan pada suara hati yang benar. Kebebasan suara hati diteguhkan dengan kesesuaiannya pada kebenaran. Dalam tindakan praktis maupun pengalaman praktis, suara hati memiliki hak ataupun andil kepada kebebasan karena suara hati memiliki tugas dan kewajibannya yaitu membisikkan dan mengingatkan akan hukum moral itu. Jadi, suara hati memiliki kekuatan yang mengikat bagi setiap orang. Memungkiri ataupun menolak suara hati menyebabkan kericuhan diri. Sebaliknya dengan menyelaraskan kepada suara hati, kebebasan mengikatkan kepada kebenaran. Kita bebas melalukan apa saja secara moral yang tidak melawan suara hati. Kebebasan suara hati bukanlah kebebasan yang memisahkan dirinya dari kebenaran tetapi kebebasan suara hati selalu menyertakan kebenaran[6].

Supaya dapat memiliki suara hati yang benar dibutuhkanlah moralitas. Konsekuensinya moralitas semakin membebaskan dan membawa kebebasan sekaligus menciptakan kebebasan yang bertanggung jawab. Di sini pertobatan menjadi relevan karena pertobatan membawa diri untuk mengubah orientasi tujuan hidup dan memperbaiki sejarah sehingga mengubah dan membiarkan diri mengambil arah, pola baru dalam koridor moral. Memang suara hati dan moralitas saling terkait satu sama lainnya, keduanya memiliki direksi yang timbal-balik.

Kebenaran mensyaratkan komitmen pada dirinya karena apa yang diberikan oleh kebenaran tak lain adalah kebenaran, kebaikan, keindahan bahkan cinta kasih. Oleh karena itu, dalam kebenaran, kebebasan mencerahkan dan mengoptimiskan ruang dan waktu karena adanya harapan dan aktualitas akan kebenaran, kebaikan dan cinta kasih. Dalam kebebasan, jika aku memiliki komitmen untuk mengatur dan membawa diri kepada kebenaran maka aku akan menemukan kebenaran itu sendiri.  Apa   yang aku komitmenkan demi dan untuk kebenaran sebenarnya adalah cinta dan cinta adalah komitmen kepada kebenaran. Kebebasan yang demikian disebut kebebasan yang  benar.

Di era modernitas banyak orang menghidupi kebebasan dalam ukuran pragmatis akan kenikmatan, kekayaan dan kekuasaan. Krisis kehidupan pun semakin menajam karena fondasi kebebasan ditebas.  Krisis kebebasan sekarang ini berakar krisis akan kebenaran ataupun krisis pada metafisika itu sendiri. Orang yang tidak menghidupi dan mendasarkan kebenaran, kebebasannya pun akan kehilangan keutuhannya. Buktinya, semakin banyak tuntutan demi kebebasan tetapi moral semakin rendah; kemudahan semakin menguat tetapi rasa kemanusiaan semakin tipis; kenikmatan semakin merajalela tetapi kententraman hati semakin berkurang dan kegundahan semakin pekat. Jadi dunia yang tanpa kebenaran membuat kebebasan kehilangan fondasinya dan manusia sendiri menjadi korban kekerasan dan manipulasi baik secara terbuka maupun tersembunyi.

Kebebasan dan Tuhan

Eksistensi manusia memiliki tujuan yang utama sekaligus yang akhir yaitu Tuhan. Mengapa? Karena dalam konteks iman, manusia diciptakan untuk memuji, memuliakan, mengagungkan Tuhan sendiri. Lalu apa hubungannya dengan kebebasan? Bagaimanakah peran Tuhan dalam kebebasan manusia?

Banyak orang beranggapan bahwa kebebasan adalah tujuan akhir manusia. Sejatinya kebebasan bukan tujuan akhir ataupun tujuan utama manusia tetapi hanyalah sarana untuk mencapai tujuan akhir tersebut maupun hanyalah cara manusia bagaimana untuk memuji, dan memuliakan Tuhan sendiri. Manusia dianugerahi kebebasan oleh-Nya agar hidupnya dapat memenuhi tujuan tersebut. Bahkan, demi tujuan ini Tuhan juga tidak berdiam diri malahan membantu manusia agar mereka dapat memenuhi kerinduannya yang paling dalam. Dari pihak Tuhan, cara Tuhan memikat agar manusia sampai pada diri-Nya adalah lewat keterpesonaan yaitu misterium tremendum et fascinosum. Mysterium tremendum dan fascinosum  bukan sekedar terpersona melulu yang kosong tetapi sesuatu keterpersonaan yang benar dan baik yang dipilih oleh akal budi dan dikehendaki manusia sendiri karena kodratnya sehingga mendorong manusia untuk mencintai dan merindukan apa yang benar dan baik yang tak lain adalah Tuhan. Tuhan dengan kebebasan-Nya memberikan rahmat-Nya yaitu kebebasan kepada manusia karena cinta-Nya.  Tuhan berkehendak untuk meninggalkan manusia di tangan nasihat mereka sendiri sehingga mereka dapat mencari Pencipta-Nya atas kemauan mereka sendiri dan  dengan bebas mencapai kesempurnaan penuh dan bahagia dengan bersatu dengan Tuhan[7].

Sayangnya, manusia dengan kebebasannya pula menolak Tuhan ketika ia memilih berdosa dan sejak itu pula kebebasan manusia menjadi budak bagi dirinya sendiri. Sejak Adam memilih berdosa, sejak itu pula manusia selalu punya kehendak untuk memberontak kepada Tuhan sehingga kebebasan manusia terbenam di dalam keamburadulan. Tetapi, Tuhan kembali tidak berdiam diri. Melalui Yesus kristus -Putra-Nya-, Dia menyembuhkan kehendak manusia yang selalu berontak (akibat dosa asal) dan mengembalikan, mengarahkan kembali kehendak manusia kepada kehendak-Nya. Bahkan, berkat karya penyelamatan Yesus Kristus, manusia dibebaskan dari kuasa dosa dan dianugerahi kemampuan untuk menghendaki dan melakukan apa yang telah dikerjakan dan diberikan Tuhan bagi manusia. Seiring dengan keterahan kehendak manusia kepada kehendak Tuhan sendiri, kebebasan manusia pun kembali menemukan bentuknya yang paling sesuai dengan kodratnya yaitu mencari cinta Tuhan. Dengan kebebasan ia mencari Tuhan dan merasakan cinta Tuhan karena akal budi dan kehendak telah mengetahui dan merasakan betapa Tuhan itu mencintai segala ciptaan terutama manusia ciptaan yang paling sesuai dengan rupa dan gambar-Nya. Hal ini mau mengatakan bahwa kebebasan dimaknai dan dilihat dari peristiwa sejarah keselamatan. Dari fakta sejarah keselamatan terungkaplah pola ataupun alur kebebasan: ternyata kebebasan manusia itu selalu terarah dan menuju kepada Tuhan. Kebebasan manusia bukanlah kebebasan yang acak, ambigu, tetapi mempunyai karakter, tujuan dan arah kepada Tuhan. Kebebasan yang terarah, tertuju dan terpola kepada Tuhan mencakup rasio, kehendak, perilaku manusia. Rasio selalu mengarahkan kepada kebenaran, kehendaknya terdorong menuju kepada cinta dan tindakan dan perilaku terpola kepada keutamaan. Kebenaran, cinta dan keutamaan merupakan dorongan, arah, pola, tujuan kebebasan kepada Tuhan. Maka, ketika manusia selalu terarah dan mencari-Nya, Tuhan menyempurnakan kebebasannya dalam kebenaran, cinta dan keutamaan. Jadi di dalam Tuhan dan kepada Tuhanlah kebebasan manusia menjadi sempurna sekaligus membebaskan manusia dari kebebasan yang semu dan palsu.

Persoalannya, apakah dengan kebebasan manusia itu terbatas, terkungkung? Sartre mengatakan bahwa Tuhan selalu mengawasi manusia sehingga seolah-olah Tuhan mengintip dari balik lubang pintu dan akibatnya manusia tidak mempunyai kebebasan. Benarkah? Tidak. Malahan sebaliknya. Karena kebebasan manusia terarah kepada Tuhan, maka kebebasan manusia semakin besar dan bertambah; Makin percaya kepada Tuhan, manusia hidup semakin bebas sebagai makhluk ciptaannya. Semakin manusia mencari Tuhan dengan kebebasannya, semakin manusia itu bebas dan semakin ia menemukan dirinya yang sejati karena diri manusia yang sejati adalah gambar dan rupa Tuhan sendiri.  Dan justru ketika manusia semakin mengenal dirinya dan mencintai  dirinya sebagai gambar dan rupa Tuhan, di situ pula kebebasan manusia semakin ilahi.  Kata St. Gregorius Nazianze : “Jika kamu ingin mengenal Tuhan, kenallah dirimu sebelumnya. Sebab karena keberadaan dirimu, karena sesuatu yang ada di dalam dirimu, engkau akan mengenal Tuhan. Masuklah ke dalam dirimu, lihatlah jiwamu seperti sebuah cermin, amatilah strukturnya dan engkau akan melihat bahwa dirimu seperti gambar dan rupa Tuhan”. Dengan demikian kodrat manusia sebagai gambar dan rupa Tuhan mematri kebebasannya untuk kembali kepada Tuhan. Kebebasan  yang menatap dan berjalan di dalam cinta Tuhan merupakan tanda mulia dari gambar Tuhan dalam diri manusia.

Kebebasan Tuhan dan kebebasan manusia berjalan bersama dan tidak saling meniadakan. Dari pihak Tuhan kebebasan-Nya dapat dilihat dari kasih itu sendiri. Kasih itu dimulai ketika Tuhan telah memilih untuk mewahyukan dengan mengikatkan kepada kebebasan manusia, memberi kebebasan pada manusia dan menghormatinya. Bahkan ketika manusia menolak Tuhan dan menyalibkan putra-Nya, Tuhan tetap setia pada pilihan-Nya untuk tidak memakai jalan lain selain jalan kasih itu sendiri. Demi menghormati kebebasan manusia, kekuasaan Tuhan justru berwujud di dalam kesadaran untuk menjadi tidak berdaya yang memuncak pada salib. Salib-Nya adalah kebebasan yang paling sempurna dalam kasih-Nya. Rencana Tuhan untuk keselamatan manusia sebenarnya juga tergantung kepada keputusan bebas manusia. Tanpa adanya kemauan menanggapi dan kehendak Tuhan tersebut tentu Tuhan pun tidak berdaya. Di sini nampaknya Tuhan ditentukan oleh kebebasan manusia tetapi sejatinya ketidakberdayaan Tuhan bukanlah suatu kekurangan, kelemahan melainkan ungkapan dan konsekuensi dari kasih-Nya. Kasih-Nya adalah sebuah peristiwa kebebasan[8]. Tuhan adalah kasih maka Tuhan adalah sebuah kebebasan.

Lalu bagaimana manusia dengan kebebasannya menolak Tuhan, menolak untuk mencintai Tuhan? Tuhan tetap tidak memaksa dan Tuhan memberi kebebasan bagi manusia untuk menolak atau mencintai. Tetapi tetap ada konsekuensi bagi manusia yang menolak Tuhan. Dengan menolak Tuhan, mereka menghancurkan kebebasan yang dirahmatkan kepadanya. Dia menolak dirinya sendiri. Dengan menolak Tuhan pula, manusia justru menghambakan diri kepada nafsu. Tampaknya di sini ada ketergantungan manusia kepada Tuhan. Ya memang. Apakah mungkin manusia mengingkari kesejatian dirinya yang tak lain adalah gambar dan rupa Tuhan sendiri? Lalu mengapa manusia memilih kejahatan ataupun sesuatu yang membawa mereka kepada malapetaka? Itulah misteri manusia walaupun dengan akal budinya ia tahu bahwa pilihannya membawa kesengsaraan. Hati manusia memang menyimpan berbagai misteri.

Paulus dalam suratnya kepada Galatia 5: 13-15 menulis: “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih”. Surat Paulus ini menyingkapkan kebebasan orang Kristiani dalam kasih. Sudah sejak semula, Tuhan memanggil kita di dalam dan untuk kebebasan yaitu kebebasan di dalam cinta kasih yang adalah mewujudkan kebebasan sebagai putra-putri Tuhan. Memang sempat kabur dan hilang ketika Adam memilih dosa tetapi melalui peristiwa keselamatan oleh Kristus, kebebasan menemukan kembali bentuknya di dalam Kristus yaitu kebebasan sebagai putra-putri-Nya. Inilah kabar gembira bahwa kebebasan natural yang dulu tercemar sekarang telah dilengkapi dan disempurnakan dengan kasih. Kasih memberikan semua kemungkinan kepada manusia untuk mengaktualkan kasih secara kreatif dalam menanggapi sapaan dan panggilan Tuhan.  Dalam kasih, kebebasan putra-putri Tuhan selalu bisa menguasai diri dan memperkembangkan dirinya dan mengaktualkan keutamaan-keutamaan. Terlebih kebebasan putra-putri Tuhan ada dan nyata di dalam pelayanannya kepada sesama. Pelayanan menjadi tanda kelihatan dan tanda yang hidup dari kebebasan putra-putri Tuhan. Dengan pelayanan, kasih memeristiwa kebebasan. Ruang dan waktu diisi dengan aksi melayani, realitas dimengerti dan diwarnai dengan kasih, dalam terang kasih.

Orang yang melayani sesama dengan kasih berarti ia keluar dari dekapan dan penjara aku yang cenderung cinta diri yang narcistik. Dengan melayani, ia menyangkal diri dan mengorbankan diri entah itu kehendak, waktu, keinginan sekaligus memberikan diri kepada sesama. Cinta natural manusia pada dirinya sendiri diatasi dengan melayani dan kasih sehingga ia menemukan kebebasan anak Allah. Dengan melayani, kasih memiliki waktu dan ruangnya sendiri. Waktu dan ruang bukan sekedar waktu dan ruang melulu melainkan di dalam kasih, kita memiliki waktu dan ruang bersama orang lain dan Allah.

 Maka, waktu dan ruang yang diisi pelayanan membawa diri kepada kehidupan dan realitas ilahi. Kehidupan ada karena ruang dan waktu dipenuhi keberlimpahan makna lewat pelayanan. Kayanya makna disebabkan di dalam pelayanan akan kasih, Tuhan hadir dan mengidentikasikan diri-Nya dengan sesama. Kita ditinggikan sampai kepada realitas ilahi. Kasih membawa kebebasan, kasih memerdekakan dan kasih menstransfigurasi kebebasan. Dengan membenamkan kepada kasih, kebebasan membenamkan pada kebenaran roh Tuhan. Kebebasan yang terjadi adalah kebebasan roh manusia di dalam roh Tuhan. Roh Tuhan telah turun atas diri putra-putri-Nnya yang hidup di dalam kasih. Roh Tuhan  yang bernafas di dalam diri putra-putri-Nya memampukan mereka untuk berdoa, melakukan kebaikan dan cinta kasih dan melayani.

Kebebasan di dalam roh Tuhan menunjukkan pula semakin melekatnya diri kepada hukum cinta kasih yaitu semakin radikal dalam mencintai sesama dan ciptaan, semakin radikal dalam melayani, semakin radikal dalam berserah diri dan dalam mengandalkan Tuhan. Kebebasan dalam kasih membawa sukacita kepada diri, sesama, segala yang ada, dunia bahkan Tuhan sendiri.

 

 

 

Kesimpulan

Kebebasan bertolak ukur pada metafisika. Di dalam metafisika kebebasan memiliki karakter kebenaran, kebaikan dan keindahan yang mana karakter-karakter tersebut merupakan aspek transcendental ada. Lalu dapat dipertanyakan lagi apakah kebebasan bertentangan dengan causalitas? Kebebasan manusia tidak bertentangan dengan prinsip causalitas metafisika. Peneguhan ini tidak serta mengatakan bahwa segala tindakan bebas bukanlah tidak mempunyai causalitas, tetapi sungguh berasal dari suatu causa yang istimewa yaitu bahwa dari permulaan akulah yang menjadi inisiator tindakanku. Aku sebagai inisiator tindakanku hendak mengatakan bahwa kebebasan bukanlah menyoal mengakui kebebasan tetapi kebebasan itu menyoal adalah: yang aku lakukan adalah menghidupi kebebasan[9]. Maka, jika memang kebebasan itu bertentangan dengan causalitas itu berarti kebebasan tidak selaras dengan causalitas. Ada masalah dengan kebebasan karena metafisika dan causalitasnya tak pernah bertentangan dengan kebebasan. Kebebasan berakar pada causalitas dan bukan sebaliknya karena kebebasan memiliki eksitensinya dalam metafisika. Kebebasan bukanlah dasar untuk metafisika tetapi justru metafisika itulah tanah kebebasan. Metafisika dan causalitasnya merupakan prima facie untuk kebebasan. Dengan mendasarkan pada metafisika jelas tidak ada kebebasan yang sebebas-bebasnya tetapi kebebasan harus membawa pola kepada realitas metafisika yaitu sebagai yang benar, yang baik, yang utuh dan yang indah.

Kebebasan mengukir kesempurnaan eksistensi manusia karena dengan kebebasan manusia dapat memenuhi dirinya sehingga membawa kepada kebahagiaan yang penuh yaitu persatuannya dengan Tuhan. Dengan demikian kebebasan adalah anugerah Tuhan dan tak mungkin menolak rahmat itu maupun berpaling dari rahmat itu. Tuhan menganugerahkan kita kebebasan, kebebasan yang benar, kebebasan untuk memilih dan menentukan pilihan kita sehingga mengukir jalan kita sendiri. Artinya, TUhan memanggil setiap orang untuk membuat keputusuan-keputusan yang kreatif dalam usahanya menentukan diri maupun untuk mengekspresikan diri agar menjadi manusia yang utuh dan bertumbuh. Tetapi, keputusan-keputusan kreatif selalu bergema dan bersinergi dengan hukum moral ataupun menggunakan rahmat kebebasan dengan benar dan sesuai suara hatinya untuk memuji dan memuliakan nama-Nya. Tuhan begitu menghargai kebebasan manusia. Memang TUhan mencipta manusia namun bukan berarti Tuhan mendeterminasi manusia. Penciptaan tidak berarti determinasi yang mengabaikan penentuan diri (Habermas). Keselamatan Tuhan dalam Kristus pun tidak menghapus rahmat kebebasan itu. Dengan menganugerahkan kebebasan dan menghormatinya, Tuhan sendiri mengambil resiko bahwa dengan kebebasannya manusia dapat menolak diri-Nya. Bahkan Dia sendiri pula yang menanggung resiko pahit dari tindakan bebas manusia yang telah menyalibkan Yesus Putra-Nya[10]. Upah harus dibayar oleh Allah atas kebebasan manusia yang menolak dia adalah ungkapan kasih dan konsekuensi kasih-Nya sekaligus menjadikan kasih-Nya suatu kenyataan yang mengagumkan yang melampaui segala yang ada. Kesempurnaan ungkapan kasih-Nya ada pada kematian Yesus Putra Allah itu. Kematian Yesus membuktikan peristiwa kasih sebagai kebebasan Allah yang begitu mencintai manusia sampai ia memberikan putra-Nya sendiri. Peristiwa kasih Allah ini mau mengatakan bahwa Kasih yang lebih besar daripadanya tidak dapat dipikirkan, artinya tidak ada yang lebih sempurna dari kasih itu sendiri: ia yang paling kuat dan yang paling kaya tetapi begitu menghormati yang lebih kecil dari dirinya, ia membiarkan diri menjadi begitu tak berdaya, menanggung segala konsekuensi dan membayar segala upah dari yang lebih kecil daripadanya, semakin besar dan semakin berlimpah pula kasih itu ketika kejahatan berlimpah pula, Kasih yang kaya menjadi miskin supaya yang kecil menjadi kaya karena kemiskinannya. Kasih hanya dapat diberikan di dalam kebebasan.

Kita ditakdirkan untuk bertindak di dalam kebebasan tetapi di sisi lain kebebasan juga bisa berbahaya dan menjadi kutukan bagi kita dan dunia sekitarnya pada saat kita memilih kejahatan dengan kebebasan kita. Mungkin kesalahan Allah ialah menganugerahkan kebebasan kepada kita. Dan kita yang dengan kebebasan memilih kejahatan adalah manusia yang tidak mengenal dirinya sendiri, tidak mengenal kalau dirinya adalah gambar dan rupa Allah, kalau dirinya putra-dan putri Allah; kalau kita memiliki tugas mencintai segala yang ada dan membuat kehidupan lebih baik dengan kebebasan kita .

Daftar Pustaka

Dulles, Avery. John Paul II and The Truth About Freedom

Guardini, Romano. 2000 Etica. Madrid: Biblioteca de Autores Cristianos.

Heiddeger, Martin. 2002 The Essence of Human Freedom (trans Ted Sadler). London: Continuum

Sunarko, Adrianus. “Allah Berharap Pada Manusia: Teologi Dengan Pandangan Kebebasan”. Jurnal Parahyangan. Melintas. Vol. 32, no. 2: 171- 192

[1] Pröpper, Theologische Antropologie (Freiburg im Breisgau: Herder Verlag, 2011), hal 501 dikutip dari   Adrianus Sunarko. “Allah Berharap Pada Manusia: Teologi Dengan Pandangan Kebebasan”. Jurnal Parahyangan. Melintas. Vol. 32, no. 2: hal 174

[2] Ibid. hal 504, dikutip dari Adrianus sunarko, ibid, hal 176

[3] Martin Heiddeger. 2002 The Essence of Human Freedom (trans Ted Sadler). London: Continuum , hal189

[4] Romano Guardini. 2000 Etica. Madrid: Biblioteca de Autores Cristianos. Hal 120

[5]  Martin Heiddeger, op.cit, hal 205

[6] Veritatis Splendor, no 64

[7] Gaudium et Spes 17

[8] Bdk Propper, op.cit, hal 494 dikutip dari Adrianus Sunarko, ibid. Hal 182

[9] Romano Guardini, op,cit, hal 118

[10] Pröpper,Erlösungsglaube und Freiheitsgeschichte. Eine Skizze zur Soteriologie (München: Kösel Verlag) 1991 hal 178-179 dikutip dari Adrianus Sunarko, Ibid. 187

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply