Keadilan Tuhan

 Lukisan Edouard Manet, Monet In His Studio Boat, 1874

Matius 20: 1-16

Keadilan memang buta tetapi bisa melihat di dalam kegelapan

Konon Abunawas menemukan timbangan yang aneh. Timbangan itu sebenarnya milik kafilah yang datang ke kota Baghdad dan kemudian tertinggal. Lantas ditemukan dan diambil oleh Abunawas. Setiap kali pergi ke pasar Baghdad untuk menjual buah kurma Abunawas membawa timbangan itu. Timbangan itu selalu menunjukkan angka yang tepat. Tidak ada yang salah. Tetapi kadang-kadang pembeli setelah sampai di rumah ternyata menerima jumlah yang lebih. Padahal Abunawas memberikan berat tepat sesuai yang tertera di timbangan tersebut dan tidak pernah ada maksud untuk memberi lebih dan juga tidak ada kerugian sama sekali bagi orang-orang yang membeli kurma miliknya. Pada suatu hari, ada seorang kaya membeli kurma seberat 1 kilo ternyata sampai di rumah ia mendapat 2 kilo. Ada seorang ibu miskin datang membeli 1 ons kurma tetapi setelah sampai di rumah tetap mendapat 1 ons. Keanehan ini sering kali terjadi. Kiranya timbangan itu memilih-milih siapa yang mendapat bonus. Berita ini tersebar sampai ke seluruh Baghdad. Ada yang protes kepada timbangan yang aneh ini bahwa bagaimana mungkin si kaya mendapat bonus padahal seharusnya si miskin yang mendapat bonus. Tanpa banyak yang tahu, ternyata kelebihan buah kurma yang dibeli oleh saudagar kaya itu diberikan kepada mereka yang miskin di pinggiran kota Baghdad. Karena timbangan ini sangat aneh, maka seluruh Baghdad setuju untuk menghancurkannya dengan alasan timbangan ini seharusnya membawa keadilan bukan ketidakadilan karena hanya memberikan bonus kepada mereka yang kaya. Sebelum dihancurkan, timbangan aneh itu berbunyi: matamu terlalu jahat dan sempit untuk melihat dan merasakan keadilan.

Kita mendengar dan menerima firman tentang perumpamaan pekerja-pekerja di kebun anggur. Kalau melihat alurnya, perumpamaan pekerja di kebun anggur memiliki puncak cerita pada percakapan antara pemilik kebun anggur dan pekerja tentang pembagian upah. Pekerja yang terakhir menerima upah yang sama dengan pekerja yang dahulu. Pekerja yang terdahulu protes terhadap pemilik kebun bahwa mereka bekerja lebih lama tetapi menerima upah yang sama dengan pekerja yang terakhir. Lalu teks ini bisa dengan mudah menjebak kita pada pandangan dan prasangka bahwa pemilik kebun anggur itu tidak adil. Benarkah demikian? Kalau kita membaca dengan seksama tuan pemilik kebun anggur tidak berbuat kecurangan bahkan pemilik kebun tetap berlaku adil. Sudah ada kesepakatan antara pekerja yang pertama dan pemilik kebun anggur. Pemilik kebun anggur membayar sesuai dengan kesepakatan itu. Sementara pekerja yang terakhir mendapatkan upah yang sama karena kehendak dan kemurahan si pemilik kebun anggur. Apa yang bisa dikatakan tentang perumpamaan ini?

Perumpamaan ini mau mengatakan bahwa keadilan Tuhan jelas berbeda dengan keadilan manusia karena jalan Tuhan bukanlah jalan manusia; keadilan Tuhan bukanlah keadilan manusia. Keadilan Tuhan  tidak bisa dibatasi pada pemikiran manusia yang menganggap keadilan seperti soal matematika, yang menilai keadilan sebagai hal yang sepadan dan setara. Keadilan Tuhan tidaklah demikian. Keadilan Tuhan memiliki dan mengandung kemurahan hati dan kebaikan yang tidak bisa dipahami dengan otak manusia tetapi hanya bisa dirasakan dan diimani. Dengan demikian keadilan Tuhan berkarya jauh melampaui soal keadilan yang ada dalam benak manusia.

Keadilan Tuhan memuat misteri kemurahan hati-Nya: keadilan Tuhan memaafkan hutang yang tak terbayar dan memberikan hal yang berlimpah-limpah. Jika keadilan Tuhan itu dibatasi hanya pada seperti keadilan manusia, seperti yang kita pikirkan, maka kita sendiri tidak akan pernah merasakan kemurahan hati Tuhan yang berlimpah-limpah. Menggerutu akan kemurahan hati Tuhan yang diberikan kepada sesama bahkan musuh kita sama dengan mencabut diri sendiri dari kemurahan Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Lantas mata kita menjadi mata yang jahat, mata yang mendengki dan hati yang mengutuki sesama terus-menerus bahkan selalu protes kepada Tuhan. Keadaan yang demikian menunjuk kepada suatu kenyataan bahwa benarlah apa yang dikatakan oleh timbangan Abunawas itu: matamu terlalu jahat dan sempit untuk melihat dan merasakan keadilan Tuhan. Padahal disadari atau tidak kita sendiri selalu menerima keadilan Tuhan yang mengandung kemurahan hati dan kebaikan Tuhan. Dan yang terpenting, kita ini adalah pekerja yang terakhir yaitu pekerja yang bekerja satu jam terakhir tetapi mendapatkan upah yang sama. Mengapa? Karena kita telah mempercayai Kristus dan menerima Kristus sehingga kita memperoleh keadilan Kristus. Konsekuensinya, berkat keadilan Kristus kita diselamatkan dan dibenarkan. Kita telah dipilih oleh Kristus sendiri untuk mendapatkan keadilan-Nya.

Perumpamaan tentang pekerja kebun anggur juga memberikan suatu makna bahwa ada waktunya belas kasih dan kebaikan menantang kita untuk melampaui keadilan yang kita pikirkan; melampaui keadilan matematis. Kita memberikan kelebihan atau bonus seperti yang dilakukan oleh tuan kebun anggur atau si timbangan Baghdad itu supaya kita mengerti menangkap betul, merasakan dan mensyukuri akan keadilan Tuhan yang selalu menaungi hidup kita. Keceriaan pun mengiringi langkah di dalam perjalana hidup kita.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply