Kaum Muda Dan Kaum Tua

XLII

Kaum Muda Dan Kaum Tua

Francis Bacon

Lukisan John Constable, Flatford Mill, 1816-1817

flatford_mill_scene_on_a_navigable_river_by_john_constable_tate_britain

Seorang yang berusia muda kiranya dapat menjadi tua[1] dalam hitungan jam, jika dia sama sekali tidak kehilangan waktu. Namun hal ini jarang terjadi. Pada umumnya, masa muda seperti permenungan yang pertama, tidak sebijak seperti permenungan yang kedua. Sebab ada masa muda yang berkaitan dengan  pemikiran dan ada juga yang berkaitan dengan usia. Dan bahkan penemuan yang dibuat kaum muda lebih hidup daripada penemuan yang berasal dari kaum tua; dan imajinasi-imajinasi yang mengalir ke dalam pikiran mereka lebih baik dan seolah-olah lebih ilahi. Demi tindakan, natura-natura yang panas bergelora dan mempunyai hasrat-hasrat yang bergejolak serta kegelisahan tidak akan matang sampai natura-natura tersebut melewati tengah hari dari usia mereka, seperti yang terjadi dengan Julius Caesar[2] dan Septimius Severus[3]. Tentang Septimius Severus, dikatakan bahwa, juventutem egit erroribus, imo furoribus, plenam (dia menghabiskan masa mudanya dengan penuh kesalahan, yang berasal dari kegilaan). Dan meskipun demikian, dia adalah seorang kaisar yang paling cakap, hampir di antara segala daftar para kaisar. Namun natura-natura yang tenang kiranya juga berlangsung dalam masa muda. Seperti yang terlihat dalam Augustus Caesar[4], Cosmus Adipati Florence[5], Gaston de Foix[6], dan yang lain. Di sisi lain, kegairahan dan semangat hidup yang tercermin dalam umur adalah suatu komposisi yang sempurna untuk bisnis. Orang-orang muda lebih cocok untuk menemukan daripada menilai; lebih cocok untuk pelaksanaan daripada menasihati; lebih cocok untuk proyek-proyek baru daripada menyelesaikan bisnis yang sedang berlangsung. Sebab pengalaman usia, di dalam segala hal yang telah menjadi kompas, mengarahkan hal-hal; tetapi dalam hal-hal baru, pengalaman usia menipu hal-hal baru tersebut. Kesalahan-kesalahan kaum muda adalah kehancuran bisnis; kesalahan-kesalahan kaum tua begitu berharga bagi hal ini, bahwa kiranya bisnis akan semakin ditekuni atau segera dilaksanakan.

Orang-orang muda, dalam memimpin dan mengatur aksi-aksi merangkul lebih banyak aksi daripada yang mereka dapat merangkulnya, membangkitkan lebih banyak aksi daripada yang mereka dapat mendiamkannya, terbang menuju akhir tetapi tanpa pertimbangan sarana dan langkahnya; mengejar beberapa prinsip yang telah diubahnya secara absurd; begitu berubah-rubah dalam membawakan pendapat-pendapat baru yang membawa ketidaknyamanan-ketidaknyamanan yang terselubung; menggunakan suatu solusi yang ekstrim pada mulanya; dan hal-hal yang demikian yang justru menggandakan segala kekeliruan yang tidak akan membuat mereka untuk mengakuinya ataupun mengendurkan mereka; seperti kuda yang dilatih dengan buruk, yang tidak akan mau diam maupun berlari. Orang-orang tua berkeberatan terlalu banyak, berkonsultasi terlalu lama, mengambil resiko terlalu kecil, menyesal terlalu segera, dan jarang menggerakkan home business sampai kepada penyelesaiannya tetapi senang akan keadaan mereka sendiri dengan suatu kesuksesan yang sedang-sedang saja. Tentu saja adalah baik membentuk para pekerja yang terdiri dari orang tua dan orang muda yang akan menjadi kebaikan sekarang ini, karena kehebatan-kehebatan dari kedua masa umur tersebut akan mengoreksi kekurangan dari keduanya; dan baik untuk suksesi, yang mana orang-orang muda kiranya menjadi pembelajar, sementara orang tua menjadi pelaku; dan yang terakhir, mempekerjakan mereka adalah baik untuk menanggulangi kecelakaan-kecelakaan external, karena otoritas menyertai orang-orang tua, dan favorit dan kepopuleran menyertai orang-orang muda. Tetapi untuk porsi moral, kiranya orang-orang muda akan memiliki keunggulan, sebagaimana orang-orang tua memiliki keunggulan untuk bidang politik. Seorang rabi, terhadap suatu teks yang mengatakan, orang-orang mudamu akan melihat visi dan orang-orang tuamu akan memimpikan mimpi-mimpi, mengambil kesimpulan bahwa orang-orang muda diakui lebih dekat kepada Tuhan daripada orang-orang tua, karena visi adalah suatu revelasi yang lebih jelas daripada sebuah mimpi. Tentu saja, semakin orang minum akan hal-hal duniawi, semakin dia teracuni; dan orang-orang tua mengambil keuntungan lewat kekuatan-kekuatan pemahaman, daripada berdasarkan atas kebaikan kehendak dan perasaan-perasaan. Ada beberapa orang yang telah menjadi matang lebih dahulu dalam usia mereka yang muda, kemudian segera memudar. Mereka itu adalah: yang pertama, mereka yang memiliki kecerdasan yang rapuh, di mana ujung kecerdasan yang rapuh segera menjadi yang terdepan; seperti yang terjadi pada Hermogenes[7] sang retoris, yang buku-bukunya amat cerdas; tetapi sesudahnya dia berkembang menjadi kebodohan. Yang kedua adalah mereka yang memiliki disposisi-disposisi alami yang memiliki kecermelangan lebih hebat dalam masa muda daripada dalam masa tua; seperti pidato yang fasih dan menawan; yang menjadikan masa muda amat terkenal, tetapi tidak untuk masa tua: maka Tully[8] bertutur kata soal Hortensius[9], Idem manebat, neque idem decebat (dia melanjutkan hal yang sama, ketika hal yang sama tidak berhasil). Yang ketiga, adalah mereka yang mengambil beban terlalu tinggi pada mulanya dan kemudian menjadi lebih murah hati dalam rentetan tahun-tahun yang dapat dijalaninya. Seperti yang terjadi kepada Scipio Africanus[10], yang tentang dia, Livius mengatakan konsekuensinya, ultima primis cedebant (aksi-aksi terakhirnya tidaklah sebanding dengan aksi-aksi pertamanya).

[1] Tua yang dimaksud di sini adalah matang.

[2] Tentang Julius Caesar lihat essai IV; no. 4

[3] Tentang Septimius Severus lihat essai II; no. 10

[4] Tentang Kaisar Augustus lihat essai II; no. 4

[5] Tentang Cosmus lihat essai IV; no. 3

[6] Gaston de Foix atau duc de Nemours (10 Desember 1489 – 11 April 1512) adalah komandan militer Perancis yang cemerlang (dijabatnya pada usia belia yaitu 21 tahun).  Ia memimpin invasi Perancis ke Italia dan berhasil merebut  Italia Selatan dengan dengan taktik yang gemilang dalam perang Liga Cambrai. Ketika hendak merebut kota Ravenna melawan Spanyol, Gaston de Foix mati terbunuh sehingga Perancis keok.

[7] Hermogenes dari Tarsus adalah seorang ahli retorika Yunani. Ia hidup masa pemerintahan Kaisar Marcus Aurelius. Kecakapan dan kehebatan kemampuannya mengantar dirinya sebagai guru selagi dia masih seorang bocah. Publik begitu mengagumi termasuk Kaisar Marcus Aurelius. Tetapi ketika dia berusia 25 tahun, dia kehilangan kemampuan intelektualnya dan bahkan menjadi tak berdaya sama sekali. Penyebabnya adalah kemungkinan besar Hermogenes menderita penyakit meningitis. Akhirnya ia menjalani sisa hidupnya dengan keadaan yang menyedihkan.

[8] Tully adalah nama panggilan untuk Cicero. Cicero menulis dialog dengan judul Hortensius yang diambil dari nama temannya yaitu Hortensius. Tentang Cicero selengkapnya lihat essai XVI; no. 18

[9] Quintus Hortensius Hortalus adalah orator dan pengacara Romawi. Pada usia 19 tahun, Hortensius membuat debut pertamanya sebagai pengacara dan berhasil memenangkan perkara Nicomedes IV dari Bithynia yang takhtanya digugat oleh adiknya. Semenjak itu, reputasi Hortensius sebagai pengacara dan orator semakin hebat. Namun ketika dia tua, reputasi Hortensius memudar. Tidak ada satu pun dari pidato-pidatonya yang tersimpan.

[10] Publius Cornelius Scipio Africanus adalah jenderal dan negarawan Romawi. Dia telah ikut bertempur pada usia 17 tahun dan pada usia 24 tahun mengambil alih komando Roma di Hispania. Scipio amat dikenal karena berhasil mengalahkan Hannibal dalam perang Punic II (perang antara Romawi dan Carthago) di Zama. Setelah berhasil mengalahkan Hannibal, pada waktu ia kembali ke Roma ia mendapat sambutan dan elukan yang luar biasa dari rakyat dan senat Roma, dia dijuluki “Hannibal dari Roma”, lalu senat menawari jabatan konsul. Tetapi Scipio menolak kehormatan itu. Bahkan kemenangan atas Hannibal justu membuat Scipio tak berambisi lagi dan tak berminat dalam dunia politik lalu memilih hidup tenang. Anehnya lagi, setelah kemenangan atas Hannibal, Scipio malah menunjukkan kemurahan hati dengan berusaha mencegah kekacauan yang disebabkan pembuangan Hannibal oleh Roma (setelah kekalahan dari Scipio, Roma memaksa Carthago untuk membuang Hannibal). Kemudian ia pensiun di kota Liternum sampai wafatnya di usia ke 53. Scipio tak pernah kalah dalam pertempuran. Ketangguhan dan kehebatan Scipio dalam taktik militer menjadikan dia salah satu jenderal terbaik sepanjang masa.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply