Janji Cinta Kasih Sebuah Refleksi Tentang Senam Energi Pangu Shengong

Lukisan: Paul Klee, Moonshine, 1920

                                                                                                                      Dalam hidup hanya ada satu janji bahagia:janji cinta kasih

Senam Pangu Shengong yang diciptakan oleh master Ou Wen Wei mendasarkan pada energi Surga, energi Bumi, energi Matahari dan energi Bulan Qiqong. Keempat energi tersebut membentuk suatu keharmonian yang utuh dan sempurna sehingga ada energi yang melimpah di dalam keharmonian mereka. Kesatuan dan harmoni surga, bumi, dan bahkan manusia, hewan, tumbuhan dan materi yang ada menunjukkan bahwa hubungan di antara semua hal di alam semesta, termasuk hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan hewan, tumbuhan,  manusia dengan materi, materi dan materi, hidup berdampingan secara relatif, saling mentoleransi satu sama lain kemudian menjadi stabil, menjadi harmonis sehingga beresonansi. Maka, mengikuti resonansi tersebut, prinsip senam Pangu Shengong dirumuskan sesuai dengan hubungan dialektis yang terjadi di antara berbagai aspek fenomena dan materi intrinsik yang menyusun Bumi,  Kemanusiaan bahkan Surga. Perumusan senam Pangu Shengong mengambil bentuknya dengan memadatkan unsur-unsur yang ada di Semesta yang bermanfaat bagi kemanusiaan dan materi sekaligus memfasilitasi dan menyediakan fungsi penyesuaian diri. Pemadatan menemukan caranya dengan menyerap energi matahari dan bulan dan Qi esensial dari alam semesta, kemudian menggunakannya untuk menekan aspek negatif dan untuk mengungkapkan aspek positif sehingga membantu dan membimbing manusia.  Prinsip pangu shengong adalah mengubah misteri menjadi realitas dan mengubah kompleksitas menjadi kesederhanaan.

Tidak mengherankan kalau senam pangu Shengong  adalah sebuah rutinitas sederhana, relatif singkat yang melibatkan lingkaran tangan, pembukaan lengan, dan beberapa visualisasi. Senam Pangu Shengong tidak memiliki batasan mengenai waktu atau tempat untuk berlatih, juga tidak melibatkan aktivitas fisik yang berat atau konsentrasi yang intens.

Yang membedakan senam ini dengan senam-senam energi yang lain adalah janji yang diikthiarkan sebelum memulai senam tersebut. Janji itu adalah dengan welas asih dan kebaikan sebagai dasar, dengan kejujuran dan kasih sayang sebagai wujud lapang dada, berbicara yang baik dan benar, bersikap sopan dan santun, berperilaku bijak dan penuh perasaan, bertindak seksama agar diperoleh hasil yang terbaik. Janji selalu menempatkan pribadi untuk disiplin memenuhi dan melaksanakan janji tersebut karena mengatakan berarti melakukannya; berjanji berarti mewujudkannya. Dengan welas asih dan kebaikan sebagai dasar, dengan kejujuran dan kasih sayang sebagai wujud lapang dada adalah dasar kehidupan dan keagungan manusia. Dengan janji ini hati dan jiwa selalu diingatkan, disegarkan dan ditumbuhkan supaya hidup sesuai welas asih, kejujuran, dan kasih sayang. Tindakan-praktis manusia berakar di dalam kebaikan dan kemurahan hati. Orang yang melakukan ini tentu selalu ada kebahagian di dalam hati dan jiwanya: suatu harta yang memaniskan kehidupan.

Selanjutnya adalah berbicara yang baik dan benar, bersikap sopan dan santun, berperilaku bijak dan penuh perasaan, bertindak seksama agar diperoleh hasil yang terbaik.  Janji ini untuk menjadikan diri beretika dalam hubungan manusia dengan sesamanya dan bagaimana ia berurusan dengan hal-hal praktis di dalam kehidupannya. Relasi yang didasarkan pada etika yang demikan menciptakan keharmonian dan penghormatan kepada kehidupan sehingga ada kedamaian antar manusia, antar ciptaan dan surga. Bahkan relasi yang harmoni dengan antar manusia dan ciptaan, diri dibawa kepada realitas yang melampaui diri: realitas ilahi

Hidup manusia diwarnai dan dipenuhi dengan janji-janji. Artinya dalam hidup sehari-hari kita selalu membuat, memenuhi dan melaksanakan janji-janji baik dari janji kecil, sederhana sampai janji yang penting. Misalnya, janji bisnis, janji perdagangan, janji perkawinan. Kita pun ada, terbentuk, lahir juga karena adanya janji dari kedua orang tua kita yang saling berjanji untuk saling mengasihi satu sama lain, yang saling berjanji untuk mendidik dan membesarkan kita. Melihat kenyataan ini yaitu bahwa kita selalu membuat janji dalam hidup, maka siapa yang akan menyangkal bahwa setiap hari hidup kita merupakan janji yang terbuka untuk diisi? Siapa yang akan membantah bahwa setiap hari hidup kita adalah janji yang harus dipenuhi dan dilaksanakan?

Sebenarnya dari semua janji yang pernah kita buat, pasti tersisip suatu janji kepada Tuhan. Malahan bisa dikatakan bahwa hidup ini adalah suatu janji kepada Tuhan. Mengapa? Karena kita telah mengalami kebaikan Tuhan; mendapatkan cinta dan belas kasih Tuhan. Bukankah kita semua di sini bahkan semua orang di dunia akan menyetujui bahwa hidup ini merupakan kebaikan Tuhan? Tidakkah kita semua di sini akan menganggukkan kepala tanda setuju bahwa hidup ini adalah suatu anugerah, suatu rahmat Allah?

Maka, setiap hari baru yang kita peroleh dibuka, diawali dengan rasa syukur dan rasa terima kasih tiada tara kepada Tuhan. Sebab kita boleh hidup untuk satu hari lagi dan atas kebaikan dan rahmat Tuhan yang dianugerahkan kepada kita. Mengawali suatu hari baru yang dipenuhi dengan rasa syukur tentu dibuka dengan suatu janji, suatu komitmen yang terus-menerus kepada Tuhan.

Lalu bagaimana berjanji kepada Tuhan; janji apakah yang berkenan kepada Tuhan? Janji kepada Tuhan adalah janji untuk mencintai sesama; janji untuk melakukan welas kasih dan berbuat baik; janji untuk hidup di dalam kebenaran, keadilan dan kebijaksanaan. Inilah cara kita berjanji kepada Tuhan, suatu janji yang disukai, diterima oleh Tuhan. Janji yang diterima oleh Tuhan adalah jalan kebahagiaan, jalan kesucian, jalan kehidupan. Tentu saja janji tersebut menjadi janji yang paling agung, paling indah, paling suci dari semua janji yang kita buat. Ketika kita memenuhi dan melaksanakan janji-janji tersebut, maka semua janji tersebut akan berubah menjadi persembahan kepada Tuhan yang paling indah melebihi emas, dan perak. Sebenarnya janji kepada Tuhan merupakan wujud doa yang membumbung tinggi ke hadirat Tuhan. Janji itu semua merupakan dasar, warna, karakter dari semua janji yang kita buat seperti janji bisnis, janji perdagangan dan janji hukum. Sebab tanpa ada janji cinta kasih, janji untuk hidup dalam kebenaran, janji–janji lain yang kita buat tidak mungkin dapat dilaksanakan dan ditepati karena semuanya hanyalah tipuan, suatu omong kosong. Dengan demikian kita pun hanya seorang pembohong di hadapan sesama dan Tuhan karena dasar semua janji adalah kebenaran, cinta kasih, dan kebaikan.

Pernah ada suatu debat: apa itu kebahagiaan; siapakah orang yang berbahagia? Tentu ada ribuan bahkan jutaan pendapat, cara, metode, definisi tentang kebahagiaan. Misalnya saja ada yang mengartikan kebahagiaan itu adalah kekayaan; ada juga yang mengartikan kebahagiaan adalah suatu kesuksesan; ada juga memahami kebahagiaan sebagai perasaan sukacita. Namun jelaslah bahwa kebahagiaan bukanlah kekayaan, uang yang melimpah atau kesuksesan. Memang dengan harta yang melimpah dan kesuksesan bisa membawa kita kepada perasaan sukacita. Orang sukses bisa bahagia, orang senang bisa bahagia. Tetapi, kenyataannya, hidup adalah suatu misteri, hidup ini tidak selalu mulus, hidup ini penuh dengan kesulitan, tantangan dan hal-hal yang di luar kehendak, kemauan dan kontrol kita: ada keberhasilan-kegagalan, ada kegembiraan-kesedihan; ada kelahiran-kematian, ada kesehatan-sakit. Maka pada saat kita mengalami bencana, entah itu sakit, kegagalan, pasti kita mengalami kekecewaan, kesedihan, dan tidak mungkin kita bersuka cita, bergembira atas kegagalan, dan sakit. Selain itu, perasaan sukacita yang kita peroleh karena harta dan kesuksesan tidak memuaskan kerinduan hati kita yang terdalam; selalu ada yang kurang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kebahagiaan karena uang, kesuksesan bukanlah kebahagiaan yang tertinggi, bukanlah kebahagiaan yang sejati. Lalu apa itu kebahagiaan yang sejati, siapakah orang yang paling berbahagia itu? Kebahagiaan yang sejati adalah melakukan cinta kasih, welas kasih; orang yang paling berbahagia adalah dia yang paling banyak melakukan cinta kasih, welas kasih, kebaikan dalam hidupnya; orang yang paling berbahagia adalah dia yang hidup di dalam kebenaran, keadilan, kemurnian. Mengapa? Ada dua alasan menjelaskan:

Pertama, cinta dan welas asih yang dia berikan, kebaikan yang dia lakukan menguatkan dan menjadikan dirinya sebagai pribadi yang tangguh. Buktinya walaupun kegagalan, kesusahan, kepahitan datang dan menerpa hidupnya dia akan selalu bangkit dari kesusahannya, kegagalannya. Cinta kasih, welas kasih membuka hatinya dan matanya untuk melihat bahwa segala peristiwa yang terjadi dalam hidupnya selalu demi kebaikan. Artinya dengan cinta kasih yang ada di dalam dirinya ia selalu dapat memahami dan menerima semua kenyataan dengan lapang dada dan kesabaran; ia menjadi tenang dan rendah hati. Bahkan apa pun yang terjadi di dalam hidupnya dia selalu bersyukur kepada Tuhan karena dia tahu dan mengerti bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup ini entah kesuksesan dan kegagalan, entah kepahitan dan keberhasilan, entah pujian atau caci maki, entah itu konflik, perseteruan, perselisihan atau pun ketenangan dan kedamaian, bahkan kehidupan-kematian yang dialami dalam hidupnya adalah bagian dari rencana Tuhan; adalah didikan Tuhan untuk menjadikan dirinya menjadi orang lebih baik, lebih suci dari hari ke hari. Memang, tidak langsung otomatis dia langsung bisa melakukan semuanya itu: siapa yang ditampar tidak merasa sakit?; siapa yang dicaci maki tidak marah?; siapakah yang gagal tidak merasa sedih, kecewa? Tentu dia akan sedih, kecewa, sakit hati, dst. Namun welas asih cinta kasih yang ada di dalam untaian waktu, dalam kesabaran akhirnya membuat dia bisa memahami segala yang terjadi, menerima, mengampuni, bahkan mencintai. Tiba-tiba cinta dan welas asih telah mengubah dan memperbaharui hidupnya. Mungkin dulu dia seorang pemarah; mungkin dulu dia seorang yang kasar; mungkin dulu ia seorang penipu atau penjahat, mungkin pula ia seorang yang ambisius, penuh dengan intrik-intrik licik untuk mewujudkan nafsunya; dirinya dipenuhi rasa iri, dendam, persaingan, keinginan untuk menjadi nomer satu, dan seterusnya. Namun janji cinta kasih, welas kasih, perbuatan atau tindakan cinta kasih menyadarkan dirinya dan mengubahnya menjadi manusia yang baru: orang yang rendah hati, bijaksana, tenang, sabar, penuh cinta, penuh kebaikan, bahkan menjadi orang suci, orang kudus, sehingga menjadi orang yang paling berbahagia. Dan karena kebahagiaan dia selalu memancarkan ketenangan, kedamaian di tengah-tengah hidupnya ibarat lampu kecil yang menerangi jalan-jalan di malam hari.

Alasan yang kedua, yang kiranya menjadi hal yang terpenting dari semuanya itu: dia yang melakukan yang cinta kasih, welas asih, hidup dalam kebenaran tentu menggapai hati Tuhan; tinggal di hati Tuhan; berdiam di hati Tuhan karena Tuhan adalah cinta; karena Allah adalah kasih. Ia yang penuh kasih, melakukan cinta kiranya menjadi perpanjangan kaki, tangan, dan hati dari Sang Maha Cinta.

Seperti kata Theognis seorang filsuf Yunani yang mengatakan bahwa dari orang yang baik kita belajar akan kehidupan yang baik pula, maka dari orang yang penuh cinta, welas asih kita belajar akan kebahagiaan. Itu semua diawali dengan suatu janji yang sederhana namun yang paling agung: dengan welas asih dan kebaikan sebagai dasar, dengan kejujuran dan kasih sayang sebagai wujud lapang dada, berbicara yang baik dan benar, bersikap sopan dan santun, berperilaku bijak dan penuh perasaan, bertindak seksama agar diperoleh hasil yang terbaik. Janji-janji itulah yang menjaga kemurnian hati kita sehingga benarlah kata pepatah Persia: Jagalah kemurnian hatimu maka kamu akan bergembira selalu.

Alhasil, jika praktisi Qigong ini bersedia untuk bertindak dengan cara yang benar dan untuk menangani segala perkara sesuai dengan prinsip dengan welas asih dan kebaikan sebagai dasar, dengan kejujuran dan kasih sayang sebagai wujud lapang dada, berbicara yang baik dan benar, bersikap sopan dan santun, berperilaku bijak dan penuh perasaan, bertindak seksama agar diperoleh hasil yang terbaik yang diajukan oleh Qigong ini  dan selalu bertekun dalam senam Pangu Shengong maka hasilnya adalah menyembuhkan penyakit, memperkuat sistem kekebalan tubuh; keseimbangan, harmoni, ketenangan pikiran; mengembangkan kebijaksanaan, dan hidup dalam harmoni dan persahabatan dengan orang lain, meningkatkan kesejahteraan, kebahagiaan dan vitalitas yang tidak ada habisnya.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply