Jabatan Yang Istimewa

XI

Jabatan Yang Istimewa

Francis Bacon

Lukisan Lemuel Francis Abbott, Rear-Admiral Sir Horatio Nelson 1799

 

article-2051867-0317c5e10000044d-528_468x574

Manusia yang mempunyai jabatan yang istimewa kiranya menjadi ketiga hamba; hamba dari kedaulatan atau negara; hamba dari ketenaran; dan hamba dari perusahaan.Jadi sebagaimana hamba tidak mempunyai kebebasan, demikian juga mereka yang memiliki jabatan yang istimewa tak mempunyai kebebasan di dalam kemanusiaan, tindakan, dan waktu mereka.

Adalah suatu keanehan nafsu, mencari kekuasaan tetapi kehilangan kebebasan: atau mencari kekuasaan atas diri orang lain tetapi kehilangan kekuasaan atas diri sendiri. Mendapatkan jabatan adalah sebuah perjuangan; dan melalui penderitaan tetapi ketika telah diperoleh justru mengantar manusia kepada penderitaan yang lebih besar lagi; dan kadang kala dengan cara yang tercela; dan melalui penghinaan manusia sampai kepada kehormatan.

Jabatan yang istimewa membuat diri terpeleset, dan penurunan pangkat adalah baik kehancuran, atau setidaknya suatu kehilangan yang menyedihkan. Cum non sis qui fueris, non esse cur velis vivere (Ketika seseorang merasa bahwa dia tidak lagi menjadi dirinya seperti yang dulu kala, dia tidak memiliki alasan untuk hidup lebih lama lagi).  Ah tidak, mereka yang telah pensiun terlebih para manula dan mereka yang sakit kiranya tidak dapat maupun akan berbuat demi menjadi orang yang berpikir logis; malahan yang terjadi adalah menjadi orang yang tidak sabar dan penuh dengan privasi, yang mewajibkan bayang-bayang masa lalu mereka; ibarat orang-orang kota yang uzur, yang masih duduk pada pintu jalan mereka dan menawarkan pengalaman-pengalaman mereka tetapi hanya untuk mencela. Tentu saja orang-orang yang hebat itu perlulah meminjam opini-opini orang lain untuk memikirkan bahwa hidup mereka bahagia; karena jika mereka menilai hidup mereka dengan perasaan mereka sendiri, mereka tidak akan menemukan kebahagiaan; tetapi jika mereka memikirkan hidup mereka dengan apa yang dipikirkan oleh orang-orang lain tentang mereka, di mana orang-orang lain beranggapan bahwa akan menjadi bahagia jika menjadi seperti diri mereka, maka orang-orang hebat itu seolah-olah bahagia dengan kesaksian tentang  diri mereka itu; meskipun mungkin mereka menjumpai hal yang sebaliknya yang terjadi di dalam hidup mereka. Sebab orang-orang hebat itu adalah orang-orang yang pertama yang menjumpai kesedihan mereka, meskipun kiranya mereka menjadi yang terakhir dalam menemukan kesalahan mereka. Tentu saja manusia yang bernasib mujur akan menjadi asing terhadap diri mereka sendiri dan ketika mereka bergulat dengan usaha mereka, mereka tidak punya waktu untuk peduli kepada kesehatan baik tubuh dan pikiran. Illi mors gravit incubat, qui natus nimis omnibus, ignotus moritus sibi (suatu nasib yang sungguh malang bagi seorang manusia yang mati yang mana ia dikenal dengan baik oleh orang-orang lain namun dia sendiri sampai ajalnya tidak mengenal dirinya sendiri).

Dalam suatu kedudukan ada suatu lisensi untuk melakukan kebaikan dan kejahatan; yang terakhir adalah suatu kutukan: karena kejahatan merupakan suatu keadaan terburuk yang tidak diinginkan; yang pertama sayangnya tidak dapat dilakukan. Sejatinya, kemampuan untuk melakukan kebaikan adalah tujuan akhir dari cita-cita yang benar dan sah. Sebab pikiran-pikiran yang baik (meskipun Tuhan memberkati pikiran-pikiran tersebut) menjadikan manusia sedikit lebih baik daripada mimpi-mimpi yang baik, kecuali pikiran-pikiran yang baik diwujudkan di dalam tindakan; dan pikiran-pikiran yang baik yang diwujudkan tidak mungkin terjadi tanpa kekuasaan dan kedudukan, sebagai dasar yang menguntungkan dan penuh otoritas. Upah dan kerja yang baik adalah tujuan akhir tindakan manusia; dan suara hati yang tentram[1] merupakan kesempurnaan istirahat manusia. Sebab seandainya manusia dapat berpartisipasi dalam karya penciptaan Allah, dia juga kiranya ikut serta dalam istirahat Allah[2]. Et conversus Deus, ut aspiceret opera quae fecerunt manus suae, vidit quod omnia essent bona nimis (Maka, Allah melihat segala yang dijadikan oleh tangan-Nya itu, sungguh segala sesuatunya baik adanya[3]); dan selanjutnya adalah hari Sabat[4].

Dalam melaksanakan amanah jabatanmu belajarlah dari teladan-teladan yang terbaik; karena meneladani adalah kaidah-kaidah yang merupakan wacana yang lengkap. Dan sesudah beberapa waktu belajarlah pula dari teladan-teladanmu sendiri; dan ujilah dirimu dengan ketat apakah kamu melakukan yang terbaik atau tidak pada mulanya. Jangan pula mengabaikan teladan-teladan dari orang-orang yang telah membawa diri mereka kepada malapetaka dalam jabatan yang sama; janganlah membakar dirimu sendiri dengan mencela kenangan-kenangan akan mereka, tetapi bawalah dirimu kepada apa yang harus dihindari. Oleh karena itu, reformasilah tanpa kesombongan atau tanpa skandal yang berasal dari kejadian atau orang-orang yang terdahulu; tetapi berantaslah baik kesombongan maupun segala skandal yang ada di dalam dirimu dan juga buatlah petunjuk-petunjuk yang baik supaya diikuti. Kajilah hal-hal merujuk kepada institusi pusat, dan amatilah di dalam apa dan bagaimana hal-hal yang ada telah merosot moralnya; tetapi tetap mintalah nasihat kepada kedua waktu; kepada waktu lampau, apa yang terbaik; kepada waktu sekarang; apa yang sekiranya yang paling cocok. Buatlah aturan-aturan yang baku tetapi yang tidak terlalu lunak maupun yang semena-mena sehingga orang-orang kiranya mengetahui sebelumnya akan apa yang mereka harapkan, dan tunjukkanlah dirimu dengan amat baik ketika kamu tidak setuju akan sesuatu hal yang tidak sesuai dengan aturanmu. Jagalah wewenang jabatanmu; tetapi janganlah menggerakkan pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya menghakimi; malahan gunakanlah hak-hakmu di dalam kediaman dan de facto (dari kenyataan); daripada berkoar-koar dengan tuntutan dan tantangan. Jagalah juga hak-hak jabatan-jabatan yang ada di bawahmu; dan berpikirlah bahwa lebih terhormat untuk mengarahkan segala sesuatunya dengan perintah yang bersumber dari atasan daripada menjadi sibuk karena menangani segala sesuatunya. Terimalah dan mintalah bantuan dan nasihat yang berkaitan dengan pelaksanaan dari jabatanmu; dan janganlah mendepak orang-orang yang menjadi pemberi informasi untukmu seperti mereka yang suka mencampuri urusan orang lain, sebaliknya terimalah mereka berkaitan dengan informasi mereka yang benar.

Kejahatan suatu otoritas pada dasarnya ada empat hal: penangguhan-penangguhan; korupsi, kekasaran dan mudah disetir. Untuk mengatasi penangguhan-penangguhan[5]: berikanlah akses yang mudah; tepatilah waktu yang telah ditetapkan; selesaikanlah pelaksanaan rencana dan hubungkanlah segala sesuatu yang ada dengan kebutuhan dan bukan untuk bisnis. Untuk korupsi: ikatlah tidak hanya tanganmu atau tangan-tangan pembantumu yang korupsi; tetapi juga tangan-tangan para penggugat yang memberi sogokan. Sebab integritas yang diterapkan mencegah yang pertama[6]; tetapi integritas yang dihidupi dan sikap anti penyogokan yang nyata mencegah yang kedua[7]. Dan hindarilah tidak hanya kesalahan, tetapi juga kecurigaan. Siapa pun dia yang kenyataannya selalu berubah-ubah dan mengubah sesuatu dengan nyata tanpa adanya sebab yang jelas pasti membangkitkan kecurigaan akan korupsi. Oleh karena itu, ketika kamu mengubah opini atau kebijakanmu; selalu katakanlah dengan terus terang dan umumkanlah bersama dengan alasan yang membuat kamu melakukan perubahan dan janganlah berpikir untuk melakukannya dengan diam-diam. Seorang pembantu atau dia yang menjadi kesayangan; jika dia tertutup, dan tidak ada sebab-sebab lain yang jelas untuk penghargaan yang diberikan kepadanya, maka pada umumnya akan dipandang meskipun masih setengah ragu telah melakukan korupsi dengan diam-diam. Untuk kekasaran: kekasaran merupakan penyebab ketidaksenangan yang tidak perlu terjadi; ketegasan melahirkan ketakutan, kekasaran melahirkan kebencian. Bahkan teguran dari atasan haruslah tegas tetapi bukan celaan. Untuk mudah disetir: mudah disetir lebih buruk daripada penyogokan. Sebab penyogokan terjadi kadang-kadang; tetapi jika keterdesakan dan pertimbangan-pertimbangan yang bodoh memimpin manusia, dia tidak akan pernah bisa merdeka dari kedua hal tersebut. Seperti yang dikatakan oleh Salomo[8]: memandang bulu tidaklah baik, tetapi untuk sekerat roti orang membuat pelanggaran[9]. Hal yang paling benar adalah seperti yang dikatakan oleh perkataan kuno; suatu kedudukan menunjukkan dirinya. Dan jabatan membuktikan bahwa beberapa orang akan menjadi lebih baik dan beberapa lainnya akan menjadi lebih buruk. Omnium consensus capax imperii, nisi imperasset (semua orang kiranya akan memiliki kebijakan yang cocok untuk kekaisaran, seandainya dia bukan seorang kaisar), kata Tacitus[10] tentang Galba[11], tetapi tentang Vespasianus[12], Tacitus mengatakan, Solus imperantium, Vespasianus mutatus in melius (Vespasianus satu-satunya kaisar yang milik kekuasaannya mengubah hal-hal demi menjadi yang lebih baik); meskipun yang pertama diartikan untuk  kelayakan, yang kedua untuk cara-cara dan perasaan. Menghormati amandemen merupakan suatu tanda yang pasti dari manusia yang memiliki roh yang baik dan lembut. Sebab kehormatan adalah, atau memang seharusnya, tempat keutamaan; dan sebagaimana dalam natura bahwa benda-benda bergerak dengan keras demi tempat mereka tetapi bergerak begitu tenang di dalam tempat mereka, maka demikian juga bahwa keutamaan di dalam ambisi adalah suatu kekerasan, tetapi dalam otoritas bergerak teratur dan tenang. Segala promosi kepada jabatan istimewa dicapai dengan tangga yang penuh angin; dan sekiranya ada fraksi-fraksi, baiklah untuk mengesampikan ego diri selagi sedang naik daun dan lapang dada ketika diganti. Kenanglah para pendahulumu dengan baik dan penuh kehangatan; karena jika kamu tidak melakukannya, maka akan menjadi hutang yang pasti akan dibayar ketika kamu telah pergi. Jika kamu mempunyai kolega-kolega, hormatilah mereka dan panggilah mereka ketika mereka tidak menginginkan panggilan itu; daripada mengabaikan mereka ketika kamu mempunyai alasan untuk membutuhkan mereka. Janganlah terlalu sensitif atau terlalu mengingat-ngingat kedudukanmu dalam percakapan dan dalam jawaban-jawaban privat yang kamu berikan kepada para penggugat[13]; tetapi semoga seperti yang dikatakan, ketika dia duduk di tempatnya dia adalah manusia yang lain;

[1] Artinya: suara hati yang tidak menghakimi manusia.

[2] Menurut Kitab Kejadian 2:2-3, pada hari ketujuh Allah menyelesaikan karya penciptaan-Nya dan Allah beristiharat serta mengkuduskan hari ketujuh itu. Hari ketujuh di mana Allah berhenti bekerja dan memberkatinya disebut dengan Hari Sabat. “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan mengkuduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu”.

[3] Kejadian 1:31

[4] Lihat no. 2

[5] Penangguhan akan dibahas oleh Bacon dalam essai XXI.

[6] Integritas yang diterapkan mencegah pejabat dan para pembantunya untuk korupsi.

[7] Integritas yang dihidupi dan sikap anti penyogokan mencegah para penuntut untuk memberi sogokan.

[8] Tentang Salomo lihat essai IV; no. 1

[9] Amsal 28:21

[10] Tentang Tacitus lihat essai II: Kematian; no. 7

[11] Tentang Galba lihat essai II: Kematian; no. 9

[12] Tentang Vespasianus lihat essai Kematian; no 8

[13] Tentang Penggugat lihat essai XLIX

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply