Hasutan dan Kerusuhan

XV

Hasutan dan Kerusuhan

Francis Bacon

Lukisan Jean-Pierre Houël, La prise de la Bastille, 1789
 

prise_de_la_bastillefff

Para gembala rakyat haruslah mengetahui perkiraan cuaca kapan terjadinya badai di dalam negara; di mana pada umumnya badai-badai besar melanda negara ketika segala sesuatunya berkembang menuju kepada kesetaraan; ibarat badai-badai alam yang paling berbahaya yang terjadi di dalam Equinoctia[1]. Dan sebagaimana akan ada hembusan angin tertentu yang bersuara dan gelombang besar yang diam-diam dari lautan sebelum terjadinya badai, demikian juga di dalam badai negara:

                —– Ille etiam caecos instare tumultus

                Saepe monet, fraudesque et opera tumuscere bella.

                (berkaitan dengan kerusuhan yang segera datang         dan hasutan-hasutan gelap

                Dari sana datanglah peringatan, dan peperangan          dalam pertemuan rahasia. Virgil)

Diskursus yang sifatnya fitnah dan tak bermoral yang melawan negara, ketika begitu sering terjadi dan terbuka dan yang semacamnya; rumor-rumor yang salah yang sering kali beredar ke sana ke mari menyebabkan negara dalam keadaan genting dan isu-isu yang segera dipercayai adalah tanda yang paling berbahaya di antara segala tanda. Virgil[2], selagi memberikan asal-usul Rumor[3], mengatakan bahwa perempuan itu (baca Rumor[4]) adalah adik perempuan dari para Raksasa:

                Illam Terra parens, irâ irritata deorum,

                Extremam (ut perhibent) Coeo Enceladoque sororem

                Progenuit[5].

(Orang Tua Bumi, murka dengan amarah para dewa, melahirkan anak perempuannya yang paling bungsu (sebagaimana yang mereka tegaskan) sesudah Coeus[6] dan Enceladus[7]) seolah-olah bahwa rumor-rumor merupakan peninggalan dari hasutan-hasutan yang terdahulu; padahal rumor-rumor sebenarnya adalah cikal bakal hasutan yang akan terjadi nantinya. Bagaimana pun juga Virgil telah memperhatikan rumor dan hasutan dengan benar bahwa kerusuhan yang disebabkan baik oleh hasutan dan rumor sama sekali tidak ada bedanya, ibarat saudara laki-laki dan saudara perempuan, maskulin dan feminim; teristimewa seandainya hasutan dan rumor memang akan membawa negara kepada kerusuhan, maka tindakan-tindakan negara yang terbaik, dan yang paling jelas serta yang seharusnya memberikan kepuasan yang paling manis sekalipun, akan dianggap sebagai keburukan sekaligus menjadi bahan fitnahan: sebab rumor dan hasutan menunjukkan suatu kedengkian yang begitu dalam, seperti yang dikatakan oleh Tacitus, conflata magna invidia, seu bene seu male gesta premunt (ketika kebencian berlaku atas pemerintah, aksi yang baik dan aksi yang buruk sering kali sama-sama dipersalahkan). Tidaklah berlaku kenyataan ini bahwa karena rumor-rumor merupakan suatu tanda kerusuhan maka memberantas rumor-rumor dengan kekerasan yang begitu sengit akan menjadi solusinya. Sebab meremehkan rumor-rumor sering kali malah menegaskan rumor-rumor tersebut dengan baik sekali; tetapi juga bahwa berusaha untuk menghentikannya malah membuat rasa ingin tahu makin hidup lebih panjang. Juga tentang ketaatan, seperti yang dikatakan oleh Tacitus, patutlah dicurigai: Erant in officio, sed tamen qui mallent mandata imperantium interpretari quam exequi (Bersiap untuk mengabdi, tetapi lebih terdisposisi untuk menafsirkan perintah-perintah daripada melaksanakannya); memperdebatkan, mempertanyakan, bertengkar kecil atas mandat dan perintah -perintah adalah semacam usaha untuk melepaskan diri dari kuk dan merupakan suatu evaluasi pembangkangan, teristimewa jika di dalam perdebatan-perdebatan tentang perintah-perintah, mereka berbicara dengan takut dan diam-diam, atau mereka membangkang terhadap perintah-perintah dengan berani.

Juga, seperti yang dicatat oleh Machiavelli[8] dengan baik, ketika para raja harus menjadi orang tua bagi rakyatnya, mendorong mereka untuk memilih sebuah fraksi sehingga condong memihak kepada fraksi yang dipilih, maka kenyataan ini ibarat sebuah perahu yang dihempaskan oleh berat yang tidak seimbang dari sebuah sisi; seperti yang terjadi pada masa Henry III[9] dari Perancis; karena pertama-tama dia sendiri menjadi anggota ke dalam Liga pemberantasan orang-orang Protestan; dan segera sesudahnya Liga yang sama berpaling menentang dirinya[10]. Sebab ketika kekuasaan raja hanya dibuat sebagai suatu aksesori biasa, dan sekiranya ada ikatan-ikatan lain yang mengikat lebih kuat daripada ikatan kedaulatan, maka para raja hampir pasti kehilangan kekuasaannya.

Juga, ketika perpecahan dan pertikaian serta adanya banyak fraksi yang terjadi secara terbuka dan dengan berani, maka realitas ini merupakan suatu tanda bahwa kehormatan sebuah pemerintahan telah pudar. Sebab pergerakan-pergerakan orang-orang terpenting dalam suatu pemerintahan haruslah seperti pergerakan-pergerakan planet-planet di bawah primum mobile[11] (menurut pendapat kuno), di mana setiap pergerakan planet-planet yang lebih rendah ditopang dengan tangkas oleh pergerakan planet yang lebih tinggi sehingga pergerakan planet-planet yang lebih rendah begitu tenang. Oleh karena itu, ketika pergerakan planet yang lebih tinggi bergerak dengan keras, dan seperti yang dikatakan oleh Tacitus dengan jelas, liberius quam ut imperantium meminissent (tak terkendalikan oleh penghormatan kepada pemerintah), maka adalah suatu tanda bahwa planet-planet yang lebih rendah telah keluar dari orbitnya. Sebab penghormatan adalah tali pelana para raja yang diperoleh dari Tuhan untuk mengendalikan rakyat sehingga tanpa tali pelana tersebut, negara terancam kepada pembubaran; akibatnya solvam cingula regum (aku tidak akan mengikat korset–korset para raja).

Jadi, ketika keempat pilar pemerintahan (yaitu agama, keadilan, dewan nasihat, dan harta negara) sungguh dirongrong dan dilemahkan, maka manusia haruslah berdoa untuk memohon cuaca yang tenang. Marilah kita meninggalkan bagian prediksi-prediksi ini (hal-hal yang berkaitan dengannya, yang meskipun lebih ringan, tetapi kiranya terjadi dari hal yang selanjutnya); marilah kita berbicara pertama-tama tentang material-material hasutan; kemudian tentang motivasi-motivasi hasutan; yang ketiga adalah solusinya.

Berkaitan dengan material hasutan. Material hasutan merupakan hal yang harus dipertimbangkan dengan seksama; karena jalan terpasti untuk mencegah hasutan (jika waktu memang tepat untuk melakukannya) adalah menyisihkan pemicu-pemicunya. Sebab sekiranya hasutan tersebut telah dipersiapkan dengan sedemikian matang, maka sulitlah untuk mengetahui kapan percikan api akan terjadi sehingga menyulut kebakaran. Material hasutan-hasutan ada dua jenis: kemiskinan yang parah dan ketidakpuasan yang memuncak. Adalah hal yang pasti bahwa sedemikian banyak kondisi-kondisi hidup yang kacau-balau, sedemikian banyak pula pemilihan untuk kerusuhan-kerusuhannya. Lucanus[12] memperhatikan dengan baik keadaan Roma sebelum perang sipil[13],

                                Hinc usura vorax, rapidumque in tempore foenus,

                                Hinc concussa fides, et multis utile bellum.

                                (Oleh karena negara tertelan oleh bunga pinjaman yang demikian tinggi, dan bunga                    ketamakan waktu, oleh karena kredit digoyang maka pendapatan negara adalah                  perang untuk banyak pihak).

Multis utile bellum (banyak perang yang berguna) yang adalah kondisi yang serupa ini merupakan suatu tanda negara yang definitif dan tidak dapat salah bahwa negara tergiring kepada hasutan dan kerusuhan. Dan seandainya kemiskinan dan keadaan negara yang amburadul kiranya melalui wacana yang lebih baik terlebur dengan keinginan dan kebutuhan rakyat pada umumnya, maka badai besar segera datang. Sebab pemberontakan-pemberontakan yang penyebabnya kelaparan adalah yang terburuk. Berkaitan dengan ketidakpuasan-ketidakpuasan, ketidakpuasan dalam tubuh politik seperti humor[14] di dalam tabiat manusia, yang cenderung untuk terlebih dahulu mengumpulkan panas supernatural dan kemudian menyalakannya. Dan janganlah raja mengukur panasnya ketidakpuasan dengan hal berikut ini, apakah kiranya ketidakpuasan tersebut adil atau tidak: karena ketika ketidakpuasan telah menghinggapi imajinasi rakyat, akibatnya, apa pun akan menjadi terlalu masuk akal bagi mereka; sehingga mereka sering menolak dengan angkuhnya segala sesuatunya yang diperuntukkan demi kebaikan mereka sendiri: maupun jangan juga mengukur dengan hal berikut ini, apakah kesedihan-kesedihan yang menimpa mereka menurut faktanya besar atau kecil: karena kesedihan-kesedihan itu merupakan ketidakpuasan yang paling berbahaya di mana ketakutan yang ada di dalamnya adalah perasaan yang paling mendominasi. Dolendi modus, timendi non item (penderitaan mempunyai batasnya, tetapi ketakutan tak ada ujungnya). Di samping itu, dalam penganiayaan-penganiayaan yang sengit, memang merupakan hal yang serupa yang memprovokasi kesabaran dan sungguh bercampur dengan keberanian, tetapi dalam ketakutan–ketakutan tidaklah demikian. Juga jangan biarkan para raja atau negara cuek akan ketidakpuasan[15], karena ketika ketidakpuasan sering kali terjadi, atau berlangsung dengan lama, meskipun tidak ada bahaya yang akan mengancam: maka sebagaimana benarlah perkataan yang berbunyi bahwa setiap uap atau busa tidak akan berubah menjadi suatu badai, demikian juga dengan perkataan yang berkata bahwa benarlah bahwa semua badai, meskipun akan reda dalam waktu yang berbeda-beda, pada akhirnya akan datang juga; dan seperti yang dikatakan oleh pepatah Spanyol dengan indah, pada akhirnya tali akan putus oleh tarikan yang paling lemah.

Penyebab dan motif dari hasutan-hasutan adalah perubahan-perubahan baru yang berlangsung di dalam agama; pajak, pengubahan hukum dan adat-istiadat; penghancuran priviligi-priviligi, penganiayaan yang terjadi di mana-mana; kemajuan yang dibuat oleh orang-orang yang busuk; orang-orang asing; kekurangan-kekurangan, tentara-tentara yang membangkang, partai-partai yang tumbuh menjamur dengan tanpa harapan; dan apa pun yang menyakiti rakyat, semuanya itu bersatu dan terajut menjadi suatu penyebab yang umum.

Untuk solusi-solusinya, ada beberapa pencegahan umum yang akan kita bicarakan: tentang penyembuhan yang efektif, penyembuhan ini merupakan solusi untuk penyakit tertentu; dan kiranya hanya akan menjadi suatu nasihat daripada menjadi suatu aturan.

Solusi atau pencegahan pertama adalah menghilangkan semua yang mungkin yang menjadi penyebab  hasutan yang telah kita bicarakan; yaitu, kekurangan dan kemiskinan yang melanda negara. Untuk mencapai tujuan tersebut maka yang dilakukan adalah membuka perdagangan sekaligus menciptakan keseimbangan perdagangan yang baik; memelihara manufaktur-manufaktur; mengatasi pengangguran; menekan kesia-siaan dan ekses-ekses yang disebabkan oleh pemborosan yang dibuat oleh undang-undang, peningkatan dan penghematan akan sumber daya alam; regulasi harga barang yang beredar; moderasi pajak dan pungutan; dan semacamnya. Tetapi, pada umumnya haruslah berhati-hati terhadap keadaan sebelumnya bahwa populasi suatu kerajaan (khususnya jika populasi itu tidak menurun karena perang) tidak bisa melebihi persediaan kerajaan yang merupakan kewajiban kerajaan memelihara populasi tersebut. Populasi pun tidak bisa hanya dihitung melulu dengan angka; karena angka yang lebih kecil yang membuat kerajaan membelanjakan lebih banyak tetapi mendapatkan sedikit pemasukan sungguh segera memboroskan pendapatan kerajaan daripada angka yang lebih besar yang membuat kenyamanan hidup lebih rendah tetapi mengumpulkan pendapatan kerajaan dengan lebih. Oleh karena itu, peningkatan pembelajaan dari para bangsawan dan kelas-kelas lain dengan proporsi yang berlebihan dibanding pengeluaran untuk rakyat sungguh membawa suatu negara kepada kekurangan dengan cepat dan demikian juga dengan adanya para klerus yang berkelimpahan; karena mereka tidak menghasilkan apa-apa untuk persediaan kerajaan serta dalam konteks yang sama, ketika lebih banyak dipelihara para cendekiawan daripada pejabat dengan kedudukan tinggi yang dapat dipensiunkan.

Demikian juga harus diingat, bahwa karena pertumbuhan suatu negara haruslah di atas negara-negara lain (karena apa pun yang didapatkan di suatu tempat akan kehilangan di tempat yang lain), maka kiranya ada tiga hal yang membuat suatu bangsa berdagang dengan bangsa lain; komoditas sebagai pemberian alam; manufaktur; dan cara pengangkutan, atau pengangkutan. Akibatnya, jika ketiga roda ini berjalan, kemakmuran akan mengalir seperti di jalanan musim semi. Dan sering kali terjadi bahwa, materiam superabit opus; bahwa kerja dan pengangkutan lebih berharga daripada material dan lebih memperkaya negara, seperti yang terlihat di dalam Negara Bawah[16], yang memiliki pertambangan di atas tanah yang terbaik  di dunia.

Yang terpenting dari semuanya, kebijakan yang adil haruslah diterapkan yaitu bahwa sumber daya dan uang negara tidak boleh dikuasai oleh segelintir orang. Sebab jika sumber daya dan uang negara dikuasai oleh segelintir orang maka yang terjadi adalah negara punya persediaan yang melimpah tetapi rakyat kelaparan. Dan uang itu ibarat kotoran, tidak baik kecuali uang dikembangkan. Hal ini dilakukan pada dasarnya dengan menekan atau setidaknya menghentikan perdagangan riba[17] yang begitu lahap,  monopoli akan padang rumput-padang rumput yang subur dan semacamnya.

Untuk mengatasi ketidakpuasan-ketidakpuasan, atau setidaknya semua bahaya akibat dari ketidakpuasan-ketidakpuasan;  bahwa di setiap negara (seperti yang kita ketahui) selalu ada dua porsi subjek; para bangsawan dan rakyat jelata. Ketika salah satu dari subjek ini tidak puas, maka bahaya tidaklah terlalu besar; karena rakyat jelata adalah gerakan yang lambat, jika mereka tidak dipicu oleh kelas yang lebih tinggi; dan tampaknya pula bahwa kelas yang lebih tinggi hanya mempunyai kekuatan yang kecil, kecuali rakyat mendukung mereka dan siap bergerak yang bersumber dari kekuatan mereka sendiri. Selanjutnya adalah bahaya, ketika kelas yang lebih tinggi menunggu air yang keruh yang timbul di tengah-tengah rakyat kemudian kiranya mereka segera mendeklarasikan diri mereka. Para pujangga dengan syair-syairnya bercerita bahwa seluruh dewa kiranya akan mendukung Jupiter[18]; di mana dukungan itu sedang didengar oleh Jupiter sendiri, lewat nasihat Pallas, yang dikirim oleh Briareus[19] dengan seratus tangannya, sehingga menjadi dukungan penuh kepada Jupiter. Tentu saja cerita ini adalah sebuah simbol, tidak ragu lagi, yang menunjukkan bahwa betapa amannya bagi para raja jika dapat melaksanakan kehendak baik rakyat. Memberikan kebebasan moderat untuk melenyapkannya kesedihan dan ketidakpuasan (semoga demikian tanpa kemurkaan atau keberanian yang keterlaluan) adalah suatu jalan yang aman. Sebab raja yang kembali kepada humor-humor[20], justru akan membuat luka semakin berdarah di dalam sehingga makin membahayakan bisul yang ganas dan menjadi penyakit abses yang berbahaya.

Dalam kasus ketidakpuasan, yang terjadi adalah pemikiran akan masa depan justru akan menjadi pemikiran masa lalu: karena tidak ada suatu syarat apa pun yang lebih baik untuk melawan mereka yang penuh dengan ketidakpuasan. Pemikiran-pemikiran ke depan, tetapi ketika prahara dan kejahatan terbang mengangkasa, pada akhirnya justru menutup tutup bejana dan menyimpan harapan di bagian bawah bejana. Tentu saja bahwa politik dan pemeliharaan yang palsu serta harapan-harapan yang menyenangkan dan yang membawa rakyat dari harapan yang satu ke harapan yang lain adalah satu dari penawar yang termanjur melawan racun ketidakpuasan. Dan adalah suatu tanda yang pasti dari pemerintah sekaligus kinerja yang bijaksana, ketika pemerintah dapat mencuri hati rakyat dengan harapan yang mereka kobarkan, ketika pemerintah tidak bisa mencuri hati rakyat dengan kepuasan; dan pada saat pemerintah dapat mengatasi ketidakpuasan-ketidakpuasan dengan cara yang seperti itu, sepertinya tidak ada kejahatan yang akan muncul dengan pasti tetapi cara pemerintah yang demikian menciptakan instrumen harapan yang hampir pasti tidak mungkin dipenuhi, karena orang-orang tertentu dan para fraksi cenderung hanya membual atau setidaknya mereka begitu berani akan apa yang mereka sendiri tidak percaya.

Juga untuk tinjuan ke masa depan dan pencegahan, bahwa semoga tidak ada si pimpinan yang tepat dan yang dapat diandalkan yang melalui dia rakyat yang tidak puas kiranya dapat membuat huru-hara, dan ketika di bawah seseorang atau kelompok tertentu yang kiranya masyarakat bergabung dapat diidentifikasi maka akan menjadi suatu poin kewaspadaan yang sempurna. Saya memahami bahwa si pimpinan yang tepat adalah dia yang memiliki kebesaran dan reputasi; dan mempunyai dukungan dari  partai-partai yang tidak puas. Tetapi tentu saja ada orang-orang dari fraksi yang sama yang memalingkan mata mereka dan tidak senang akan kegemilangan si pimpinan yang tepat; mereka itu adalah baik orang-orang yang dimenangkan maupun direkonsiliasikan dengan pemerintah; akibatnya melalui cara yang kilat dan tepat, orang-orang pemerintah segera berkonfrontasi dengan para pendukung si pimpinan yang tepat itu yang pasti berseberangan satu sama lain sehingga memecah reputasi si pimpinan yang tepat itu. Umumnya, fraksi-fraksi dan semua aliansi yang terpecah dan bertengkar serta kombinasi dari kedua keadaan tersebut merupakan bahaya bagi negara tetapi mengkondisikan fraksi-fraksi sedemikian rupa supaya ada jarak di antara fraksi-fraksi tersebut atau yang setidaknya tidak ada kepercayaan satu sama lain bukanlah salah satu solusi yang terburuk. Adalah suatu persoalan yang tanpa harapan, seandainya mereka yang memegang tajuk pemerintahan itu kiranya diwarnai dengan pertikaian dan perpecahan sementara mereka yang beroposisi dengan pemerintah malah begitu kompak dan bersatu padu.

Saya telah memperhatikan bahwa beberapa pidato yang tajam dan cemerlang yang tercetus dari mulut para penguasa menyalakan api hasutan-hasutan. Caesar sungguh menyakiti dirinya sendiri tanpa ampun lewat perkataannya berikut ini, Sulla nescivit literas, non potuit dictare (Sulla[21] tidak pernah bersekolah, maka dia tidak bisa mendikte), karena perkataan Caesar ini menghancurkan secara total harapan yang ditaruh di pundaknya, bahwa pada suatu waktu atau dalam kesempatan yang lain Caesar akan teguh menjadi diktator. Galba merusak dirinya sendiri dengan perkataannya sebagai berikut: legi a se militem, non emi (aku tidak membeli para prajurit, namun aku hanya mengumpulkan mereka); karena perkataan Galba ini membuat para prajurit putus asa akan hadiah uang. Demikian juga Probus[22], dengan perkataannya, Si vixero, non opus erit amplius Romano imperio militibus (Jika aku hidup, kemaharajaan Romawi kiranya tidak lagi memerlukan prajurit); suatu perkataan yang menyebabkan keputusasaan yang dalam bagi para prajurit. Dan masih banyak contoh-contoh perkataan yang seperti itu. Pastilah bahwa para raja, dalam perkara-perkara yang sensitif dan saat-saat yang mudah menyinggung perasaan, haruslah waspada akan apa yang mereka katakan; khususnya dalam kata-kata mereka yang singkat, yang terucap keluar ibarat anak-anak panah, karena dinilai sebagai perkataan yang terpancarkan dari intensi-intensi mereka yang terselubung. Sebaliknya, berkaitan dengan diskursus-diskursus yang panjang, diskursus-diskursus tersebut adalah perkataan yang datar, dan tidak begitu diperhatikan.

Yang terakhir, semoga para penguasa, ketika menghadapi segala kejadian, yaitu demi memberantas hasutan-hasutan sejak semula, tidak tanpa orang-orang yang kompeten, melainkan dengan satu orang atau bahkan lebih; orang-orang tersebut berasal dari militer, yang taat kepada penguasa. Sebab jika tanpa orang-orang militer, akan ada kegentaran bercampur ketakutan di istana atas kekerasan pertama  yang berasal dari kerusuhan-kerusuhan daripada seandainya ada serangan yang tiba-tiba. Dan negara sedang berlari menuju bahaya seperti yang dikatakan oleh Tacitus: Atque is habitus animorum fuit, ut pessimum facinus auderent pauci, plures vellent, omnes paterentur (beberapa orang melalui canda semakin berhasrat melakukan kejahatan, semuanya mempersilahkan kejahatan). Tetapi biarkanlah orang-orang militer yang dipilih adalah orang yang terpercaya dan memiliki reputasi yang baik, daripada mereka menjadi anggota suatu partai dan begitu populer, juga pertahankanlah korespondensi yang baik bersama dengan orang-orang hebat lainnya yang ada dalam negara; atau yang lain obatnya akan menjadi lebih buruk daripada penyakitnya.

[1] Equinox berasal dari bahasa Latin aequus (setara) dan nox (malam) yang artinya secara harafiah adalah malam hari dan siang hari memiliki durasi panjang waktu yang sama. Suatu equinox terjadi dua kali dalam setahun (sekitar tanggal 20 Maret dan 22 September), yaitu ketika kemiringan poros bumi tidak menjauh maupun mendekat ke matahari sehingga pusat matahari dalam bidang yang sama sebagaimana khatulistiwa bumi. Maka istilah equinox dipakai untuk menunjukkan kapan terjadinya fenomena alam tersebut. Akibat dari equinox misalnya pada bulan Juli siang hari lebih panjang daripada malam hari di belahan bumi utara sedangkan di belahan bumi selatan malam hari lebih panjang daripada siang hari. Pada bulan Desember yang terjadi adalah sebaliknya, belahan bumi utara mengalami malam yang lebih panjang dari siang hari lebih pendek sementra belahan bumi selatan mengalami siang hari yang lebih panjang dari malam hari yang lebih pendek. Juga pada saat equinox, pada umumnya matahari terbit di setiap tempat di bumi (kecuali di kutub utara dan kutub selatan serta beberapa tempat tertentu) setiap pukul 6 pagi dan tenggelam pada pukul 6 sore.

[2] Publius Vergilius Maro yang biasa dipanggil Virgil atau Vergil adalah seorang penyair Romawi pada zaman Kaisar Agustus. Dia menulis tiga buah buku yaitu, Eclogues (Bucolics), Georgics, dan Aeneid (karyanya yang paling popular). Aeneid dianggap sebagai suatu epik nasional tentang Romawi kuno. Karya Virgil mempengaruhi kesastraan Barat terutama Dante dalam bukunya Divine Comedy. Karya-karya Virgil itu penuh misteri dan kedalaman.

[3] Tentang rumor akan dibahas pada essai LIX.

[4] Tambahan dari penerjemah. Bahasa Eropa dengan bahasa Latin sebagai ibu bahasa atau yang berdekatan dengan bahasa Latin seperti Perancis, Italia, Spanyol dan Portugal, Inggris dan Jerman menggolongkan kata rumor ke dalam golongan kata feminim.

[5] Dipetik dari buku Aenid.

[6] Dalam mitologi Yunani Coeus dan Enceladus adalah para titan anak Uranus (surga) dan Gaia (bumi)

[7] Ibid.

[8] Tentang Machiavelli lihat essai XIII; no. 2

[9] Tentang Henry III lihat essai IV; no. 7

[10] Liga Perancis ini dikenal dengan Liga Suci (Sainte Ligue) yang terbentuk pada masa peperangan antar agama di Perancis. Liga Perancis ini didirikan Henry de Guise karena Raja Henry III memberi kelonggaran kepada pihak Protestan dan adanya asumsi bahwa raja tidak mendukung pihak Katolik. Sebenarnya pembentukan Liga Suci oleh Henry de Guise hanya untuk ambisi pribadinya demi naik takhta dengan kedok agama sehingga menyulut banyak orang untuk bergabung dengan Liga Suci melawan raja dan kaum Protestan.

[11] Dalam astrologi kuno, primum mobile (penggerak utama) berada di luar orbit, yang pola pergerakannya dari Timur ke Barat menentukan pergerakan lengkungan bagian dalam dari planet-planet.

[12] Marcus Annaeus Lucanus adalah seorang penyair Romawi yang hidup pada zaman Kaisar Nero. Meskipun hidupnya singkat, (meninggal dalam usia 25 tahun) Lucanus dianggap salah penyair Latin yang gemilang. Pada mulanya ia adalah sahabat Kaisar Nero, tetapi dalam perjalanan waktu Lucanus dan Nero menjadi musuh. Kemudian ia bergabung dalam konspirasi melawan Nero yang dipimpin oleh Gaius Calpurnius Piso. Pengkhianatan Lucanus terendus oleh Nero sehingga Nero memerintahkan Lucanus bunuh diri. Ada banyak karya-karya yang hilang sementara karya-karya yang terselamatkan antara lain Bellum Civile (Civil War) yang mengisahkan perang antara Julius Caesar and Pompeius Magnus; Laus Pisonis (Praise of Piso).

[13] Perang sipil terjadi karena pendukung Julius Caesar dan pendukung Pompeius berperang demi takhta Romawi.

[14] Humor-humor yang dimaksud di sini bukanlah lelucon atau canda tetapi cairan tubuh yang membentuk peringai manusia. Selanjutnya tentang humor lihat essai III; no 2.

[15] Ketidakpuasan ini sama dengan kedengkian publik. Lihat essai IX.

[16] Tentang Negara-Negara Bawah lihat essai XIV; no.1

[17] Bandingkan dengan essai bunga uang (essai XLI)

[18] Jupiter adalah dewa tertinggi Romawi setara dengan dewa Zeus orang Yunani. Dalam legenda sejarah Romawi, Jupiter adalah lambang dan simbol sekaligus representasi para kaisar Romawi.

[19] Briareus disebut juga Aegaeon memiliki 100 tangan dan 50 kepala, anak Uranus (surga) dan Gaea (Bumi).

[20] Artinya kembali menciptakan ketidakpuasan-ketidakpuasan rakyat. Lihat kembali no. 13

[21] Lucius Cornelius Sulla Felix yang dikenal dengan nama Sulla adalah seorang jenderal dan negarawan sekaligus diktaktor. Dia dianggap sebagai salah satu orang yang penting dan berpengaruh dalam mewarnai buku sejarah Romawi. Kediktaktoran Sulla dimulai ketika partai Optimates (aristokrat) dan Populares berjuang demi kepentingan mereka masing-masing, di mana fraksi Optimates berusaha mempertahankan bentuk oligarkhi untuk kursi senat sementara fraksi populares berusaha mengisi kursi senat dengan orang-orang yang populer dari kalangan rakyat. Sulla berhasil mengatasi konflik dua fraksi tersebut. Setelah ia naik ke puncak pimpinan tertinggi Romawi, Sulla menjadi diktaktor yang menentukan segala-galanya: ia menjadi pembuat hukum dan kekuasaannya tak terbatas. Ia juga membantai 1500 aristokrat dan 9000 orang dieksekusi mati. Julius Caesar yang masih muda menjadi target kejaran Sulla. Sebagai pemimpin militer, ia merupakan jenderal yang gemilang, tak pernah kalah dalam pertempuran di mana pun. Sulla mengakhiri kediktaktorannya dengan mengundurkan diri. Kemudian Caesar menggantikan Sulla setelah memenangkan pertempuran melawan Pompeius.

[22] Marcus Aurelius Probus Augustus adalah kaisar Romawi tahun 276 sampai dengan tahun 282, pengganti Kaisar Florianus. Selama masa kekaisarannya, Probus menguatkan perbatasan sungai Rhine dan Danube untuk mencegah suku-suku Germania seperti Goth, Franks, Burgundi dan Vandal. Ia digantikan oleh Kaisar Carus.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply