Hari Valentine: Hati St. Valentinus yang terdiam

Lukisan Paul Cezanne, Still Life Flowers in Vase, 1888

Bukti cinta ada di dalam setiap karya.

Di mana cinta ada maka cinta akan mengerjakan hal-hal yang besar.

Sebaliknya ketika cinta berhenti berkarya, di saat itu pula cinta menghilang”

Paus Gregorius Agung

Setiap tanggal 14 Februari kita merayakan hari Valentine yang kita maknai sebagai hari kasih sayang. Pada hari valentine, orang mengatakan dan menyatakan cinta kepada yang dicintai. Cinta disimbolkan dalam bentuk hadiah, coklat, bunga, kartu valentine dan sebagainya. Jadi, tak mengherankan kalau setiap kali kita berpikir tentang valentine, yang muncul dalam dalam benak kita yang pertama adalah kartu valentine, coklat, mawar dan tentu kata-kata cinta: “aku sayang kamu”.

Pada saat merayakan Valentine, sesungguhnya, banyak orang tidak tahu sejarah valentine; tak mengerti dan tak mengenal keaslian cerita valentine. Akibatnya, makna dan arti Valentine yang sejati semakin terkubur dalam tanah profanisme dan sekularisme yang tak bermakna apa-apa. Orang hanya memaknai Valentine sebatas hari kasih sayang dengan pesta yang meriah, lagu yang romantis, hadiah yang bagus tetapi kehilangan keindahan moment valentine yang sejati.

 

Sejarah Valentine day

Sebenarnya, hari Valentine lahir dari kisah kehidupan dan kematian seorang martir Kristiani. Menurut Martha Zimmerman, asal muasal perayaan Valentine adalah festival bangsa romawi yang disebut Lupercalia yang dirayakan setiap tanggal 15 Februari. Festival Lupercalia merupakan perayaan kesuburan di mana Dewa Juno-dewa kesuburan bangsa Romawi-dihormati. Tahun 496 Masehi, festival Lupercalia ini dihapus oleh Paus Gelasius dengan cara menyisipkan semangat St. Valentinus pada festival Lupercalia dan tanggalnya digeser menjadi tanggal 14 Februari. Sebab, pada tanggal 14 Februari St. Valentinus wafat sebagai martir Kristus. Lewat teladan St. Valentinus, perayaan Lupercalia berubah menjadi perayaan St. Valentine. Sejak 14 Februari tahun 496 Masehi, setiap tanggal 14 Februari dirayakan sebagai hari St. Valentine yang digores dengan tinta kemartiran St. Valentinus.

Lalu siapakah St. Valentinus? Dalam gereja ada 3 orang yang mempunyai nama St. Valentinus dan ketiganya dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Ketiga Valentinus ini semuanya martir kristus: Valentinus yang mati di Africa, Valentinus Roma dan Valentinus Treni[1]. Mereka bertiga dibunuh karena kesaksian iman dan kesetiaan mereka kepada Kristus. Tidak banyak data yang diketahui tentang ketiga orang ini karena data-data tentang mereka hilang. Hari Valentine yang kita rayakan setiap 14 Februari diambil dari kisah St. Valentinus Roma. Valentinus Roma adalah seorang pemuda Romawi yang amat mencintai Kristus[2]. Kisahnya sebagai berikut:

Valentinus hidup pada saat Kaisar Claudius II bertahta (abad 3). Pada zaman pemerintahannya, Kaisar Claudius mengharuskan setiap warga Romawi memuji dan mengakui bahwa Kaisar adalah Tuhan. Valentinus menolak perintah Kaisar. Konsekuensinya ia dihukum penjara. Selama di penjara, Valentinus berdoa, melayani bahkan bersaksi akan imannya kepada orang-orang yang ada di penjara. Ada salah seorang sipir penjara yang baik dan sipir itu mengadopsi seorang anak perempuan yang buta[3]. Sipir penjara tersebut memohon kepada Valentinus supaya Valentinus memelekkan mata anaknya itu. Lalu, Valentinus berdoa dan mukzijat pun terjadi: gadis itu dapat melihat lagi. Semenjak mukjizat itu terjadi, penjaga tersebut dan beserta seluruh keluarganya serta 46 orang yang ada di penjara percaya akan Yesus dan mereka semua dibaptis. Gadis buta yang disembuhkan sering mengunjungi Valentinus. Ternyata, di balik jeruji penjara, Valentinus –pemuda Romawi- itu jatuh cinta kepada si gadis. Kaisar mendapat laporan apa yang terjadi di penjara. Kaisar marah dan menghukum mati Valentinus.

Malam hari, sebelum dihukum mati, Valentinus menulis dalam sebuah kartu untuk sang gadis. Kartu itu dibubuhi tanda tangan: Dari Valentinmu[4] (from your Valentine). Sebenarnya Valentinus bisa saja bebas dan mendapatkan cinta si gadis  asalkan dia menyangkal Kristus dan mengakui bahwa Claudius sebagai Tuhan. Namun ia memilih mati demi cinta akan Kristus daripada menyangkal-Nya. Tepat pada tanggal 14 Februari 270, Valentinus dipenggal oleh algojo Romawi. Darah St. Valentinus yang tertumpah pada tanggal 14 Februari 270 adalah darah seorang martir yang menunjukkan cinta suci akan Kristus. Maka, cinta dan kemartiran St. Valentinus diperingati oleh gereja setiap tanggal 14 Februari. Jadi perayaan hari Valentine yang pertama adalah sungguh-sungguh bernuansa kemartiran akan Kristus.

Tahun demi tahun makna hari St. Valentine bergeser menjadi hari kekasih (sejoli). Chaucer –seorang Inggris-  adalah orang pertama yang menyisipkan dan menghubungkan hari Valentine dengan kekasih. Sejak saat itu, pelan-pelan hari Valentine melulu berkaitan dengan ungkapan kasih kepada orang yang kita cintai dan melupakan cinta St. Valentinus yang sesungguhnya yaitu mencintai Kristus dengan segenap hati, jiwa, tubuh bahkan sampai kematian. Ironisnya lagi, gelar Santo (St.) pada perayaan St. Valentine hilang dan berubah hanya menjadi Valentine day tanpa ada lagi gelar/tulisan St. Lalu kisah kemartiran St.Valentinus lenyap. Kemudian Valentine day hanya menjadi pesta duniawi tanpa ada jiwa, semangat dan cinta St. Valentinus. Pada setiap Valentine day, hati St. Valentinus selalu terdiam dan terbungkam.

Lalu apa yang bisa kita petik dari dari sejarah dan asal-muasal hari valentine serta teladan St. Valentinus? Pada Valentine day, ingatlah dan kenanglah kemartiran St.Valentinus yaitu bagaimana ia mengorbankan hidupnya demi Kristus. Rayakanlah dan resapilah hari Valentine dengan semangat baru: cinta kepada Kristus. Mencintai Kristus terbukti jika kita bersaksi akan Kristus baik lewat tindakan dan kata-kata tanpa takut, tanpa malu. Kita harus berani mewartakan Kristus di tengah-tengah dunia seperti keberanian dan cinta St. Valentinus akan Kristus.

 

Merayakan Valentine day dengan cinta St. Valentinus

Bagaimana merayakan hari Valentine day dengan cinta St. Valentinus?

Yang pertama, persembahkanlah hidupmu untuk Kristus.

Yang kedua, katakanlah kebenaran cinta Kristus meskipun kesulitan, tantangan bahkan kematian harus kamu hadapi.

Yang ketiga, layanilah setiap orang yang kamu cintai dan bukannya meminta dan menuntut mereka untuk memenuhi kebutuhanmu.

Dan yang terpenting pada hari St. Valentine day, ingatlah bahwa kamu sungguh dicintai Kristus. Kristus sungguh mencintai kamu dan menginginkan kamu menjadi Valentine-Nya. Pada setiap hari Valentine, Kristus berbisik kepada kamu: Maukah kamu menjadi Valentine-Ku?

Itu pilihanmu!!. Katakanlah ya dan berikanlah cintamu sebagaimana Kristus menginginkannya. Ketika kamu melakukan itu, kamu akan tahu arti dan makna Valentine yang sesungguhnya. Itu berarti kamu merayakan hari Valentine dengan cinta St.Valentinus. Dan di balik surga St.Valentinus tersenyum kepadamu karena kamu ingat kembali cinta dan kemartirannya kepada Kristus. Itulah yang dimaui dan dikehendaki St.Valentinus setiap kali kamu merayakan St. Valentine day. Dan tentu saja, St.Valentinus akan selalu mendoakanmu supaya kamu semakin mencintai dan dicintai Kristus.

Demikianlah pesan St.Valentinus; demikianlah kartu Valentine St.Valentinus

untukmu.

 

 

Daftar Pustaka

El  Dia di San Valentine, sumber internet

La Festa di San Valentino 2009 il “santo dell’amore, idem.

Meaning of Valentine day, idem.

San Valentino Martire 14 febbraio, idem.

San Valentín: El origen del día de los enamorados, idem.

Saint Valentine, idem.

The History of Valentine, idem.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[1] Beberapa sumber mengatakan bahwa Valentinus Roma dan Valentinus Treni adalah orang yang sama.

[2] Beberapa sumber juga mengatakan bahwa Valentinus romawi adalah seorang imam Kristiani.

[3] Kemungkinan besar nama gadis itu adalah Julia.

[4] Bermula dari kejadian Valentinus yang mengirim kartu untuk gadis buta yang ia sembuhkan, maka pada setiap hari Valentine orang mengirimkan kartu Valentine kepada orang yang  dicintainya.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply