Genus & Ada

Lukisan Susan Rios, Camellia Rose Tea Room

Memahami genus atau kelas merupakan bagian penting di dalam memahami ada. Genus dalam hubungannya dengan ada telah menjadi perdebatan yang kompleks dalam sejarah filsafat. Apa itu genus? Dan bagaimana hubungannya dengan ada? Apakah genus sama dengan ada?

Menurut Thomas Aquinas mengutip Aristoteles genus dapat diartikan dalam empat pemahaman:

  1. Genus berarti generasi secara berkelanjutan dari hal-hal yang memiliki species yang sama. Sebagai contoh seperti dikatakan bahwa selama genus manusia eksis, kelanjutan generasi manusia pun akan berlangsung. Definisi yang lain yang sepaham dalam arti yang pertama, genus adalah sekumpulan hal-hal yang memiliki relasi satu sama lain dan kepada satu prinsip[1].
  1. Genus berarti itu yang dari mana hal-hal pertama dibawa kepada ada; beberapa hal berasal dari suatu pelahir. Misalnya orang-orang di dataran Skandinavia disebut orang-orang Viking karena mereka keturunan Viking, orang-orang Viking adalah pelahir mereka. Dalam kontek ini genus merujuk pada ras.[2]
  1. Genus dalam yang pemahaman yang ketiga ini menyangkut soal subjek dalam aksiden. Misalnya kedataran (subyek) disebut sebagai genus dari bentuk-bentuk datar (aksiden); keras adalah genus dari bentuk-bentuk yang keras. Genus dalam pemahaman yang ketiga ini berbeda dengan genus seperti dalam genus yang menunjukkan hakekat suatu species (misalnya binatang adalah genus dari manusia). Dalam pemahaman yang ketiga ini genus berarti subjek yang sesuai di dalam species dari aksiden-aksiden yag berbeda. Kedataran adalah subjek dari semua bentuk-bentuk datar. Bagaimana subjek dapat disebut dengan genus? Menurut Thomas, subjek membentuk suatu keserupaan (kesamaan) dengan suatu genus yang terjadi di dalam definisi suatu species. Dari sebab itu, subjek dari suatu aksiden dipredikatkan[3] atau dikategorikan seperti genus. Setiap bentuk-bentuk, misalnya bentuk-bentuk datar tentu memiliki permukaan kedataran (genus), kemudian bentuk-bentuk keras, keras di sini pun sebagai genus. Ada perbedaan genus di dalam subjek-subjek tersebut: kedataran berkaitan dengan bentuk-bentuk datar dan keras berkaitan dengan bentuk yang keras. Kedataran dan keras adalah genus sebagai subjek yang berbeda; dan perbedaan (datar dan keras) dipredikatkan dalam makna kualitas. Kualitas di sini menunjukkan dan mempertegas arti. Misalnya ketika kita berkata permukaan keras yang berbentuk kotak, permukaan keras dapat dipahami lewat kotak sebagai kualitas[4]. Berkat perihal kualitas (aksiden) intelek kita dapat mengabstrasikan sesuatunya. Maka, gagasan genus yang diperoleh melalui abstraksi memiliki ekstensi yang luas (genus mencakup beberapa objek) dalam arti bahwa genus tersebut mencakup serangkaian properti yang terdiri dari isi-isi properti tersebut. Instrumen musik mencakup instrumen-instrumen gesek, instrumen-instrumen tiup, instrumen-instrumen tabuh.
  1. Dalam pemahaman yang keempat, genus adalah elemen utama yang ada di dalam definisi, yang dipredikatkan secara esensial sehingga perbedaan-perbedaan kiranya menjadi kualitas-kualitasnya. Misalnya definisi tentang manusia yaitu binatang berakal budi. Di sini binatang adalah elemen utama dari definisi tentang manusia yang dipredikatkan secara esensial, kemudian akal budi merupakan kualitas unik dari manusia.

Kesimpulannya, terminologi genus dipahami dalam begitu banyak pengertian: dalam pengertian yang pertama, genus dipahami sebagai keberlangsungan generasi suatu species; dalam pengertian yang kedua genus dipahami sebagai prinsip penggerak yang utama; dalam pemahaman yang ketiga dan keempat genus menyangkut soal materi. Mengapa ada begitu banyak pengertian tentang genus? Tentu saja karena genus berurusan dengan perbedaan-perbedaan dalam cara yang serupa dengan subjek ketika subjek dikaitkan dengan kualitas (misalnya Petrus (subjek) adalah anak yang baik (kualitas). Konsekuensinya jelaslah bahwa genus itu dapat dipredikatkan (dikategorikan) dan ketika genus sebagai subjek, genus memiliki satu arti dan genus itu sendiri memiliki karakter materi (seperti contoh di atas: bentuk kotak, bentuk keras, bentuk datar, instrumen musik). Yang patut diingat bahwa ketika genus dipredikatkan, maka genus berarti suatu keseluruhan sebagai suatu nama yang mendistingsikan apa yang bersifat material dalam hal yang konkret tanpa determinasi suatu forma[5]. Oleh sebab itulah genus berasal dari materi. Walaupun demikian, genus bukanlah materi, meskipun genus diambil dari materi seperti halnya perbedaan diambil dari forma. Sebagai contoh, suatu hal disebut binatang (genus) karena memiliki kodrat perasaan; dan binatang (genus) disebut rasional (spesies) karena memiliki kodrat rasional (perbedaan) yang berkaitan dengan kodrat perasaan seperti halnya forma berkaitan dengan materi[6]. Jadi genus menunjukkan segala sesuatu yang umum (belum terdeterminasi) yang ada di dalam spesies[7].

 

 

Genus bukanlah ada

Melihat beberapa pemahaman di atas, maka genus dapat diringkas sebagai suatu gagasan yang diterapkan secara setara dan tak terbatas kepada berbagai hal karena genus hanya menunjukkan karakter-karakter umum dari semua hal tersebut dan mengesampingkan aspek-aspek yang membedakan hal-hal tersebut[8]. Sebagai contoh gagasan “binatang” adalah gagasan genus yang diaplikasikan secara sama kepada segala sesuatunya yang memiliki kehidupan dan perasaan (manusia, anjing, kuda). Karena terlalu umum (binatang) dan agar menjadi lebih spesifik (manusia), kita harus menambahkan aspek-aspek yang membedakan yang tidak berada di wilayah genus yaitu perbedaan-perbedaan sehingga dengan perbedaan tersebut lahirlah species. Ketika perbedaan-perbedaan itu dihilangkan maka akan terbentuk genus. Sebaliknya, ketika menambahkan aspek-aspek yang membedakan kita telah keluar dari wilayah genus, misalnya manusia adalah binatang berakal budi. Jadi, genus dipersempit dan diartikan dengan cara menambahkan perbedaan-perbedaan yang spesifik.

Melihat pemahaman genus yang demikan tentu memantik pertanyaan: apakah genus adalah ada? Thomas Aquinas dan Aristoteles menyanggah bahwa genus bukanlah ada:

Sekarang, bahwa ada bukanlah suatu genus dibuktikan oleh Sang Filosof dalam cara berikut ini:    seandainya ada adalah suatu genus maka kita kiranya harus menemukan suatu perbedaan untuk memspesifikasikan genus dengan species. Tetapi nyatanya tidak ada perbedaan-perbedaan yang berlangsung di dalam genus bahwa genus terdiri gagasan tentang perbedaan, sebab jika perbedaan-perbedaan dimasukkan ke dalam genus, genus kiranya akan dimasukkan dua kali dalam definisi species. Malahan, perbedaan itu sendiri berada di luar genus ketika dipahami dalam natura genus. Sebaliknya, akan menjadi kesia-kesiaan ketika perbedaan yang berada di luar dipahami dalam ada seandainya ada dimasukkan di dalam konsep akan hal-hal di mana ada dipredikatkan. Oleh karena perbedaan berada di luar ada, maka ada tidak dapat dispesifikasikan dengan segala perbedaan. Ada, oleh karena itu, bukanlah suatu genus[9].  

Bagaimana menjelaskan perkataan Thomas Aquinas ini?

  1. Ada bukanlah genus karena tidak ada aspek-aspek perbedaan yang ditambahkan di dalam ada dan genus sendiri tidak memuat perbedaan-perbedaan tersebut. Gagasan binatang (genus) tidak mencakup perbedaan-perbedaan yang membedakan binatang yang satu dengan yang lain; perbedaan-perbedaan belum ada di dalam genus. Seandainya di dalam genus disisipkan perbedaan-perbedaan, maka genus akan menjadi sama dengan species. Sedangkan gagasan ada tidak hanya menunjukkan hal-hal yang umum tetapi juga aspek-aspek yang membedakannya karena ada telah dikarakterkan dan dideterminasi. Dengan demikian, ada tidak hanya merangkul segala realitas secara menyeluruh tetapi juga mengartikan realitas tersebut dengan karakter-karakter singular yang dimiliki realitas tersebut bahkan ada itu mentransendensi genus dan species.
  1. Segala sesuatu yang ditambahkan kepada ada, atau aspek-aspek perbedaan yang disisipkan kepada ada hanya mengekspresikan cara ada (modus entis) yang tak terekspresikan oleh nama “ada” itu sendiri. Modus entis terjadi di dalam dua rupa: cara ada dengan caranya yang partikular atau spesifik yaitu aksiden dan categori di mana dengan aksiden dan kategori ada direaliasikan; yang kedua cara umum, general yang meliputi segala yang ada yaitu transendental ada (unum, bonum, verum, pulchrum). Tetapi ada tidak dapat ditambahkan sesuatu pun dari luar sebagaimana dalam cara perbedaan ditambahkan kepada suatu genus atau suatu aksiden kepada subjek. Jadi, seandainya konsep ada telah memiliki perbedaan-perbedaan yang mengkarakterkan ada, maka konsep ada tidak dapat menyisihkan tak satu pun perbedaan dan cara mengadanya; seandainya menyisihkan cara mengada ada (modus entis), maka ada akan menyisihkan dirinya sendiri atau adanya pula. Sebaliknya, genus dapat menyisihkan perbedaan-perbedaan yang ditambahkan kepada genus. Karena ada bukanlah genus, maka aspek-aspek ada misalnya substansi-aksiden bukanlah species dari ada melainkan determinasi ada (modus entis). Ketika aku berpikir tentang sebuah substansi, aku tidak berpikir tentang suatu ada dengan sesuatu yang ditambahkan kepada ada, melainkan suatu ada yang kurang lebih dipahami. Seperti ketika seseorang melihat sesuatu melalui teleskop dan dia tidak tahu apa yang ia lihat, setelah memfokuskan pada teleskop dan mengamat-amati dengan cermat, ternyata hal yang tidak jelas tersebut adalah sebuah kapal. Jadi ketika kita melihat ada sebagai substansi, maka yang kita melihat tidak lebih daripada ada, kita melihat ada dengan lebih khusus, spesifik, pendek kata ada tidak menerima suatu penambahan melainkan determinasi.
  1. Gagasan ada yang kita ketahui adalah ada yang aktual, tetapi cara mengada ada itu, karakter-karakternya, aspek-aspek yang mendeterminasi kita mengetahuinya hanya secara implisit (actu implicite). Mengapa ? Ada memiliki karakter-karakter di dalam dirinya sendiri, aspek-aspek melekat dan menyatu di dalam ada. Dalam arti inilah bahwa kepada ada tidak dapat ditambahkan perbedaan atau sesuatu pun dari luar. Sementara genus (misalnya binatang) memiliki aspek-aspek atau determinasi-determinasinya secara potensial yang akan membuatnya menjadi spesies (misalnya manusia atau kuda). Dikatakan potensial karena genus menerima aspek-aspeknya dari luar (ditambahkan) atau dengan kata lain tidak berasal dari dirinya sendiri. Ditambahkan berarti aspek-aspek yang ditambahkan (species) bukanlah hal yang konstitutif bagi genus. Misalnya rasional yang adalah tanda yang membedakan antara binatang rasional dan binatang irasional bukanlah merupakan isi dalam genus binatang melainkan ditambahkan kepada manusia yang benar dan manusia yang biadab.

Juga ada bukanlah genus karena ada dipredikatkan secara analogi bukan secara univox. Bagaimana mengerti ini? Titik tolaknya berpangkal pada prinsip intrinsik yaitu materi-forma yang didasarkan pada dua sudut pandang berikut ini:

  • Menurut kesesuaian dan perbedaan hal-hal yang berasal dari prinsip intrinsik materi-forma[10]. Prinsip intrisik materi-forma menghasilkan ada yang sama tetapi juga ada yang berbeda. Akibatnya yang terjadi adalah:
    • Kita menjumpai ada yang secara numerik sama misalnya Thomas dan orang yang ditunjuk oleh Thomas misalnya Benjamin, secara numerik sama karena Thomas dan Benjamin sama materi dan formanya yaitu materinya adalah tubuh dan formanya adalah jiwa[11]. Prinsip materi-forma di sini menyebabkan kesamaan di antara ada-ada.
    • Juga ada yang secara numerik berbeda tetapi secara spesifik sama, misalnya Silvie dan Claire, meskipun mereka secara numerik berbeda (misalnya tinggi, kulit, berat badan yang berbeda satu sama lain) tetapi memiliki kesamaan species yaitu sebagai manusia. Ada numerik berbeda tetapi spesifik sama juga disebabkan oleh prinsip materi-forma. Dalam contoh Silvie dan Claire, mereka dikatakan secara numerik berbeda karena materi mereka berdua memang tubuh tapi tubuh mereka tidak sama (Claire lebih tinggi, lebih gemuk daripada Silvie) tetapi secara forma sama yaitu jiwa. Prinsip materi-forma merupakan prinsip kesamaan sekaligus juga prinsip perbedaan[12].
  • menurut kesesuaian dan perbedaan prinsip intrinsik materi-forma[13]. Prinsip intrinsik materi-forma adalah dua elemen yang berbeda tetapi berada di dalam satu kesatuan.
    • Terdapat ada yang berbeda secara spesifik tetapi sama secara genus, seperti manusia dan keledai memiliki genus yang sama yaitu sebagai binatang tetapi berbeda secara spesifik karena manusia adalah binatang rasional sementara keledai tidak memiliki rasionalitas[14].
    • Yang lain, ada secara genus berbeda tetapi secara analogi sama misalnya substansi dan quantitas tidak memiliki genus yang umum tetapi secara analogi sama karena mereka sama sejauh mereka adalah ada[15].

Terbukti bahwa ada bukanlah genus karena ada tidak predikatkan secara univox tetapi secara analogi[16].

 

 

 

 

 

 

[1] Thomas Aquinas, dalam V Metaphysics, lect. 21, n. 1120

[2] Ibid., n. 1121

[3] Predikat sama dengan kategori maka dipredikatkan sama dengan dikategorikan.

[4]Thomas Aquinas, dalam V Metaphysics, lect. 21, n. 1122

[5] Ibid., De Ente et Essentia, no. 31

[6] Ibid., dalam V Metaphysics, lect. 21, n. 1123

[7] Ibid., De Ente et Essentia, no. 32

[8] Tomas Alvira, Luis Clavell, Tomas Melendo, Metaphysics (Manila: Sinag-Tala, 1991) hal 29-30

[9] Thomas Aquinas, Summa Contra Gentiles, Book I, ch. 25, para. 6.

[10] Thomas Aquinas, De Principiis Naturae, no. 49

[11] Ibid.

[12] Ibid.

[13] Ibid. no. 45

[14] Ibid. no. 49

[15] Ibid.

[16] Ibid no. 45

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply