Esensi Tuhan dan Esse-Nya

 

Lukisan John Constable,Parham Mill, Gillingham,1826

Esensi Tuhan definitif adalah Cinta dan Belas Kasih

 

Esensi sebagaimana dikatakan menjelaskan dan mengatakan tentang apakah sesuatu hal itu. Maka berbircara tentang esensi Tuhan berarti berbicara tentang siapakah Tuhan. Tuhan  telah merevelasikan diri-Nya kepada ciptaan terutama manusia. Karena itulah manusia dapat berbicara tentang Tuhan dan mendiskusikan siapakah diri-Nya. Tuhan memang bisa dikatakan, didiskusikan tetapi dia tidak dapat didefinisikan karena mendefinisikan Tuhan berarti membatasi Tuhan. Juga pembahasan tentang esensi Tuhan sebenarnya terbatas karena manusia sebagai ciptaan-Nya terbatas, dengan kata lain Tuhan terlalu kaya untuk didiskusikan di dalam pikiran manusia yang sempit. Walaupun demikian, dengan akal budi dan refleksi atas pengalaman manusia mencercap, mengenali, merasakan, memahami identitas Tuhan dalam keterbatasannya sebagai ciptaan.

 

 

Esensi Tuhan: Ipsum esse subsistens

Tuhan adalah Ipsum Esse Subsistens (subsistent Being Itself) yang berarti Tuhan adalah kesempurnaan ada, kepenuhan ada dan pusat dan sumber segala yang ada. Esensi Tuhan yang adalah ipsum esse subsistens mendeklarasikan bahwa di dalam Tuhan tidak ada perbedaan antara esensi dan esse atau esse dan esensi-Nya sama, satu. Tuhan adalah satu-satunya Ada yang mana Adanya tidak memiliki komposisi, tidak ada potensi sehingga penuh dengan aktualitas karena ada-Nya adalah eksistensi atau esse itu sendiri. Oleh karena Dia adalah esse itu sendiri maka tak ada esensi yang membatasi-Nya. Dengan demikian Dia adalah ada non komposisi atau ens simpliciter.

Ada Tuhan yang adalah ipsum esse subsistens membedakan antara ada-Nya dengan ada ciptaan. Ada-Nya adalah ada oleh karena esensi-Nya sementara ada ciptaan adalah ada oleh partisipasi dan karena partisipasi ada ciptaan memiliki komposisi. Ada komposisi (ens commune) menunjukkan bahwa segala ada ciptaan, segala eksistensi yang tak sempurna berpartisipasi hanya di dalam eksistensi sempurna yaitu ipsum esse subsistens. Seandainya esensi Tuhan berbeda dengan esse-Nya maka itu berarti esse dibatasi esensi sehingga ada Tuhan disebabkan oleh sesuatu yang lain dan pada saat yang sama identitas TUhan tidak ada bedanya dengan identitas ada ciptaan. Tentu hal ini adalah absurd karena pembatasan esse oleh esensi hanya berlaku untuk ciptaan yang mana terdapat distingsi yang jelas antara esse dan esensi. Karena terdiri dari esse dan esensi tentu ada ciptaan memiliki aktualitas dan potensi. Tidak demikian dengan Tuhan. Tuhan adalah esse yang aktual sehingga dari esse-Nya yang aktual, ia menciptakan segala yang ada. Esse-Nya adalah satu, simple, tetap dan kekal. Esse-nya yang demikian disebut esse tantum atau esse purum. Karena esse-Nya, TUhan memiliki pengetahuan yang kekal dan tentang segalanya.

Ipsum Esse Subsistens selain dapat diartikan dengan Subsistent Being Itself juga dapat dimaknai sebagai berikut:

  1. Subsistent Act of Existing

Ipsum esse subsistens sama dengan subsistent Act of existing (eksistensi yang aktual oleh esse) artinya Tuhan memiliki segala potensi dalam kaitannya dengan esensi-Nya tetapi direalisasikan terus-menerus dan diaktualkan dengan sempurna dalam hubungan dengan esse-Nya. Hal itu terjadi karena esse-Nya adalah satu dengan esensi-Nya dan esensi-Nya adalah satu dengan esse-Nya.

  1. Subsistent Existence itself

Tuhan sebagai Ipsum esse subsistens juga identik dengan Subsistent Existence Itself. Maksudnya adalah bahwa eksistensi-Nya adalah esensi-Nya, eksistensi-Nya sama dengan esensi-Nya karena Esse-Nya mengaktual secara sempurna. Menurut Thomas fakta ini dapat dijelaskan dalam tiga cara[1]:

  1. Eksistensi ada ciptaan tak mungkin disebabkan oleh esensinya karena eksistensi ada ciptaan disebabkan oleh causa efisien yaitu adanya agen. Air panas di panci disebabkan oleh api kompor bukan oleh air itu sendiri. Dengan demikian ekistensi ada ciptaan tidak sama atau berbeda dengan esensinya. Maka, eksistensi segala yang ada atau eksistensi ciptaan disebabkan oleh eksistensi murni yaitu sesuatu yang mengada di dalam dirinya sendiri (per se). Eksistensi murni pasti adalah causa pertama yang tidak disebabkan yaitu Tuhan. Sebagai causa pertama yang tidak disebabkan maka Tuhan adalah causa efisien yang pertama yang menyebabkan eksistensi segala yang ada. Konsekuensinya, Tuhan sebagai causa efisien yang pertama yang menyebabkan eksistensi segala yang ada sudah barang tentu esensi dan eksistensi-Nya adalah sama. Seandainya eksistensi dan esensi-Nya tidak sama maka tidak akan ada segala yang ada. Selain itu jika esensi dan eksistensi-Nya tidak sama yang terjadi adalah infinitas karena segala sesuatunya tidak memiliki eksistensi maupun eksistensi segala yang ada tidak dapat dirunut asal muasalnya.
  1. Eksistensi adalah itu yang membuat natura atau forma menjadi aktual sementara esensi adalah potensi. Jadi karena ada Tuhan tidak ada potensi dan hanya aktualitas maka eksistensi-Nya adalah esensi-Nya.
  1. Itu yang memiliki eksistensi bukanlah suatu eksistensi tetapi adalah suatu ada karena partisipasi. Misalnya korek api menghasilkan api maka itu yang memiliki api bukanlah api itu sendiri tetapi api karena partisipasi. Jadi seandainya eksistensi Tuhan tidak sama dengan esensi-Nya berarti Tuhan adalah ada partisipasi dan hal itu tidaklah mungkin. Partisipasi berarti ia menerima. Dia yang menerima tentu bukanlah Sang ada yang mencipta yang disebut dengan Ada pertama atau Ada yang tidak disebabkan. Ada yang berpartisipasi berarti ia membutuhkan suatu eksistensi yang ke dalamnya ia berpartisipasi. Karena Tuhan adalah causa pertama yang tidak disebabkan maka eksistensi Tuhan adalah esse-Nya: eksistensi melalui natura-Nya; esensi-Nya sama dengan esse-Nya karena berkat esensi-Nya yang sama dengan esse-Nya Ia menciptakan segala yang ada, Ia adalah aktualitas murni (actus purus). Jadi karena esensi-Nya sama dengan eksistensi-Nya maka Ia adalah Ipsum esse subsistens.

Ada Tuhan melampaui segala kategori atau tidak menjadi milik genus maupun species manapun; di atas segala genus karena di dalam genus ada potensi sementara Tuhan adalah aktualitas. Karena aktualitas murni yang berarti tidak ada potensi maka Tuhan adalah prinsip segala yang ada.

Esensi Tuhan sebagai ipsum esse subsistens mengukir identitas ada ciptaan bahwa ada ciptaan bukan hanya eksistensinya tetapi juga bahwa ada menemukan makna dirinya dan realitas terakhir di dalam esse atau eksistensinya sekaligus TUhan sebagai causa finalitasnya.

Konsekuensi ipsum esse subsistens

  1. Tuhan adalah aktualitas murni (actus purus)

Ada ciptaan selalu tersusun dari aktualitas dan potensi, kesempurnaan dan ketidaksempurnaan. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Tuhan adalah aktualitas murni (actus purus)? Materi utama yang adalah dasar substansi material adalah murni potensi. Maka materi utama pasti mengalami perubahan dari potensi menuju aktualitas misalnya menjadi substansi, quantitas, waktu dan seterusnya. Jadi materi utama jelas tidak sempurna sehingga materi utama berubah menjadi aktualitas yang mana aksinya membutuhkan suatu suksesi. Ada-ada ciptaan untuk berubah dari potensi menuju aktus membutuhkan aktualitas yang sudah ada, tanpa ada aktualitas yang sudah ada, potensi tidak mungkin berubah menjadi aktualitas. Aktualitas disebabkan adanya causa efisien yaitu agen. Dari causa efisien atau agen pasti terdapat aktualitas murni yang tidak disebabkan yang menjadi causa efisien segala yang ada yaitu Tuhan.

Tuhan sebagai aktualitas murni berarti bahwa kesempurnaan-Nya tak terbatas, kekal dan absolut karena tiada potensi di dalam diri-Nya. Tuhan adalah aktualitas yang murni karena segala potensi positif di dalam Tuhan selalu terpenuhi dan diaktualisasi secara infinitas. Jadi dalam Tuhan tidak ada pasif potensi. Pasif potensi adalah fundamen dan akar dari proses menjadi atau prinsip yang memampukan ada mencapai kesempurnaannya sebagai ada yaitu aktualitas dan mencapai finalitasnya. Proses menjadi dapat diartikan perubahan dari potensi menuju kepada aktualitas. Dengan demikian yang tidak berubah tidak mungkin masuk ke dalam proses menjadi bukan karena tidak memiliki pasif potensi tetapi justru karena apa yang tak berubah adalah aktualitas: actus purus.

  1. Tuhan adalah ens simpliciter

Karena Tuhan adalah actus purus maka dia adalah simple. Ens simpliciter menyatakan bahwa di dalam diri-Nya tidak ada segala potensi sehingga tak mungkin ada komposisi karena komposisi memastikan potensi, dengan kata lain dia aktualitas murni: sempurna, tidak memiliki kekurangan, tidak ada ruang kosong di dalam diri-Nya atau dia adalah ada yang penuh. Jadi Ens simpliciter merupakan atribut-Nya yang mengalir dari identitas-Nya: actus purus.

Untuk semakin memahami Ens simpliciter baiklah kita bandingkan dengan ada komposisi. Setiap komposisi membutuhkan sang komposisi. Jika sesuatu adalah suatu komposisi maka tersusun dari suatu pluraritas dan suatu pluraritas tidak dapat dijadikan suatu kesatuan kecuali oleh sang  komposisi. Jika Tuhan adalah suatu komposisi maka dia memiliki sang komposisi karena suatu ada komposisi pasti tidak bisa menyusun komposisi oleh dirinya sendiri. Sang komposisi adalah agen atau causa efisien. Jadi Tuhan memiliki causa efisien. Jika Tuhan memiliki causa efisien tentu dia bukan ada pertama dan bukan ens simpliciter.

 

Ens simpliciter menyatakan arti penting sebagai berikut:

  1. Tuhan bukanlah tubuh artinya Tuhan tanpa bagian-bagian. Tubuh adalah komposisi karena terdiri dari materi dan forma maka Tuhan tidak mungkin memiliki materi yang adalah potensi. Materi adalah ketidaksempurnaan. Apa yang tersusun oleh materi dan forma adalah baik karena forma bukan materi. Suatu hal adalah baik oleh karena formanya meskipun materi yang diaktualkan oleh forma juga baik tetapi hal itu terjadi karena partisipasi. Tentu ada Tuhan adalah ada oleh esensi-Nya karena esensi-Nya adalah esse-Nya yang menunjukkan simpliciter-Nya. Singkat kata Tuhan adalah roh.
  1. Tuhan adalah substansi tanpa aksiden. Kalau ada ciptaan tersusun dari substansi dan aksiden maka Tuhan adalah substansi tanpa aksiden. Dalam ada ciptaan substansi terkait dengan aksiden seperti potensi kepada aktualitas. Tuhan sebagai ens simpliciter menyatakan pula bahwa Tuhan itu sempurna. Jadi tidak mungkin mengatakan bahwa Tuhan memiliki kesempurnaan atau memiliki aktivitas. Yang benar adalah Tuhan adalah kesempurnaan dan aktivitas-Nya. Keilahian Tuhan identik dirinya sendiri sementara ciptaan misalnya manusia, kemanusiaannya tidak identik dengan dirinya sendiri karena ia adalah ada komposisi dan ada partisipasi. Atribut-atribut-Nya seperti kebaikan, kebijaksanaan, kebenaran, dan seterusnya bukanlah suatu qualitas yang menempel pada diri-Nya. Jika pada ciptaan qualitas itu menempel pada substansi misalnya petrus punya kebaikan, maka tidak pada Tuhan karena Tuhan tidak memiliki kebaikan tetapi Tuhan adalah kebaikan itu sendiri. Ada Tuhan identik dengan atribut-atribut-Nya misalnya atribut-atribut Tuhan seperti kebaikan, kebenaran, kebijaksanaan identik dengan ada-Nya. Substansi ilahi adalah ada ilahi sendiri oleh karena itu di dalam ada ilahi tidak ada yang bukan substansi sehingga tak mungkin ada aksiden karena jika ada aksiden maka Tuhan adalah ada komposisi. Ens simpliciter mengkumandangkan bahwa segala kesempurnaan, segala atribut ilahi, segala aktivitas-Nya tersatukan dengan substansi-Nya yaitu diri-Nya sendiri. Kata Hilarius sebagaimana dikutip oleh Aquinas “Ada Tuhan bukanlah ada aksidental tetapi kebenaran yang subsisting, causa yang kekal dan kekayaaan natural dari natura-Nya” sementara Boethius mengatakan “Substansi ilahi adalah ada itu sendiri dan darinya datanglah ada. Jadi substansi Tuhan bukan substansi seperti ada ciptaan yang tersusun dari potensi dan aktus melainkan substansi Tuhan adalah ens simpliciter.
  1. Karena ens simpliciter maka Tuhan bukanlah materi karena materi adalah suatu potensi, jadi tak mungkin Tuhan adalah materi. Karena ens simpliciter pula Tuhan menciptakan segala yang ada bukan dari substansi-Nya tetapi dari ketiadaan.

 

 

Atribut-atribut ilahi:

Actus purus, ens simpliciter juga menyatakan atribut-atribut ilahi karena atribut-atribut-Nya sama dengan esensi-Nya dan esensi mencakup eksistensi-Nya. Atribut-atribut ilahi itu sebagai berikut:

  1. Tuhan yang tidak berubah (immutabilis)

Tuhan memiliki segala kesempurnaan karena esensi dan esse-Nya adalah sama dan satu. Dengan demikian Tuhan tidak dapat berubah karena jika berubah berarti ia tidak sempurna. Menurut Thomas Aquinas immutabilis Tuhan dapat dibuktikan dalam tiga cara berikut ini[2]:

  1. Dalam perubahan selalu memuat prinsip aktus dan potensi. Aktualitas selalu lebih dahulu dari potensi sehingga aktualitas adalah syarat pertama untuk segala perubahan karena untuk berubah harus ada aktualitas. Jika di dalam ada ciptaan terdapat aktualitas dan potensi pasti membutuhkan aktualitas yang lain dan seterusnya sampai kepada aktualitas murni yaitu ada yang tidak sebabkan. Ada pertama yaitu Tuhan pastilah aktualitas murni karena ia adalah ada pertama yang tidak disebabkan sehingga definitif Tuhan tidak berubah (immutabilis). Seandainya Tuhan berubah maka ada-Nya memiliki potensi dan itu tidaklah mungkin.

 

  1. Segala yang berubah atau yang diubah pasti terdiri dari komposisi karena adanya potensi dan aktualisasi. Proses menjadi berarti berubah dari potensi menuju aktualisasi sehingga proses menjadi bagian dari ada ciptaan. Misalnya es mencair menjadi air. Tentu hal ini tidak mungkin karena di dalam Tuhan tidak ada komposisi atau Tuhan adalah actus purus dan Tuhan adalah Ens simpliciter sehingga tidak mungkin Tuhan berubah (immutabilis).
  1. Alasan utama yang dibutuhkan suatu perubahan tentu adalah ada di dalam aktualitas. Ini syarat mutlak bagi ada-ada yang mengalami proses menjadi. Maka alasan ada-ada ciptaan yang berada di dalam proses menjadi adalah suatu ada yang memiliki aktualitas segalanya yaitu aktualitas murni (actus purus). Actus purus pasti immutabilis karena immutabilis adalah sumber dan dasar dalam proses menjadi bagi ada-ada ciptaan. Selain itu, tentu ada-ada berubah dengan tujuan mencapai kesempurnaan atau setidaknya mencapai sesuatu yang sebelumnya tidak dimiliki. Karena Tuhan adalah kesempurnaan yang tak terbatas maka dia tidak mungkin mendapatkan suatu yang baru atau mencapai kesempurnaan yang sebelumnya tidak dimiliki. Dengan demikian tidak ada perubahan di dalam Tuhan.

Ada ciptaan selalu bersifat mutabilis (berubah) karena tersusun dari aktus dan potensi. Selain itu, natura ada ciptaan bersifat mutabilis karena ada ciptaan diciptakan dari ketiadaan menjadi ada oleh Tuhan dan bahkan oleh Tuhan pula ada ciptaan juga dapat direduksi dari eksistensi menjadi non-eksistensi.

 

  1. Kekekalan

Karena immutabilis, Tuhan adalah kekal. Apa yang dimaksud kekekalan? Menurut Boethius kekekalan berarti memiliki hidup yang total, sempurna, tanpa batas secara serempak (interminabilis vitae tota simul et perfecta possesio). Maka di dalam definisi Boethius kekekalan adalah sebagaimana adanya yang memuat dua elemen penting yaitu yang pertama tanpa prinsip dan tanpa akhir dan yang kedua tanpa suksesi. Dengan demikikan kekekalan menyatakan cara Tuhan berdiam di dalam ada-Nya dan suatu cara yang mentransendensi waktu dan suksesi karena Tuhan memiliki ada-Nya secara total, sempurna dan serentak.

Ada ciptaan diukur oleh waktu dan waktu itu sendiri menunjukkan rangkaian perubahan dan ukuran untuk perubahan sehingga di dalam waktu terdapat konsep sebelum dan sesudah yang menunjukkan perubahan. Maka segala yang ada di dalam waktu selalu berada di dalam proses perubahan- menjadi. Ada yang berada di dalam waktu tentu bersifat koruptif karena berubah sehingga tak mungkin diukur dengan kekekalan.[3] Kekekalan adalah keseluruhan secara serempak. Karena Tuhan tidak berubah, tidak mungkin Tuhan diukur dengan waktu. Oleh karena itu, Tuhan tidak mengenal segala sesuatunya yang berkaitan dengan waktu seperti terminologi sebelum dan sesudah ataupun suksesi. Tuhan memiliki adanya serentak, penuh. Inilah natura kekekalan[4]. Natura kekekalan menunjukkan suatu fakta bahwa di mana cinta sejati berdiam, di sana Tuhan berdiam.

Dalam hubungannya dengan kekekalan, actus purus menyatakan bahwa Tuhan memiliki segala kepenuhan kehidupan yang mungkin, memililki segala kesempurnaan tanpa harus mencari karena identitas-nya adalah Ipsum esse subsistens. Di sini kekal bukan memiliki arti statis artinya apa yang kekal bukan hanya sekedar ada yang pasif tetapi juga kehidupan: Tuhan yang mencipta dan mencintai ciptaan-Nya dari kekekalan. Kekekalan-Nya membuktikan bahwa dia adalah satu-satunya Tuhan yang benar. Kebenaran Tuhan menyatakan bahwa dia selalu mengkomunikasikan kekekalannya sebagaimana ia mengkomunikasikan ketidakberubahannya (immutabilis).

Kekekalan juga menyatakan keniscayaan karena keniscayaan adalah suatu bentuk definitif dari kebenaran[5]. Menurut Aristoteles kebenaran berdiam di dalam akal budi. Maka kebenaran dan keniscayaan adalah kekal karena kebenaran dan keniscayaan berada di dalam pikiran ilahi yang tak lain adalah intelek Tuhan sehingga konsekuensinya bahwa Tuhan adalah kekal[6]. Jadi ada Tuhan adalah ada yang unik karena dia adalah esensi-Nya sehingga dia adalah kekekalan-Nya pula.

  1. Tuhan maha hadir (omnipresent)

Karena kekekalan-Nya maka Tuhan maha hadir artinya Tuhan hadir di segalanya dan segala sesuatunya ada di dalam kehadiran-Nya. Bagaimana menjelaskan kehadiran Tuhan yang demikian?

Ipsum esse subsistens menyatakan bahwa esensi dan esse-Nya adalah satu dan sama sehingga Tuhan adalah absolute infinite being karena Tuhan memiliki kepenuhan esse yang tak terbatas. Dari infinitas esse-Nya Tuhan hadir di mana-mana karena di mana Tuhan berada (esse dan eksistensi-Nya sama), pasti juga ada esensi-Nya yang kekal. Hal ini dapat dapat diuraikan dalam tiga hal berikut ini:[7]

  1. Dia ada di dalam segala sesuatunya oleh esensi-Nya: Dia hadir bagi segala yang ada sebagai causa bagi ada ciptaan bahkan karena esensi-Nya Dia menjaga segala yang ada.
  1. Dengan kekuatan-Nya karena Dia mengarahkan ciptaan dan bertindak di atas mereka. Jadi Dia ada di dalam segalanya oleh karena kekuatan-Nya, oleh sebab segala yang ada adalah subyek dari kekuatan-Nya.
  1. Dengan kehadiran-Nya Dia ada dalam segala sesuatunya karena di mana Dia beraktivitas, di situ Dia ada. Dengan kehadiran-Nya pula Dia ada di dalam segala sesuatunya dalam arti tak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya dan luput dari kehadiran-Nya. Kehadiran-Nya yang di mana-mana dan di dalam segalanya menyatakan pula penyelenggaraan dan pemeliharaan-Nya. Sebabnya esensi-Nya sama dengan aktivitas-nya. Di mana dia bertindak, berkarya, dan mencipta di situ dia berada. Tuhan ada di mana saja dan di dalam segalanya oleh karena aktivitas-Nya.

Kehadiran Tuhan meliputi segala yang ada baik di surga dan bumi. Namun hal ini bukan berarti bahwa ia memanfiestasikan dirinya secara penuh dan setara kepada setiap ciptaan. Sebabnya, segala ciptaan mencerminkan Diri-Nya secara berbeda. Ia hadir di dalam bunga di ladang dan memanifestaikan keberadaan-Nya dengan satu cara. Tetapi bunga di ladang tidak sepenuhnya merefleksikan karya penciptaan-Nya secara utuh. Bunga di ladang hanya mencerminkan suatu ekspresi atau revelasi yang terbatas akan kekuatan aktif-Nya. Tuhan juga hadir di dalam burung di udara tetapi berbeda dengan bunga ilalang di ladang tadi. Tuhan juga hadir di dalam diri anak kecil. Segala yang ada mencerminkan revelasi-Nya secara berbeda; ciptaan hanya mencerminkan secara parsial manifestasi kreatif cinta-Nya. Jadi tak satu pun ciptaan yang dapat memanfistasikan secara layak dan pantas kekuatan dan keagungan-Nya. Walaupun demikian segala ciptaan adalah karya agung-Nya. Oleh sebab itu, kita melihat dan mencercap keindahan karya agung-Nya ketika kita mengkomtemplasikan ciptaan.

Kehadiran-Nya bukan seperti tubuh karena jika kehadiran-nya seperti tubuh maka dia terbatas dan tidak sempurna padahal dia adalah tak terbatas, sempurna. Kehadiran-Nya bukan sekedar kehadiran yang pasif tetapi kehadiran-Nya mencipta segala sesuatunya secara dinamis: kehadiran-Nya adalah kehidupan dan bersifat terus-menerus. Oleh karena kehadiran-Nya adalah kehidupan maka karya penciptaan-Nya bukan hanya sekedar menciptakan lalu berhenti, pasif tetapi juga memelihara segala yang ada.

Tuhan hadir di dalam keseluruhan realitas, hadir di dalam segala sesuatunya, di dalam kesekarangan yang dapat diinderai sehingga kesempurnaan Tuhan yang tak terbatas hadir juga di segalanya dan di mana-mana, memenuhi dan meresapi seluruh eksistensi[8], sebagai causa formal (causa exemplar), causa efisien causa final untuk segala esse. Artinya Dia ada di dalam segala sesuatu dengan memberikan ciptaan ada, kekuatan dan operasi. Jadi kehadiran Tuhan tak lain adalah kehadiran cinta dan kehadiran cinta yang penuh kasih itu selalu berbagi.

Yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan omnipresent adalah bahwa dengan mengatakan bahwa Tuhan adalah ipsum esse subsistens bukan berarti bahwa Tuhan adalah esse umum bagi segala ciptaan. Ciptaan memiliki suatu esse yang bersesuaian dengan forma individu atau memiliki natura determinatif sehingga dengan demikian setiap ada ciptaan itu berbeda. Hal-hal yang ada bervariasi dan beragam karena mereka memiliki natura atau forma yang berbeda karena forma ada bersesuaian dengan materi. Tentu saja ada Tuhan tidak bersesuaian dengan natura atau forma ada-ada ciptaan karena seandainya ada Tuhan adalah forma dari segala ciptaan maka yang terjadi segala yang ada adalah pasti satu dan sama.[9] Tentu saja ini bertentang dengan realitas karena yang ada adalah perbedaan, variasi, keberagaman. Jelas esse-Nya disesuaikan dengan ada ciptaan yang bervariasi atau ada ciptaan berpartisipasi kepada esse-Nya.

Lagipula seandainya berasumsi bahwa Tuhan adalah esse umum bagi segala ciptaan berarti itu merupakan buah pemikiran yang keliru. Pemikiran yang demikian merupakan abstraksi akal budi karena yang ada adalah individu-individu yang berbeda-beda. Terlebih mengidentifikasikan Tuhan dengan esse umum segala yang ada berarti mereduksi Tuhan kepada suatu abstraksi, kepada suatu ens rationis.

Memang, ada bahaya mengidentifikasikan Tuhan dengan esse formal segala yang ada (esse formale omnium rerum). Jelasnya sebagai berikut: untuk mengerti suatu konsep determinatif kita perlu menambahkan suatu konsep agar dapat memahami kayanya realitas. Suatu konsep itu ditambahkan karena pikiran kita terbatas dan sempit. Selain itu, pikiran kita menganggap bahwa yang sederhana itu adalah yang tak determinasi sehingga ada kecenderungan untuk mengidentifikasi tataran logika dengan tataran realitas lalu mengafirmasi bahwa yang simple itu adalah yang tak terderminasi. Padahal faktanya Tuhan adalah ada yang hidup, ada yang penuh dan sempurna; bukan ada abstrak dan ada tak terdeterminasi. Lalu ketika mengidentifikasi Tuhan dengan esse segala ciptaan yang terjadi adalah kita berpikiran bahwa Tuhan ada di dalam segalanya dan segalanya di dalam Tuhan sebagai satu substansi, satu natura. Tuhan adalah sama dengan ciptaan. Padahal esse ciptaan hanya berpartisipasi di dalam esse yang sempurna sehingga ada gradasi esse, terdapat hirarki ada dan keberagaman ada. Itulah kekeliruan dari esse formale omnium rerum.

  1. Kesempurnaan Tuhan

Ada Tuhan adalah ada yang penuh sehingga tidak ada kekurangan atau kecacatan di dalam diri-Nya: Tuhan adalah ada sempurna; kesempurnaan-Nya tak terbatas dan absolut. Ada tiga pembuktian mengapa Tuhan dikatakan ada sempurna:

  1. Karena esensi-Nya dan esse-nya adalah sama maka Tuhan adalah sempurna. Tuhan adalah satu-satunya Ada yang sempurna sehingga kesempurnaan-Nya pun menunjukkan keesaan-Nya.
  1. Karena esse-Nya pula Dia adalah causa pertama segala yang ada sehingga Dia adalah Ada yang paling sempurna. Yang sempurna memberikan dan mengkomunikasikan kesempurnaan-Nya agar segala yang ada berpartisipasi ke dalam kebaikan, kebenaran dan keindahan sang sempurna.
  1. Karena Ia adalah actus purus dan tidak ada potensi maka dia adalah yang paling sempurna. Karena esse-Nya segala potensi selalu teraktual sehingga aktualitas-Nya menciptakan, memperbaharui bahkan menyelamatkan segala yang ada.

Dan karena kesempurnaan-Nya Tuhan adalah ukuran dan tujuan bagi segala yang ada. Sebagai contoh manusia yang berkeutamaan adalah ukuran dari manusia, putih adalah ukuran warna. Maka ukuran dan tujuan segala ada tak bisa selain daripada Tuhan. Seandainya Tuhan bukanlah ada yang sempurna tentu saja dia bukan ukuran dan tujuan dari segala yang ada.

Esensi Tuhan adalah Ada-Nya

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Tuhan adalah esensi-Nya. Ada beberapa alasan yang menjelaskan:

  1. Tidak ada komposisi di dalam diri-Nya sehingga Dia adalah esensi-Nya.
  1. Tuhan tidak mempunyai aksiden atau Dia adalah substansi ilahi dalam arti ens simpliciter sehingga Dia adalah esensi-Nya.
  1. Tuhan adalah causa pertama maka sudah pasti Dia adalah esensi-Nya.
  1. Tuhan tidak memiliki potensi sehingga Dia adalah esensi-Nya.

Dengan demikikan kita dapat mengatakan bahwa esensi Tuhan adalah ada-Nya; ada-Nya adalah esensi-Nya. Sesuatu yang esensinya bukan adanya tentu saja bahwa ada tersebut bukan ada karena esensi tetapi ada karena partisipasi. Ada partisipasi bukanlah ada pertama karena ada partisipasi mengada setelah ada pertama. Ada partisipasi tidak sama dengan ada-nya karena ada partisipasi adalah ada komposisi yang memiliki aktus dan potensi, substansi- aksiden, materi dan forma yang menunjukkan keterbatasannya dan identitasnya sebagai ciptaan.

 

 Mahkota Esse Tuhan dan Esensi-Nya: Tuhan yang personal dan transenden

Dengan mengatakan bahwa esensi Tuhan adalah Ada-Nya, esensi Tuhan adalah ipsum esse subsistens, esensi Tuhan adalah eksistensi-Nya menjelaskan bahwa Tuhan berbeda dengan ciptaan atau dunia, dengan kata lain Tuhan adalah transendensi. Transendensi Tuhan dapat dicercap melalui pengalaman dan refleksi yang telah dibuat. Dalam pengalaman kita melihat bahwa ciptaan selalu berubah tetapi Tuhan adalah ada immutabilis; ciptaan itu disebabkan tetapi Tuhan adalah causa pertama yang tidak disebabkan, ciptaan terdiri dari aktus dan potensi karena berasal dari proses menjadi dan keterbatasannya karena sementara Tuhan adalah actus purus; segala yang ada berpartisipasi di dalam esensi Tuhan yang adalah ipsum esse subsistens[10].

Maka, esensi Tuhan yang adalah ipsum esse subsistens berarti bahwa ada-Nya bukan dipahami melulu sebagai suatu eksistensi tetapi sebagai realitas, bukan sebagai substansi tetapi sebagai Tuhan yang personal. Tuhan yang personal selalu mengkomunikasikan diri-Nya kepada ada-ada ciptaan.  Ia membagikan identitas-Nya yang adalah ipsum esse subsistens kepada ciptaan. Keseluruhan sejarah penciptaan dan kemudian keselamatan adalah semata-mata adalah sejarah komunikasi Tuhan atau kemurahan Tuhan kepada dan dengan ada-ada ciptaan. Esensi Tuhan yang adalah ada-Nya, esensi Tuhan yang adalah Ipsum esse subsistens dapat dideklarasikan bahwa ada-Nya adalah pemberian diri dalam cinta, Tuhan yang selalu membagikan diri-Nya kepada ciptaan dalam cinta. Transenden Tuhan dengan  demikian menunjukkan bahwa Ia begitu dekat dengan ciptaan, Ia begitu mencintai segala yang ada; ia adalah transenden sekaligus immanen.

 

 

Ketidakmungkinan pantheisme

Pantheisme berasal kata pan yang berarti semua dan theism yang berarti percaya kepada Tuhan. Jadi pantheisme adalah suatu aliran yang mempercayai bahwa Tuhan adalah segalanya dan segalanya adalah Tuhan. Tampaknya pantheisme sama dengan atribut ilahi Tuhan omnipresent tetapi sebenarnya perbedaannya sungguh tajam.

Pantheisme klasik yang pertama merujuk kepada filsafat Baruch Spinoza. Bagi Spinoza seluruh semesta ini terbentuk dari satu substansi yaitu Tuhan dan Tuhan itu adalah natura; segala yang ada di semesta ini hanyalah satu natura dan modifikasinya; jadi Tuhan dan natura adalah sama, Tuhan itu identik dengan natura atau tidak sesuatu pun yang berada di luar Tuhan. Maka kata Spinoza : Deus sive Natura yang artinya Tuhan atau natura.

Satu substansi yaitu Tuhan atau natura memiliki konsekuensi penting. Menurut Spinoza Tuhan tidak memiliki akal budi, perasaan maupun kehendak,; dia tidak bertindak berdasarkan tujuan tetapi segala sesuatunya berasal dari natura-Nya, menurut suatu hukum atau menurut suatu determinasi tertentu. Katanya: “Tuhan tanpa hasrat maupun dia dapat dipengaruhi oleh segala perasaan akan kesenangan atau penderitaan.. secara tegas, Tuhan tidak mencintai siapa pun”[11]. Maka manusia yang mencintai Tuhan tidak mengharapkan bahwa Tuhan mencintai manusia. Dia yang mencintai Tuhan tidak dapat berharap bahwa Tuhan harus mencintai dirinya[12].

Dengan demikian ketidakmungkinan panteisme Spinoza dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Panteisme menolak Tuhan yang transendental. Tuhan yang transendental berarti Tuhan yang hadir di dalam segala sesuatunya tetapi Tuhan tidak sama dengan dunia-ciptaan; dengan kata lain Tuhan mentransendeni segala yang ada. Sebaliknya bagi pantheisme ketika menegaskan bahwa Tuhan ada di dalam segala sesuatunya, Tuhan tidak mentransendensi, Tuhan sama dengan dunia. Jadi pantheisme Spinoza ini bertentangan dengan fakta dan pengalaman yang ada.
  1. Pantheisme menolak Tuhan yang personal. Tuhan hanyalah suatu natura, mekanik- sehingga tidak mungkin punya tujuan dan bertindak atas semesta ini.
  1. Bagi pantheisme Tuhan atau natura meliputi segala eksistensi sehingga semesta hanyalah satu kesatuan ilahi, satu substansi. Dengan demikian karena natura atau Tuhan tak lain adalah suatu substansi maka pantheisme Spinoza juga membuktikan materialisme: segala yang ada hanyalah materi.
  1. Karena segala yang ada berasal dari satu substansi yaitu Tuhan atau natura maka segala ketidaksempurnaan yang ada di dunia ini seperti kejahatan, keterbatasan, ketidaksempurnaan hanyalah suatu penampakan atau ilusi karena tak mungkin semuanya itu berasal dan terkait dengan natura atau Tuhan. Di sini panteisme berusaha menolak ketidaksempurnaan dunia yang berasal dari dunia itu sendiri tetapi pada saat yang sama mereduksi semesta ini kepada Tuhan sehingga jelas tidak mungkin untuk mengidentifikasikan Tuhan dengan dunia atau ciptaan.

Tipe panteisme yang kedua adalah panteisme yang digagas oleh Bruno dan Hegel. Baik Bruno dan Hegel berpendapat bahwa Tuhan adalah Tuhan yang menjadi; jadi Tuhan adalah realitas yang terus menjadi, semakin menjadi semakin berkembang dan semakin sempurna. Ketidakmungkinan pantheisme Bruno dan Hegel adalah mengetrapkan prinsip menjadi dan multiplikasi kepada Tuhan. Ketika prinsip menjadi diaplikasikan kepada Tuhan yang terjadi adalah prinsip kontradiksi yang sah atau valid sehingga prinsip kontradiksi bagi Hegel adalah hukum realitas, hukum yang benar. Tentu saja panteisme Hegel ini berlawanan dengan akal budi. Yang berlaku dalam realitas adalah prinsip non kontradiksi yang merupakan hukum akal budi yang benar yang adalah sumber pengetahuan yang benar dan sesuai[13].

[1] Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, q.3., a.4

[2] Ibid., I, q.9., a.1

[3] Ibid., op.cit, I, q.10., a.4

[4] Ibid., I Contra Gentile, chap. 15

[5] Ibid., Summa Theologiae, I, q.10., a.3

[6] Ibid., I, q.10., a.2

[7] Ibid., I, q.8., a.3

[8]  Ibid., I, q.8, art 2

[9]  Ibid., I Contra Gentile. Chap. 26

[10] Vanni Rovighi,  Elementi Di Filosofia (Brescia:Editrice La Scuola, 1999) hal 167

[11] Baruch Spinoza, Ethics, V.17

[12] Ibid., V. 19

[13] Vanni Rovighi., op.cit., hal 168

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply