Cinta

X

Cinta

Francis Bacon

 Lukisan Antoine Watteau, The Festival of Love, 1718

antoine_watteau_-_the_festival_of_love_-_wga25460

Panggung teater lebih suka mementaskan cerita cinta daripada cerita kehidupan manusia. Sebab bagi panggung teater, cinta selalu berwatak komedi[1] dan kadang-kadang tragedi[2]. Namun dalam kehidupan nyata cinta sungguh membawa malapetaka; kadang kala dalam rupa rayuan, kadang kala dalam rupa kegeraman. Sekiran

ya anda mencermati di antara semua orang masyur dan orang hebat (di mana memori mengenang mereka baik sebagai orang-orang zaman dahulu maupun zaman sekarang ini), maka, tidak ada satu pun dari mereka yang telah larut dalam kegilaan cinta: mereka telah menunjukkan hati yang kuat dan usaha yang kokoh dalam melawan hasrat yang rapuh ini. Tetapi, anda harus mengecualikan Markus Antonius[3], salah satu Triumvirate Romawi dan Appius Claudius[4], anggota decemviri[5] dan pembuat hukum: tentang Markus Antonius; orang ini adalah manusia yang penuh dengan nafsu dan kacau-balau, tetapi Appius Claudius adalah orang yang keras dan bijaksana: jadi, tampaknya (meskipun jarang sekali) cinta dapat menemukan jalan masuk tidak hanya lewat hati yang terbuka tetapi juga lewat hati yang dibentengi dengan kokoh, seandainya hati tidak dijaga dengan baik.

Maka berikut ini adalah kata-kata Epikurus yang menyedihkan: Satis magnum alteri theatrum sumus (Masing-masing satu bagi yang lain adalah sebuah teater yang cukup besar); artinya bahwa seolah-olah manusia, yang diciptakan untuk kontemplasi hal-hal surgawi dan semua objek yang indah, tidak akan berbuat apa-apa selain hanya berlutut di hadapan berhala yang kecil, dan menjadikan dirinya sebagai hamba, meskipun perhambaannya tidak datang dari mulut (seperti binatang) tetapi dari mata; yang dianugerahkan kepadanya demi tujuan-tujuan yang lebih tinggi.

Jika kita memperhatikan ekses dari hasrat ini, maka hal yang tidak logis akan terjadi, dan bagaimana hasrat ini memberanikan kodrat manusia dan membuat manusia mengindahkan segala yang ada yaitu dengan hal ini: melalui perkataan dalam hiperbola abadi yang adalah suatu kekosongan tetapi demikian indah di dalam cinta. Cinta juga tidak hanya melulu di dalam kata-kata tetapi juga di dalam rayuan karena sementara cinta telah dikatakan dengan indah oleh perayu ulung, bahkan semua perayu biasa pun yang adalah setiap diri manusia memiliki kecerdasan tersebut; apalagi jika dikatakan oleh para pecinta. Karena tidak pernah ada manusia yang penuh dengan kesenangan selain dia yang sebagai kekasih berpikir bukan main manisnya tentang dia yang dicintainya; dan oleh karena itu tentang kenyataan ini dikatakan dengan baik, mustahil mencintai sekaligus menjadi bijaksana. Kelemahan ini tidak muncul dan hanya tertuju kepada orang-orang lain, dan dia yang hanya dicintai setengah-setengah saja, tetapi justru kepada dia yang paling dicintai; kecuali cinta yang terjadi bersifat timbal-balik.

Berikut ini adalah realitas yang tak pernah salah, bahwa cinta selalu dihargai dalam cinta atau dihargai lewat celaan tersembunyi dan di dalam hati. Jadi, betapa manusia harus semakin waspada akan hasrat ini yang tidak hanya melumat hal-hal lainnya tetapi juga dirinya sendiri! Berkaitan dengan kehancuran hal-hal lainnya, puisi dengan indah menggambarkannya: dia yang lebih mencintai Helena[6], memberhentikan hadiah pemberian Juno[7] dan Pallas[8]. Sebab siapa pun yang menghargai perasaan cinta terlalu berlebihan, dia pun akan memberhentikan baik kekayaan dan kebijaksanaan. Hasrat ini akan menjadi banjir bandang yang meluap-luap pada masa kelemahan yaitu pada masa kejayaan maupun pada masa kemalangan; walaupun cinta yang bersemi dalam masa kemalangan kurang dicermati: kedua masa tersebut menyulut cinta, dan membuat cinta semakin membara sehingga membuktikan bahwa cinta kiranya menjadikan diri seperti anak-anak yang dungu. Mereka sungguh melakukan tindakan terpuji, yaitu mereka yang tidak dapat mencintai tetapi mengakui cinta sehingga meletakkan cinta pada tempatnya; mereka yang memutuskan cinta sepenuhnya dari perselingkuhan-perselingkuhan yang serius dan hubungan gelap karena jika cinta itu sekali bercampur dengan bisnis, maka hal itu akan mengganggu kemujuran manusia dan membuat manusia tidak bisa berkonsentrasi kepada tujuan akhir mereka. Saya tidak tahu bagaimana para tentara disuguhi cinta: saya hanya berpikir tentang hal ini bahwa sebagaimana anggur diberikan kepada mereka, maka bahaya sebagai resiko pekerjaan mereka umumnya minta dibayar dengan kesenangan.

Ada kecenderungan dan gerakan diam-diam di dalam kodrat manusia yaitu mencintai sesamanya dan walaupun kiranya cintanya tidak dipersembahkan untuk seseorang atau beberapa orang, tetapi malahan secara alami cintanya justru akan berkembang dan merengkuh banyak orang serta membuat dirinya menjadi lebih manusiawi dan penuh kasih; seperti yang terlihat dalam diri para biarawan. Cinta perkawinan menciptakan manusia, cinta persahabatan menyempurnakan manusia, tetapi cinta yang asusila meremukkan dan menistakan manusia.

[1] Komedi yang dimaksud di sini bukan suatu lelucon tetapi mengacu kepada pengertian komedi Yunani kuno.  Bagi Aristoteles akhir dari suatu drama adalah komedi atau tragedi. Komedi adalah imitasi, pengendapan seseorang akan nilai-nilai yang kurang berbobot; kurang berbobot karena efek pedagogis komedi tidak menyebabkan suatu kegelisahan, penderitaan, ketakutan bagi audiens karena ending dari komedi merupakan happy ending dan karakter komedi sifatnya menghibur sehingga kurang membuat manusia untuk berefleksi.  (Aristoteles, Poetica)

[2] Tragedi adalah imitasi, peniruan terhadap tindakan yang serius dan lengkap melalui pemikiran, karakter, yang memiliki efek pedagogis yang tinggi. Efek pedagogis yang tinggi terjadi karena adanya belas kasihan dan ketakutan yang menjadi jiwa tragedi. Lewat tragedi, audiens dicelupkan ke dalam ketakutan karena tragedi meletakkan audiens di hadapan peristiwa memilukan atau menyeramkan yang berasal dari tokoh tragedi yang menderita dan remuk-redam yang disebabkan oleh kebodohan, keteledoran, kesalahan fatal padahal awalnya tokoh tersebut memiliki kualitas hidup yang baik, sejahtera dan bahagia. Selain itu, audiens juga menjadi takut karena bisa saja peristiwa itu pun menimpa dirinya. Jadi, seolah-olah audiens dihadapkan kepada kemungkinan terjadinya peristiwa tragedi dalam kehidupannya. Lewat tragedi pula, audiens memiliki belas kasihan karena orang baik yang jatuh di dalam kemalangan sungguh tidak pantas dan di luar perkiraan serta membuat dan membangkitkan rasa iba dan belas kasihan audiens. Dan yang terpenting tragedi mengajak orang untuk merefleksikan hidupnya berdasarkan makna yang diperoleh. Maka, dalam tragedi yang menjadi penekanannya bukan melulu tindakan tetapi terlebih pada motivasi (sebabnya) seseorang untuk melakukan perbuatan. Kita dapat membedakan pola komedi dan pola tragedi. Komedi berpola dari ketidak-beruntungan menuju happy ending, sebaliknya pola tragedi dari keberuntungan atau kebahagiaan menuju sad ending. Alur tragedi bergerak dari peluang, kesempatan nasib yang baik ke yang buruk, yang memilukan. (Ibid)

[3] Markus Antonius adalah seorang politikus sekaligus jenderal Romawi. Sebagai seorang pemimipin militer, dia amat setia kepada Julius Caesar. Setelah Caesar dibunuh, Markus Antonius membentuk persekutuan dengan Octavius (nantinya adalah Kaisar Augustus) dan dengan Lepidus yang dikenal dengan istilah Triumvirate yang kedua. Markus Antonius dikalahkan oleh Octavius dalam pertempuran di Actium. Setelah kekalahan itu, Markus Antonius bunuh diri bersama dengan Cleopatra –Ratu Mesir-. Markus Antonius telah menikah beberapa kali, antara lain dengan Fadia, Antonia, Fulvia, Octavia (adik Kaisar Augustus), dan ratu Mesir Cleopatra. Ketika masih berstatus suami dari Octavia, Markus Antonius menikahi Cleopatra, Ratu Mesir. Kaisar Romawi Caligula, Claudius, dan Nero adalah keturunan Markus Antonius.

[4] Appius Claudius Crassus adalah seorang anggota decimviri. Appius Claudius begitu birahi kepada seorang gadis yang bernama Verginia. Karena cintanya ditolak, Claudius menjadikan Verginia sebagai budak pribadinya padahal Verginia sendiri adalah seorang anak Centurion yang terhormat. Lalu dalam suatu sidang yang dipimpin Claudius sendiri, demi menutupi kesalahannya, ia membuat keputusan yang tidak adil yang menyebabkan Verginia dibunuh oleh ayahnya. Akibatnya sidang menjadi ricuh dan kemudian Decemviri dibubarkan. Appius Claudius Crassus pun mati terbunuh.

[5] Decemvir (jamaknya Decemviri) berasal dari bahasa Latin yang berarti 10 orang laki-laki. Decemviri adalah semacam komisi Republik Romawi (sebelum Romawi menjadi kekaisaran) yang beranggotakan 10 orang yang tugasnya menyusun dan merevisi hukum dan undang-undang Republik Romawi: 12 Daftar Hukum (Leges Duodecim Tabularum). Tentang  12 Daftar Hukum lihat essai LVI; no. 11

[6] Helena dari Troya juga dikenal sebagai Helena dari Sparta yang tersohor karena kecantikannya. Penculikannya oleh Paris mengantar seluruh Yunani berperang dengan Troya.

[7] Juno adalah dewi Romawi pelindung para konselor (penasihat) Romawi.

[8] Pallas yang di maksud di sini adalah Pallas Athena (dewi Athena). Dalam mitologi Yunani, dewi Athena adalah seorang perawan pelindung kota Athena. Dia juga dewi kebijaksanaan, hukum dan keadilan, pengetahuan.

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply