Bahaya Ideologi Agama

 

Lukisan: Luigi Chialiva, Summer Time

Kisah 5: 26-41

“Kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia”

India, negeri yang rawan akan kerusuhan dan konflik agama. Di sana, banyak orang yang mati karena agama. Terjadilah peristiwa yang memilukan dan mengiris hati yaitu saat jenazah para suami korban kekerasan agama ada di dalam pembakaran, janda-janda itu ikut terjun di dalam api pembakaran bersama jenazah sang suami sehingga istri dan jenasah suami terbakar. Kepedihan dan penderitaan para korban kekerasan agama tak mungkin dihapus dan dilupakan.

Kita terheran-heran dan bertanya-tanya mengapa mahkamah agama hendak membunuh para rasul itu. Sebenarnya agama adalah jalan hidup untuk sampai dan untuk mencintai Tuhan dengan cara mencintai kehidupan. Lalu mengapa ada mahkamah agama? Mengapa mereka begitu kejam dan bengis?

Mungkin kita mengutuk makhamah agama Yahudi yang menyalibkan Yesus dan mengejar-mengejar jemaat Kristen perdana, tetapi kalau kita tengok sejarah, gereja pun menjadi bengis dan beringas. Ini terbukti dengan makhamah agama gereja yang disebut dengan inkuisisi. Mengapa manusia beragama bisa begitu kejam dan bengis?

Manusia pada hakekatnya bukan makhluk bengis. Ia menjadi bengis kalau ia merasa tidak bahagia atau menganut suatu ideologi. Selalu bahwa satu ideologi melawan ideologi yang lain, satu agama melawan agama yang lain. Orang-orang yang menyalibkan Yesus dan mengejar-ngejar para rasul barangkali bukan orang yang kejam. Mungkin sekali mereka itu suami yang penuh perhatian dan ayah yang mencintai anak-anaknya. Mereka bisa menjadi begitu kejam demi mempertahankan suatu sistem, ideologi atau agama. Yesus dibunuh dan para murid dianiaya karena ideologi agama.

Seandainya orang-orang beragama itu selalu lebih mengikuti suara hati mereka daripada logika agamanya, kita tidak perlu menyaksikan janda-janda yang terjun ke dalam api pembakaran jenazah suaminya dan jutaan manusia tak bersalah yang dibantai demi nama agama.

Kematian dan kebangkitan Yesus untuk menyampaikan kebenaran Allah yaitu bahwa Allah itu bukan suatu ideologi. Sebab jika Allah suatu ideologi sudah barang tentu Yesus akan membentuk makhamah agama. Kebangkitan Yesus menunjukkan Tuhan yang berbelas kasih kepada manusia. Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa kerahiman Allah dan rahmat Tuhan bukan melulu soal ideologi dan agama.

Tadi Petrus berkata: “kita harus lebih taat kepada Allah daripada kepada manusia”. Ketaatan kepada Allah adalah ketaatan kepada belas kasih, ketaatan kepada kemanusiaan. Bukan taat kepada ideologi agama. Kesimpulannya jika kita harus memilih antara suara hati yang penuh belaskasih dan tuntutan ideologi agama yang menyeramkan, tolaklah ideologi tanpa ragu-ragu. Sebab jika kita memilih ideologi ataupun logika agama, maka jangan–jangan kita sendirilah yang menyalibkan Yesus.[1]

 

[1] Renungan ini diinspirasi dari Anthony De Mello, Burung Berkicau

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply