Ateisme

XVI

Ateisme

Francis Bacon

Lukisan John Constable, Salisbury Cathedral from the Bishop's Grounds, 1823

1024px-John_Constable_-_Salisbury_Cathedral_from_the_Bishop's_Garden_-_Google_Art_Project

 

 

 

 

 

 

 

Saya kiranya akan lebih mempercayai semua cerita di dalam Legenda[1], dan Talmud[2]; daripada kerangka universal ini yang tanpa suatu penjelasan yang masuk akal. Dari sebab itu, Allah tak pernah membuat mukjizat untuk membuktikan kekeliruan ateisme karena karya-karya-Nya yang sehari-hari telah membuktikan kekeliruan ateisme.

Benarlah bahwa, suatu filsafat yang dangkal mengarahkan pikiran manusia kepada ateisme, tetapi filsafat yang mendalam membawa pikiran manusia kepada agama. Karena, selagi pikiran manusia menyelidiki segala kausa sekunder yang tersebar di mana-mana, kadang kala pikiran manusia hanya berputar-putar di dalam kausa-kausa sekunder dan tidak dapat pergi lebih jauh lagi; tetapi ketika pikiran manusia melihat rentetan kausa-kausa sekunder yang bersatu dan terkait satu sama lain, maka pikiran manusia pastilah membumbung tinggi kepada sang Penyelanggaran Ilahi dan Allah. Ah tidak, bahkan mazhab yang dituduh paling ateis sekalipun sungguh membuktikan agama; yaitu mazhab Leucippus[3], Democritus[4] dan Epikurus[5]. Sebab ribuan kali lebih terpercaya, bahwa empat elemen yang berubah[6] dan satu esensi yang tak bergerak di antara kelima esensi[7], yang telah ditempatkan secara kekal, tidak perlu Tuhan, telah menghasilkan keteraturan dan keindahan tanpa perlu campur tangan ilahi, daripada suatu laskar yang terdiri bagian-bagian kecil yang tak berhingga atau benih-benih yang amburadul. Kitab suci mengatakan: Orang bebal berkata di dalam hatinya, bahwa tidak ada Allah[8], tetapi dalam kitab suci tidak dikatakan: Si bebal berpikir di dalam hatinya bahwa tidak ada Allah; jadi si bebal mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa Allah tidak ada dengan hafalan tanpa berpikir sama sekali, sebagaimana yang dia kehendaki daripada dapat mempercayai sepenuhnya bahwa Allah ada atau diyakinkan tentang Allah. Sebab tak seorang pun menyangkal bahwa Allah itu ada, tetapi Allah seolah-olah menjadi tidak ada dikatakan oleh mereka yang mendapat keuntungan dengan mengatakannya.

Maka, ateisme tidak akan ada selain hanya di bibir manusia daripada di dalam hati manusia; daripada hal berikut ini: para ateis itu akan selalu mengutarakan pendapat mereka, seolah-olah mereka begitu pening akan opini mereka sendiri, dan kiranya senang diteguhkan oleh persetujuan orang-orang yang mendukung mereka. Ah tidak, anda bahkan akan melihat bahwa para ateis berusaha untuk mendapatkan para pengikut mereka, seolah-olah mereka maju bersama dengan sekte-sekte lainnya. Dan, yang terpenting dari semuanya itu, anda akan melihat bahwa mereka yang menjadi pengikut ateisme akan menderita tetapi tidak mengakui kekeliruan mereka sedangkan seandainya para ateisme sungguh berpikir bahwa Allah memang tidak ada, lalu mengapa mereka menyulitkan diri mereka sendiri dengan Allah itu?

Epikurus dituduh bahwa dia sungguh seorang pembual untuk perkataannya, ketika dia menegaskan bahwa kiranya ada pribadi-pribadi yang mendapat rahmat, tetapi pribadi-pribadi tersebut menikmati rahmat hanya untuk diri mereka sendiri tanpa mengindahkan kepada penyelenggaran ilahi. Tentang perkataan Epikurus tersebut orang-orang menilai bahwa Epikurus mengatakan hal tersebut hanya untuk mendapatkan kompromi karena dia percaya dengan diam-diam bahwa Allah tidak ada. Tentu saja, Epikurus telah difitnah; karena kata-katanya begitu agung dan ilahi: Non deos vulgi negare profanum; sed vulgi opiones diis applicare profanum (Bukanlah suatu penghojatan menolak mempercayai dewa-dewa ciptaan orang-orang: penghojatan adalah mempercayai dewa-dewa sebagaimana orang-orang mempercayainya). Plato kiranya tidak dapat mengatakan lebih lanjut lagi. Meskipun Plato[9] begitu percaya diri untuk menyangkal penyelenggaran ilahi; tetapi dia tidak punya kekuatan untuk menyangkal natura[10]. Orang-orang India Barat[11] memiliki nama untuk dewa-dewa mereka yang khusus; meskipun mereka tidak memilki nama untuk Allah; seolah-olah seperti para kafir yang telah menamai dewa-dewa mereka, Jupiter, Apollo, Mars, dan seterusnya, tetapi tidak dengan kata Deus (Allah); semuanya ini membuktikan bahwa orang-orang yang biadab ini memiliki keyakinan akan Tuhan, sekalipun mereka tidak mendalami dan memperluas keyakinan mereka[12]. Untuk melawan para ateis, orang-orang kafir tersebut bekerja sama dengan para filsuf yang amat cerdik. Jarang ada ateis yang kontemplatif: mungkin seorang Diagoras[13], seorang Bion[14], seorang Lucian[15] dan beberapa yang lain; tampaknya keateisan mereka melebihi dari hal yang sebenarnya karena orang-orang yang meragukan agama yang telah diterima atau ketakhayulan telah dicap sebagai orang-orang ateis oleh musuh-musuh mereka. Orang-orang yang murni ateis sesungguhnya adalah orang-orang yang munafik karena selalu bergulat dengan hal-hal yang suci, tetapi tanpa perasaan, jadi sepertinya mereka haruslah dibakar pada akhir zaman.

Penyebab-penyebab ateisme adalah berikut ini: perpecahan di dalam agama, tetapi jika sekiranya perpecahan di dalam agama begitu banyak; karena setiap satu perpecahan agama yang mendasar justru membakar semangat kedua belah kelompok yang berseteru; tetapi jika ada banyak perpecahan di dalam agama, maka akan membawa kepada ateisme. Yang lain adalah skandal para imam, ketika skandal itu terjadi, maka seperti yang dikatakan oleh St. Bernardus[16], non est jam dicere, ut populus si sacerdos; quia nec sic populus ut sacerdos  (sekarang ini tidak bisa dikatakan bahwa para imam itu seperti umat -awam, karena kebenarannya adalah bahwa umat-awam tidaklah sebobrok seperti para imam). Yang ketiga adalah, suatu kebiasaan duniawi yang merendahkan hal-hal suci; yang sungguh menodai secara perlahan-lahan penghormatan kepada agama. Dan yang terakhir, masa-masa yang indah khususnya masa yang diwarnai dengan kedamaian dan kemakmuran; karena segala kesulitan dan kemalangan sungguh membuat pikiran manusia tunduk berlutut kepada agama.

Mereka yang menyangkal Allah menghancurkan keagungan manusia; tentu saja karena manusia adalah sanak keluarga para binatang dengan tubuhnya, dan jika dia bukan putra-putri Allah dengan rohnya, maka ia adalah makhluk yang hina-dina dan memalukan. Menyangkal Allah berarti juga menghancurkan keluhuran budi dan kebesaran kodrat manusia: ambillah sebagai contoh seekor anjing dan lihatlah bahwa betapa lembutnya dan manisnya si anjing ketika si anjing tahu bahwa dirinya dipelihara oleh manusia dan begitu jelasnya kegembiraan si anjing; apalagi manusia yang disayangi oleh Tuhan dan manusia adalah kodrat yang lebih tinggi daripada si anjing; tetapi tanpa kepercayaan diri bahwa manusia telah memiliki kodrat yang lebih tinggi daripada kodratnya sendiri, manusia tidak akan mencapai realitas itu.

Maka, ketika manusia berserah diri dan mengandalkan perlindungan dan pertolongan Allah, akan mendapatkan suatu kekuatan yang berlipat dan iman, yang kodrat manusia sendiri tak mungkin dapat melakukannya. Jadi, ateisme dalam segala hormat adalah memuakkan, dalam hal berikut ini, ateisme itu mencabut kodrat manusia dari sarana yang meninggikan kodrat manusia sendiri melampaui kerapuhannya[17]. Ateisme tidak hanya berlangsung di dalam pribadi-pribadi tetapi juga di dalam bangsa-bangsa. Tak pernah ada keluhuran budi suatu bangsa selain yang ada dalam diri bangsa Romawi. Tentang kenyataan ini, dengarkanlah apa yang dikatakan oleh Cicero[18]: Quam volumus licet, patres conscripti, nos amemus, tamen nec numero Hispanos, nec robore Gallos, nec calliditate Poenos, nec artibus Graecos, nec denique hoc ipso hujus gentis et terrae domestico nativoque sensu Italos ipsos et Latinos; sed pietate, ac religione, atque hac una sapientia, quod deorum immortalium numine omnia regi gubernarique perspeximus, omnes gentes nationesque superavimus. (Banggalah diri kita sebagai  bangsa yang besar, meskipun jumlah kita tidaklah sebesar orang–orang Spanyol; maupun kekuatan negara kita tidaklah setangguh orang–orang Gaul; kecerdikan negara kita juga tidak sehebat orang–orang Carthago, kita juga tidak semahir seperti orang-orang Yunani dalam hal seni, bahkan kita juga tidak seperti orang-orang Italia dan orang-orang Latin sendiri yang penuh dengan kesahajaan dan perasaan yang hangat yang menjadi milik bangsa dan tanah ini; kehormatan diri kita justru ada di dalam kesalehan dan dalam agama serta kebijaksanaan yang bersumber dari penyelenggaraan para dewa yang kekal yang mengatur dan memerintah segala sesuatunya, itulah yang membuat diri kita mengungguli segala suku dan bangsa).

[1] The Golden Legend (Latin: Legenda aurea atau Legenda sanctorum) adalah suatu buku yang berisi tentang koleksi riwayat Santo dan Santa yang ditulis oleh Jacobus Voragine dan menjadi bestseller pada abad pertengahan.

[2] Talmud adalah kumpulan hukum tradisional Yahudi.

[3] Leucippus adalah seorang Yunani pencetus pertama atomisme: segala sesuatunya terdiri elemen-elemen yang tak dapat musnah dan tak dapat dibagi lagi yang disebut dengan atom. Leucippus mempercayai bahwa segala sesuatunya merupakan hasil dari hukum natura atom-atom; segala yang ada ini tersusun dari atom-atom yang tak berhingga. Di antara atom-atom itu sendiri terdapat variasi dalam bentuk, ukuran, berat dan terdapat ruang kosong sehingga membuat atom-atom itu dapat bergerak dan berhubungan satu sama lain secara mekanik. Atom-atom menurut Leucippus bergerak selalu di dalam orbit yang lurus, tidak mungkin berbelok (maka Leucippus adalah seorang determinisme). Hal ini berbeda dengan pendapat Epikurus yang berpikiran bahwa atom-atom itu tidak harus bergerak di dalam orbit yang lurus tapi juga mungkin berbelok (lihat essai I; no.8). Supaya semakin jelas bahwa segala sesuatu terbentuk dari atom maka kita bisa melihat dari pengamatan. Segala materi tidak dapat hancur. Misalnya, meskipun batu dapat hancur karena tetesan air, kayu ek dapat binasa, tetapi materi batu dan materi kayu ek tidak hancur. Buktinya, materi batu bersatu dengan tanah; benih kayu ek dapat tumbuh menjadi pohon kayu ek seperti kayu ek yang pertama telah hancur itu. Pertanyaannya mengapa segala sesuatunya tidak dapat binasa; mengapa selalu ada yang baru dan bagaimana suatu materi yang sama terbentuk lagi dan terus-menerus? Jawabannya adalah pasti ada properti materi-materi tersebut yang berasal dari sesuatu yang lain, yaitu sesuatu yang tidak dapat hancur, sesuatu yang kekal, sesuatu yang tidak dapat dibagi lagi, sesuatu yang tidak terlihat oleh mata; sesuatu itu disebut dengan atom. Teori atom Leucippus nantinya dikembangkan dan diperdalam oleh Democritus.

[4] Democritus adalah murid Leucippus. Ia juga dikenal sebagai filsuf yang tertawa. Ia menulis banyak buku dan memperdalam teori atom Leucippus dan filsafatnya juga tidak hanya menyangkut atomisme tetapi juga di dalam epistemologi, etika dan politik. Misalnya dalam bidang politik, Democritus mengatakan bahwa kesetaraan adalah hal yang agung; kemiskinan di dalam demokrasi adalah lebih baik daripada kemakmuran di bawah tirani. Democritus pada zamannya merupakan filsuf yang berpengaruh sehingga filsafatnya merevolusi pemikiran banyak orang. Penjelasan atomisme Democritus telah mengganti penjelasan mitologi Yunani tentang asal–usul segala sesuatunya. Bahkan Democritus menjelaskan bahwa kepercayaan kepada para dewa sebenarnya adalah hasil dari ketakutan dan suatu fenomena yang sungguh tidak dapat diandalkan dalam penjelasan yang ilmiah.

[5] Berikut dilema Epikurus tentang Tuhan yang terkenal itu: Apakah Tuhan memang berkehendak membinasakan kejahatan, tetapi sayangnya ia tidak mampu? Jika demikian, Tuhan bukanlah Yang Mahakuasa. Apakah dia sebenarnya mampu mencegah kejahatan, tetapi dia tidak berkeinginan melakukannya? Jika demikian, Tuhan bukanlah Tuhan yang Maha Baik; dia adalah Tuhan yang kejam. Apakah Tuhan memang tidak mampu dan tidak berkeinginan mencegah kejahatan? Jika memang demikian berarti Tuhan bukan yang Maha Kuasa dan Tuhan itu kejam sehingga jelas dia bukan Tuhan lalu mengapa kita menyebut dia Tuhan? Jika Tuhan memang mau dan mampu mengalahkan kejahatan yang memang merupakan karakter Tuhan, lalu dari mana datangnya kejahatan?; mengapa Tuhan tidak melenyapkan segala kejahatan? Sebenarnya dilema ini bukan dari Epikurus tapi penulis skeptik awal. Dilema ini sudah muncul dalam tulisan Sextus Empiricus sebelum Epikurus lahir. Menurut Reindhold F. Glei Dilema ini jelas bukan gaya Epikurean bahkan bisa dikatakan anti Epikurean.

[6] Empat elemen yang berubah itu adalah air, udara, bumi, api. Teori empat elemen ini dikemukan oleh Empedocles. Tentang Empedocles lihat essai XXVII; no. 4

[7] Dalam bahasa Aristoteles elemen adalah esensi dan Aristoteles menambakan satu ensensi sehingga menjadi lima esensi (elemen). Esensi yang terakhir adalah aether dan aether adalah subtansi ilahi yang tak dapat berubah. Tentang Aristoteles lihat essai XXVII; no. 1

[8] Mazmur 14:1

[9] Plato adalah seorang filsuf klasik Yunani, ahli matematika, murid Sokrates. Sebagai seorang filsuf, Plato menulis banyak buku dan dialog filsafat serta mendirikan Academi Athena. Bersama dengan muridnya, Aristoteles, Plato membangun dan meletakkan dasar-dasar filsafat Barat dan ilmu pengetahuan. Kata A.N.Whitehead:

Karakter umum tradisi filsafat Eropa yang dapat dipercaya adalah bahwa tradisi Filsafat Eropa terdiri dari suatu seri catatan-catatan kaki yang merujuk kepada Plato. Saya hanya menyinggung bahwa kekayaan segala ide umum Filsafat Barat disebarkan melalui tulisan-tulisan Plato”.

[10] Plato menyebut Tuhan sebagai demiourgos yang adalah sesuatu yang kekal dari kodratnya dan bekerja menurut sebuah model (seperti ahli kesenian) dan kepastian. Demiourgos bukanlah pencipta tempat dan segala yang ada, tetapi demiourgos merupakan pencipta waktu, pencipta gambaran keabadian yang bergerak dan pencipta dewa-dewa yang lebih rendah yang kekal.

[11] Yang dimaksud orang India dari Barat adalah orang-orang di Hindia Barat (orang-orang di benua Amerika). Selanjutnya tentang Hindia Barat lihat essai XXIX; no 36.

[12] Jean Danielou menyebut agama atau revelasi yang demikian sebagai agama kosmik yang berarti manusia yang mencari Allah dengan buta, tanpa terang dari revelasi positif dan meskipun demikian Allah tetap membuka diri dan mencintai mereka.

[13] Diagoras dari Melos adalah seorang penyair Yunani dan sophist serta dikenal sebagai ateis. Ia dicap sebagai ateis dan diusir dari kota karena mengkritisi agama Yunani dan menguak rahasia Elusinian (semacam ritus inisiasi untuk menghormati dewi Demeter (dewi pertanian dan kesuburan) dan Persephone (anak perempuan dewi Demeter). Bagi mereka yang merayakan ritus ini konon akan mendapat kehidupan kekal). Pernah suatu kali dia menghancurkan patung Hercules yang terbuat dari kayu demi merebus lobak dan kemudian Diagoras dengan entengya menyatakan bahwa para dewa itu tidak ada.

[14] Bion dari Abdera adalah seorang ahli matematika dan murid Democritus.

[15] Tentang Lucian lihat essai I; no. 5

[16] St. Bernardus dari Clairvaux adalah seorang rahib dan pimpinan biara dari ordo Cistercian serta Doktor Gereja. Ia menulis banyak buku teologi dan memperbaharui cara hidup membiara terutama ordonya. Benardus menekankan pentingnya Lectio Divina dan kontemplasi kitab suci karena, menurutnya, Lectio Divina dan kontemplasi adalah jalan utama untuk memelihara dan mencercap spiritualitas Kristiani.

[17] Sakramen Baptis -menurut iman Katolik- mengangkat dan menjadikan manusia: dahulu yang adalah manusia yang dipenuhi dengan dosa, terbelenggu oleh dosa asal, ciptaan yang hina-dina, sekarang berkat baptis dibebaskan dari dosa asal, diampuni dan diangkat menjadi putra-putri Allah.

[18] Marcus Tulli Cicero adalah seorang filsuf Romawi, negarawan, pengacara, orator yang ulung, konsul Roma. Selama perang sipil Romawi, Cicero berusaha mempertahankan konstitusi republik Romawi dan tidak ingin Romawi berubah menjadi kemaharajaan. Setelah Caesar dibunuh, demi melawan Markus Antonius, Cicero menyerang Markus Antonius dengan pidato-pidatonya yang ulung. Kemudian oleh Triumvirate yang kedua (Octavianus, Markus Antonius, Lepidus) Cicero dicap sebagai musuh negara. Ia pun dibunuh pada tanggal 7 Desember 43 SM. Ia menulis banyak buku, surat, dan pidato. Sebagian besar karya-karyanya itu masih dapat dinikmati. Pemikiran Cicero tentang moral amat berdekatan pandangan Kristiani.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply