Ambisi

XXXVI

Ambisi

Francis Bacon

Lukisan Paul Cézanne,Le Vase Bleu,1889

the-blue-vase

Ambisi adalah cairan empedu kuning[1]; yang adalah suatu humor (cairan) yang membuat manusia aktif, berdaya, penuh dengan kelincahan dan semangat yang bergelora, jika tidak dihentikan. Tetapi jika dihentikan, ambisi tidak akan mempunyai caranya, lalu berubah menjadi cairan tubuh yang terlalu panas sehingga menjadi berbahaya dan beracun. Maka orang-orang yang ambisius, jika mereka menemukan jalan yang terbuka untuk mewujudkan ambisi mereka dan masih dapat menempuhnya, mereka akan menjadi orang-orang yang sibuk daripada orang-orang yang berbahaya; tetapi seandainya mereka diselidiki dalam hasratnya, maka diam-diam mereka tidak senang, dan memandang orang-orang lain dan segala hal dengan mata iblis, dan begitu senang ketika segala sesuatunya mengalami kemunduran; orang–orang yang demikian adalah suatu properti terburuk dalam suatu pengabdian kepada raja atau negara. Oleh karena itu, baiklah bagi para raja, seandainya mereka mempekerjakan orang-orang yang ambisius, memimpin mereka supaya mereka tetap menjadi orang yang progesif dan bukan menjadi orang mengalami kemunduran; sebenarnya mempekerjakan orang-orang yang ambisius pasti disertai ketidaknyamanan, maka adalah baik untuk tidak sama sekali mempekerjakan orang-orang yang berkodrat seperti itu. Sebab seandainya kesuksesan mereka bukan disebabkan oleh pengabdian mereka, mereka akan mengambil perintah untuk membuat pengabdian mereka hancur bersama dengan mereka. Namun, karena kita telah mengatakan bahwa adalah baik untuk tidak mempekerjakan orang-orang yang ambisius secara kodrati, kecuali di dalam hal-hal yang amat penting, maka adalah tepat kalau kita membicarakan dalam kasus-kasus apa saja orang-orang yang ambisius itu diperlukan. Para komando perang yang baik haruslah dipilih, tetapi kiranya mereka tidak pernah menjadi orang yang ambisius; sebab manfaat pengabdian mereka menyalurkan ke segalanya; dan mengambil seorang prajurit tanpa ambisi adalah melepaskan tajinya. Ada juga faedah yang besar yang berasal dari orang-orang yang berambisi bagi para raja yaitu menjadi penyaring terhadap hal yang berbahaya dan yang mengandung iri hati; sebab tidak ada orang yang akan berpartisipasi dalam iri hati dan bahaya, kecuali kiranya dia seperti kelopak mata merpati yang terjahit bersama dengan matanya sehingga matanya naik dan naik terus karena dia tidak dapat melihat dirinya. Ada juga faedah dari orang-orang yang ambisius untuk meruntuhkan kebesaran setiap subjek yang begitu kokoh di puncak, seperti Tiberius[2] memanfaatkan Macro[3] untuk meruntuhkan Sejanus[4]. Jadi, karena mereka dimanfaatkan dalam kasus-kasus yang demikian, maka ada suatu rehat untuk membicarakan bagaimana mereka dikekang supaya mereka tidak terlalu berbahaya. Orang-orang ambisius yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja tidak sebahaya seperti mereka yang berasal dari bangsawan, mereka yang kasar dari kodratnya tidak sebahaya seperti mereka yang ramah dan popular: dan jika mereka baru saja naik daun tidak sebahaya seperti mereka yang sukses dengan licik dan dikokohkan lewat kebesaran mereka. Dianggap sebagai kelemahan para raja oleh beberapa orang jika para raja memiliki favorit; tetapi memiliki favorit merupakan cara yang mujarab dari semua cara yang ada dalam melawan orang-orang begitu ambisius. Sebab ketika jalan kenikmatan maupun ketidaknikmatan dibentangkan oleh mereka yang menjadi favorit, maka tidaklah mungkin yang lain akan menjadi terlalu hebat.

Cara-cara lain untuk mengekang orang-orang yang ambisius adalah menyandingkan mereka bersama dengan orang-orang yang memiliki kebanggaan sama halnya seperti mereka. Tetapi kemudian, haruslah ada penasihat-penasihat penengah untuk membuat segala sesuatunya tetap kokoh; sebab tanpa pemberat tersebut, kapal akan terlalu banyak mengoleng-oleng. Setidaknya, para raja kiranya menggelorakan dan membiasakan orang-orang yang jahat sebagai cambuk untuk orang-orang yang ambisius. Sebab dengan mewajibkan orang-orang yang ambisius untuk ikut bertanggung jawab akan kehancuran, jika secara alami hal ini membuat mereka takut, maka segala sesuatunya akan berjalan dengan baik, namun jika mereka tak gentar dan berani, maka ambisi-ambisi mereka kiranya mengendap dalam rancangan-rancangan mereka dan membuktikan adanya bahaya. Untuk meruntuhkan mereka, jika keadaan-keadaan memang mengharuskannya dan kiranya tidak dapat dilakukan dengan keamanan yang sigap, maka satu-satunya cara ialah melakukan pertukaran secara berkala kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan yang dengan cara demikan mereka kiranya tidak akan mengetahui apa yang mereka harapkan dan kiranya kondisi ini menjadi kondisi yang membingungkan.

Tentang ambisi-ambisi, ambisi tidak akan menjadi hal yang berbahaya, yaitu ambisi yang berlaku untuk hal-hal yang besar, daripada yang berlaku untuk hal yang lain yaitu ambisi yang muncul demi segala sesuatunya; sebab ambisi yang demikian menetaskan kericuhan dan merusak bisnis. Tetapi meskipun begitu, tidaklah berbahaya jika mempekerjakan orang-orang yang ambisius yang bergerak di dalam bisnis daripada yang membuat ketergantungan luar biasa. Dia yang berupaya menjadi yang paling istimewa di antara rekan-rekannya pastilah memiliki suatu tugas yang besar dan merupakan hal yang baik bagi publik. Dia yang merencanakan untuk menjadi satu-satunya figur di antara orang-orang yang tak berarti adalah kebusukan sepanjang masa. Kehormatan memiliki tiga hal di dalam ambisi: yang pertama alasan yang menguntungkan untuk melakukan kebaikan; pendekatan kepada raja-raja dan orang-orang penting; dan keberhasilan akan nasibnya sendiri. Dia yang mewujudkan ketiga intensi ini dengan terbaik, ketika dia terilhami, maka dia adalah seorang yang jujur; dan raja yang dapat melihat tindakan yang bersumber intensi-intensi ini yang mengilhami pribadi tersebut, adalah seorang raja yang bijaksana. Pada umumnya, semoga para raja dan negarawan memilih menteri-menteri yang lebih mengutamakan tugas daripada kesuksesan; dan yang mencintai pekerjaannya berdasarkan suara hati daripada kepura-puraan, dan semoga mereka melihat kodrat yang sibuk yang berasal dari suatu pikiran ambisius.

[1] Menurut psikologi kuno, tubuh terdiri dari empat cairan yaitu cairan darah, cairan riak, cairan empedu kuning, cairan empedu hitam di mana keempat cairan menentukan dan membentuk empat kepribadian manusia yaitu sanguinis, phlegmatis, melankolis, koleris. Selengkapnya, lihat essai III; no. 2

[2]  Tentang Tiberius lihat essai II; no.6

[3] Quintus Naevius Cordus Sutorius Macro adalah kepala Praetoria pada masa Kaisar Tiberius dan Kaisar Caligula. Pada masa pemerintahan Tiberius, Macro begitu hebat dalam mendiskreditkan Sejanus dan pengikutnya sehingga Tiberius akhirnya menghukum mati Sejanus dengan tuduhan pemberontakan. Pada masa pemerintahan Caligula – menurut Tacitus- Macro memainkan peran penting dalam suksesi Caligula demi mendapatkan mahkota Romawi. Dikatakan bahwa ketika diberitakan bahwa Tiberius telah wafat, Caligula segera mendeklarasikan diri sebagai kaisar tanpa memastikan terlebih dahulu kematian Tiberius. Ternyata Tiberius yang sakit itu masih hidup karena terdengar dari kamarnya minta makan. Maka demi menghindari malu, Macro sebagai kepala Praetoria menyuruh agar kaisar tua tersebut dibunuh dengan dibekap kain. Setelah Caligula naik takhta, Caligula menyadari ancaman Macro sehingga Macro dipindahkan dari posnya bahkan ditangkap. Kemudian Macro mati bunuh diri.

[4] Tentang Sejanus lihat essai XXVII; no. 18

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply