Allah dan kita

 

Lukisan: Friar Giles And His Companion Faint With Hunger In A Deserted Church

Buku:

Dios y Nosotros, Jean Daniélou, Ediciones Cristiandad, Madrid 2003

Apakah mungkin untuk berbicara, mengetahui, mengalami, dan memberikan kesaksian akan Allah dengan pengetahuan yang benar dan iman yang setia? Daniélou menjawabnya dengan indah dan menjelaskannya lewat enam cara yang ditulis dalam enam bab: Allah agama, Allah para filsuf, Allah iman, Allah Yesus Kristus, Allah gereja, Allah para mistikus. Dengan memetakan cara-cara yang diusulkan, penulis telah membantu orang Kristen untuk mencintai Alkitab dengan mempraktikkan iman dan melakukan teologi tanpa mengabaikan mistik. Allah dan kita menunjukkan hubungan sejarah dan ontologi antara Allah, dunia dan manusia.

Bab pertama membahas Allah agama. Tempat pertama dari pertemuan antara Allah dan manusia adalah  agama pagan atau kosmik yang dapat diuraikan menjadi tiga: politeisme, panteisme dan dualisme. Mereka adalah agama kosmik yang mengenal Allah melalui manifestasi-Nya di dunia, hati nurani, dan Roh. Manifestasi Allah mengacu pada intervensi dalam sejarah-Nya yang transenden sekaligus memperkenalkan manusia ke ranah untuk mencari-Nya secara natural. Oleh karena itu, Alkitab memberikan kesaksian untuk wahyu Allah yang ditujukan kepada manusia dari semua agama. Namun, agama kosmik merupakan usaha manusia yang mencari Allah tanpa cahaya wahyu positif. Tidak adanya sandaran kepada wahyu positif mengungkapkan suatu bentuk yang tak sempurna dari apa yang dipersepsikan, penuh dengan keraguan bahkan keliru. Memang, kepenuhan semua agama berada di dalam terang Yesus Kristus. Tetapi dengan kepenuhan ini tidak berarti menunjukkan superioritas Kekristenan; justru sebaliknya, wahyu Allah kepada semua agama menunjukkan suatu penghormatan Kristen kepada agama-agama yang ada. Penghormatan jelas tidak mengandung suatu perbandingan, atau apologetik, tetapi penerimaan: apa yang menyelamatkan bukanlah pengalaman keagamaan, tetapi iman kepada Firman Allah.

Jalan kedua adalah Allah filsafat. Spinoza mengatakan bahwa pada manusia tidak ada yang lebih ilahi selain daripada akal budi. Oleh karena itu, dengan cara ini, penulis berbicara tentang pergulatan filsafat akan Allah. Satu hal yang bisa diambil dari pergulatan filsafat akan Allah adalah bahwa akal budi manusia mampu menjangkau Allah. Akal budi, pada kenyataannya, menyadari keberadaan Allah. Tapi untuk mengenali-Nya melalui jalan akal budi berarti menegaskan eksistensi-Nya yang tidak dapat diketahui: suatu eksistensi yang mentransendensi yang tidak dapat diketahui. Konsekuensinya, pengetahuan Allah lewat akal budi membentuk suatu tatanan yang terpisah yaitu berada di perbatasan antara  pengetahuan dan yang tidak dikenali. Desakan filsafat adalah suatu desakan intelegibilitas yang berusaha untuk memperbaiki tatanan kehidupan, mencoba untuk mengungkap struktur ada. Dalam pencarian akan ada, filsafat ingin datang kepada prinsip pertama yaitu Allah. Maka, perjalanan filsafat untuk mencapai Allah dapat membuahkan baik penggunaan filsafat yang benar maupun penyalahgunaan filsafat. Artinya bahwa akal budi selalu memiliki keterbatasan untuk memahami dan mencapai Allah. Dengan kata lain, pengetahuan yang paling sempurna tentang Allah justru muncul dari rahmat dan inisiatif bebas-Nya. Allah adalah Dia yang paling subjektif, misteri yang mana tidak ada yang menembusnya dengan paksaan, tetapi diri-Nya terungkap kapan dan bagaimana saat Dia menginginkan. Itulah pengetahuan akan Allah yang disebut dengan Wahyu.

Jalan ketiga adalah Allah iman karena wahyu dapat dipahami melalui iman. Kebenaran Allah tersembunyi di dalam misteri yang meliputi kehidupan-Nya dan rencana-Nya terhadap dunia. Iman memahami paradoks bahwa Allah pada akhirnya akan dikenali tetapi juga tidak akan pernah dikenali.  Di dalam ranah misteri yang tersembunyi, hanya imanlah yang memperkenalkan pengetahuan Allah ke dalam wahyu-Nya. Iman, pada kenyataannya, bukan hanya tindakan yang melaluinya roh melekat kepada kesaksiannya akan sabda tetapi juga suatu keutamaan teologis supranatural yang meninggikan roh di atas dirinya sendiri. Jadi, iman sebenarnya adalah kecerdasan baru, diciptakan oleh Roh, sesuatu yang unik, yang dapat menyelami kedalaman Allah dan memungkinkan kita untuk menangkap realitas ini dalam cara yang gelap tapi sungguh nyata. Dengan iman, orang Kristen menafsirkan bahwa wahyu Allah dimulai dalam sejarah manusia: pertama dalam agama kosmik,  dalam aliansi dengan Israel, yang kemudian memuncak pada inkarnasi dan Paskah Yesus Kristus. Wahyu Allah memberitakan kebenaran Allah, keadilan Allah, kekudusan Allah, kesetiaan Allah, kasih Allah, dan keselamatan Allah bagi manusia. Wahyu Allah melukiskan kebesaran Allah yang muncul di dalam diri manusia dalam semua dimensi, dalam keagungan manusia. Jadi, iman mendeklarasikan Allah sebagai Allah yang hidup dan Allah penyelamat.

Allah Juruselamat menginkarnasi dalam daging: Allah Yesus Kristus. Hanya di dalam Yesus Kristus, yang mana Allah yang tersembunyi sepenuhnya itu diungkapkan. Yesus Kristus sebagai kegenapan Wahyu melibatkan dan memanifestasikan pada saat yang sama Bapa dan Roh Kudus karena Allah adalah satu dan Tritunggal. Kehidupan Trinitas memanifestasikan dirinya sebagai satu sempurna dan pada saat yang sama terdapat ketergantungan ganda terhadap Putra dan Roh Kudus. Daniélou kemudian menawarkan penjelasan tentang sifat, hubungan dan misi dari Trinitas. Semua pekerjaan Allah digenapi oleh tiga pribadi (Bapa, anak, Roh Kudus), tetapi masing-masing dari mereka bertindak sesuai dengan modalitas-Nya sendiri-sendiri. Aksi Trinitas untuk keselamatan menumbuhkan kehidupan Trinitas bagi manusia supaya manusia dapat memiliki dan berpartisipasi di dalam eksisktensi Trinitas yang kekal. Dalam partisipasinya kepada eksistensi Trinitas, manusia berjalan dari kemuliaan ke dalam kemuliaan, dan seluruh sejarah keselamatan dapat dimaknai sebagai penyingkapan hidup Trinitas terus-menerus yang tak terlukiskan.

Kemudian, tempat Firman dan Wahyu Trinitas adalah gereja -orang baru-, di mana peristiwa sabda yang melestarikan dan memaparkan tradisi yang sempurna terus berlanjut.  Penulis dengan Cullmann percaya bahwa oleh karena gereja, sejarah keselamatan berlangsung terus di dunia. Oleh karena itu, sakramen menemukan perannya: sakramen merupakan perpanjangan keselamatan yang dibuat oleh Yesus Kristus di dalam waktu dan di dalam dunia. Daniélou juga menjelaskan perlunya peran magisterium dan tradisi yang dikritik oleh Cullmann. Menurut Daniélou, tradisi adalah transmisi Wahyu karena sebagaimana sakramen adalah aktualisasi satu-satunya tindakan keselamatan, maka tradisi adalah aktualisasi satu-satunya tindakan pewahyuan. Tradisi dalam pengertian teologis berarti bahwa Kristus tidak mempercayakan pesannya kepada buku-buku yang tertulis, tetapi kepada orang yang hidup. Tidak mengherankan, kalau tradisi itu disebut tradisi hidup. Semuanya itu berarti bahwa tradisi dan Kitab Suci secara langsung terkait satu sama lain dan memiliki otoritas yang setara. Dengan demikian Kitab Suci dan Tradisi adalah sumber yang memberi kita akses terhadap Wahyu. Dan konsekuensinya adalah bahwa teologi sebenarnya merupakan pengetahuan tentang Kitab Suci dan Tradisi.

Wahyu Allah tidak  hanya diketahui  melalui kesaksian dari karya-karya-Nya dan dalam teologi, tetapi juga diungkapkan secara langsung kepada jiwa. Di sana, di atas jiwa, adalah rumah Allah. Di sana, Allah berdiam, melihat dan memerintah manusia. Jadi, Allah berdiam di dalam manusia secara  tidak diketahui dan tersembunyi. Melalui misteri pembaptisan, kehidupan manusia diangkat dan diilahikan sesuai dengan kehidupan Trinitas karena Kristus. Baptisan, yang zaman dahulu disebut pencerahan, membuat kita melewati dari kegelapan kebodohan dan dosa, menuju ke dalam terang rahmat dan kemuliaan. Inilah pengetahuan mistik karena dengan menjadi anak Allah, rahmat menempatkan jiwa kita dalam hubungan yang sangat istimewa dengan Trinitas. Sungguh, Trinitas diketahui oleh jiwa dengan pengetahuan yang gelap dan penuh kasih yang mana pengetahuan memiliki ukuran cinta: inilah teologi mistis, fajar sejati visi kekal

Refleksi

Enam jalan Wahyu yang dipahami oleh Daniélou membuat kita  memahami, memperdalam, memberikan kesaksian, dan mengasihi keagungan Allah. Puncak keagungan Allah berwujud di dalam Trinitas: Allah Bapa, Allah Putra, Allah Roh Kudus (Tuhan satu dan Tritunggal). Keagungan Allah dalam Trinitas membuat kita berjumpa akan realitas misterium tremendum dan fascinosum  karena Trinitas -sebagaimana yang dikatakan oleh Novacianus-:

Lebih tinggi dari ketinggian, lebih dalam dari kedalaman apapun, lebih terang daripada semua cahaya, lebih jelas daripada semua kejelasan, lebih megah daripada semua kemegahan, lebih kokoh daripada semua kekokohan, lebih kuat daripada semua kekuasaan, lebih indah dari semua keindahan, lebih benar daripada semua kebenaran, lebih agung daripada semua keagungan, lebih berkuasa daripada semua kekuasaan, lebih kaya daripada semua kekayaan, lebih bijaksana daripada semua kebijaksanaan, lebih baik daripada semua kebaikan, lebih adil daripada semua keadilan dan lebih penyayang daripada segala penyayang.

Misteri Trinitas mengungkapkan bahwa Allah adalah kasih: Allah bereksistensi dalam kasih yang sempurna, berdaulat dan saling mengasihi.  Allah satu dan Tritunggal menjelaskan persekutuan antara tiga pribadi dan pluralitas disatukan kembali dalam kesatuan dalam kasih, di mana segala sesuatu yang ada di dalam Tritunggal adalah kepenuhan dan sukacita.

Allah sebagai cinta merupakan hal fundamental bagi kita dan menunjukkan realitas sejati kita: hanyalah cinta yang membuat kita bahagia karena esensi manusia diciptakan oleh cinta dan kehidupan manusia adalah untuk mencintai dan dicintai segala yang ada: manusia, dunia, segala yang hidup. Ketika manusia hidup dalam cinta, ia juga menyelami  jalan mistik. Jalan mistik selalu mengacu pada persatuan dengan cahaya yang tak terlukiskan dan cahaya itu di atas, melampaui dan di luar semua aktivitas intelektual. Cinta mistik adalah cinta tanpa bentuk, tanpa figur, tanpa suara, tanpa konsep dan hanya tenggelam di lautan cinta. Dalam cinta, kita merenungkan dan memahami Trinitas untuk visi beatifikasi. Akhirnya, kontemplasi Richard St. Victor menjadi kebenaran:

Kamu melihat Trinitas, jika kamu melihat Kasih.

Kamu mengkontemplasikan Trinitas, jika kamu melihat kasih

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply