Aliquid (Sesuatu)

Lukisan Milan Konjovic, Cassis, 1929

 

Realitas makin terpahami dan jelas dengan aliquid dan oleh karena aliquid, kita makin jatuh cinta untuk menggali kekayaan realitas dengan terang akal budi dan terang iman”

Apa itu sesuatu yang lain (aliquid)? Untuk menjawabnya perlulah kita melihat akan cara mengada ada. Menurut Thomas Aquinas: cara mengada suatu ada dalam kaitannya dengan ada yang lain dapat terjadi dalam dua cara:

  • Cara yang pertama yaitu menurut divisi atau pemisahan suatu ada dari yang lain, yang disebut dengan nama aliquid, tepatnya aliud quid (yang lain daripada itu); sebagaimana ada dikatakan satu karena tidak terbagi di dalam dirinya sendiri, maka ada juga dikatakan aliquid (sesuatu yang lain) karena ada terpisah dengan yang lain.
  • Cara yang kedua adalah kesesuaian suatu ada dengan yang lain. Kesesuaian itu tidaklah mungkin terjadi kecuali kita memiliki sesuatu yang berdasarkan kodratnya bersesuaian dengan semua yang ada yaitu jiwa. Di dalam jiwa terdapat fakultas intelek dan fakultas kehendak. Persesuaian ada dengan fakultas kehendak disebut dengan baik, sementara persesuaian ada dengan intelek disebut dengan benar.

Maka dari cara mengada ada pengertian akan aliquid berpangkal secara definitif pada cara mengada yang pertama walaupun cara mengada yang kedua juga tidak bisa dipisahkan untuk menjelaskan apa itu aliquid.

Bagaimana sesuatu (aliquid) itu menyatakan yang lain? Thomas menjelaskan bahwa bukan ada (non ens) memiliki tiga makna: non ens mengacu kepada pernyataan yang keliru (pernyataan bahwa kopi itu panas padahal faktanya kopi telah menjadi dingin); non ens menunjukkan sesuatu yang sedang menjadi, dan yang terakhir berarti itu yang bukan ini[1]. Dalam konteks terjadinya pemahaman dan pengetahuan yang pertama oleh akal budi berlakulah prinsip non kontradiksi: ada adalah bukanlah non ada. Oleh sebab itu, pengertian aliquid (sesuatu) terletak di dalam pengertian yang terakhir ini. Jadi, apa yang bukan ketiadaan (non est nihil) adalah sesuatu (aliquid). Sesuatu sebagai oposisi ketiadaan berarti ada atau dapat mengada. Maka, yang ada dapat dipahami sebagai ens realis yang terdiri ens actualis dan ens possibilis sekaligus juga res yang berkaitan dengan isi esensial[2].

                             Ens → ens realis yang terdiri dari ens possibilis dan ens actualis

Aliquid                   

(Non est nihil)

                                 Quidditas →      res

Karena sebagaimana adanya, ada-ada bukanlah yang sama, tetapi merupakan ada-ada yang lain. Ada yang lain adalah struktur realitas. Ada yang lain diekspresikan dengan aliquid dalam konteks perbandingan suatu ada dengan ada yang lain. Thomas berpendapat bahwa segera setelah kita membentuk konsep pemisahan (divisi) kita dapat membandingkan satu ada dengan ada yang lain sehingga terbentuklah konsep “sesuatu”. Sesuatu ini yang dijelaskan oleh Thomas adalah sesuatu yang lain (aliud quid): suatu ada yang dibedakan dengan ada-ada yang lain. Sesuatu yang lain berarti berbeda secara umum dan memiliki keunikan –baca distingsi. Distingsi terjadi ketika sesuatu sungguh berbeda satu sama lain, tetapi juga ketika perbedaan mencakup soal suatu forma (natura)[3]. Maka, masing-masing kategori ada menyatakan sesuatu yang lain (aliud quid). Jadi, makna aliquid dalam hubungannya dengan cara mengada ada dapat dikatakan dalam empat hal berikut ini:

  1. Makna aliquid menyatakan distingsi ada dalam kaitannya dengan ada yang lain. Manusia dan bunga ini. Di sini aliquid menunjukkan perbedaan natura.
  1. Aliquid juga berarti perbedaan satu ada dengan ada lainnya di dalam natura yang sama. Orang ini atau orang itu. Ketika kita mengatakan bahwa orang ini adalah yang lain, kita mengacu kepada kesatuannya tetapi di dalam relasinya dengan yang lain karena kesatuan meminta ketidakterbagian internal sekaligus pemisahan dengan yang lain.
  1. Aliquid bisa berarti pula sesuatu dalam pengertian ada ini bertentangan dengan non-ada. Akibatnya kita bisa mengatakan bahwa sementara kita tidak memiliki segala sesuatunya, sekarang kita sungguh memiliki sesuatu.
  1. Aliquid juga bisa berarti esensi individual seperti yang diketahui tetapi di dalam cara yang tak terkarakterkan. Sebagai contoh: kita mengatakan bahwa ada sesuatu yang menakjubkan di tempat tersebut. Dalam kontek ini, sesuatu di sini mengacu kepada transendental res.

Persoalan selanjutnya apakah aliquid ini merupakan transendental dan apakah aliquid bisa dipredikatkan kepada Tuhan: Tuhan adalah sesuatu? Beberapa filsuf menegaskan bahwa transendental res dan aliquid tidak merengkuh unitas, kebaikan dan kebenaran sehingga Tuhan tidak dapat disebut sebagai sesuatu (aliquid) karena Tuhan tidak dapat dianggap sebagai sesuatu di antara sesuatu yang lain. Maka menurut Campanella sebaiknya res dan aliquid disebut subtransendental bukan transendental.

Menurut Leo J. Elder[4] persoalan ini dapat diselesaikan sebagai berikut: Tuhan adalah suatu res karena Tuhan memiliki isi esensial meskipun isi esensial-Nya definitif berbeda dengan res ciptaan: kodrat Tuhan Ipsum Esse Subsistens. Konsekuensinya, terminologi aliquid pun bisa dipredikatkan kepada Tuhan sebagaimana aspek-aspek transendental ada yang adalah ens rationis menyatakan kekayaan ada. Jelasnya sebagai berikut: aliquid didasarkan pada arti distributif ada sehingga aliquid merupakan properti, aspek dari ada. Albertus Magnus mengatakan: quodlibet ens est unum, verum, bonum (apapun ens selalu satu, benar dan baik). Maka, ketika aliquid diterapkan kepada Tuhan berarti Tuhan bukanlah ciptaan tetapi Sang Pencipta. Jika seseorang mengatakan bahwa sebelum penciptaan term aliquid tidak menyentuh Tuhan, maka jawabannya sebelum ciptaan tidak ada konsep transendental, meskipun kesempurnaan Tuhan yang tak terbatas melingkupi dan melampaui segala cara yang dinyatakan oleh konsep-konsep ini.[5]

 

[1] Thomas Aquinas, V Physics, lect 2. n. 656.

[2] Leopoldo Prieto López, Res, aliquid y Nihil en Suárez y La Filosofía Moderna. Anales del Seminario de Historia de la Filosofía, Vol. 30 Núm. 1 (2013): hal 49-69

[3] Lihat pengertian tentang lain, berbeda dan distingtif.

[4] Leo J. Elder, The Metaphysics of Thomas Aquinas In A Historical Perspective (Leiden: E.J Brill, 1993) hal 93-94

[5] Ibid.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply