Ajarilah Kami Berdoa

Lukisan: Vincent Van Gogh, Field With Rising Sun, 1889

Lukas 11: 1-4

Seorang anak perempuan membuat lukisan kecil pada waktu belajar menggambar. Latar belakang lukisan itu adalah warna hitam lalu ada gambar hati di dalam matahari. Gambar hati dan matahari itu begitu indah. Jika orang melihat lukisan ini maka pelihatnya akan terbawa dan tenggelam dalam kedalaman misteri lukisan itu: orang akan kagum dengan gambar hati di dalam matahari yang begitu bercahaya.

Tadi dalam Injil kita mendengar seorang murid berseru kepada Yesus: Tuhan ajarilah kami berdoa. Hal itu membuat kita bertanya: apa itu doa? Doa sebenarnya adalah mengangkat dan melambungkan hati, jiwa dan pikiran ke dalam hadirat Tuhan supaya hati, jiwa dan budi itu bersatu dengan hati, jiwa dan budi Tuhan sendiri. Maka, lukisan hati di dalam matahari menggambarkan hati, pikiran dan jiwa yang bersatu dan diangkat ke dalam hadirat Tuhan. Kehadiran Tuhan adalah bagai matahari yang bersinar. Jadi lukisan tentang hati di dalam matahari adalah guratan kanfas seorang pelukis yang sungguh mengerti betul arti dan makna doa. Kiranya, guratan si pelukis yang tanpa nama itu seperti menjawab pertanyaan seorang murid Yesus yang berseru Tuhan ajarilah kami berdoa.

Yesus menjawab seruan murid  itu: “Apabila kamu berdoa katakanlah: Bapa, dikuduskanlah nama-Mu; datanglah kerajaan-Mu. Berikanlah kami setiap hari makanan kami yang secukupnya dan ampunilah kami akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami; dan janganlah membawa kami dalam pencobaan”. Doa Bapa kami adalah doa yang diajarkan Yesus sendiri  agar kita dapat berdoa kepada Allah dengan benar. Maka, dalam doa Bapa kami Yesus  menunjukkan kepada kita sikap hati yang murni supaya doa kita menjadi doa yang benar. Ada empat sikap hati yang murni dalam doa Bapa Kami: sikap hati yang murni yang pertama adalah mencari dan mengutamakan kehendak Bapa dalam hidup yang tertuang dalam seruan dikuduskanlah namamu dan datanglah kerajaan-Mu. Mencari dan mengutamakan kehendak Bapa dan mencari kerajaan Allah adalah tanda hati yang mencintai Tuhan dan membiarkan Tuhan hadir di dalam hidup. Kemudian sikap hati yang murni yang kedua adalah hati yang mengampuni: ampunilah dosa kami sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami. Hati yang mengampuni adalah tanda dari hati yang penuh cinta dan belas kasih karena Tuhan sendiri adalah cinta dan belas kasih. Sikap hati murni yang ketiga adalah penyerahan diri kepada Tuhan seperti seorang anak yang merangkul ayahnya: berilah kami makanan yang secukupnya. Menyerahkan diri berarti percaya secara total kepada Tuhan. Di balik penyerahan diri ternyata adalah iman yang besar dan orang yang mempunyai iman yang besar selalu menjadi sahabat Tuhan. Dan sikap hati yang murni yang keempat adalah hati yang berjaga-jaga, hati yang waspada sehingga melindungi kita dari setiap pencobaan. janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. Hati yang waspada selalu merindukan kedatangan Tuhan. Ia akan menjaga hidupnya dengan melaksanakan firman dan perintah Tuhan supaya hati dan hidupnya menjadi rumah yang indah bagi kedatangan Tuhan.

Jika kita memiliki hati yang murni maka doa kita akan menjadi kehidupan, kebenaran dan keselamatan karena Tuhan telah bersatu dengan diri. Tuhan yang bersatu dengan diri berarti Tuhan yang datang tinggal di dalam hati seperti lukisan hati yang berada di dalam matahari yang bercahaya itu. Akhirnya:

Dengan doa jiwaku memuliakan Tuhan

Dalam doa, hatiku meluapkan kata-kata indah akan karya agung-nya

Melalui doa, aku mempersembahkan nyanyian pujian cinta-Nya

Tiba-tiba aku sadar bahwa lidahku bagai gerak pena juru tulis menuliskan syair keagungan-Nya.

 

 

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply