Adat-Istiadat Dan Pendidikan

XXXIX

Adat-Istiadat Dan Pendidikan

Francis Bacon

Lukisan Walter Hunt, The Weanling, 1889

 walter-huntPikiran-pikiran manusia amat dipengaruhi oleh kecenderungan mereka, sedangkan diskursus dan pembicaraan manusia dibentuk oleh pembelajaran mereka dan opini-opini yang ditanamkan, tetapi perbuatan-perbuatan manusia ditentukan oleh adat-istiadat mereka. Oleh karena itu, seperti yang dicatat  dengan baik oleh Machiavelli[1] (meskipun suatu kejahatan ditopang dengan sebuah contoh), tetap tidak ada keyakinan kepada kekuatan kodrat maupun kepada gelora kata-kata, kecuali semuanya itu dikuatkan dengan adat-istiadat. Contoh yang dilontarkan Machiavelli adalah bahwa demi melaksanakan suatu konspirasi yang mematikan, seseorang tidak bisa mengandalkan keberingasan kodrat manusia, ataupun atas usahanya yang tegas; tetapi dengan mengambil sesuatu yang ada yang sudah mendarah-daging di dalam dirinya. Memang Machiavelli tidak mengenal biarawan Clement[2], Ravillac[3], Jaureguy[4], maupun Baltazar Gerard[5]; namun prinsip Machiavelli adalah tetap yaitu kodrat manusia[6] maupun komitmen kata-kata, tidaklah sekokoh seperti adat-istiadat. Sekarang ini hanya ketakhayulan[7] yang begitu mendominasi, bahwa orang-orang penyaksi pertama akan adat-istiadat melalui profesi mereka begitu kuat seperti para tukang daging; dan resolusi yang didasarkan pada sebuah janji dibuat sekokoh dengan adat-istiadat bahkan sudah mendarah daging. Dengan kata lain, kelaziman adat-istiadat terlihat di mana-mana; penyebabnya adalah keterpesonaan seseorang yang mendengar manusia-manusia yang membuat pernyataan, protes, janji, berkata-kata dengan hebat dan kemudian hanya melakukan seperti apa yang telah mereka lakukan sebelumnya; padahal semuanya itu adalah gambaran yang mati, dan ibarat mesin-mesin yang hanya digerakkan oleh roda-roda adat-istiadat. Kita juga melihat kekuasaan atau tirani adat-istiadat, apa pun yang disebut demikian. Orang–orang India (yang saya maksudkan adalah sekumpulan dari orang–orang bijak dari bangsa mereka) membaringkan diri mereka dengan tenang di atas tumpukan kayu dan mengkorbankan diri mereka sendiri dengan membakar diri. Ah tidak, istri-istri mereka berusaha membakar diri bersama dengan jasad-jasad suami mereka. Anak laki-laki Sparta, pada zaman kuno, terbiasa mencambuki diri mereka sendiri di atas altar dewi Diana, tanpa merasakan kesakitan. Saya ingat, pada permulaan pemerintahan ratu Elizabeth, ada seorang pemberontak Irlandia yang akan dihukum mati, mengajukan suatu petisi kepada otoritas supaya dia digantung dengan suatu ranting, dan bukan dengan tali; karena ranting telah menjadi kebiasaan dalam menghukum para pemberontak sebelumnya. Kiranya juga bahwa rahib-rahib di Rusia, untuk penitensi[8], duduk semalam penuh di atas jambang air, sampai mereka bersatu dengan es beku tersebut. Banyak contoh yang berasal dari kekuatan adat-istiadat yang kiranya ditanamkan atas pikiran maupun atas tubuh. Jadi, karena adat-istiadat merupakan hakim utama bagi kehidupan manusia, semoga setiap orang dengan berbagai cara berusaha memperoleh adat-istiadat yang baik. Tentu saja adat-istiadat yang paling sempurna dibentuk pada usia dini: inilah yang kita sebut dengan pendidikan; yang nantinya akan menjadi suatu adat-istiadat dini. Akibatnya, kita melihat bahwa dalam segala bahasa lidah menjadi lebih lentur terhadap segala ekspresi dan nada, tulang sendi menjadi lebih fleksibel untuk segala prestasi aktivitas dan gerak dalam masa muda daripada dalam masa tua. Sebab benarlah bahwa seorang yang belajar dengan terlambat tidak akan dapat mengambil manfaat dengan baik; kecuali kiranya ada keyakinan dalam pikiran bahwa mereka sendiri tidak akan merasa sakit untuk mengejar ketertinggalan mereka sekaligus juga mempersiapkan diri agar terbuka dan siap untuk menerima koreksi secara terus-menerus, yang mana kenyataan ini amat jarang terjadi. Jika kekuatan adat-istiadat hanya sederhana dan kiranya juga ada suatu pemisahan besar, maka kekuatan adat-istiadat yang terhubung, tersatukan dan tertutup jauh lebih hebat. Sebab ada teladan yang mengajarkan adat-istiadat, perusahaan yang memuluskan adat-istiadat, emulasi yang mempercepat adat-istiadat, kejayaan yang membangkitkan adat-istiadat: maka di tempat-tempat itulah kekuatan adat-istiadat berada di puncaknya. Tentu saja pengembangan yang istimewa akan kebaikan yang berasal dari kodrat manusia berlangsung di dalam masyarakat yang diatur dengan baik dan penuh dengan disiplin. Sebab persemakmuran-persemakmuran dan pemerintahan-pemerintahan yang baik sungguh memelihara kebaikan yang sedang bertumbuh, sayangnya tidak memperbaiki benih-benihnya. Malangnya juga adalah, bahwa sarana-sarana yang paling efektif yang sekarang diterapkan demi tujuan akhir sebagian besar tidak diinginkan.

[1] Tentang Machiavelli lihat essai XIII; no. 2

[2] Jeaques Clement adalah seorang biarawan Dominican yang membunuh raja Perancis Henry III (tentang Henry III lihat essai IV; no. 7) Clement menganggap Protestan dan Raja Henry III sebagai bidaah (dalam perang agama Perancis). Ia menikam Henry III dengan pisau yang tersimpan di balik jubahnya. Pembunuhan itu dilakukan pada tanggal 1 Agustus 1589.

[3] Francois Ravillac -seorang fanatik Katolik- adalah pembunuh raja Henri IV Perancis (tentang Henry IV lihat essai LV; no. 18) pengganti Henry III. Pembunuhan dilakukan pada 4 Mei 1610. Lalu Francois Ravillac dihukum mati dengan cara tubuhnya ditarik dengan empat ekor kuda.

[4] Juan de Jauregui adalah seorang yang berusaha membunuh pangeran Belanda William I dari Orange 18 Maret 1582. Namun pembunuhan yang dilakukan olehnya gagal.

[5] 10 Juli 1584 kali ini Pangeran Belanda William I dari Orange mati di tangan Balthasar Gerard yang menembaknya dengan pistol. Alasan pembunuhan ini adalah William I memberontak kepada Raja Spanyol Philip II (anak Kaisar Charles V) dan mendeklarasikan kemerdekaan Belanda. Balthasar Gerard sendiri amat setia dan pengagum Philip II.

[6] Keempat orang ini telah melakukan konspirasi terhadap pemerintahan dengan mengandalkan keberingasan kodrat manusia dan usaha yang tegas yaitu membunuh seperti yang ditolak oleh Machiavelli.

[7] Bandingkan dengan essai Ketakhayulan (essai XVII).

[8] Penitensi adalah denda dosa.

Author: Duckjesui

lulus dari universitas ducksophia di kota Bebek. Kwek kwek kwak

Leave a Reply